Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Berubah Pikiran.


__ADS_3

"Namanya adalah ...." Denis menghentikan ucapannya itu, karena ponselnya yang berada di saku jas yang dikenakannya bergetar.


"Bentar ada telepon dulu," ucap Denis, saat melihat telepon masuk itu dari sekertarisnya.


Dia segera memasang earphond bluetooth di telinganya, agar bisa bicara dengan si penelepon dan tetap fokus pada setirnya.


Melihat papanya sibuk berbicara dengan orang di telponnya, Ami hanya menghela napas panjang, padahal dia sudah sangat ingin menanyakan nama pria itu.


Entah kenapa hatinya begitu penasaran pada pria yang baru saja resmi bertunangan itu, dia bingung sendiri dengan hati dan pikirannya yang hanya tertuju pada pria yang baru saja dilihatnya sekilas.


Apa benar aku, malah memiliki perasaan pada pria yang jelas-jelas baru saja bertunangan itu, tidak. Ami kamu gak mungkin jadi perusak hubungan orang lain, bukan? Ingat tujuan kamu saat ini yaitu mencari Mas Fariz. Ami bermonolog dalam hatinya.


"Kamu masih ingin tau nama pria tadi?" tanya Denis yang baru saja mengakhiri telepon antara dirinya dan sekertarisnya itu.


"Gak jadi, Pa. Ami sudah tidak ingin tau lagi," sahut Ami menggeleng.


"Baguslah kalau gitu, kamu jangan sampai menyukai pria yang sudah memiliki pasangan, bahkan sudah ditahap serius," ucap Denis.


"Ami gak menyukainya, Pa. Ami hanya penasaran saja dengan namanya." Ami terpaksa berbohong, dia tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya, dia tidak ingin dicurigai memiliki perasaan lain pada pria itu.


"Apa kamu masih mengharapkan orang yang menolongmu itu?" tanya Denis tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.


"Masih, Pa. Sebelum aku menemukannya, aku tidak akan menyerah," ucap Ami mengangguk dengan yakin.


"Kenapa kamu tidak mencoba memikirkan hidupmu sendiri, Nak."


"Maksud Papa apa?" tanya Ami dengan tidak mengerti maksud dari ucapan papanya itu.


"Jangan terus memikirkan orang yang belum tentu memikirkanmu juga, lagian mau sampai kamu memikirkan orang yang bahkan tidak jelas," ucap Denis.


"Tapi Ami tidak bisa melupakannya, Pa, semua sikap baiknya pada Ami sudah melekat dalam hati dan pikiran," sahut Ami dengan nada sedih.

__ADS_1


"Bagaimana kalau saat kamu bertemu dengannya, dia sudah memiliki kehidupan lain, memiliki istri misalnya," ucap Denis menatap Ami sekilas dan kembali melihat ke arah jalan.


"Papa merasa kamu tidak mencintai pria itu, tapi kamu hanya merasa berterima kasih padanya karena dia sudah menolongmu dulu," ucap Denis membuat Ami menggeleng.


"Itu bukan sekedar rasa terima kasih saja, Pa," sahut Ami dengan yakin, dia menyanggah apa yang menjadi asumsi papanya itu.


"Kalau seandainya dia memang sudah menikah, Ami tidak akan mengganggu dan mengharapkan dia lagi, tapi untuk saat ini Ami hanya ingin bertemu dengannya dulu," sambungnya lagi.


"Papa bukan tidak mendukung keinginanmu itu, tapi papa hanya takut, kamu akan kecewa nantinya, jika semua tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan," terang Denis, memberi pengertian pada anaknya itu agar tidak salah tanggap dengan apa yang diucapkannya.


"Iya, Pa. Ami mengerti jika Papa hanya ingin yang terbaik untuk Ami, Papa tenang saja aku sudah mempersiapkan hati untuk hal terburuk, jika seandainya nanti, kami dipertemukan kembali," ucap Ami tersenyum pada papanya.


Dia berusaha menenangkan papanya itu, agar tidak menghawatirkan dirinya. Dia memang sudah mempersiapkan hatinya untuk hal yang terburuk, nantinya saat dia bertemu lagi dengan pria itu.


