Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Ke Luar Kota


__ADS_3

Ami yang sudah siap dengan barang-barang yang telah, dikemas ke dalam sebuah tas besar miliknya, kini telah duduk manis di sofa.


Saat ini dia sedang menunggu kedatangan Fariz yang akan menjemputnya, sesuai dengan apa yang direncanakan dua hari yang lalu, hari ini mereka akan berangkat ke kota kembang, untuk menghadiri sebuah undangan, mewakili Nevan.


"Non, benar-benar gak mau Bibi, temani?" tanya Tini untuk kesekian kalinya, pada Ami yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Tidak, Bi. Aku hanya dua hari kok, di sananya," sahut Ami pada Tini yang terlihat menghawatirkan dirinya itu.


"Non harus jaga diri baik-baik ya, di sananya, kalau ada apa-apa langsung hubungi Bibi," ucap Tini.


Ini kali pertamanya, Ami pergi tanpa di dampingi olehnya, dia jadi merasa sedikit khawatir, apalagi saat ini nona-nya itu akan pergi dengan orang tidak dikenalnya.


Dia berharap, orang yang pergi dengan Ami adalah orang yang baik, orang yang akan menjaga Ami saat tengah berada jauh.


"Iya, Bi. Bibi tenang saja," sahut Ami tersenyum pada Tini.


Tak lama kemudian, ponsel Ami berbunyi, ada pesan yang masuk ke ponselnya itu. Ternyata itu adalah pesan dari Fariz yang mengatakan, jika dia telah menungunya di depan gerbang.


"Ami berangkat ya, Bi." Ami mulai berdiri dari sofa.


"Iya Non, hati-hati ya," sahut Tini yang hanya mengantarkan Ami sampai ke depan pintu rumah.


Ami berjalan dengan tas selempang dan tas yang berukuran cukup besar tempat baju-bajunya, saat sampai di depan gerbang, Fariz yang sudah menunggunya turun dari mobil.


Dia mengenakan topi hitam, juga kacamata hitam, Ami tidak menyangka jika pria yang sudah cukup matang itu, terlihat sangat cocok dengan tampilan seperti itu. Dan dengan penampilannya yang seperti itu, dia jadi terlihat lebih muda.


Fariz mengambil alih tas yang ada di tangan Ami yang masih terpaku, terpesona dengan penampilannya itu.


"Ayo masuk, kenapa malah melamun," ucap Fariz yang sudah memasukkan tas Ami ke kursi belakang. Dia menyadarkan Ami dari lamunannya itu.

__ADS_1


"Mas, terlihat keren dengan penampilan seperti itu," ucap Ami sambil mengikuti langkah Fariz yang telah membukakan pintu untuk Ami.


"Aku sengaja berpenampilan seperti ini, agar tidak terlalu dikenali," sahut Fariz.


"Mas dapat ide dari mana?" tanya Ami penasaran, dia masih berdiri di samping pintu mobil yang sudah terbuka lebar.


"Aku dapat ide sendiri, ayo cepat masuk, kita harus segera pergi, biar nanti tidak kemalaman perginya," ucap Fariz mendorong lembut, bahu Ami agar memasuki mobil.


Ami pun menurut, dia mulai memasuki mobil dan duduk dengan tenang, di samping kursi kemudi.


Sementara itu, di halaman rumah, Tini dan Candra sedang menatap ke arah mereka dengan mata yang berusaha mereka buka dengan lebar, karena penasaran dengan pria yang beberapa waktu itu telah dekat dengan nona mereka.


Namun sayangnya, mereka tetap tidak bisa melihat wajah Fariz dengan jelas karena terhalang oleh kacamata dan topi.


"Kenapa sih pacar Non Ami itu misterius banget?" gumam Tini.


"Kalau bukan pacarnya Non Ami, tidak mungkin mau pergi berdua, ini pertama kalinya Non Ami mau pergi dengan laki-laki, bahkan sampai ke luar kota," ucap Tini.


