Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Mulai Ada Rasa yang Aneh.


__ADS_3

"Kamu kenapa?" tanya Fariz menatap Ami dengan heran, karena tiba-tiba saja wanita itu, menghentikan makan malamnya dan mengusap dada.


"A-aku, merasa tidak nyaman," sahut Ami yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Tiba-tiba saja, dadanya berdetak tak karuan. Persaannya menjadi tidak tenang.


Pikirannya langsung tertuju pada papanya, apa itu hanya perasaannya saja atau dia seperti itu karena terlalu merindukan pria yang menjadi cinta pertamanya itu.


"Apa kamu sakit?" tanya Fariz lalu meminum air yang sudah tersedia di samping piringnya.


"Aku baik-baik saja, hanya saja perasaanku tidak enak."


"Selesaikan dulu makannya, setelah itu pergi ke kamar untuk istirahat," perintah Fariz.


"Aku sudah kenyang," sahut Ami yang langsung berdiri dan membereskan meja makan.


"Simpan saja itu, biar besok saja kerjakannya."


"Tidak apa-apa sekarang saja," sahut Ami berusaha tersenyum.


"Dasar keras kepala," decak Fariz karena Ami tidak mendengarkan perkataannya.


Ami tidak menggubrisnya, dia segera merapikan meja makan dan membawa perlatan yang kotor ke wastafel untuk dicuci.


Selama mencuci piring, Ami tidak bisa fokus, pikirannya masih berkeliaran memikirkan tenta papanya saat ini.


"Pa, baik-baik aja 'kan? Papa jangan khawatirin Ami, Ami baik-baik saja kok," gumamnya.


Dia mengusap pipinya yang basah dengan lengan bajunya, tidak dapat dipungkiri, jika dia sudah teramat merindukan keluarganya.


Namun, dia tidak berani untuk pulang, dia tidak ingin kehadirannya akan semakin membuat kakaknya tidak tenang dan semakin membencinya.


Meskipun dia sendiri tidak tahu, sampai kapan Fariz akan membiarkannya tinggal di sana, tapi untuk saat ini tempat itu adalah tempat yang paling aman.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga wanita itu, kenapa dia tidak pulang saja, jika dia memang merindukan keluarganya, batin Fariz yang kini sedang memperhatikannya di ambang pintu dapur.


Dia menatap punggung Ami yang tengah mencuci perlatan makan dengan sesekali mengusap pipinya menggunakan lengan bajunya.


Ami yang terlalu asyik melamun, tidak sengaja menjatuhkan mangkuk sayur yang berukuran lumayan besar, hingga pecah dan mengenai lukanya yang baru saja sembuh.


Suara dari pecahan mangkuk itu, membuat Fariz yang juga sedang melamun langsung tersadar.


Dia mengalihkan perhatiannya pada Ami yang sedang membungkuk sambil meringis, mata pria itu terbelalak saat melihat darah di kaki Ami, dia pun segera mendekati wanita itu.


"Apa-apaan kamu ini!" betak Fariz sambil berjalan cepat ke arahnya.


Ami yang mendengar bentakan Fariz menjadi kaget, dia berpikir jika laki-laki itu marah karena dia memecahkan barangnya.

__ADS_1


"Maaf, Mas tadi aku melamun, jadi gak sengaja mecahin barangnya, aku akan segera beresin," ucap Ami dengan cepat dia berjongkok dan meraba lantai untuk memungut pecahan mangkuk itu.


Namun, karena kebiasaannya yang tidak hati-hati saat sedang dilanda cemas, tanpa sadar dia malah melukai tangannya hingga berdarah.


"Hentikan!" teriak Fariz tanpa sadar.


Ami segera menghentikan niatnya itu, dia menundukkan kepala dan menangis tanpa suara, mendapat bentakan dari Fariz, hatinya merasa sedih.


Dia tidak pernah mendapat bentakan dari orang lain sebelumnya, selain dari kakaknya yang sudah membuatnya terbiasa.


"Maaf!" lirih Ami dengan suara bergetar karena tangis.


Fariz tidak bicara lagi, tanpa aba-aba dia menarik tangan Ami, hingga wanita itu berdiri dan segera membawanya ke gendongannya.


"M-Mas, apa yang Mas lakukan?" tanya Ami kaget karena tiba-tiba saja sudah berada di gendongan Fariz.


"Diamlah!" ketus Fariz sambil fokus melangkah menuju ke kamar tamu.


Setelah sampai di kamar tamu yang biasa Ami tempati, dia menurunkan wanita itu dengan hati-hati ke ranjang.


"Diam jangan bergerak!" perintahnya menatap Ami tajam.


Ami tidak menjawabnya, dia hanya mengangguk takut.


