
Fariz membukakan pintu mobil untuk Ami dan Ami pun mengucapkan terima kasih untuk apa yang dilakukannya itu, lalu mulai memasuki mobil, duduk dengan santai di samping kemudi.
"Mas kita akan bertemu lagi, kan?" tanya Ami saat Fariz baru saja duduk di kursi mobil.
Bukan tanpa alasan, Ami menanyakan hal itu, dia hanya sedikit takut, jika pria aitu akan kembali mengindar darinya.
Sementara Fariz, menatapnya dalam dia kemudian memegang kedua pipi Ami, dia mengangkat wajah Ami yang semula menunduk, agar melihatnya.
"Kita akan bertemu lagi, aku tidak akan pernah menghindar darimu, coba tatap mataku, apa kamu tidak percaya dengan perkataanku, apa kamu tidak dapat melihat keseriusan dari semua ucapanku?"
Ami menuruti ucapan Fariz, dia menatap dalam mata pria itu, menelisik lebih dalam, mencari adakah kebohongan dalam ucapannya itu.
"Zamira aku mencintaimu, aku mungkin saat ini belum bisa memberikanmu status yang nyata dan jelas, tapi aku akan memberikanmu semua itu saat waktunya telah tiba, bisakah kamu mempercayai ucpanku ini?" tanya Fariz tanpa mengalihkan sedikit pun tatapannya, dari mata Ami.
Dia dapat melihat keraguan dalam mata Ami, dia memaklumi hal itu, mengingat saat ini hubungan mereka adalah hubungan yang masih tersembunyi.
Ami memegang tangan Fariz yang masih berada di pipinya, dia kemudian menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Ya ... saat ini dia harus yakin pada Fariz, yakin jika apa yang pria itu ucapkan adalah yang sesungguhnya.
"Maaf, bukan maksud meragukanmu, aku hanya takut, jika nanti kamu menghindar dariku lagi," sahut Ami dengan lirih.
"Dengan aku menghindar darimu, itu sama saja dengan aku menyiksa diri aku untuk kesekian kalinya, aku sudah cukup lelah melakukan hal itu, tersiksa karena ulahku sendiri," sahut Fariz masih dengan nada yang penuh dengan kesungguhan.
"Baiklah, Ami percaya, Mas tidak akan menghindar dariku lagi."
Akhirnya mereka berdua, kembali tersenyum bersama, Fariz mulai memasang sabuk pengamannya dan mulai menghidupkan mobilnya.
Mobil itu mulai melaju membelah jalanan yang sudah gelap, dihiasi oleh cahaya lampu jalan dan lampu dari kendaraan lain yang berlalu lalang.
Tak ada yang bersuara di antara mereka berdua, mereka sama-sama diam, menikmati perjalanan mereka itu.
Fariz masih ingat betul, di mana alamat tempat tinggal Ami, hingga dia tidak bertanya lagi di mana alamat rumah itu.
Perlahan tapi pasti mobil yang Fariz kemudikan itu sudah mulai mendekati rumah Denis dan tidak memerlukan waktu lama, mobil itu berhenti tidak jauh dari gerbang rumah Denis.
"Mas, jangan turun. Diam saja di mobil," ucap Ami sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Iya, kamu segeralah istirahat," sahut Fariz.
"Iya, Mas juga langsung pulang ya, jangan mampir ke mana pun," ucap Ami dengan nada memperingati.
"Iya, aku pasti langsung pulang," sahut Fariz menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku turun ya, Mas hati-hati di jalannya," ucap Ami yang sudah mulai membuka pintu mobilnya.
"Tunggu, Mi," ucap Fariz membuat pergerakan Ami yang sedang membuka pintu mobil, hingga terbuka sedikit itu, menjadi terhenti dan langsung menatapnya dengan heran.
"Mana ponselmu," ucap Fariz mengulurkan tangan pada Ami.
"Untuk apa?" tanya Ami.
"Pinjem sebentar," sahut Fariz.
Ami pun mulai mengeluarkan ponsel di tasnya dan memberikannya pada Fariz, meskipun tidak mengerti, apa yang akan Fariz lakukan pada ponselnya itu.
Fariz mengambil ponsel Ami dan mengutak-atiknya, setelah beberapa saat kemudian ponsel miliknya yang ada di saku celananya berbunyi.
"Ini, kalau kita tidak punya nomor ponsel masing-masing, bagaimana kita akan saling mengabari nantinya," ucap Fariz sambil menyerahkan kembali ponsel Ami pada pemiliknya.
"Aku bahkan lupa tentang itu," ucap Ami menepuk keningnya sendiri.
Karena terlalu hanyut dalam kebahagiaan yang baru saja dirasakan, dia sampai lupa untuk hal yang seperti sepele padahal sangat penting itu.
