
Saat malam hari, selesai makan malam, Ami mendatangi papanya yang sedang bermain bersama Andra di ruang keluarga, dia ingin meminta ijin pada papanya itu untuk pergi ke rumah sakit lagi.
"Pa, Ami mau ke rumah sakit lagi boleh gak?" tanya Ami membuat papanya yang sedang menggoda Andra menoleh ke arahnya.
"Bukannya ini sudah malam," sahut Denis menatap Ami dengan heran
"Iya Pa, teman Ami gak ada yang nemenin di rumah sakit, dia bilang dia kesepian kalau harus nemenin teman kita yang kecelakaan sendirian," ucap Ami.
Maaf, Pa, lagi-lagi Ami harus bohong, aku tidak bisa tenang kalau tidak melihat kondisi Mas Fariz secara langsung, apalagi mungkin ini bisa jadi pertemuan terakhir kita, karena kalau dia sudah pulang, aku tidak akan bisa menemuinya lagi. Batin Ami bermonolog.
"Emang keluarganya tidak ada yang datang apa?"
"Tidak ada Pa, katanya mereka ada urusan lain. jadi baru bisa datang besok pagi," terang Ami.
"Bolehkan Pa, kalau Ami pergi ke rumah sakit?" tanya Ami lagi, kali ini menatap papanya penuh harap.
"Baiklah kamu boleh pergi, tapi besok tidak boleh pergi lagi, tidak baik kalau kamu sering tidur di rumah sakit," ucap Denis menasehati Ami.
Mendapat ijin dari papanya, Ami pun tersenyum senang, dia pun segera pamit pada papanya, "Baiklah Pa, kalau gitu, Ami mau siap-siap ya, takut terlalu malam."
"Iya, pergilah siap-siap," sahut Denis mengangguk.
Ami pun segera masuk ke kamarnya, bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, menjaga pria yang sebentar lagi akan menjadi suami orang lain.
Setiap kali mengingat, jika pria yang dicintainya, tinggal menghitung hari akan menjadi suami dari wanita lain, hatinya terasa sakit dan sesak, tapi dia sekuat tenaga menahan semua itu.
Dia tidak boleh egois, tidak boleh membuat Fariz terus terbebani dengan pilihan-pilihan yang sulit baginya, dia harus bisa berlapang dada membiarkan pria itu mengikuti keinginan orang-tuanya.
Ami sudah selesai bersiap-siap, kali ini dia berpakaian dengan rapi, tidak seperti malam sebelumnya, dia segera keluar dari kamarnya kembali menemui Denis yang masih main dengan cucunya yang sudah berusia setahun lebih itu.
"Pa Ami berangkat ya," pamit Ami pada papanya sambil menyalaminya.
__ADS_1
"Iya hati-hati," ucap Denis.
"Iya Pa," sahut Ami, setelah itu langsung pergi, dia tidak memedulikan kakaknya yang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Pa, kenapa Papa ijinin dia pergi? Bisa saja dia berbohong pada Papa," ucap Zoya saat Ami sudah menghilang dari jangkauan matanya.
"Apa maksud kamu, adik kamu tidak mungkin berbohong," ucap Denis menatap Zoya dengan tidak percaya.
"Ya mudah-mudahan sih seperti itu, Pa." Zoya mengangkat bahunya.
"Kamu itu sampai kapan sih, mau musuhin adikmu seperti itu terus," ucap Denis disertai hembusan napas lelah.
"Aku gak musuhin Ami, Pa, aku cuma takut aja dia salah pergaulan, karena sudah bisa melihat lagi," ucap Zoya.
"Adik kamu tidak mungkin seperti itu, papa percaya sama dia," ucap Denis dengan yakin.
"Oh ya, tapi Pa, apa Papa tau kalau Ami pergi ke luar kota, kalau gak salah saat itu Papa juga lagi tugas di luar kota bukan?"
"Papa tau, adik kamu sudah ijin sama papa sebelum papa pergi," jawab Denis apa adanya.
"Sama temannya."
Mendengar jawaban dari papanya itu, Zoya terkekeh, hingga membuat Denis mengerutkan keningnya dengan heran.
