
Saat ini Zoya sedang duduk dengan cemas, di depan pintu ruang penanganan, menunggu kabar dari dokter yang menangani papanya.
Dia tentu saja tidak sendiri di sana, ada Daffin juga yang menemaninya, dia segera meminta suaminya itu untuk segera menyusul ke rumah sakit, saat dia baru saja sampai di sana.
"Kamu tenang ya, Papa pasti akan baik-baik saja," ucap Daffin yang kini duduk di sebelahnya untuk menenangkannya.
"Bagaimana kalau Papa sampai kenapa-napa?" Zoya tidak berhenti menangis.
Dia khawatir dengan keadaan papanya itu, dia takut pria itu akan pergi meninggalkan dirinya juga seperti mamanya.
"Papa pasti akan baik-baik saja, sekarang kamu berdoa saja, agar Papa tidak kenapa-napa."
"Iya," sahut Zoya mengangguk.
Ini semua karena Ami, awas saja kalau sampai Papa kenapa-napa. Aku akan cari dia dan akan membuat hidupnya tidak tenang, batin Zoya.
Bukannya introspeksi diri, akan apa yang terlah terjadi, tapi dia malah menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi itu.
Keangkuhan dalam hatinya, membuatnya buta, dia tidak berpikiran jika semua itu terjadi karena ulahnya.
Tidakkah dia sadar, jika apa yang terjadi itu, semua adalah akibat dari apa yang telah dia lakukan, pada Ami yang sama sekali tidak bersalah.
Namun, wanita itu malah menyalahkan orang yang tidak bersalah sama sekali, atas apa yang menimpa papanya itu.
Pintu ruangan itu pun terbuka, dokter keluar dari ruangan itu dan tersenyum ramah pada mereka. Melihat hal itu, Zoya pun langsung bangun dari kursi dan menanyakan tentang keadaan papanya.
"Bagaimana keadaan Papa saya, Dok?" tanya Zoya.
"Pak Denis sudah melewati masa kritisnya, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan. Saya sarankan, setelah sadar jangan berikan dia berita yang membuatnya syok lagi, karena itu bisa memicu terjadinya serangan jantung dadakan lagi," terang Dokter itu masih mempertahankan senyuman ramahnya.
"Baiklah, terima kasih, Dok," ucap Zoya dengan senang.
"Iya, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dokter.
__ADS_1
"Iya, Dok."
Setelah dokter pergi, Daffin merangkul Zoya dan mengusap pundaknya sambil berucap, "Apa aku bilang, Papa pasti baik-baik saja, kan?"
"Iya, syukurlah Papa baik-baik saja," sahut Zoya menatap Daffin dan tersenyum pada suaminya itu.
"Sekarang sebaiknya, kita urus kepindahan Papa ke ruang perawatan," ajak Daffin.
Zoya mengangguk dan mereka pun pergi, ke resepsionis untuk mengurus administrasi Denis, agar bisa segera dipindahkan.
Setelah selesai dengan urusan kepindahan Denis, Daffin menghubungi Tini, meminta untuk diantarkan makanan untuk mereka makan malam.
Mereka memang belum makan malam, karena terlalu khawatir dengan keadaan Denis sebelumnya.
"Nanti sebaiknya kita pulang dulu, biarkan Bi Tini yang berjaga di sini," saran Daffin.
Saat ini mereka sudah berada di sebuah ruangan rawat inap, menunggu Denis dengan duduk saling berdampingan di sofa.
"Tapi, aku mau di sini, Yang. Aku mau menemani Papa," ucap Zoya.
Daffin menatap Zoya dengan lembut dan penuh kasih sayang, tatapan yang selalu bisa membuat Zoya luluh dan tidak dapat menolak pesonanya.
"Baiklah, nanti setelah makan kita pulang," sahut Zoya patuh.
"Besok pagi sebelum berangkat kerja, aku anterin ke sini lagi ya," hibur Daffin yang mengerti kekhawatiran Zoya itu.
"Iya."
Saat mereka sedang berbincang ringan, Tini memasuki ruangan itu dengan wadah berisi makanan, untuk makan malam mereka sesuai dengan permintaan Daffin di telepon.
Tanpa menunggu lagi, mereka langsung menyantap makan malamnya dengan tenang, setelah itu mereka pulang ke rumah dan meminta Tini untuk menjaga Denis.
Tak selang berapa lama, setelah Daffin dan Zoya pergi, Denis akhirnya mulai membuka mata.
__ADS_1
"Bi, sudah berapa lama Ami menghilang?" tanya Denis dengan lirih saat tersadar.
"Sudah dua minggu, Tuan," jawab Tini dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa tidak menghubungiku?" tanya Denis dengan sedih, entah bagaimana keadaannya anak bungsunya saat ini.
"Maaf, Tuan. Saya tidak berani, saya takut anda syok dan kenapa-napa di tempat kerja anda," terang Tini.
"Apa kalian sudah mencarinya terus?" tanya Denis lagi.
"Iya, Tuan. Tapi kita masih tidak menemukannya."
"Ceritakan padaku, detail ceritanya."
Tini pun mulai menceritakan semua yang diketahuinya, dia menerangkan jika dia baru tahu kabar itu, keesokan harinya, setelah kembali dari menengok saudaranya.
"Maaf, Tuan. Mungkin jika saat itu saya tidak pergi Non Ami pasti masih ada di rumah saat ini," ucap Tini saat mengakhiri ceritanya.
Dia selalu menyalahkan dirinya karena menghilangnya Ami itu, seandainya dia tidak ke mana-mana saat itu, pasti Ami masih ada di rumah.
"Sudahlah, tidak ada gunanya menyalahkan dirimu sendiri sekarang," sahut Denis sambil menghela napas panjang.
Dia menatap langit-langit kamarnya, merenung memikirkan keadaan anaknya itu.
Apakah ada orang yang baik yang menolongnya, atau malah dia bertemu dengan orang jahat di luaran sana.
"Kamu di mana, Nak? Pulanglah, sekarang papa sudah pulang, papa akan menjagamu," gumam Denis.
Tatapannya masih fokus pada langit-langit ruangan. Dia menghawatirkan keadaan anaknya saat ini,
Hatinya terasa sesak, kala pikiran jelek tentang anaknya itu datang, dia segera menyenggah pikiran itu dan meyakinkan dirinya, jika anaknya pasti akan baik-baik saja.
Anaknya itu adalah orang yang baik. dia yakin Allah menjaga anaknya itu dan mempertemukannya dengan orang yang baik juga.
__ADS_1
Entah hilangnya Ami ini benar-benar murni atau ini perbuatan anak pertamanya lagi. Yang jelas jika ini ada hubungannya dengan Zoya lagi, dia pasti tidak akan memaafkan anaknya itu dengan mudah kali ini.
Sudah cukup, dia mentolerir setiap perlakuan anaknya itu pada adiknya selama ini, kini dia akan bersikap lebih tegas lagi, jika terbukti Zoya, lah dalang dari hilangnya Ami kali ini.