Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Menahan Perasaan.


__ADS_3

"Apa! Mama ingin pernikahan aku dan Cindy dipercepat," ucap Fariz tak percaya dengan apa yang baru saja namanya itu ucapkan.


Saat ini dia sedang berada di rumah orang-tua angkatnya, mereka baru saja selesai makan malam dan sedang duduk di sofa ruang keluarga, seperti biasa.


"Iya, Nak. Gimana kamu setuju 'kan?" tanya Alish.


Fariz diam, apa yang harus dia lakukan sekarang, apakah dia harus menolak keinginan Alish itu dan mengatakan jika saat ini dia sudah memiliki perasaan terhadap wanita lain. Atau apakah dia harus mengiyakan keinginan wanita yang sudah menyayanginya dengan tulus itu dan menahan kembali perasaan yang kian tumbuh dalam hatinya tanpa dapat dia kendalikan sebelumnya.


Fariz masih diam, pikirannya kian bercabang memikirkan jalan mana yang harus dia ambil, kenapa harus ada pilihan seperti ini dalam hidupnya, pilihan antara mengikuti hatinya atau menyenangkan hati Alish.


"Riz, kenapa kamu diam?" tanya Alish, menyadarkan Fariz dari lamunannya.


"Tidak kenapa-napa, Ma," sahut Fariz tanpa semangat.


"Jadi gimana? Apa kamu mau pernikahan kalain dilakukan secepatnya?" tanya Alish lagi, dia menanti jawaban dari Fariz.


"Fariz ...." Fariz tidak mampu menjawab pertanyaan itu.


Entah kenapa, mulutnya seolah sulit untuk terbuka kembali, ada rasa sesak dalam hatinya yang terasa semakin menghimpit, hingga membuatnya seolah sulit untuk bernapas.


Dia mengalihkan pandangan pada setiap wajah yang kini telah melihatnya, menunggu jawaban darinya atas pertanyaan Alish itu, dia menatap satu per satu keluarga yang seperti keluarga kandungnya itu dengan seksama.


Apa yang akan mereka rasakan, jika dia tidak memberikan jawaban yang sesuai dengan harapan mereka, atas pertanyaan itu, marahkah, kecewakah, atau justru keduanya, semakin dipikirkan.


Kepalanya semakin terasa pusing, hingga terasa berdenyut, bisakah dia pergi dari situasi ini dan pergi sejauh mungkin, membawa serta Ami untuk hidup berdua dengannya, bisakah dia egois saat ini hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Kalau kamu belum siap, tinggal bilang aja kali, Riz, tegang banget tuh muka," ucap Aaric yang peka terhadap Fariz.


Entah Fariz yang saat ini tidak dapat, menyembunyikan ketegangan dan kegundahan dalam dirinya, atau pria yang selalu bisa menghiburnya sejak kecil itu yang peka terhadap dirinya.


Namun, mendengar pertanyaan itu, dia merasa tertolong dan sedikit lega, Aaric seolah telah membatunya untuk memghidar dari pembahasan itu untuk sementara.


"Kamu belum siap ya?" tanya Alish menatap Fariz dengan serius.


Lagi dan lagi tatapan teduh wanita itu, membuat Fariz, seolah tidak ada hati untuk mengecewakannya.

__ADS_1


"Fariz ingin memikirkannya dulu, bolehkan Ma?" Fariz berusaha tersenyum pada Alish.


"Baiklah, maafkan Mama yang terlalu terburu-buru, kamu pasti masih butuh waktu memikirkan masalah itu," ucap Alish.


"Kamu pikirkan saja, semunya dengan matang. Jangan memaksakan diri jika kamu memang belum siap, percayalah, jika Cindy memang jodoh kamu, cepat atau lambat kalian pasti akan bersama," ucap Nevan setelah beberapa saat terdiam.


"Iya kamu pikirkanlah dulu, jangan terlalu terburu-buru mama hanya merasa sedikit tidak sabar karena ingin segera melihat kamu menikah dan memiliki keluarga," ucap Alish, merasa jika dia sudah terlalu menekan anak angkatnya itu.


"Terima kasih, karena Mama dan kalian semua selalu melakukan yang terbaik untukku," ucap Fariz menatap satu per satu, keluarganya itu.


"Terima kasihmu, tidak kami terima," sahut Aaric, membuat Fariz dan yang lainnya menatapnya dengan heran.


"Kenapa?" tanya Fariz dengan kening mengerut.


"Karena kamu tidak menganggap kita keluargamu, bukankah sudah suatu kewajiban setiap keluarga, melakukan yang terbaik untuk anggota keluarganya dan kata terima kasih hanya ditujukan kepada orang asing saja," sahut Aaric panjang lebar.