"Aku baru tau, jika semenjak bisa melihat, adikku itu banyak teman pria, dia senang banget kayaknya gaul sama pria," sindir Zoya membuat Denis semakin heran.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu?"
"Ini Papa lihat sendiri," sahut Zoya yang langsung mengutak-atik ponselnya dan memberikannya pada Denis.
Dalam ponselnya itu, sedang terputar sebuah video yang semula tidak ada yang aneh, hanya video Zoya memamerkan pemandangan yang dilewatinya dan sesekali mengarahkan ponselnya pada Daffin yang sedang berjalan sambil menggendong Andra.
__ADS_1
"Ini hanya video kamu lagi jalan-jalan," ucap Denis akan menyerahkan ponsel itu pada Zoya.
"Lihat video itu sampai habis Pa," ucap Zoya dia kemudian pergi dari sana, mengambil susu Andra dan langsung diberikan pada anaknya, sambil memangkunya.
Beberapa detik kemudian, dalam video itu Denis melihat ada pasangan yang terekam tanpa sengaja, Zoya kembali mengarahkan ponselnya ke pasangan itu, di sengaja men-zoom videonya agar orang yang berada agak jauh dengannya itu terlihat dengan jelas.
Terlihat dalam video itu, Ami sedang berjalan dengan seorang pria yang menggandeng tangannya dan terlihat Ami sesekali tersenyum sambil menunjuk sesuatu.
"Apa itu pacar Ami?" tanya Zoya, Denis hanya melihat Zoya sekilas kemudian menggelang, tanda jika dia tidak tahu.
Denis melihat lagi video itu dan saat dapat melihat wajah pria di video itu, Denis menyetop videonya, dia menatap pria itu dengan seksama, tak lama kemudian matanya terbelalak, saat ingat siapa pria itu.
Pria yang tidak lain adalah saudara dari atasannya, pria yang belum lama ini dia hadiri saat acara pertunangannya, kini timbul tanya dalam benaknya, bagaimana bisa Ami bersama pria itu dan mereka terlihat bukan seperti teman biasa.
"Jika dia memang bukan pacar Ami, kenapa dia terlihat sangat dekat dengan laki-laki itu, tapi jika dia memang benar pacarnya, kenapa Ami menyembunyikan hal ini dari Papa?" tanya Zoya yang seolah sengaja ingin membuat papanya meragukan Ami.
"Bahkan saat itu, aku sengaja ngikutin mereka dan aku cukup kaget saat tau mereka masuk di hotel yang sama, tapi sayang saat aku bertanya tentang kamar mereka terpisah atau tidak, resepsionis di hotel itu tidak menjawabnya," terang Zoya lagi, sengaja memanasi Denis.
"Apakah yang kamu katakan ini benar?" tanya Denis yang tidak ingin mempercayai jika anak bungsunya melakukan hal yang tidak baik.
Bagaimana bisa anaknya itu, menjalin hubungan dengan pria yang sudah bertunangan, tiba-tiba saja ingatannya tertuju pada malam dimana dia dan Ami pulang dari acara pertunangan Fariz.
Apa dia saat itu bertanya, tentang nama pria itu karena dia memang menyukainya, tunggu dulu. Denis menghentikan ucapan dalam hatinya, saat mengingat sesuatu lagi.
Tadi pagi saat di kantor, atasannya telat datang untuk meeting dan dia mengatakan, jika dia harus menjaga saudaranya yang kecelakaan di rumah sakit.
"Pa, kenapa Papa diam?" tanya Zoya yang melihat papanya itu melamun.
"Tidak ada, kamu bawalah Andra ke kamar, dia sudah tidur," sahut Denis menyerahkan ponselnya yang semula masih digenggamnya pada Zoya.
"Baiklah, kalau gitu Zoya ke kamar dulu ya, Papa juga segeralah istirahat," ucap Zoya mengambil ponselnya itu dari papanya.
__ADS_1
Dia kemudian menggendong anaknya yang sudah terlelap itu dan melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya, meninggalkan Denis yang masih melamun, memikirkan Ami.
Dia tidak ingin mempercayai apa yang baru saja dilihatnya, tapi dia tidak dapat menampik, jika dia merasa kecewa, pada anaknya itu, jika semua itu memang benar.