"Sudahlah kita jangan terlalu ingin tau, sama masalah Non Ami, siapa pun dia, kita berdoa saja semoga Non Ami bahagia."


"Iya, aku juga berharap seperti itu, tapi tetap aja aku penasaran," sahut Tini yang langsung berlalu meninggalkan Candra dan kembali memasuki rumah.


...*****...


"Papa kamu kapan pulangnya?" tanya Fariz pada Ami yang tengah menikmati perjalanan itu.


"Belum tau Mas, katanya kalau masalah di sana tidak terlalu serius, Papa tidak akan lama di sana, tiga atau empat hari juga paling udah pulang lagi," sahut Ami.


"Kamu benar-benar sudah minta ijin, kan pada papa kamu?" tanya Fariz kembali memastikan.

__ADS_1


"Sudah Mas, kemarin sebelum Papa berangkat, aku minta ijin. Ya, meskipun gak jujur sama siapa perginya, aku hanya bilang ingin ikun pergi liburan sama teman," sahut Ami.


"Baguslah kalau gitu ... jujur sebenarnya aku tidak nyaman dengan situasi kita ini, kita pergi dengan cara sembunyi-sembunyi dari orang-tua kita seperti ini," tutur Fariz.


"Untuk sekarang, kita memang tidak punya pilihan, selain seperti ini," sahut Ami


"Mas tidak berniat untuk mengakhiri hubungan kita ini bukan?" sambung Ami yang langsung menegakkan tubuhnya, menghadap ke arah Fariz dan menatapnya dengan tajam.


"Aku tidak bisa mundur sekarang, jujur beberapa waktu yang lalu, saat aku memutuskan untuk berhubungan denganmu, masih tersisa sedikit keraguan dalam hatiku, tapi semakin lama, rasa itu semakin terkikis dan hilang, tergantikan oleh rasa ingin memilikimu seutuhnya, bersamamu disetiap langkah yang akan kita tuju ke depannya."


Ami yang mendengar ucapan dari Fariz itu, merasa detakkan di jantungnya kian meningkat. Lagi dan lagi, dia merasa kian jatuh ke pesona seorang pria yang jarang berbicara, tapi saat dia berbicara.


Ucapannya itu selalu sampai, hingga ke bagian terdalam di hatinya, membuatnya terbuai dengan ucapan yang terdengar sederhana, tapi seolah penuh akan makna itu.


"Aku pun begitu Mas, tidak ada jalan untukku melangkah mundur, dari apa yang telah aku putuskan, aku ingin tetap berada di sampingmu, menghadapi semua rintangan yang ada di depan kita, aku yakin jika kita tetap teguh, saling berpegangan tangan, masalah apa pun yang sedang menanti kita pasti akan dapat kita lalui.


Fariz menatap Ami dengan intens, tak lama kemudian seberkas senyum hadir, menghiasi wajahnya itu, diambilnya tangan Ami.


Jari-jarinya mengisi ruang kosong di antara jari wanita yang selalu bisa memberikan kenyamanan untuknya dan hatinya itu.


Dia kemudian kembali melihat ke arah depan dan mengecup punggung tangan mulus nan lentik itu dengan penuh perasaan.


Jangan tanya bagaimana perasaan Ami sekarang dengan perlakuan yang cukup manis, dari pria di sampingnya itu, debaran di dadanya kian tak terkendali.


Meskipun setelah itu tidak ada yang membuka suara di antara mereka, tapi hati mereka seolah saling berkomunikasi.


...----------------...


Maaf ya agak telat up-nya, gak tau kenapa hari ini niat nulis dari pagi, tapi udah ada beberapa kata di hapus lagi, begitu terus sampe beberapa kali, kepalaku tiba-tiba blank hari ini, mudaha-mudahan kalian semua gak kecewa, apalagi sampai ninggalin aku karena up-nya ngaret🥺😢

__ADS_1


__ADS_2