Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 93


__ADS_3

Keesokan harinya, Kia tidak lagi datang ke restoran seperti yang dia katakan sebelumnya, kini sudah saatnya untuk makan siang, Ami pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan sesuai dengan yang Kia katakan di hari sebelumnya. Yaitu, dia diminta untuk menyiapkan makan siang untuk orang yang menggantikannya itu.


"Kamu udah liat orangnya kemarin?" tanya Ami, pada Rini sambil membawa nampan yang sudah terisi oleh makanan dan minuman untuk orang yang tidak lain adalah Fariz itu.


"Iya tadi pagi juga liat," sahut Rini yang juga sedang berjalan bersama Ami.


"Kenapa tadi aku tidak melihat ya?" gumam Ami.


"Kamu tadi lagi ngepel lantai kamar mandi kayaknya, pas dia ke sini," sahut Rini.


"Oh iya juga ya, ya udah kalau gitu aku mau ke ruangannya dulu ya," pamit Ami diangguki oleh Rini.


Ami berjalan menaiki tangga menuju ke lantai atas, langkahnya tampak hati-hati karena takut nampan yang dibawanya itu tumpah.


"Kata Bu Kia kemarin, orang itu kakinya sedang cedera jadi dia tidak bisa mengambil makanan ini ke bawah, ditambah dia orang yang sulit beradaptasi dengan sekitarnya," gumam Ami sambil terus berjalan.


Tak lama kemudian, langkahnya terhenti tepat di depan pintu berukuran sedang berwarna putih, dia mencoba mengetuk pintu itu, tapi tidak mendapatkan sahutan.


"Kenapa tidak ada jawaban ya," ucap Ami yang akan kembali mengetuk pintu tapi gerakan tangannya terhenti di udara saat mengingat sesuatu.


Dia kayaknya bisu deh, soalnya tadi dia tidak bicara dan hanya menggunakan ponselnya untuk bertanya.


Dia adalah orang yang sulit beradaptasi dengan sekitar, jadi hanya bisa satu orang yang mengantarkan makanan untuknya, karena kalau tidak begitu dia tidak akan merasa nyaman.


Dia juga baru saja beberapa waktu yang lalu mengalami kecelakaan, jadi dia tidak bisa berjalan dengan lancar.


Perlahan Ami menyusun ucapan-ucapan dari Kia dan Rini itu, entah kenapa dia merasa jika ciri-ciri orang yang mereka ceritakan mirip dengan Fariz.

__ADS_1


"Tidak, ini pasti hanya perasaanku saja, di dunia ini orang yang seperti itu pasti banyak," sanggah Ami menggeleng.


"Apa aku langsung masuk aja," ucap Ami kembali menatap pintu dengan ragu-ragu.


Ami mencoba menarik napasnya terlebih dahulu, sebelum mulai membuka pintu itu, entah kenapa saat tangannya berhasil menggapai handel pintu, ada perasaan tak tenang dalam dirinya.


Saat pintu berhasil terbuka, dia menunduk tidak berani melihat lurus ke depannya, sementara pria yang tidak lain adalah Fariz itu. Di tempat duduknya, dia menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya.


"Ami."


Ami yang merasa namanya dipanggil oleh suara yang sangat dikenalnya, mulai memberanikan diri mengangkat wajahnya itu, reaksinya tidak jauh beda dengan reaksi Fariz tadi.


Untuk beberapa saat, waktu seakan terhenti, Ami masih terpaku di tempatnya, sedangkan Fariz menatapnya dengan dalam, rasa senang bercampur tak percaya karena dia bisa melihat Ami lagi dengan mata kepalanya sendiri.


Wanita yang dirindukannya selama beberapa waktu itu, kini telah berdiri di depannya, hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya, pria itu mulai bangkit dari kursi yang menjadi penopang tubuhnya, berpegangan pada pinggir meja dengan tatapan masih belum teralihkan dari sosok Ami.


"Mas," gumam Ami dengan nada lirih.


Ini salah, saat ini dia sudah menjadi milik wanita lain, tidak seharusnya aku bereaksi seperti ini. Batin Ami.


Secara perlahan dia menarik napasnya dan mencoba membuangnya lagi, dia kemudian kembali menatap Fariz dengan berusaha sekuat mungkin mengendalikan ekspresi wajahnya itu.


"Maaf mengganggu Pak, ini makan siang untuk anda," ucap Ami dengan formal.


"Kamu sedang apa di sini Mi?" tanya Fariz menatap Ami dengan sayu.


"Saya bekerja di sini, selamat makan Pak, jika tidak ada yang anda perlukan lagi, saya permisi dulu," pamit Ami setelah menyimpan makanan untuk Fariz di meja tepat di depan Fariz.

__ADS_1


Dia dengan segera berbalik badan, bermaksud untuk pergi dari sana, menghindari Fariz.


"Tunggu! Kenapa kamu cepat-cepat pergi?"


Suara Fariz itu membuat langkah Ami yang sudah hampir di depan pintu menjadi terhenti.


"Maaf, tapi saya masih ada pekerjaan lain, jika nanti perlu sesuatu lagi, bisa hubungi le bawah menggunakan telepon yang ada di meja, permisi." Ami kembali melanjutkan langkahnya, mulai membuka pintu dan meninggalkan Fariz yang masih di posisinya.


Pria itu menatap Ami dengan heran dan sedikit sedih, karena sikap Ami yang seolah tidak ingin bertemu dengannya, timbul tanya dalam benaknya, apakah reaksi Ami itu, karena dia tidak suka lagi bertemu dengannya.


Sementara itu di depan pintu ruangan, Ami masih berdiri sambil menunduk dan bergumam, "Kenapa kita harus dipertemukan lagi, jika seperti ini bagaimana bisa aku melupakanmu, jika kita sering ketemu lagi nantinya."


"Jika Mas Fariz di sini, itu artinya Mbak Cindy juga akan sering ke sini, kenapa takdir seperti menjadikanku lelucon, di saat aku berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya, tapi dia kembali lagi di hadapanku, benar-benar lelucon yang menyakitkan," gerutunya sambil terus melangkah dan tanpa sadar sudah sampai di lantai bawah.


"Mi, kamu nyari apa?" tanya temannya yang sesama pegawai di sana menatap Ami dengan heran.


"Hah, maksudnya?" tanya Ami mengangkat wajahnya tak mengerti.


"Itu, aku perhatikan dari lantai atas berjalan sambil nunduk gitu, ada barang kamu yang jatuh?" tanya temannya dengan serius.


"Tidak ada yang jatuh, aku juga tidak sedang mencari apa pun," sahut Ami menggeleng.


"Terus ngapain kamu jalan nunuduk gitu, kelihatan sambil bicara lagi?"


"Aku hanya merasa sedikit pegal saja, jadi jalannya seperti itu," alibi Ami.


"Oh gitu," sahut temannya mengangguk.

__ADS_1


Ami mengangguk dan mulai mendudukkan dirinya di kursi yang ada di meja kasir, pikirannya tertuju pada Fariz yang dia anggap sudah menikah dengan Cindy,


"Aku harus menyiapkan mental, melihat kebersamaan mereka nantinya … kenapa aku harus mengalami hal ini," desah Ami disertai hembusan napas kasar.


__ADS_2