
Fariz dan Ami sudah sampai di apartemen, mereka memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Saat Fariz sudah selesai mandi, dia kembali turun ke ruang tengah, dia memesan makanan untuk dia dan Ami secara online.
Baru saja dia mendudukkan dirinya, di sofa. Suara bel kembali membuatnya beranjak dari sofa itu dan mengintip dari pintu siapa yang bertamu di jam seperti ini.
"Mama!" gumamnya dengan kaget, saat melihat Alisha sedang berdiri depan pintu.
"Gawat aku lupa, tadi, kan Mama bilang akan ke sini," ucapnya lagi sambil menepuk keningnya.
Dia bergegas menuju ke kamar Ami, baru saja dia akan mengetuk pintu kamar itu, si empunya kamar sudah membuka kamar lebih dulu.
"Mi, bisakah kamu diam di kamar, jangan keluar dari kamar sampai aku memintanya," pinta Fariz.
"Memangnya kenapa gitu, Mas?" Ami mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Saat ini di luar ada Mama aku, dia bisa salah paham kalau tau aku membiarkan orang lain tinggal di sini, apalagi seorang wanita," terang Fariz.
"Baiklah, Mas. Aku akan diam di kamar," sahut Ami, sedikit sedih karena Fariz tidak membiarkan dia bertemu dengan mamanya.
"Nanti aku akan memanggilmu, saat Mamaku sudah pergi," ucap Fariz.
"Iya, Mas."
Setelah pintu kamar itu tertutup, Fariz beberapa kali menghela napas untuk menenangkan hatinya, setelah dirasa siap dia pun membuka pintu.
Sebuah senyum tipis terpasang di wajahnya, dia bersikap seolah tidak ada yang disembunyikan olehnya pada wanita yang telah membesarkannya itu.
"Maaf, Ma. Barusan Fariz lagi dibaju dulu, baru beres mandi," ucap Fariz. "Ayo masuk, Ma," sambungnya lagi, kemudian membuka pintu lebih lebar lagi agar Alisha bisa masuk.
"Kamu kenapa gak kerja, apa kamu baik-baik saja?" tanya Alisha sambil berjalan menuju ke sofa.
"Fariz baik-baik saja, Ma. Fariz lagi pengen istirahat saja, makanya gak pergi kerja," sahut Fariz mendudukkan dirinya di sofa mengikuti Alisha yang sudah duduk terlebih dulu.
"Mama kira kamu sakit, makanya Mama langsung ke sini," ucap Alisha lega.
"Fariz baik-baik saja, tadikan pas di telepon udah dijelasin."
"Mama takut kamu bohong tadi, oh iya, gimana hubunganmu sama Cindy sekarang?" tanya Alisha merubah topik pembicaraan.
"Baik, Ma. Kita sering chat-an." Maafkan Fariz karena telah bohong, Ma, sambung Fariz dalam hatinya.
"Baguslah kalau gitu, mama sangat berharap kamu dan dia berjodoh, agar mama sama papa kamu bisa tenang," ucap Alisha sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Ma," sahut Fariz dengan memaksakan senyum.
"Mama sudah cukup lama mengenalnya, selain baik, Cindy juga wanita yang humble dan gampang menyesuaikan dirinya dengan orang baru, mama berharap dengan kamu bersamanya akan membuatmu kembali normal."
Fariz hanya mengangguk tanpa semangat, semakin mamanya bilang dia menyukai Cindy semakin tidak nyaman juga bagi dirinya.
"Mama tau kamu butuh waktu, dia juga sudah mengatakan pada mama sehari setelah kalian bertemu, dia ingin mengenal kamu lebih dalam dulu, jadi tidak ingin terburu-buru."
Fariz hanya menyahuti ucapan Alisha itu sekenanya, dia benar-benar tidak memiliki minat untuk membahas masalah Cindy.
Sementara itu di dalam kamar, Ami saat ini sedang diam di depan pintu kamarnya, dia dapat mendengar obrolan antara ibu dan anak itu.
"Sepertinya Mama, Mas Fariz sangat menyukai wanita itu, dia terus memujinya, apa aku tidak boleh terlalu berharap, jika Mas Fariz akan menyukaiku," gumamnya sambil melangkah menuju ke ranjangnya.
...*****...
"Mama mau minum, biar Fariz Ambilkan," ucap Fariz yang sengaja mengalihkan pembicaraan seputaran Cindy.
"Tidak perlu, biar mama ambil sendiri saja," sahut Alisha sambil beranjak dan menuju dapur untuk mengambil minum.
Dia mengambil gelas dari lemari penyimpanan, saat netranya tidak sengaja melihat ke tong sampah, dia mengerutkan kening karena tong sampah di bawah kompor itu penuh oleh nasi dan beberapa telor yang hitam.