"Syukurlah jika memang seperti itu, papa harap apa pun yang terjadi kelak, kamu tidak boleh sedih terlalu lama," ucap Denis mengusap kepala bagian belakang Ami dengan satu tangannya dan tangan yang lainnya masih sibuk dengan setir.


"Iya, Pa. Papa tenang aja Ami akan baik-baik saja," sahut Ami tersenyum pada papanya itu.


"Kamu cepatlah ke kamar bersih-bersih dan langsung istirahat, ini sudah malam," perintah Denis pada Ami saat mereka sudah memasuki rumah.


"Iya, Pa. Papa juga langsung istirahat ya, jangan ngurusin lagi pekerjaan," ucap Ami.


"Iya, iya. Papa akan langsung istirahat, jamu tenang saja," sahut Denis.


"Baiklah." Ami mulai melangkah menuju ke kamarnya begitu pun dengan Denis.


Saat sampai di kamarnya, dia segera memasuki kamar mandi, membersihkan dirinya terlebih dahulu dan keluar lagi dengan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya.


Ami mengambil baju tidur, beserta pakaian dalamnya dan langsung mengenakannya, setelah selesai dia mulai merebahkan tubuhnya di ranjang.


Sebelum tertidur seperti biasa memeriksa ponselnya terlebih dahulu, memeriksa apakah ada pesan atau tidak, karena belum terlalu ngantuk dia pun membuka aplikasi yang khusus untuk menonton film.

__ADS_1


Dia mengetikkan judul film yang pernah dia dan Fariz tonton, saat dia tinggal di tempat tinggal pria itu dulu, saat film sudah mulai berjalan, Ami pun kembali mendudukkan dirinya.


Secara perlahan matanya terpejam, hingga hanya suara dari ponselnya saja yang dapat terdengar dan ingatan tentang Fariz yang selalu menceritakan tentang jalannya film.


Disaat dia memikirkan suara Fariz yang memenuhi pikirannya, tiba-tiba saja wajah pria yang membuatnya penasaran itu, juga hadir dalam pikirannya.


Ami malah membayangkan, jika pria itulah yang sedang menerangkan tentang film itu, seperti yang Fariz lakukan dulu.


"Kenapa dia malah datang dalam pikiranku, aku jadi gak konsen lagi dengerin suara Mas Fariz-nya," decak Ami karena kesal dengan wajah pria yang baru saja bertunangan itu malah hadir dalam pikirannya.


"Sadar Ami, sadar. Kamu tidak menyukai pria itu, bukan? Ingat pria itu sudah bertunangan, kamu juga tidak mengenalnya, bagaimana bisa kamu malah memikirkannya," gerutunya sambil menepuk-nepuk pipinya.


"Apa memang tidak ada takdir untuk kita, Mas. Tapi kenapa aku tidak bisa melupakanmu, jika memang kamu bukanlah takdir untukku, bisakah kamu pergi dari pikiranku dan jangan menggangguku lagi," gumam Ami dengan sedih.


Egonya memintanya berhenti untuk terus berharap, tapi hati dan pikirannya tidak bisa berhenti untuk terus terpaku pada pria itu.


Seolah ada ikatan yang mengikat hati dan pikirannya itu untuk terus menempatkan pria itu di sana, tidak membiarkan siapa pun menyentuh atau singgah di sana.


"Apa kamu benar-benar telah bersama dengan wanita yang mamamu sukai itu." Ami menatap kosong di depannya.


"Kenapa baru saja memikirkan kamu yang sudah memiliki kehidupan bahagia dengan wanita itu, aku sudah merasa sesak, hingga sulit bernapas Mas," gumamnya lagi yang tiba-tiba saja menangis.


Padahal beberapa waktu lalu, dia berkata dengan yakin pada papanya, jika dia akan baik-baik saja dan sudah bertekad untuk menerima kenyataan terburuk nantinya.


Namun, hatinya tidak bisa bohong, belum apa-apa dia sudah merasa rapuh, bagaimana jika saat dia bertemu dengan pria itu dan tahu jika pria itu, memang sudah meresmikan hubungannya dengan Cindy.


"Bisakah aku kuat nantinya," gumamnya lagi yang sudah mulai memghapus air mata yang mulai meleleh di pipinya itu.


...----------------...


Sabar ya para pembacaku tersayang, belum saatnya Ami tau tentang Fariz,😁

__ADS_1


__ADS_2