
Ami saat ini sedang duduk melamun di teras rumahnya, semenjak kejadian beberapa waktu yang lalu dimana, dia bertemu dengan pria yang bernama Aris itu, kini wanita itu lebih banyak diam melamun.
Pikirannya tertuju pada pria itu, dia ingin kembali mencari tahu kebenarannya, tapi dia juga bingung, bagaimana jika pria itu benar-benar Fariz, pria yang sudah bertunangan.
"Masa iya, aku harus jadi pelakor?" gumamnya pada dirinya sendiri dengan tatapan menerawang.
"Aahhh pusing!" Ami tanpa sadar berbicara dengan setengah berteriak, hingga membuat Candra dan Tini yang sedang memotong rumput di halaman, langsung mengalihkan perhatian padanya.
Kedua pekerja di rumahnya itu, menatap Ami dengan heran, karena tiba-tiba saja berteriak setelah beberapa saat melamun, mereka bingung dengan sikap aneh nona-nya itu
"Non Ami kenapa? Sakit?" tanya Tini sambil berdiri dan melihat ke arah Ami.
Ami segera menatap Tini, dia kemudian tersenyum dengan menampilkan sederet giginya karena merasa malu, dia baru menyadari dengan apa yang baru saja dilakukannya itu.
"Ami baik-baik saja, Bi. Aku hanya lagi pusing aja, nungguin film favorit aku masih belum ada lagi lanjutannya," alibi Ami sambil terkekeh.
"Oh, kirain Non Ami sakit," ucap Tini, menghembuskan napas lega.
"Tidak apa-apa kok, Bi." Ami tersenyum pada wanita yang sudah menjadi pengasuhnya sejak kecil itu.
Tini hanya mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Ami kembali memikirkan hal tentang Fariz, setelah beberapa saat berpikir, dia kemudian teringat akan sesuatu.
"Tapi, kan aku belum tau, bagaimana perasaan Mas Fariz yang sebenarnya, bagaimana jika dia bertunangan karena terpaksa," gumamnya lagi.
"Tunggu dulu, bukankah Rayyan kenal dengan keluarga Mas Fariz, kenapa tidak aku coba tanyakan aja dulu padanya, tentang siapa pria itu, jika dia benar-benar Mas Fariz, masalah ke depannya, biar pikirkan lagi nanti aja," gumam Ami dengan mata berbinar seolah baru saja mendapatkan jackpot.
Dia segera mengambil ponsel yang berada di atas meja dan menghubungi temannya itu, tak menunggu lama pria itu langsung mengangkat panggilan darinya.
"Yan, siapa nama pria yang bertunangan beberapa minggu lalu itu?" tanya Ami yang langsung ke intinya.
" .... "
"Fariz Jauhar," ucap Ami memastikan lagi, saat Rayyan menyebutkan nama Fariz.
" .... "
"Apa kamu tau, di mana tempat tinggalnya?" tanya Ami dengan serius.
" .... "
"Aku hanya ingin tau saja, cepat katakanlah!" tekan Ami yang tidak sabar untuk mengetahui tempat tinggal Fariz.
__ADS_1
" .... "
"Baiklah, segera kasih tau aku, jika kamu sudah mendapatkan alamatnya."
" .... "
"Nanti akan aku ceritakan, saat aku sudah mengetahui alamatnya," sahut Ami yang langsung mematikan teleponnya.
"Aku akan segera menemuimu, Mas, aku harap kali ini kamu tidak membuat aku kecewa lagi, dengan menghindariku," gumam Ami menghembuskan napas sedikit kasar.
...*****...
Ami turun dari taksi yang ditumpanginya, dia menatap bangunan yang menjulang tinggi dengan hati yang kian berdebar.
Secara perlahan kakinya dia gerakan, berjalan memasuki lobby gedung apartemen yang cukup megah itu, beberapa jam yang lalu, Rayyan temannya itu, memberikan dia alamat yang dia yakini adalah alamat apartemen Fariz.
"Tenang Ami, semua pasti akan baik-baik saja," ucapnya, menenangkan dirinya sendiri, seiring dengan kakinya yang terus melangkah hingga kini dia telah berada di depan meja resepsionis.
"Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu resepsionis dengan ramah.
"Apakah di sini ada pemilik unit, atas nama Fariz jauhar?" tanya Ami pada resepsionis itu dengan tak kalah ramah.
"Ada, Mbak unit atas nama Bapak Fariz Jauhar," sahut resepsionis.
Ami merasa senang dengan kabar itu, dia kemudian kemabli bertanya, "Di lantai berapa unitnya?"
