
Mendengar pertanyaan mamanya, Fariz tersadar dengan apa yang dia lakukan, sepertinya karena memikirkan Ami, dia jadi tanpa sadar terus menatap ke arah kamar tamu.
Dia pun segera menggelengkan kepalanya, mengalihkan perhatian ke arah lain, menghindari kontak mata dari Cindy.
"Oh iya, Riz, kapan kamu akan jalan-jalan atau apa gitu sama Cindy, agar hubungan kalian semakin dekat," ucap Alisha menatap Cindy dan Fariz secara bergantian.
"Dokter Alish, tenang saja. Fariz sebenarnya sudah mengajak aku untuk jalan-jalan, tapi akhir-akhir ini aku banyak yang harus diurus dulu, jadi aku menolak ajakannya itu," ucap Cindy menatap Alisha dengan tenang.
"Gimana kalau lusa, kamu jemput aku ya, di rumah sakit. Soalnya lusa aku tidak ada kegiatan lagi setelah dari rumah sakit," ucap Cindy yang kemudian mengalihkan perhatiannya pada Fariz yang sudah menatapnya dengan kesal.
Entah apa maksud Cindy bicara seperti itu, padahal dirinya sama sekali tidak pernah mengajaknya untuk jalan-jalan, membalas pesan darinya pun tidak.
"Baguslah kalau gitu. Mama kira kamu tidak ada niat seperti itu, Riz, mama jadi seneng dengarnya kalau gitu," sahut Alisha yang semakin tersenyum lebar, dia merasa senang karena Fariz ada kemajuan.
Fariz tidak mengeluarkan suaranya, dia hanya mengangguk samar, mau tidak mau dia harus mengikuti permainan Cindy, karena tidak ingin membuat mamanya itu sedih.
Sementara itu, di dalam kamarnya Ami, dia saat ini sedang duduk di ranjang, memeluk kakinya, dia dapat mendengar dengan jelas apa yang orang-orang di ruang tengah bicarakan itu.
Dia dapat mendengar bagaimana Alisha yang sangat gencarnya mendekatkan Fariz dengan wanita itu, jujur saja dia merasa sedih, saat tahu jika pria yang perlahan masuk ke dalam hatinya dekat dengan wanita lain.
"Apa akan ada kesempatan untukku, bisa bersama dengan kamu, Mas?"
"Maafkan, aku yang ternyata tidak bisa mengendalikan hatiku ini, seharusnya aku sadar ketika aku membiarkan rasa itu hadir, aku juga harus siap dengan rasa sakit yang selalu menjadi bayangan dari rasa itu."
Ya ... ternyata seorang Zamira Azliana, secara perlahan telah menempatkan Fariz di singgasana hatinya, pada akhirnya dia tidak bisa mengendalikan hatinya untuk tidak terbuai dengan kebaikan pria itu.
Terlalu asyik dengan lamunannya, dia tidak menyadari jika seseorang telah mengetuk pintunya dari tadi, karena tidak mendapatkan jawaban darinya, orang yang mengetuk pintu pun membuka pintu itu secara perlahan.
"Aku kira kamu sedang tidur," ucap Fai yang memasukkan kepalanya ke dalam kamar.
"Eh Mas, maaf barusan Ami lagi melamun," ucap Ami menurunkan tangan yang memeluk kakinya dan tersenyum.
"Ayo keluar, kita duduk di ruang tengah," ajak Fariz.
"Iya, Mas," sahut Ami antusias dan mulai turun dari ranjang, tidak lupa juga dia mengambil tongkatnya terlebih dahulu.
"Eh, tapi apa mama Mas, sudah pergi?" tanya Ami yang menghentikan sejenak langkahnya, saat baru saja beberapa langkah.
__ADS_1
"Mereka sudah pergi." Fariz membalikkan badannya dan berlalu lebih dulu dari kamar itu.
"Baiklah kalau gitu." Ami pun melanjutkan langkahnya menuju ke ruang tengah.
Mereka kini sudah duduk di sofa seperti biasa, tak lama kemudian, Ijah datang lagi dengan minuman dan kue kering yang dia buat bersama dengan Ami.
"Ini dicoba Non, Kue buatan kita tadi," ucap Ijah.
"Dari wanginya sih kayaknya enak ya, Bi," ucapa Ami.
"Rasanya juga pasti enak, Non," ucap Ijah dengan yakin.
Ami pun menganggukkan kepala dan mengambil satu buah kue itu, dia mencoba satu gigitan kue itu dan ternyata benar-benar enak.
"Benar 'kan, Non apa kata Bibi." Ijah tersenyum senang.
"Iya, Bi. Ini benar-benar enak," sahut Ami mengangguk dan tersenyum.
