Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 88


__ADS_3

Nevan dan Alish saat ini sedang berada di ruang keluarga, mereka baru saja selesai makan malam dan memutuskan untuk berdiam diri sejenak di sana.


Aaric beserta istri dan anaknya, sudah pulang ke rumah mereka, pada malam hari saat Fariz pulang dari rumah sakit, jadi kini hanya mereka berdua beserta pekerja yang ada di rumah itu.


"Pa, Mama ingin menemui Fariz, Mama ingin tau keadaannya sekarang," ucap Alish memulai percakapan, dia menatap Nevan dengan sedih.


"Sabar saja Ma, biarkan dia sendiri dulu, dia baik-baik saja, kamu kan dengar sendiri dari Bi Ijah saat di telepon kalau Fariz baik-baik saja, jangan ganggu dia dulu, biarkan menenangkan dirinya sendiri, nanti juga dia pasti datang ke sini untuk menemui kita," sahut Nevan dengan mata fokus membaca koran.


"Tapi tetap saja merasa tidak tenang, kalau belum melihatnya secara langsung," sahut Alish.


"Sabar saja yang penting kita tau kalau dia baik-baik saja, itu sudah cukup untuk sekarang, daripada nanti kalau kita memaksakan diri menemuinya, dia malah akan merasa tidak nyaman," ucap Nevan memang ada benarnya.


"Iya juga sih," sahut Alish lemah, "Mama juga kayaknya harus menemui anak itu, untuk minta maaf," sambung Alish lagi.


"Maksudnya pacarnya Fariz itu?" tanya Nevan sambil melipat korannya dan mengambil cangkir yang berisi teh, lalu menyeruputnya.


"Iya," sahut Alish sambil mengangguk.


Nevan akan kembali membuka suaranya, tapi seorang Art mendekati mereka dan mengatakan, jika kedua orang-tua Cindy datang ke rumah mereka.


"Ada apa mereka ke sini malam-malam seperti ini? Apa mereka datang bersama dengan Cindy?" tanya Nevan pada Art-nya itu.


"Tidak Tuan, mereka hanya berdua saja," jawab Art-nya itu sambil membungkuk hormat.


Alish dan Nevan kemudian saling tatap, mereka bertanya-tanya tentang maksud kedatangan dari orang-tua Cindy itu.


"Baiklah suruh mereka masuk dan siapkan minuman untuk mereka," perintah Nevan pada Art-nya.


"Baik Tuan," sahut Art-nya dan langsung pergi menemui orang-tua Cindy.


"Kira-kira mau apa mereka ke sini?" tanya Alish menatap Nevan dengan penuh tanda tanya.


"Entahlah, ya udah kalau gitu, ayo kita temui mereka dan bertanya maksud kedatangan mereka itu," tutur Nevan, lalu beranjak dari duduknya.


Alish pun mengikutinya, mereka mulai melangkah menuju ke ruang tamu, untuk menemui orang-tua Cindy.

__ADS_1


"Selamat malam Pak Nevan, Bu Alish," sapa seorang pria yang lebih muda dari Nevan, pria yang tidak lain, adalah Ayah Cindy itu tersenyum ramah pada Nevan dan Alish.


"Selamat malam juga Pak, Bu, silakan duduk dulu Pak, Bu," sahut Nevan sambil duduk dan mempersilakan orang-tua Cindy untuk duduk.


"Terima kasih."


Kedua orang-tua Cindy pun, duduk di sofa panjang yang ada di samping tempat Alish dan Nevan duduk.


"Maaf kami mengganggu karena malam-malam seperti ini, berkunjung ke sini," ucap Ayah Cindy berbasa-basi.


"Tidak apa-apa Pak, kebetulan kami juga sedang santai, kalau boleh tau ada perlu apa ya, kalian sampai harus repot-repot ke sini sekarang?" tanya Nevan.


"Tuan, Nyonya, ini minumannya," ucap Art-nya, menyimpan minuman untuk tamu mereka, di meja yang berada di tengah-tengah sofa.


"Iya, terima kasih Mbak, silakan diminum dulu Pak, Bu," ucap Alish tersenyum ramah pada para tamunya itu.


"Iya terima kasih, Bu."


Akhirnya kedua orang-tua Cindy itu pun, mulai meminum minumannya terlebih dahulu dan kembali menyimpan minumannya di meja, setelah itu mereka mulai membicarakan hal yang sangat serius.


"Jadi maksud kedatangan kami ke sini, kami ingin mengatakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga Pak Nevan dan Bu Alish, terlebih pada Nak Fariz," ucap Ayah Cindy.


"Maksud Bapak apa ya?" tanya Nevan.


Ayah Cindy tidak langsung melanjutkan ucapannya itu, dia menatap istrinya terlebih dahulu dan saat istrinya mengangguk, dia pun kembali menatap Alish dan Nevan.