*A*pa mangkuk itu begitu berarti, sampai Mas Fariz semarah itu, batin Ami, saat mendengar langkah Fariz yang menjauh dari kamarnya.


Tak lama kemudian, Fariz datang dengan kotak p3k dan mangkuk berisi air di tangannya, di berjongkok di depan kaki Ami.


Fariz tidak menjawabnya, dia fokus mengeluarkan kapas dari kotak itu dan mulai membasahi kapas dengan air.


"Mas Fariz, marah ya?"


"Awwww," ringis Ami saat Fariz membersihkan darah di kakinya menggunakan kapas itu.


"Tahanlah sebentar," ucap Fariz.


Ami mengganguk lagi dengan patuh dan membiarkan Fariz membersihkan dan mengobati jempol kakinya yang terluka lagi.


Setelah selesai membersihkan dan mengobati lukanya, Fariz menutup luka itu dengan perban dan langsung beralih pada tangannya.


"Mas maafin Ami ya," ucap Ami lagi yang belum puas karena belum mendapatkan jawaban dari pria itu.


"Iya," sahut Fariz singkat.


"Apa mangkuk itu begitu berharga, Mas?" tanya Ami membuat Fariz menghentikan kegiatannya memberikan obat pada luka di jari tengah Ami.


Dia kemudian menatap Ami dengan heran, karena pertnyaan konyol yang Ami tenyakan itu.

__ADS_1


"Itu hanya sebuah mangkuk, aku bisa membelinya lagi, apanya yang berharga," sahut Fariz, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.


"Terus kenapa, Mas seperti sangat marah?" tanya Ami.


Iya juga ya, kenapa tadi aku sampai semarah itu? *A*pa karena mangkuk itu pecah atau karena melihat wanita ini terluka?


Fariz sendiri bingung dengan apa yang terjadi padanya, semua yang baru saja terjadi di luar kendalinya.


"Entahlah, tapi melihatmu terluka tadi ada perasaan yang tidak aku mengerti," sahut Fariz apa adanya.


"Perasaan apa? Apa, Mas menghawatirkan aku?" tanya Ami.


"Mungkin, tapi, entahlah," sahut Fariz mengangkat bahunya.


Mungkinkah Mas Fariz menyukaiku, seperti yang selalu Bi Ijah katakan ... tidak, tidak Ami berhenti berpikiran yang tidak-tidak.


"Kenapa kamu? Kepalamu pusing?" tanya Fariz yang melihat Ami menggeleng-gelengkan kepala.


"Ti-tidak kenapa-napa, Mas." Ami tersenyum canggung karena tidak tahu, jika Fariz memperhatikannya.


"Sekarang istirahatlah," ucap Fariz lalu membereskan obat-obatannya dan berdiri.


"Iya, Mas," sahut Ami mengangguk.


Dia mulai merebahkan tubuhnya dan menarik selimut, hingga sampai ke lehernya.


"Selamat istirahat, Mas. Maaf untuk kekacauan barusan."


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi," sahut Fariz yang kini sudah berdiri dan masih diam di samping ranjang Ami.


Ami hanya mengangguk sebagai jawaban, setelah itu dia memejamkan matanya berusaha untuk segera terlelap.


Setelah melihat Ami memejamkan matanya, Fariz mulai melangkah. Meninggalkan kamar itu, dia berdiri beberapa saat di depan pintu.


"Kenapa aku begitu peduli pada wanita itu, apa itu murni rasa kemanusiaan saja?" tanya Fariz pada hatinya sendiri.


Melihat Ami terluka seperti tadi, dirinya seolah tidak terima. Dia juga merasa ingin selalu melindungi wanita itu, saat melihat kerapuhan dari wanita yang saat ini tinggal satu atap dengannya.


"Apa ini murni rasa peduli saja sebagai semama saja atau ada perasaan lain?"


Semakin dipikirkan, rasanya semakin membuatnya, tidak dapat menemukan jawaban dari pertnyaan itu.


Tak ingin terus memikirkan hal itu, pria itu beranjak dari tempatnya sekarang, menuju ke dapur.


Dia membereskan kekacauan di dapur, melanjutkan pekerjaan Ami tadi, hingga beres.


Setelah semuanya beres, barulah dia menuju ke kamarnya untuk istirahat, tapi ternyata saat di kamar, dia masih belum bisa memejamkan matanya.

__ADS_1


"Kenapa aku masih saja memikirkannya, cepatlah tidur Fariz, besok kamu harus bekerja," gumamnya mengacak rambutnya asal.


Dia tidak mengerti apa yang terjadi padanya itu, semenjak dia dan Ami menonton bersama beberapa hari yang lalu, pikirannya tidak bisa lepas dari wanita itu.


__ADS_2