"Kamu masak sendiri, Riz?" tanya Alisha sambil mengambil air dari teko yang berada di meja makan.
"Emang ke mana, art kamu itu?"
"Dia ijin karena suaminya sakit katanya," ucap Fariz.
"Kenapa gak beli aja sih, daripada hancurin dapur."
"Tadi Fariz cuma nyoba aja, Ma."
Alisha tidak menyahutinya lagi, dia kemudian menuangkan air ke gelas dan membawanya ke meja sofa.
"Kamu sekarang udah makan lagi belum?" tanya Alisha, sambil mendudukan dirinya di sofa dan meneguk air minumnya.
"Belum, Ma."
"Mama masakin kalau gitu," ucap Alisha akan beranjak lagi dari sofa, tapi segera ditahan oleh Fariz.
"Tidak usah, Ma. Fariz barusan sudah pesan, bentar lagi juga kayaknya sampai," ucap Fariz, melarang Alisha yang akan beranjak dari sofa.
"Baiklah, kalau gitu. Mama mau numpang ke kamar mandi dulu ya," ucap Alisha yang langsung berdiri dan menuju ke kamar tempatnya Ami.
__ADS_1
Melihat hal itu Fariz panik bukan main, secara reflek dia berbicara dengan setengah teriak, "janagan!"
"Kenapa?" tanya Alisha menatap Fariz dengan heran melihat gelagat aneh dari anaknya itu.
"Eummm, kamar mandi di sana rusak, sebaiknya Mama ke kamar mandi kamar atas aja," terang Fariz berusaha tetap tenang.
"Kenapa terlihat panik gitu, apa ada yang kamu sembunyikan?" tanya Alisha dengan menyipitkan mata, menatap Fariz curiga.
"Tidak ada yang Fariz sembunyikan, Ma," sahut Fariz dengan terkekeh, meyakinkan Alisha agar tidak curiga dan nekad membuka kamar itu.
Jika sampai Alisha sampai membuka kamar itu dan melihat ada Ami di dalam, entah apa yang akan dipikirkan olehnya, seorang pria lajang membiarkan seorang wanita tinggal di rumahnya, bahkan sampai berbulan-bulan.
Suara bel, membuat perhatian mereka teralihkan dan Fariz bernapas lega, karena dia terselamatkan dari situasi itu.
Dia segera bangun dari duduknya dan menuju ke pintu, mengambil pesanannya dari kurir yang mengantarnya.
Sementara Alisha, memutar langkahnya menaiki tangga menuju ke kamar Fariz untuk menumpang ke kamar mandi.
"Untung saja Mama percaya," gumam Fariz mengusap dadanya pelan, karena merasa lega.
Dia melihat ke arah pintu kamarnya masih tertutup, sepertinya Alisha akan sedikit lama di kamar mandi.
Segera dia pergi ke dapur, mengambil piring dan menuangkan nasi ke piring dengan cepat, mengambil lauknya yang masih berada di dalam wadah dari restoran yang dia pesan barusan, tidak lupa juga dengan segelas air putih.
Setelah semuanya selesai, dia langsung membawa semua itu dengan nampan dan menuju ke kamar Ami, dia takut mamanya akan agak lama lagi di sana dan hal itu akan membuat Ami kelaparan di dalam kamar wanita itu.
"Mi, ini makanan untukmu, kamu makan di sini saja ya, Mamaku belum pulang, takut nanti pulangnya lama," panggil Fariz mengetuk pintu kamar Ami dengan pelan.
Ami membuka pintu dan mengambil nampan itu dengan hati-hati. "Terima kaksih, Mas."
"Iya cepatlah masuk lagi dan makan," ucap Fariz dengan terus melihat ke arah tangga, takut mamanya keburu turun.
Ami mengangguk dan segera masuk kembali ke kamarnya, sedangkan Fariz kembali mendudukkan dirinya dan baru saja b*kongnya menyentuh sofa, terdengar suara pintu kamarnya terbuka.
Alisha terlihat menuruni tangga dengan langkah ringan, Fariz menghela napas lega karena dia telah memberikan makanan pada Ami, jadi jika mamanya lama berada di sana.
Dia bisa tenang karena hal itu, sungguh saat ini dia merasa seperti seorang suami yang tengah berselingkuh di belakang istrinya.
"Ma, ayo kita makan," ajak Fariz Alisha yang baru sampai di dekat sofa.
"Ayo, kebetulan mama udah lapar, tadi hanya makan siang sedikit," sahut Alisha mengangguk.
Mereka pun makan dengan berbincang ringan, benar saja perkiraan Fariz, mamanya itu baru pulang dari apartemennya saat sudah malam, di jemput oleh Nevan.
__ADS_1
Untung saja sebelumnya dia sudah memberikan makanan pada Ami, jika tidak seperti itu, maka dapat dipastikan wanita itu akan kelaparan menunggu Alisha pergi.