Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Cindy.


__ADS_3

Akhirnya waktu yang tidak ingin Fariz lewati pun tiba, dimana dia harus bertemu dengan wanita yang dipilihkan oleh mamanya.


Dia baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran restoran yang mamanya sebutkan tadi, beberapa kali menghela napas panjang terlebih dahulu, sebelum akhirnya turun dari mobil.


Fariz memasuki restoran yang lumayan ramai oleh pengunjung itu dan bertanya meja atas namanya yang sudah dipesan oleh Alisha sebelumnya.


"Meja atas nama Tuan Fariz ada di lantai atas, nomor 15, Tuan" terang si pelayan.


Fariz hanya mengangguk dan setelah itu, mulai melangkah menaiki tangga menuju ke meja yang pelayan sebutkan tadi.


Alisha memang tahu, jika dirinya tidak akan merasa nyaman, jika di tempat yang terlalu ramai, hingga dia memilihkan tempat yang yang cukup nyaman, hanya ada beberapa meja yang terisi di sana.


"Sepertinya Mama benar-benar niat, mau jodohin aku," gumamnya sambil menghela napas lagi.


Fariz menunggu dengan tenang di sana, hingga beberapa menit kemudian sebuah suara membuatnya mengalihkan pandangan pada asal suara itu.


"Maaf membuatmu menunggu, tadi jalan sedikit macet, alasan klise memang, tapi itu memang kenyataannya," ucap wanita yang terlihat memang sudah dewasa.


Memasang senyum ramah pada Fariz yang hanya menatapnya biasa saja, Fariz akhirnya menganggukkan kepala dan menunjuk kursi, sebagai isyarat agar wanita itu duduk, tapat di depannya.


"Makasih, oh iya namaku Cindy, kamu Fariz 'kan? Dokter Alish sudah sering menceritakan tentangmu, hingga aku jadi penasaran tentangmu yang sebenarnya," terang Cindy blak-blakan.


"Kamu udah pesan belum?" tanya Cindy yang masih mempertahankan senyuman di bibirnya.


Fariz menggeleng sebagai jawaban dan Cindy pun menganggukkan kepalanya, dia kemudian memanggil pelayan yang berjaga di lantai itu, untuk memesan makanan.


Saat pelayan mendekati meja mereka, Cindy menyebutkan menu yang ingin dimakannya, dia kemudian beralih pada Fariz dan menanyakan makanan apa yang ingin pria itu makan.


"Mau pesen apa?"


Fariz mengetikkan sesuatu di ponselnya lagi, lalu memperlihatkan ponselnya pada Cindy.


Apa saja. Isi tulisan di ponselnya.


Cindy membacanya dan mengangguk, dia kemudian kembali menatap pelayan dan menyebutkan menu makanan untuk Fariz.


Fariz menatap wanita di depannya itu dengan heran, apa wanita itu asal menebaknya atau mamanya yang memberitahunya, tentang makanan dan minuman yang dia suka, sesuai dengan pesanan Cindy.


"Sesuai perkiraanmu, aku tau makanan dan minuman kesukaanmu, dari mamamu, seperti yang aku katakan tadi mamamu, selalu membahas tentang kamu dan saudaramu, termasuk makanan kesukaan kalian, sikap kalian, dan hobi kalian," terang Cindy yang dapat menebak raut wajah heran yang Fariz tunjukkan.


Fariz mulai berpikir, sebenarnya sedekat apa mamanya itu dengan wanita di depannya ini, kenapa semuanya diceritakan pada wanita itu.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu keberatan jika aku tau banyak tentang kamu?" tanya Cindy, menatap Fariz dengan seksama.


Fariz hanya mengangkat bahunya dan mengalihkan perhatian ke arah lain, jujur saja dia merasa kurang nyaman dan ingin segera pulang.


"Apa kamu tidak nyaman berada di dekatku?"


Mendengar pertanyaan wanita di depannya, Fariz menatap wanita itu dengan mata menyipit, bagaimana mungkin wanita itu bisa tahu apa yang dirasakannya.


"Aku sebenarnya psikiater dan bukan hal yang sulit untukku mengetahui tentang hal itu," ucap Cindy dengan memamerkan sedikit giginya.


Pantes, bisik Fariz dalam hatinya.


Tak lama kemudian, makanan mereka telah sampai, mereka pun segera memakan makanannya dengan tenang tanpa mengeluarkan suara, sepatah kata pun.


Fariz hanya memakan sedikit makanannya itu, dia tidak bernafsu makan, meskipun makanan itu adalah makanan kesukaannya.


Dia lebih nyaman berada di apartemennya, makan berdua dengan Ami, meskipun hanya dengan makanan sederhana itu jauh lebih baik menurutnya.