"Aku tau kamu akan melupakan hal itu," sahut Fariz lagi-lagi dia terkekeh, entah sudah ke berapa kalinya, dia terkekeh dan tersenyum selama beberapa jam ini.
Ini merupakan hal yang langka dalam hidupnya, bisa tersenyum bahkan sampai terkekeh beberapa kali dalam sehari. Karena biasanya, meskipun dia sedang bersama keluarganya, dia tidak pernah tersenyum terlalu sering.
"Iya, segeralah turun, lihat tuh penjaga di rumah kamu udah nungguin kamu dari tadi," ucap Fariz menujuk ke arah Candra yang sudah berdiri dari tadi di gerbang yang sudah terbuka.
"Iya, selamat malam Mas," ucap Ami sambil membuka pintu mobil lebih lebar.
"Iya," sahut Fariz tersenyum.
Ami segera menutup pintu mobilnya, dia kemudian melambaikan tangan pada Fariz yang sudah menghidupkan kembali mobil. Namun, tidak segera menjalankan mobilnya itu.
"Cepatlah masuk!" perintah Fariz sambil membuka sedikit jendela mobilnya.
"Iya Mas." Ami menganggukkan kepalanya dan memasuki gerbang itu.
"Aku janji akan memberikanmu sebuah hubungan yang resmi, tidak harus sembunyi-sembunyi seperti ini lagi," janji Fariz dengan tatapan lurus pada Ami yang terlihat masih berbincang dengan Candra.
Sementara itu, Candra yang dari tadi dia menunggu di gerbang merasa heran, saat Ami yang turun dari mobil yang berhenti di depan gerbang itu.
"Non Ami, diantar sama siapa? Itu sepertinya bukan mobil Mas Rayyan," ucap Candra pada Ami yang kini sudah berada di depannya.
"Itu mobil teman aku, Pak. Dia memang bukan Rayyan," sahut Ami.
__ADS_1
"Pacar Non, ya." Goda Candra pada Ami.
"Bukan ih, Pak, dia itu bukan pacar aku, tapi calon suami aku," sahut Ami sambil tertawa di akhir ucapannya.
"Serius Non, itu calon suami Non. Kok Pak Candra belum pernah lihat?" Candra menatap Ami dengan heran.
"Bercanda, Pak. Serius banget, aku masuk dulu ya." Ami langsung pergi meninggalkan Candra yang masih menatapnya dengan penuh tanya.
Ami memasuki rumahnya, ternyata papanya berada di sofa ruang keluarga, fokus pada siaran televisi di depannya dan baru mengalihkan perhatiannya, saat mendengar langkah kaki yang yang mendekatinya.
"Baru pulang, Nak. Dari mana kamu?" tanya Denis pada Ami.
"Ami habis ketemu teman lama, Pa. Maaf ya pulangnya agak telat," ucap Ami terpaksa berbohong.
"Iya tidak apa-apa, kamu udah makan belum, kalau belum bersih-bersih dulu gih, terus makan," ucap Denis.
"Ami udah makan barusan sama teman Ami, kalau Papa udah makan belum?" tanya Ami.
"Udah," sahut Denis.
"Syukurlah kalau gitu, Ami mau ke kamar dulu ya, Pa. Mau langsung istirahat aja."
"Iya pergilah, istirahat."
"Papa juga jangan terlalu malam istirahatnya," ucap Ami, dijawab anggukan kepala oleh Denis.
Ami melanjutkan langkah menuju ke kamar, seperti biasa, dia langsung menuju ke kamar mandi, membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu baru merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya.
Dia membuka ponsel dengan posisi terlentang, membuka aplikasi tempat penyimpanan nomor telepon, menscroll ponselnya itu, hingga gerakannya terhenti pada sebuah nama yang baru dengan nomor yang baru pula.
Mas Pacar. Ami terkekeh geli melihat nama kontak itu, sudah dapat dipastikan jika itu adalah nomor Fariz yang baru saja pria itu tambahkan.
"Mas pacar," gumamnya sendiri, memggeleng tak percaya, jika Fariz akan menamai nomor kontaknya seperti itu.
Ami kemudian menekan icon ke aplikasi tempat chat di ponselnya, dia pun mengirimkan pesan pada Fariz.
Mas pacar, setelah sampai ke apart, langsung tidur ya, aku juga mau langsung tidur nih. Isi pesan yang Ami kirimkan pada Fariz.
Iya, good night and have a nice dream. Isi pesan balasan dari Fariz membuat Ami kembali tersipu malu.
"Ya ampun, aku tidak pernah menyangka pria itu bisa semanis ini," gumam Ami dengan gemas.
Malam ini baik Ami maupun Fariz, mereka tidur dengan perasaan senang yang tiada tara, seolah beban berat yang telah menghimpit mereka selama ini, kini telah terangkat, hingga menghadirkan kelegaan dalam hati pasangan itu.
__ADS_1