"Maaf jika boleh tau, anda siapanya Pak Fariz ya, karena demi kenyamanan penghuni apartemen, kami tidak bisa memberikan informasi, tanpa ijin dari pemilik unit itu sendiri," sahut resepsionis itu dengan sopan.
"Saya saudara jauhnya," sahut Ami terpaksa berbohong pada resepsionis itu, agar diberitahu tempat tinggal Fariz.
"Apa anda benar-benar saudaranya?" tanya resepsionis menatap tak percaya pada Ami, sedangkan Ami mengangguk dengan yakin.
Beberapa saat kemudian, temannya berbisik pada resepsionis itu, membuat resepsionis itu menatap Ami, kemudian langsung mengangguk.
"Baiklah, unit milik Pak Fariz, ada di lantai paling atas, apa Mbak mau saya antarkan ke sana?" tanya resepsionis itu, setelah temannya selesai membisikkan sesuatu padanya.
"Tidak perlu, biar saya ke sana sendiri, permisi," ucap Ami yang langsung pergi menuju lift, dia berjalan dengan antusias, ingin segera sampai di tempat tujuannya.
"Aku benar-benar lupa, jika dia orang yang dulu pernah tinggal dengan Pak Fariz," ucap resepsionis itu saat Ami sudah memasuki lift.
"Aku juga baru ingat, saat memperhatikan dia dengan serius tadi," sahut temannya.
__ADS_1
Mereka memang mengingat saat Ami dan Fariz beberapa kali keluar dan masuk bersama, jadi mereka menduga jika Ami benar-benar saudara pria itu.
"Dulu kayaknya dia buta deh."
"Iya, sekarang dia sudah bisa melihat."
"Pak Fariz itu, pria yang bisu itu bukan sih?" tanya salah satu resepsionis, menatap temannya.
"Iya," sahut temannya, setelah itu mereka menghentikan pembahasan tentang Fariz dan Ami dan kembali melanjutkan tugasnya.
Sementara itu Ami, kini sudah berdiri tepat di depan pintu unit apartmen Fariz, dia ragu-ragu untuk mengetuk pintu itu.
Apa yang harus dia lakukan saat pintu itu terbuka dan ternyata yang membukanya adalah Fariz, apakah dia harus langsung memeluk pria itu.
"Tidak, tidak. Itu terlalu agresif, masa baru ketemu lagi udah main neplok aja, nanti Mas Fariz malah ilfeel lagi," gumamnya menggelengkan kepala dengan pikiran konyolnya itu.
Dia hanya mondar-mandir, ke kanan dan ke kiri di depan pintu itu, padahal tadi saat mengetahui alamat itu, dia begitu semangat, hingga dia langsung pergi tanpa pikir panjang.
Namun, sekarang nyalinya malah jadi ciut, bingung dengan apa yang harus dilakukannya, alhasil dia hanya mondar-mandir tak jelas seperti setrikaan.
"Apa aku siapkan dulu hati ya, setelah benar-benar siap untuk ketemu, baru ke sini lagi," gumamnya lagi sambil berpikir keras.
"Tapi, masa iya, udah sampai di sini malah pulang lagi sih," gumamnya lagi.
Ami menghela napas beberapa kali dan menghembuskannya dengan perlahan, berusaha untuk merilekskan dirinya yang malah menjadi gugup.
"Ayo Ami, tinggal ketuk pintunya dan saat pintunya dibuka, jika itu Mas Fariz, maka kamu tinggal tersenyum sambil berkata 'Mas apa kabar?' Tinggal gitu aja simpel, kan?"
Ami sudah mulai mengangkat tangannya dan bersiap untuk mengetuk pintu, tapi dia segera menarik kembali tangan dan malah melakukan gerakan seolah sedang pemanasan akan berolahraga.
Entah kenapa, Ami sampai salah tingkah stengah mati seperti itu, dia sangat merasa senang karena akan bertemu dengan Fariz, tapi dia juga merasa grogi yang berlebihan.
Beruntung di lantai itu hanya terdapat beberapa unit, jadi jarang orang yang berlalu lalang di sana, sehingga tidak ada yang menyaksikan bagaimana tingkah konyol Ami yang sedang salah tingkah itu.
'Ceklek' suara pintu di depannya hampir terbuka, dalam hati dia menjerit belum siap, jika sampai yang membuka pintu itu adalah Fariz.
Dia celingukan, ke kanan ke kiri bermaksud untuk pergi dari sana, tapi terlambat, pintu itu sudah terbuka dengan sempurna, orang yang membuka pintu itu menatapnya dengan mata yang terbuka lebar.
...----------------...
Si Ami, geroginya benar-benar aneh🤣
__ADS_1