
Fariz memasuki unit apartemennya dengan langkah gontai, dia langsung menjatuhkan dirinya di sofa, memejamkan mata dan mengurut pangkal hidungnya yang rerasa berdenyut.
Beberapa saat terdiam dengan posisinya, dia kemudian mendengar pintu di belakangnya terbuka, disusul oleh ketukan tongkat yang berirama dengan langkah kaki si empunya kamar.
Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Ami yang berjalan ke arahnya dengan bantuan tongkat yang tadi pagi diberikan olehnya.
"Apa tongkatnya nyaman?" tanya Fariz saat jarak Ami dengan sofa yang didudukinya hanya berjarak dua langkah.
Ami tersenyum dan mengangguk sebagai jawban atas pertanyaan itu, seperti biasa arah matanya menatap ke sembarang arah.
"Mas, sudah pulang?" Ami balik bertanya dan melanjutkan langkahnya dengan hati-hati.
"Iya," sahut Fariz singkat.
"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Fariz.
"Sudah," sahut Ami yang kini sudah duduk di sofa singgel yang berada di sebelah tempat Fariz duduk.
"Mas, mau nonton tv lagi ya," tebak Ami yang sudah tahu kebiasaan pria itu, jika hari libur.
"Iya," jawab Fariz, meskipun sebenarnya dia tidak memiliki mood untuk nonton saat ini, tapi dia tetap mengiyakan karena dapat melihat, jika wanita di sampingnya itu terlihat bosan.
Fariz mulai menyalakan televisi dan menyambungkannya ke internet agar dapat menonton melalui internet. Dia sengaja mencari film yang bergenre action, romance, karena menurut pengamatannya selama beberapa minggu ini, dia dapat melihat jika Ami menyukai film yang bergenre seperti itu.
"Ini tentang apa, Mas?" tanya Ami saat film sudah mulai.
"Ini tentang anggota mafia yang saling bermusuhan, tapi anak dari ketua mafia itu saling jatuh cinta," sahut Fariz yang sudah melihat cuplikan dari filmnya terlebih dahulu.
"Bukankah itu akan jadi kisah yang rumit," ucap Ami dengan wajah yang sudah menghadap ke arah televisi.
"Kenapa, kamu tidak ingin menontonnya?" tanya Fariz.
''Ami mau kok, Mas," sahut Ami dengan cepat.
Fariz tidak menjawabnya, dia hanya mulai memfokuskan pandangannya pada jalannya film, sambil sesekali menjelskan isi film itu paa Ami yang selalu bertanya tentang jalannya film.
Selama satu jam sudah mereka menonton film itu, hingga film berakhir tapi mood Fariz masih belum kembali normal, pertemuannya dengan Cindy tadi masih mengganggu pikirannya itu.
__ADS_1
"Kenapa, Mas? Apa ada masalah?" tanya Ami yang dapat mendengar beberapa kali helaan napas kasar dari pria di sampingnya itu.
"Ada hal yang memang sedang mengganggu pkiranku," jawab Fariz.
"Masalah apa? Apa masalah pekerjaan, Mas bisa cerita, biasanya kalau ada yang mengganggu pikiranku, aku selalu bercerita pada orang lain agar merasa lebih plong," ucap Ami.
Fariz tidak langsung biacara dia hanya diam, menimbang dalam hati, apakah dia harus bercerita pada wanita di sampingnya itu agar dia bisa sedikit plong.
"Tapi, kalau Mas tidak bisa cerita gak usah dipaksa, Mas." Ami memalingkan wajah ke arahnya dan tersenyum.
"Sebenarnya ini ada hubungannya dengan mamaku," ucap Fariz.
"Ada masalah dengan mamanya, Mas Fariz? Masalah tentang apa?"
"Mamaku, memintaku untuk untuk bertemu dengan seorang wanita tadi."
"Terus apa, Mas Fariz menyukai wanita itu?" tanya Ami dengan perasaan yang kurang nyaman saat mengucapkannya.
"Aku sulit untuk beradaptasi dengan orang baru, tapi melihat mamaku yang antusias dengan pertemuan kami, aku menduga jika dia sudah berharap banyak, agar aku bisa berhubungan dengannya lebih jauh," terang Fariz dengan tatapan menerawang ke depannya.
"Aku bingung, di sisi lain aku tidak ingin memaksakan diri untuk terus berhubungan dengan wanita itu, tapi di sisi lain. Aku juga tidak ingin mengecewakan mamaku dan keluargaku."
