
Zoya sudah merencanakan sesuatu untuk membuat Ami pergi dari rumah, dari dirinya, suaminya dan orang-orang di sekitarnya
Ketakutan akan terkalahkan lagi, oleh adiknya yang bahkan bisa dikatakan tidak berdaya untuk melawan itu, telah membutakan mata hatinya, hingga dia merencanakan hal yang dapat mencelakai Ami untuk menyingkirkannya.
Saat ini di rumah hanya ada mereka berdua dan sopir, sekaligus penjaga rumah itu, Tini saat ini sedang tidak ada di rumah, dia sebelumnya meminta ijin pada Zoya untuk pergi menjenguk saudaranya yang sakit dan baru pulang besok.
Daffin juga sedang tidak ada di rumah, karena sedang lembur di tempat kerjanya dan akan pulang agak malam. Hal itu dijadikan kesempatan oleh Zoya untuk melakukan aksi jahatnya pada Ami.
"Mi, kita pergi cari makan di luar yuk, kakak lagi pengen makan di luar nih," ajak Zoya yang mendatangi kamar Ami.
"Tapi, Kak. Ini udah malam, apa gak lebih baik kita delivery aja," ucap Ami sedikit aneh dengan kakaknya yang tiba-tiba mengajak makan di luar.
Setelah kejadian beberapa tahun lalu dan dia tidak dapat melihat, Zoya tidak pernah mau mengajaknya pergi bersama lagi.
"Males, aku mau makan di tempatnya langsung, kalau kamu gak mau ya udah. Aku pergi sendiri aja," ucap Zoya dengan nada sedikit ketus.
"Baiklah, Kak. Kita pergi, Ami ganti baju dulu ya, Kakak tunggu di luar aja," ucap Ami setuju.
Bukankah ini kesempatan, agar dia bisa lebih dekat kakaknya. Semoga saja dengan dia dan kakaknya sering pergi berdua, mereka akan dekat layaknya adik-kakak pada umumnya.
Dia berpikiran terlalu polos dan tidak waspada terhadap wanita yang dia panggil kakak itu, sebenarnya tengah merencanakan sesuatu yang akan merugikannya.
Dia memakai kaos pendek yang dipadukan dengan kardigan rajut berwarna hitam dan celana bahan berwarna coklat, pakaian yang dikenakannya sudah disiapkan sesetel oleh Tini sebelumnya.
Tini memang sengaja mengatur baju-bajunya, agar dia tidak kesusahan mencari baju lagi saat Tini tidak ada seperti sekarang.
"Ayo Kak," ajak Ami saat sudah keluar dari kamarnya.
Dia tersenyum senang karena akan pergi bersama dengan kakaknya lagi, meskipun hanya makan malam. Tapi, itu sudah merupakan hal membuatnya senang.
Tidak ada hal lain yang lebih dia inginkan, selain dia bisa lebih dekat dengan kakaknya, dia ingin kakaknya menganggap dirinya sebagai adik.
"Ayo," sahut Zoya berjalan di depannya.
Mereka telah sampai di teras rumah, Zoya meminta kunci mobil pada sopir yang sedang berjaga, di sebuah pos kecil dekat dengan gerbang.
__ADS_1
"Kak, kenapa gak sama sopir aja," ucap Ami sedikit khawatir, jika kakaknya akan membawa mobil mengingat kondisi Zoya yang sedang hamil muda.
"Aku gak biasa pakai sopir, aku lebih nyaman bawa mobil sendiri," jawab Zoya.
"Iya, Non. Ini sudah malam biar, Bapak aja yang anterin," tawar sopirnya yang juga menghawatirkan mereka.
"Tidak perlu, Bapak tungguin rumah aja. Aku gak bakal lama, karena tempatnya juga dekat, mana kuncinya."
Sopirnya pun memberikan kunci mobil itu dengan pasrah, dia tidak mungkin berdebat dengan Zoya meskipun dia khawatir pada ke-dua nona-nya itu.
"Ayo masuk!" teriak Zoya sambil memasuki mobilnya karena melihat Ami masih tidak bergerak.
"Kak, apa gak pa-pa Kakak bawa mobil sendiri kayak gini?" Ami masih merasa tidak tenang.
"Gak pa-pa, cepat mau ikut gak. Kalau gak mau ikut, aku mau berangkat sendiri," ketus Zoya tidak sabar.
"Baiklah, Ami ikut, Kak." Ami segera memasuki mobil duduk di kursi samping kemudi.