"Ya sudah, kalau gitu saya mau nyetrika dulu ya, Den, Non."
Ijah pun pergi, meninggalkan kedua orang yang ingin membahas sesuatu, tapi keduanya merasa ragu.
"Mas," panggil Ami berusaha memulai percakapan.
"Apa?"
"Bagaimana fisik wanita yang mama Mas sukai itu?" tanya Ami.
"Biasa aja," sahut Fariz singkat.
"Dia pasti cantik, dia pasti wanita yang sempurna, memiliki fisik yang sempurna, memiliki karir yang bagus, wajar saja jika mama Mas Fariz menyukainya."
Ami merasa insecure dengan dirinya sendiri yang tidak ada satu pun hal menonjol dalam dirinya, fisik tidak sempurna dan tidak memiliki karir seperti wanita yang disukai oleh ibu dari pria yang disukainya.
"Tapi aku tidak menyukainya," jawab Fariz dengan yakin.
"Mungkin untuk sekarang Mas memang tidak menyukainya, tapi nanti, setelah seringnya kalian bersama pasti rasa itu akan hadir."
__ADS_1
Ami tersenyum kecut, membayangkan jika pemikirannya itu pasti akan terjadi, pria mana yang akan menolak seorang wanita yang nyaris sempurna.
"Bagaimana kamu tahu hal itu, apa kamu bisa memasuki hati atau pikiranku, hingga kamu asal menebak seperti itu," sahut Fariz dengan nada yang teramat dingin, hingga rasanya mampu membekukan seluruh benda yang ada di sana.
Begitu pun dengan Ami yang kini sudah membeku di tempatnya karena ucapan dingin dari pria di sampingnya itu.
"Maaf Mas, tidak seharusnya Ami berbicara seperti itu, tidak seharusnya aku yang orang asing ini terlalu jauh memcampuri kehidupan pribadi Mas," ucap Ami menundukkan kepalanya.
"Aku tidak suka kamu asal menebak, bagaimana hidupku kedepannya, karena aku sendiri pun tidak tau akan seperti apa hidupku nantinya," ucap Fariz berusaha untuk tidak memarahi wanita yang menurutnya rapuh itu.
"Maaf Mas, aku tidak akan mencampuri kehidupan pribadi Mas lagi," ucap Ami yang semakin menundukkan kepalanya.
"Apa kamu tidak mengerti dengan maksud dari ucapanku itu?" tanya Fariz menyipitkan mata menatap Ami yang masih menunduk.
"Ami mengerti Mas, Mas ingin Ami untuk tidak terlalu mencampuri kehidupan Mas, apalagi masalah asmara dan masa depan Mas, aku juga seharusnya tidak asal bicara," terang Ami panjang lebar yang malah membuat Fariz berdecak kesal.
"Tapi, maksud bukan itu," ucap Fariz dengan sedikit kesal.
Dia sebenarnya sudah memiliki perasaan pada wanita di sampingnya ini, tapi dia tidak ingin memberikan sebuah harapan semu, lagi-lagi melihat bagaimana mamanya berharap pada hubungan antara dia dan Cindy.
Membuatnya semakin tidak mampu, membantah apa yang diinginkannya itu, dia tidak mungkin mengecewakan wanita itu.
Wanita dengan ketulusannya, merawat, memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu, meskipun dia adalah anak dari wanita yang memporak-porandakan pernikahannya.
Ya ... Fariz sudah tahu bagaimana masa lalu antara mama kandungnya dan orang tua angkatnya, bagaimana dia bisa tahu.
Dia mencari tahu, setelah dia pertama kali pindah ke apartemen itu, itu sebenarnya adalah apartemen yang sama dengan apartemen tempat Nevan tinggal dulu.
Semua isi di apartemen itu belum ada yang dirubah saat dia pertama kali ke apartemen itu lagi, di ruangan yang dijadikan tempat Ijah menyertakan, dia menemukan banyak foto mama kandungnya dan Nevan yang terlihat mesra saat mereka masih muda.
Dia mencoba menanyakan tentang hal itu, pada Lastri, art yang sekaligus orang yang pernah bekerja pada Nevan sebelumnya, Lastri pun menceritakan bagaimana pernikahan Alisha dan Nevan yang dibayangi-bayangi oleh ibu kandungnya.
"Terus apa, Mas?" Suara Ami membuat lamunannya tentang masa lalu orang-tua angkatnya pun buyar.
"Tidak ada, lupaka saja," sahut Fariz, dia segera mengalihkan pembicaraan, untung saja dia tidak keceplosan mengatakan yang sebenarnya.
"Mas, adakah kesempatan orang-tua Mas Fariz menyukaiku, jika aku bisa melihat dengan normal lagi?"
__ADS_1