Kenapa aku malah memikirkannya di saat seperti ini, gumam Fariz dalam hatinya.


Setelah selesai makan, mereka tidak langsung pulang, tapi melanjutkan pembicaraan mereka.


Kenapa kamu mau dikenalkan denganku? Isi tulisan di ponsel Fariz yang ditunjukkan pada Cindy.


"Seperti yang tadi aku bilang, aku penasaran sama kamu, karena saking seringnya dengar tentang kamu dari dokter Alish," terang Cindy sambil menyeruput minumannya yang masih masih tersisa.


kamu harus tau, aku tidak suka dengan rencana perjodohan yang mamaku lakukan itu.


"Kenapa? Apa kamu sudah memiliki kekasih atau pacar?" tanya Cindy saat membaca tulisan di ponsel Fariz.


Fariz menggeleng kembali sebagai jawaban, dia memang belum memiliki pacar.


"Baiklah, kalau gitu. Gimana kalau kita berteman aja, kamu bisa datang atau bertanya padaku tentang seputaran masalah yang nanti kamu alami atau kamu rasakan, tenang saja, aku pendengar yang baik, kok."


Fariz tidak menjawabnya, dia hanya diam tidak mengiyakan atau menolak ucapan wanita itu, sementara Cindy mengambil sesuatu dari tas-nya dan memberikan kartu nama pada Fariz.


"Itu kartu namaku, punya kamu mana? Atau nomor telepon."


Aku ingin setelah ini, kita tidak berhubungan lagi, kamu bisa mengatakan pada mamaku kalau kamu tidak cocok denganku.


Setelah membaca isi tulisan itu, Cindy dengan berani menarik ponselnya dari genggaman Fariz.

__ADS_1


Fariz melotot tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Cindy itu, dia merasa kesal atas kelancangan wanita itu.


Dia melihat Cindy mengutak-ngatik ponselnya itu, tak lama kemudian, ponsel milik Cindy yang ada di dalam tas-nya berbunyi.


"Lama, aku cuma minta nomor ponselmu saja, pelit banget," decak Cindy sambil menyodorkan kembali ponsel itu pada Fariz.


Fariz tidak menggubrisnya, dia segera merebut ponselnya dari tangan Cindy dan langsung dimasukkan ke saku celananya.


"Aku tau kamu, tidak suka dengan pertemuan ini dan juga tidak suka dengan niat mama kamu, tapi apa salahnya jika kita berteman," terang Cindy.


Fariz hanya diam dengan pandangan lurus ke arah lain, dia ingin segera pergi dari situasi seperti itu.


"Aku tidak tau apa yang terjadi padamu di masa lalu, hingga terbentuk kamu yang sekarang, tapi kamu harus mencoba keluar dari zona nyamanmu itu dan melangkah lebih jauh lagi ke masa depan."


"Jangan hanya terpaku pada masa lalu, buka matamu dan coba langkahkan kakimu, percayalah semua akan baik-baik saja," terang Cindy panjang lebar dengan diiringi sebuah senyuman.


"Baiklah, kalau gitu sebaiknya kita akhiri pertemuan ini, sampai jumpa lain waktu," ucap Cindy lagi  yang sudah mulai berdiri dari tempat duduknya.


Cindy mulai melangkah meninggalkan Fariz yang masih duduk di kursinya, memikirkan apa yang baru saja Cindy ucapkan.


Tak lama kemudian, dia pun mulai bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan restoran itu, dia memasuki mobil dan langsung melajukan mobilnya.


Saat baru saja, setengah perjalan, ponselnya kembali berbunyi, dia pun segera mengangkat telepon yang tidak lain dari mamanya itu dengan sebelah tangan dan mata yang serius pada setir dan jalanan di depannya.


Gimana pertemuannya, Riz?  Tanya mamanya dari balik telepon yang terdengar sangat senang.


"Berjalan dengan baik, Ma."


Apa kalian tukeran nomor telepon kalian?


"Iya, Ma."


Baguslah kalau gitu, semoga ini awal yang baik untuk kalian. Mendengar suara mamanya yang terlihat senang itu, membuatnya hanya bisa menghela napas berat.


Dia tidak ingin membuat harapan mamanya itu kembali hancur dengan penolakannya, bukankah dia akan dianggap tidak tau balas budi dan terima kasih, jika dia mengabaikan keinginan kelurga yang telah memberikan segalanya.


"Ma, Fariz lagi nyetir nih, nanti lanjut lagi ya," ucap Fariz.


Baiklah, kalau gitu hati-hati ya, Nak.


"Iya, Ma."

__ADS_1


__ADS_2