Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Berduaan Lebih Lama.


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Fariz merasa pundaknya terasa lebih berat dari sebelumnya, saat menengok ke sampingnya, ternyata mata Ami sudah tepejam.


Fariz mulai melingkarkan tangannya di pundak Ami untuk menahan agar wanita itu tidak jatuh. Setelah menunggu beberapa saat, dia mulai menggerakkan dirinya sedikit demi sedikit dan membawa tubuh Ami di gendongannya.


Dia membawa Ami ke kamarnya, direbahkan dengan hati-hati di ranjang empuk itu dan memakaikan selimut pada tubuh Ami untuk menghangatkan tubuhnya.


Ami tidak terusik sama sekali dari tidurnya, mungkin karena dia lelah menangis, hingga kini tertidur dengan begitu nyenyak.


Setelah memastikan posisi Ami nyaman, Fariz tidak langsung beranjak, tapi tetap berdiri di samping ranjang memperhatikan wanita yang sudah terlelap dengan di depannya itu dengan seksama.


"Aku tidak tahu jika kamu ternyata mengalami hal yang kurang menyenangkan sejak kamu masih kecil, tapi kamu adalah wanita yang hebat, kamu masih bisa bersikap seolah kamu baik-baik saja pada dunia."


"Seandainya aku bisa, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi bersamamu, saling berbagi segalanya, memberikan kehidupan yang paling nyaman untukmu."


"Tapi, aku sadar mungkin itu hal yang mustahil, ada tanggung jawab lain yang harus aku prioritaskan, yaitu membuat keluargaku senang, semoga suatu saat nanti kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri."


Setelah mengatakan hal itu, Fariz mulai membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan kamar itu, meninggalkan Ami yang telah berselancar ke alam mimpinya yang tenang.


...*****...


Ami mulai mengerjapkan matanya secara perlahan, dia meraba jam di nakas, jam khusus yang Fariz beli untuknya agar dia tau waktu.


"Udah siang, apa semalam aku ketiduran di samping Mas Fariz? Dan Mas Fariz membawaku ke kamar," gumam Ami dengan pipi yang terasa panas, membayangkan jika dia semalam tidur di samping pria baik itu.


Tidak hanya itu, pria itu juga membawanya ke kamarnya ini, meskipun ini bukanlah yang pertama kali dia digendong, tapi perasaan dalam hatinya kini telah berbeda.


"Sekarang bagaimana dengan hatiku yang tidak dapat aku kendalikan lagi," gumam Ami sambil memegang dadanya.


Ami hanya bisa menghela napas pasrah dengan bagaimana kelanjutan hidupnya nanti, dia kemudian turun dari ranjangnya dan menuju ke kamar mandi.


Setelah menghabiskan waktu 15 menit, dia pun keluar lagi dari kamar mandi dengan handuk di kepala dan jubah mandi yang melekat pada tubuhnya.


Dia segera berpakaian dan langsung keluar dari kamarnya dengan bantuan tongkat seperti biasa, saat pintu kamar terbuka aroma harum masakan memenuhi hidungnya.


Perutnya semakin terasa bergejolak, minta diisi saat mencium aroma masakan yang tercium sangat harum itu, dia melangkah menuju dapur dan memanggil Ijah.


"Bi," panggilannya membuat orang yang tengah sibuk di depan kompor itu lantas menengok ke arahnya.

__ADS_1


"Ini aku," Sahut Fariz yang saat ini tengah sibuk membuat sarapan untuk mereka berdua.


"Mas, kok Mas yang masak, Bibi ke mana?" tanya Ami melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti di ambang pintu,


"Bi Ijah hari ini ijin, suaminya sakit jadi dia mau nganterin suaminya ke rumah sakit dulu," jawab Fariz membolak-balikkan nasi goreng yang dimasaknya.


"Oh." Ami menganggukkan kepalanya paham. "Mau Ami bantu gak buat sarapannya?" sambungnya yang kini berdiri di samping Fariz.


"Tidak perlu, sebentar lagi selesai," tolak Fariz.


Ami mengangguk patuh, dia tetap bertahan dengan posisinya, tidak bergeser atau bergerak sesenti pun, hingga terdengar Fariz mematikan kompor.


"Sudah selesai, Mas?" tanya Ami.


"Sudah kamu sebaiknya tunggu saja di meja makan, aku akan membawa makanan ini ke sana," perintah Fariz sambil menuangkan nasi gorengnya dari teflon ke wadah khusus nasi.


