Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Pergi Ke Rumah Sakit.


__ADS_3

Ami yang dari tadi berusaha untuk tidur, tidak dapat tertidur, entah kenapa dari sore hari dia merasa hatinya tidak tenang, pikirannya selalu tertuju pada Fariz.


Timbul tanya dalam hatinya, apakah pria itu baik-baik saja, apa ini hanya perasaannya yang terlalu merindukan pria itu semenjak pertemuan terakhir mereka itu. Atau mungkinkah, ini isyarat hatinya jika pria itu mengalami masalah.


"Apa aku coba telepon lagi ya," gumamnya lagi dan mulai mendudukkan dirinya kembali.


Sebenarnya dari setelah makan malam, dia sudah berusaha menghubungi nomor pria itu, tapi dia tidak mendapatkan jawaban, dia berpikir mungkin saja pria itu sedang makan malam bersama calon istrinya, makanya tidak mengangkat telepon itu.


Ami berusaha menelponnya dan tersambung, tapi beberapa saat kemudian ada pemberitahuan, jika nomor telepon itu sedang sibuk.


"Apa Mas Fariz lagi teleponan sama Mbak Cindy ya," gumamnya lagi menatap layar ponselnya.


"Ami, kenapa kamu tidak bisa tenang, mungkin saja itu hanya perasaanmu saja, sebaiknya kamu tidur sekarang, ini sudah malam," gumam Ami melihat jam di ponselnya sudah jam sepuluh malam.


Dia kembali merebahkan tubuhnya itu, menutupinya dengan selimut, hingga sampai ke kepalanya, tapi beberapa saat kemudian, dia kembali membuka selimutnya dan duduk kembali.


"Coba satu kali lagi, kalau sekarang gak diangkat atau nomornya sibuk, aku langsung tidur," gumamnya lagi dengan terulur, mengambil benda pipih itu dari nakas.


Sambungan telepon kembali tersambung dan tak menunggu lama, teleponnya itu terjawab. Namun, dia mengerutkan kening saat mendengar suara pria asing yang mengangkat teleponnya itu.


Siapa pria itu, dia sangat yakin, jika yang mengangkat teleponnya itu bukanlah Fariz si pemilik ponsel itu, tidak ingin terlalu lama menduga-duga, dia pun segera bertanya pada orang yang mengangkat telepon itu.


"Halo, ini siapa? Kemana yang punya ponselnya? Kenapa kamu yang mengangkat telepon ini?" pertanyaan beruntun itu, Ami layangkan pada pria yang tidak lain adalah Aaric.


Kamu yang siapa? Ngapain telepon malam-malam? Sahutan dari Aaric.


"A-aku, aku ...." Kini Ami yang kebingungan harus menjawab apa.


Siapa dirinya bagi Fariz sekarang, dia tidak mungkin mengatakan jika dia pacar Fariz, karena semenjak Fariz mengatakan akan menikah mereka tidak pernah berkomunikasi lagi.


Kamu pacarnya Fariz ya?"


Mendengar ucapan pria di teleponnya itu, Ami melotot, bagaimana orang itu tau jika dia pernah menjadi pacar Fariz.


Kalau kamu beneran pacarnya Fariz, saat ini Fariz sedang di rumah sakit, dia baru saja menegalami kecelakaan. Terang Aaric karena Ami tidak bicara lagi.


Mendengar Fariz kecelakaan, Ami menjadi kaget dan khwatir, kecelakaan, Fariz kecelakaan bagaimana bisa pria itu kecelakaan.

__ADS_1


"Rumah sakit mana?" tanya Ami yang langsung turun dari ranjang, dia segera mengambil cardigan rajutnya dan segera memakainya.


Setelah mendapatkan jawaban di mana alamat rumah sakit, tempat Fariz dirawat, tanpa menunggu lagi, dia segera mengambil dompet dan memasukkannya ke tas selempang beserta ponselnya dan langsung saja memutuskan sambungan telepon dengan Aaric.


Ami keluar dari kamarnya, tidak peduli dengan pakaiannya yang hanya memakai baju rumahan dan cardigan rajut, mendengar jika Fariz kecelakaan, pikirannya hanya tertuju pada bagaimana kondisi Fariz saat ini.


Beruntung Denis sudah masuk ke kamarnya, jadi dia tidak perlu mencari alasan kenapa keluar malam-malam seperti itu, dia mendatangi Candra, meminta sopirnya itu untuk mengantarnya ke rumah sakit.


"Mau ngapain Non, malam-malam ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Candra saat Ami sudah di depan rumahnya.


"Nanti aku jelasin di mobil, ayo cepat Pak, biar Ami yang tutup dan kunci lagi gerbangnya," sahut Ami mengambil kunci gerbang dari Candra.


Dia segera membuka pintu gerbang dengan lebar agar Candra bisa mengeluarkan mobilnya dan setelah sopirnya itu membawa mobil keluar, dia kembali menutup dan mengunci gerbang itu dan langsung memasuki mobil.


Ami menyebutkan alamat rumah sakit, pada Candra, raut khawatir sangat kentara di wajahnya itu, hingga membuat Candra yang tadinya ingin bertanya, mengurungkan niatnya itu.


...******...


Sementara itu Aaric yang baru saja, selesai mengangkat telepon dari Ami, dia segera menyimpan telepon yang tiba-tiba mati itu, dia tidak ambil pusing tentang dua wanita yang menelepon ke ponsel itu.