Zoya menyeringai, kemudian mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan.
******
"Kak, sebenarnya kita akan makan di mana? Kenapa belum sampai juga?"
"Cerewet, kamu tinggal duduk manis saja jangan banyak tanya," sahut Zoya dengan ketus sambil fokus pada setirnya.
"Ami hanya khawatir dengan keadaan Kakak. Ini sudah lumayan malam, kurang baik untuk kesehatan kandungan Kakak," terang Ami berusaha menasehati kakaknya.
"Sebentar lagi sampai."
Ami hanya mengangguk dan tidak membuka suaranya lagi, dia tidak ingin membuat kakaknya itu kembali kesal.
Beberapa menit kemudian mobil itu pun berhenti di pinggir jalan yang sepi dan sangat jauh dari rumah mereka.
"Turun," perintah Zoya pada Ami.
__ADS_1
Ami tidak membantahnya sama sekali dan langsung turun dari mobil, tapi dia merasa sedikit aneh dengan tempat itu karena terasa sepi, bukankah seharusnya ramai oleh suara kendaraan atau orang-orang yang menjadi pengunjung tempat makan itu.
Ami memanjangkan tongkat yang tadi diliapatnya, dia masih belum beranjak dari tempatnya saat turun dari mobil, karena tidak tahu harus ke mana. Wanita itu menunggu, kakaknya untuk turun juga dari mobil dan menunjukkan jalan untuknya.
"Kak, kenapa di sini sepi?" tanya Ami yang tiba-tiba saja merasa tidak tenang.
"Kamu diamlah di sini dan berdoa agar ada yang akan memungutmu," ucap Zoya sambil menyeringai.
"Maksud Kakak apa?" tanya Ami tidak mengerti, hatinya semakin tidak tenang mendengar perkataan kakaknya itu.
Dia berharap kakaknya tidak memiliki niat buruk padanya.
"Aku muak, setiap hari melihatmu. Apalagi melihat setiap orang yang ada di sekitarku selalu memperhatikanmu, jadi sebagai adik yang baik. Sebaiknya kamu jangan pernah kembali ke kehidupanku lagi."
"Tapi, Kak. Aku harus ke mana? Aku mohon jangan lakuin, Kak." Ami mulai ketakutan setelah mendengar ucapan kakaknya itu.
"Berdoa saja semoga ada orang baik yang memungutmu, kalau masalah Papa, kamu tenang saja aku akan mengurusnya. Dan satu lagi, jika kamu memang ingin kembali ... maka kembali saja, tapi aku gak yakin akan membiarkan kamu tenang nantinya," ancam Zoya.
"Kak aku mohon jangan lakuin ini, Ami akan lakukan apa pun yang Kakak inginkan, asal jangan tinggalkan aku di sini, aku takut, Kak." Ami memohon dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan di pipinya, dia benar-benar takut.
"Percuma kamu nangis, aku tidak akan merasa iba ataupun kasihan meskipun kamu nangis darah sekali pun," ucap Zoya setelah itu dia benar-benar menjalankan mobilnya, meninggalkan Ami sendirian di tempat asing yang sepi itu.
"Kak! Jangan tinggalkan aku, aku takut!" teriak Ami yang mendengar mobil kakaknya mulai berjalan dan menjauh.
"Ami tidak tahu ini di mana, jangan tinggalkan Ami." Ami berusaha berjalan cepat mengikuti suara deru mesin mobil Zoya.
Air mata di pipinya kian mengalir deras, dengan langkah tak beraturan dia terus berusaha mengejar mobil kakaknya, meskipun dia yakin tidak akan bisa mengejar mobil itu.
'Dukk' ... tubuh Ami terjatuh ke aspal karena kakinya tersandung sebuah batu kecil, dia kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya, tapi dia sudah tidak dapat mendengar suara deru mesin mobil kakaknya lagi.
Kakaknya benar-benar meninggalkannya di tempat asing itu, apa yang bisa dia lakukan saat ini.
"Kenapa Kakak tega lakukan ini, kembalilah Kak, Ami mohon," lirih Ami disertai isakan tangis tanpa menghentikan langkah kakinya.
...----------------...
__ADS_1
Makasih buat para pembaca yang udah nyempetin mampir ke cerita ini, semoga kalian betah ya di sini, Selamat menunaikan ibadah puasa buat yang menjalankannya, semoga kita selalu diberikan kesehatan 🙏
Makasih juga buat yang udah nyempetin ngasih dukungannya jangan bosen-bosen ya🥰