"Kamu tinggal jawab 'sama-sama itulah tugas keluarga' kenapa harus panjang lebar seperti itu bicaranya," sahut Nevan memutar matanya malas, mendengar jawaban anaknya itu.


"Kan, biar agak berkesan dikitlah, Pa. Kata-kata seperti itu terlalu klasik," bela Aaric yang tidak terima dengan ucapan papanya itu.


"Sudah, sudah jangan ribut, lebih baik sekarang kita tidur, ini sudah malam," ucap Alish yang memotong perdebatan kurang penting, antara anak dan suaminya itu.


"Mama sama Papa, istirahatlah duluan, orang-tua jangan tidur terlalu malam, gak baik buat kesehatan," sahut Aaric pada kedua orang-tuanya.


"Emang kalian mau ngapain lagi?" tanya Alish dengan heran.


"Kita mau main game dong. Iya, kan Riz, udah lama kita gak main bareng kayak gini, mumpung besok kita libur ya, gak?" sahut Aaric pada Fariz.


Fariz hanya menggangguk setuju dengan ucapan Aaric itu, mereka memang sudah cukup lama tidak main game sambil bergadang.


Jujur saja dia memang agak menghindar dengan mengatakan ada urusan lain, saat akhir pekan karena mamanya itu, selalu membahas masalah hubungannya dan Cindy saat dia ke rumah itu.


"Baiklah, terserah kalain saja, kalau bisa jangan sampai pagi mainnya," ucap Alish memperingati anak-anaknya itu.


"Siap, Ma, kita gak akan sampai pagi kok, paling cuma sampai subuh," sahut Aaric disertai kekehan.

__ADS_1


"Kalian harus istirahat," sahut Ami menatap galak pada Aaric.


"Tapi, mumpung besok hari libur kerja, jadi tidak akan ada masalah jika kita tidur seharian, Ma" sahut Aaric.


"Itu kurang baik buat kesehatan kalian nantinya."


"Iya, iya, Bu Dokter cantik kita tidak akan terlalu pagi tidurnya," sahut Aaric merayu mamanya.


"Kamu itu ya, kalau dikasih tahu, ngeles aja kerjaannya," gerutu Alish karena kesal pada anak kandungnya itu.


"Sudah biarkan saja mereka sesukanya, kita sebaiknya pergi istirahat," ucap Nevan menengahi perdebatan anak dan istrinya.


Dia segera membawa Alish untuk meninggalkan ruang keluarga, membiarkan anak-anak mereka, melakukan apa yang ingin mereka lakukan.


Setelah Alish dan Nevan pergi, Aaric mulai mengambil PlayStation 5 miliknya yang biasa mereka gunakan untuk bermain game video bersama, dia mulai menghubungkan PlayStation 5 itu pada televisi.


Kedua pria yang sudah seperti saudara kandung itu pun, mulai memainkan gamenya, saat game sudah mulai berjalan, Aaric mulai memulai percakapan di antara mereka.


"Apa yang kamu sembunyikan dari kita?" tanya Aaric dengan tangan dan mata fokus pada jalannya permainan.


"Maksudnya?" tanya Fariz yang juga serius pada jalannya permainan itu.


"Aku merasa ada yang kamu tutupi dari aku, Mama dan Papa? Apa yang sebenarnya kamu tutupi?" tanya Aaric lagi


"Tidak ada," sahut Fariz singkat.


"Jangan berbohong, aku dapat melihat kamu selalu terlihat lebih gugup setiap kali Mama membahas tentang pernikahan," terang Aaric.


"Bukannya aku selalu seperti itu, saat Mama membahas masalah itu?"


"Akhir-akhir ini kamu terlihat lebih gugup dari sebelumnya, apa kamu memiliki perasaan pada wanita lain?" pertanyaan itu, sukses membuat Fariz kehilangan konsetrasi pada gamenya, hingga akhirnya dia pun kalah dalam permainan itu.


"Kenapa? apa tebakanku itu benar, sampai-sampai kamu jadi kurang fokus?" tanya Aaric menatap Fariz sambil menyeringai, karena di babak pertama dia memenangkan permainan itu.


"Tidak, aku hanya kurang konsetrasi karena masalah pekerjaan saja, tidak ada alasan lain," terang Fariz memasang wajah santainya.

__ADS_1


"Baiklah jika itu memang benar, aku harap tidak ada yang kamu sembunyikan, baik dari aku ataupun dari Mama sama Papa," ucap Aaric lagi, dia mengangkat bahunya dan kembali memulai permainan babak kedua.


Setelah itu tidak ada percakapan lagi di antara mereka, Fariz berusaha fokus sepenuhnya pada permainan itu, melupakan sejenak, kegundahan dalam hatinya itu.


__ADS_2