Ya, barusan tidak hanya Ami yang menelepon, tapi Cindy juga menelepon dan wanita itu mengatakan akan menjenguk Fariz besok karena sudah malam.


Namun, sayang tidur pria itu kembali terganggu saat telinganya mendengar suara isak tangis seorang wanita, dengan mata yang masih berat untuk terbuka, dia memaksa matanya itu agar terbuka.


Dia menatap wanita yang sedang duduk di samping ranjang Fariz dengan posisi membelakanginya, keningnya mengerut, saat mendengar suara itu bukanlah suara Cindy.


"Kenapa kamu bisa seperti ini, sih Mas. Aku seharian tidak tenang karena mikirin kamu, ditambah ponsel kamu tidak bisa dihubungi, kamu kenapa bisa sampai kecelakaan seperti ini, cepat sadar Mas, jangan buat aku takut seperti ini," cerca Ami dengan tangis yang tidak berhenti.


"Kalau kamu terus bicara sambil nangis seperti itu yang ada kamu malah ganggu istirahat dia," ucap Aaric yang sudah mengganti posisinya jadi duduk.


Ami yang kaget mendengar suara Aaric, segera berdiri dan membalikkan badannya, dia menundukkan kepalanya beberapa kali mengucapkan maaf karena telah mengganggu tidur Aaric.


"Maaf sudah mengganggu istirahat anda Tuan," ucap Ami dengan kepala masih tertunduk dan menghapus air mata di pipinya.


"Jangan berisik bisa, kan? Fariz masih butuh istirahat," ucap Aaric yang tidak menggubris ucapan maaf dari Ami.


"Baik Tuan, saya tidak akan mengganggu lagi, sekali lagi saya minta maaf," ucap Ami lagi.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu ngapain ke sini malam-malam?" tanya Aaric yang memperhatikan penampilan Ami yang sedikit tidak rapi.


Rambut yang diikat asal, baju ala rumahan dengan dibalut cardigan, sendal yang dipakai wanita yang dia yakini pacar Fariz itu, juga adalah sendal rumahan.


Ami yang melihat tatapan menilai dari pria di depannya itu, semakin menundukkan kepala, dia sadar jika penampilannya saat ini acak-acakan, saking paniknya dia sampai tidak kepikiran untuk ganti baju dulu.


"Saya terlalu khawatir dengan kondisi Mas Fariz jadi langsung ke sini," sahut Ami apa adanya.


"Kamu, kan bisa ke sini besok pagi, kenapa harus malam-malam begini," ucap Aaric dengan suara datar.


"Aku tidak bisa menunggu sampai pagi," cicit Ami yang kembali menatap ke arah kakinya.


Aaric menghela napas dalam, dia mengerti mungkin wanita di depannya itu, terlalu khawatir hingga dia tidak bisa menunggu sampai hari eaok.


"Ya sudah, sekarang kamu sudah lihat dia, kan. Jadi sebaiknya kamu pulanglah," usir Aaric tanpa basa-basi.


Mendengar hal itu, Ami kemudian mengangkat wajahnya, menatap Aaric yang ternyata menatapnya dengan ekspresi datar.


"Emmm, aku sebenarnya sudah meminta sopirku untuk pulang," ucap Ami memainkan jari-jari tangannya karena gugup, sedangkan Aaric melotot, mendengar apa yang baru saja Ami ucapkan itu.


"Terus maksud kamu, kamu mau nungguin dia di sini semalaman," ucap Aaric menatap tak percaya pada wanita yang jauh lebih muda darinya itu.


Ami menganggukkan kepala dengan canggung sebagai jawaban dari pertanyaan Aaric itu, sedangkan Aaric ingin rasanya membrikan umpatan pada wanita di depannya itu.


Dalam hatinya mengomel, apa pacar Fariz itu, tidak bisa menunggu sampai besok atau dia menengok Fariznya sebentar saja, tidak perlu harus nunggu semalaman.


"Saya janji tidak akan berisik, biar tidak mengganggu anda sama Mas Fariz," ucap Ami menatap Aaric dengan tampang melas, dia sangat ingin menunggu Fariz, hingga pria itu sadar.


"Baiklah terserah!" Aaric berlalu keluar dari ruangan itu, bagaimana bisa dia menunggu Fariz berdua dengan wanita yang tidak dikenalnya, jadi dia memutuskan untuk keluar.


Melihat Aaric tidak mengusirnya, membuat Ami bernapas lega, karena dia bisa menemani Fariz, tidak mudah baginya untuk dapat masuk ke sana, mengingat saat ini sudah malam.


Dia bahkan memohon sambil menangis seperti orang yang kurang waras, di lobby agar suster yang jaga mengijinkan dirinya untuk masuk.


"Mas cepat sadar," ucap Ami menggenggam tangan Fariz yang terasa dingin itu. Dia kini sudah kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang tempat Fariz tebaring.


Sementara itu Aaric, merenungi nasibnya yang harus tidur di kursi besi yang ada di depan ruangan itu, menjadi santapan nyamuk dan dinginnya malam.

__ADS_1


"Tau gini mending pulang aja tadi," gerutunya sambil merebahkan tubuhnya di kursi keras nan dingin itu.


__ADS_2