"Biar Ami bantu bawa ke meja makan, Mas," tawar Ami lagi.


"Tidak, pergi duluan!" tekan Fariz pertanda dia tidak ingin dibantah.


Ami mendudukkan dirinya di kursi meja makan, tak lama kemudian Fariz datang dan menyimpan nasi goreng yang di masaknya di depan Ami.


"Mas Fariz bisa masak juga ternyata," ucap Ami dengan takjub.


"Tidak bisa, tadi aku lihat dari internet tutorialnya," sahut Fariz, lalu matanya melirik ke tong sampah yang ada di bawah meja kompor yang telah penuh dengan ceplok telor yang hitam, juga nasi goreng yang gagal dibuatnya.


Untung saja Ami tidak dapat melihat kekacauan di dapur yang disebabkan olehnya karena berusaha membuat sarapan untuk mereka berdua.


"Tapi dari wanginya kayaknya enak masakan pertama Mas," ucap Ami lalu mulai mengambil nasi gorengnya ke piring.


Fariz tidak menjawabnya, dia hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Ami yang mengambil nasi goreng itu dan langsung memakannya.


"Gimana rasanya, kalau gak enak jangan dipaksain makan," ucap Fariz saat Ami sedang mengunyah makanannya.


"Ini enak kok untuk pemula, hanya kurang garam dikit aja menurutku," sahut Ami tersenyum dan melanjutkan makannya.


Melihat Ami makan dengan lahap, Fariz mulai menyedok nasi itu ke piringnya, dia mulai memasukkan suapan pertama dengan sendok dan menganggukkan kepala.

__ADS_1


Ini memang lebih baik dari nasi goreng seblumnya yang rasanya tidak karuan, setidaknya ini masih bisa dimakan, meskipun memang kurang garam.


"Mas ini bukannya udah siang ya, kenapa belum berangkat kerja?" tanya Ami yang baru saja selesai dengan sarapannya.


"Hari ini aku gak pergi kerja dulu, karena gak terlalu banyak kerjaan," sahut Fariz.


"Oh, gitu ya," ucap Ami mengangguk.


Setelah itu Ami membereskan meja makan dibantu oleh Fariz, setelah selesai dengan meja makan lanjut ke dapur, dia mencuci peralatan, sedangkan Fariz mengelap kompor dan mejanya, membereskan kekacauan yang dibuatnya.


"Mas, kenapa Mas tinggal terpisah dengan orang-tua Mas?" tanya Ami di sela-sela kegiatannya.


"Gak nyaman saja, terus tinggal bareng orang-tua saat aku sudah dewasa, apalagi setelah saudara angkatku menikah dan terpisah juga, jadi aku memutuskan untuk tinggal terpisah juga," terang Fariz tanpa menghentikan kegiatannya.


"Ya, meskipun awalnya mama melarang, tidak setuju dengan niatku untuk pindah, tapi setelah diberi pengertian akhirnya dia pun mengijinkannya," sambungnya lagi.


"Mama Mas Fariz sepertinya sangat menyayangi Mas seperti anaknya sendiri," ucap Ami sambil tersenyum.


"Ya, mereka memang menyayangiku, mereka tidak pernah membedakan antara aku dan Aaric yang notabene-nya adalah anak kandung mereka," sahut Fariz.


"Pasti sangat bahagia tinggal di rumah yang diisi oleh keluarga yang saling menyayangi," gumam Ami yang teringat bagaimana hubungan antara dirinya dan Zoya.


"Apakah kamu sudah selesai?" tanya Fariz yang langsung mengalihkan pembicaraan saat sadar akan perubahan dari raut wajah Ami.


"Sudah, Mas. Kalau Mas udah selesai belum?"


"Udah, ayo kita ke ruang tengah," ajak Fariz.


"Iya ayo, Mas."


Mereka pun berjalan menuju ke ruang tengah dengan Fariz yang memimpin, sedangkan Ami mengekor di belakangnya.


"Oh iya, makasih ya untuk semalam, Mas. Seharusnya Mas bangunkan saja Ami agar tidak perlu repot-repot pindahin ke kamar," ucap Ami saat mereka sudah duduk di sofa ruang tengah.


"Kamu tidur begitu nyenyak, jadi aku gak punya pilihan lain selain mindahin kamu, daripada membiarkan kamu tidur di sini," terang Fariz.


"Iya makasih ya, Mas," sambung Ami sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2