"Kami mau minta maaf, karena sepertinya pernikahan antara anak kami dan Nak Fariz, tidak bisa kita lanjutkan," ucap Ayah Cindy dengan tatapan meragu pada Alish dan Nevan.


"Memangnya kenapa Pak?" tanya Alish menatap Ayah Cindy itu dengan heran.


"Ternyata anak kami menjalani hubungan ini dengan setengah hati, dia saat ini sedang pergi dari rumah dan tadi dia mengirimkan kami pesan, jika dia tidak ingin pernikahan itu dilanjutkan, maafkan kami, ini semua mungkin karena dulu kami selalu mendesaknya untuk segera menikah, jadi dia mencoba untuk menjalin hubungan dengan Nak Fariz, tapi sepertinya hati kecilnya belum terlalu siap untuk hal itu," terang Ayah Cindy sambil menundukkan kepala, seperti menyesal dengan apa yang dikatakannya itu.


"Jadi dengan berat hati, kami terpaksa mengikuti keinginannya itu dan membatalkan pernikahan ini, kami benar-benar minta maaf untuk hal ini," sambung Ayah Cindy lagi.


"Jika memang seperti itu kami juga tidak bisa memaksa, apalagi saat ini kondisi anak kami juga belum sepenuhnya membaik, sehabis kecelakaan yang terjadi padanya beberapa saat lalu," sahut Nevan dengan nada santainya.

__ADS_1


"Iya kami juga belum sempat menjenguk Nak Fariz karena kesibukan kami," sahut Ibunya Cindy.


"Tidak apa-apa, sekarang dia sudah mulai membaik, meskipun kakinya belum kembali normal dan harus menggunakan kursi roda untuk beberapa saat," sahut Alish tersenyum pada Ibunya Cindy.


"Iya syukurlah, jika seperti itu."


" Terima kasih atas pengertian kalian tentang masalah ini, kami benar-benar tidak menyangka semuanya akan seperti ini," ucap Ayah Cindy.


"Tidak apa-apa Pak, mungkin mereka memang bukan jodoh, daripada kita sekarang memaksa mereka dan berujung buruk pada akhirnya, mending seperti ini, sebenarnya anak kami juga belum terlalu siap untuk menikah, tapi karena kami melihat Cindy sepertinya cocok untuk Fariz, kami pun memintanya untuk mencoba melanjutkan hubungan merasa," terang Nevan apa adanya.


"Iya, mungkin mereka memang tidak ada jodohnya, oh iya tolong sampaikan juga permohonan maaf kami dan Cindy pada Nak Fariz, apa saat ini Nak Fariz sudah istirahat, jika dia belum istirahat, kami ingin menemuinya terlebih dahulu," ucap Ayah Cindy.


"Saat ini dia sedang tidak ada di sini, dia sedang menjalani pengobatan lanjutan, tapi kalian tenang saja, nanti kami akan mengatakan permintaan maaf kalian akan kami sampaikan padanya," sahut Nevan sedikit beralibi.


"Oh baiklah jika seperti itu, berhubung ini sudah malam, kami sepertinya harus segera pamit," ucap Ayah Cindy.


"Padahal kalian baru saja sampai di sini," ucap Alish.


"Tidak apa-apa Bu Alish, kami tadi segera mengabarkan ini karena takut, membuat kalian terlalu berharap pada pernikahan ini, maka dari itu kami segera memberitahu kalian masalah ini secepatnya," ucap Ayah Cindy.


"Iya Pa, oh iya kalau boleh tau, apa kalian tau di mana Cindy saat ini?" tanya Alish.


"Kami belum tau di mana dia saat ini, dia pergi begitu saja dari rumah tadi pagi, saat kami sedang tidak ada di rumah," jawab Ibunya Cindy.


"Oh gitu, mudah-mudahan saja, dia segera pulang," sahut Alish.


"Iya kami juga berharap seperti itu," sahut Ibunya Cindy lagi dengan nada sedih.


"Baiklah kalau gitu, kami permisi dulu Pak, Bu," pamit Ayah Cindy yang sudah mulai bangun dari tempat duduknya.


"Iya Pak, Bu," sahut Nevan yang ikut berdiri, kemudian mereka berempat pun saling bersalaman.


Setelah itu Nevan meminta Art-nya untuk mengantarkan tamu mereka itu keluar dari rumahnya, setelah kepergian orang-tua Cindy, Alish menghela napas panjangnya.


"Entah harus senang atau sedih dengan kabar ini Pa," ucap Alish menengok ke arah Nevan.

__ADS_1


"Yang jelas kabar ini akan jadi salah satu sabar baik untuk Fariz," sahut Nevan yang juga tengah menatap Alish dan merangkul pundak Alish.


"Untung saja surat undangannya, belum kita sebar karena Fariz mengalami kecelakaan."


__ADS_2