"Apa Mas sudah berusaha berbicara pada keluarga Mas, tentang apa yang Mas rasakan itu. Mungkin saja dengan Mas mengatakannya, mereka bisa mengerti dan menyerahkan semua keputusan pada Mas," saran Ami.
"Mamaku sudah beberapa kali mencoba hal ini dan dulu aku selalu menolaknya, kini aku tidak bisa menolaknya lagi, aku tidak ingin membuatnya kecewa lagi," sahut Fariz mengacak rambutnya frustasi.
"Bagaimana kalau Mas coba saja menjalaninya, siapa tau antara Mas dan wanita itu ada kecocokan nantinya," saran Ami yang justru tidak sesuai dengan apa yang hatinya katakan.
Dia merasa, ada sedikit rasa tidak rela, jika pria itu mengikuti sarannya, tapi dia juga tidak bisa memberikan solusi lain.
Mendengar dari apa yang Fariz katakan, pria itu jelas-jelas tidak ingin mengecewakan keluarganya yang sudah berharap padanya.
"Entahlah, saat ini aku belum bisa memikirkan dengan benar, apa yang harus aku lakukan sekarang," sahut Fariz kembali menyadarkan dirinya di sofa.
"Kamu tau, sebenarnya mereka bukanlah keluarga kandungku."
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Fariz membuat Ami memutar tubuhnya, hingga lebih menghadap ke arah pria itu.
__ADS_1
"Jadi, mereka orang-tua angkat?" tanya Ami dengan hati-hati.
"Ya," sahut Fariz singkat.
"Terus, di mana orang-tua kandung, Mas Fariz?" tanya Ami dengan hati-hati.
Hening ... Fariz tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban dari pertanyaan Ami itu.
"Kalau tidak mau cerita tidak apa-apa, Mas, maaf kalau aku usdah lancang banyak tanya," sambung Ami lagi.
Dia memahami mungkin ini adalah privasi Fariz, jadi pria itu tidak mungkin bercerita padanya yang merupakan orang asing di kehidupan Fariz.
"Mama kandungku meninggal saat aku masih berumur, kurang lebih enam tahun dan keluarga itulah yang menjagaku, memberiku kasih sayang layaknya keluarga, hingga aku tidak punya waktu untuk memikirkan kesedihanku di masa lalu."
"Tapi, aku sama sekali belum pernah memberikan mereka apa pun dan sekarang, jika aku tidak mengikuti keinginan mereka, apakah aku termasuk orang yang tidak tau berterima kasih, padahal mereka meminta hal yang sebenarnya untuk kebaikan aku juga."
Ami tidak mengeluarkan suaranya, dia hanya diam memikirkan apa yang Fariz katakan itu, ternyata kehidupan Fariz tidak se-sempurna yang dipikirkan.
"Aku tau bagaimana perasaan Mas kini, di sisi lain Mas belum siap untuk membuka hati dan menjalin sebuah hubungan, tapi di sisi lain, Mas juga pasti tidak ingin membuat keluarga Mas itu sedih lagi dengan penolakan Mas itu."
Fariz mengangguk membenarkan apa yang Ami katakan itu, seandainya Cindy mau menuruti apa perkataannya, mungkin semua tidak akan sesulit itu.
Namun, tadi Cindy menolak mentah-mentah untuk tidak berhubungan lagi dengannya, dia tidak yakin bisa menghindar, jika Cindy benar-benar menyukainya.
"Apa menurut, Mas wanita itu menyukai Mas dipertemuan pertama tadi?" tanya Ami lagi.
"Aku tidak bisa memastikannya, tapi saat aku meminta dia untuk mengatakan jika tidak menyukaiku pada mama dan tidak berhubungan lagi, dia bersikeras membantah hal itu," terang Fariz apa adanya.
Ami mengangguk mengerti, dia dapat menyimpulkan jika wanita itu pasti menyukai Fariz, dipertemuan pertama mereka.
Itu artinya, dia harus bisa lebih mengendalikan diri dan hatinya agar tidak terlalu dalam mengagumi pria itu, agar tidak membuat situasi semakin tak terkendali pada akhirnya.
...----------------...
Assalamu'alaikum semuanya, selamat pagi, makasih buat yang udah ngasih dukungannya, Like, Komen sama vote, makasih yang sebanyak-banyaknya, tanpa dukungan dari kalian aku tidak akan bisa semangat🙏
In Syaa Allah nanti siang/sore up lagi ya, selamat beraktifitas semuanya💪
__ADS_1