Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Rasa yang Familiar.


__ADS_3

Ami dan Rayan turun dari mobil, mereka berjalan dengan beriringan, memasuki gedung yang cukup mewah dengan halaman depan yang cukup luas dan telah dipenuhi oleh kendaraan beroda empat.


Terjadi perdebatan antara mereka, selama perjalanan menuju ke tempat diadakannya acara itu, dikarenakan Rayyan yang berhenti terlebih dahulu saat di perjalanan karena ingin ke toilet, alhasil mereka jadi telat datang ke acara itu.


"Lihat tidak telat, kan," ucap Rayan pada Ami yang masih menekuk wajahnya.


"Tidak telat apaan, lihat tuh ke-dua pasangan aja, udah tukar cincin dan kamu bilang itu tidak telat!" ketus Ami.


"Iya maaf, maaf, daripada aku pipis di celana, kan gak lucu, Mi. Lagian baru acara tukar cincin ini, belum selesai juga acaranya," Rayyan tidak merasa bersalah sedikit pun karena sudah terlambat datang.


"Kamu kan, bisa tahan sampai kita nyampe ke sini," cebik Ami.


"Kalau udah di ujung, gimana mau ditahan," gumam Rayyan yang masih dapat terdengar oleh Ami.


"Tapi, kan aku harus pulang cepat, kalau jam segini kita baru sampai, terus jam berapa kita akan pulang," ucap Ami dengan nada ada yang masih kesal.


Rayyan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saat mendengar ucapan Ami itu, dia berusaha tersnyum, berharap Ami melupakan kekesalannya itu.


Tanpa mereka sadari, perdebatan yang terjadi di antara mereka itu, disaksikan oleh seseorang yang semenjak mereka masuk ,tidak melepaskan pandangan dari mereka.


Orang itu adalah pria yang akan bertunangan. Dia terus memperhatikan Ami yang berada tepat di belakang calon tunangannya dengan tatapan dalam.


Tangan pria itu saat ini sedang menggenggam cincin yang akan dipasangkan ke jari manis si wanita. Namun, dia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Ami yang ada dibelakang wanita yang kini akan menjadi tunangannya.


Tanpa melihat pada calon tunangannya, dia memasukkan cincin ke jari manis wanita itu dengan mata yang masih tetap fokus pada Ami dan pikirannya yang melayang.


Dalam hatinya dia bertanya-tanya, apa yang dilakukan Ami di tempat itu, bagaimana wanita itu bisa sampai ke sana, semakin diperhatikan, dia merasa, Ami sekarang semakin cantik, dari saat terakhir kali mereka bertemu.

__ADS_1


Suara riuh tepuk tangan dari para tamu, tiba-tiba menyadarkan si pria, jika saat ini dia sedang berada di depan seluruh orang dan tengah melakukan ritual tukar cincin.


Dia kemudian mulai mengalihkan tatapannya, kepada wanita di depannyanya yang kini tengah memasang senyum dengan cincin di tangan yang akan dipakaikan ke jari manisnya.


"Ngedip kali, Riz," ucap si wanita yang mengira, jika pria yang kini telah menjadi tunangannya itu tengah menatapnya.


Secara perlahan pria itu mulai mengangkat tangannyanya, membiarkan wanita itu memasukkan cincin ke jari manisnya, suara riuh penonton kembali terdengar di pendengarannya.


Namun, perhatiannya kembali teralihkan pada wanita yang belum melihat ke arahnya, wanita yang selalu dia rindukan, secara diam-diam dan selalu hadir di mimpi, pikiran dan hatinya.


...*****...


"Iya, iya maaf, ya udah kita duduk di sana dulu yuk," ucap Rayyan yang langsung menarik tangan Ami.


Dia membimbing Ami untuk duduk di salah satu, deretan kursi yang tersedia di sana karena tidak nyaman terus berdiri, suasana di sana cukup ramai oleh ratusan tamu undangan dan pengisi acara.


"Udah dong Mi, jangan marah-marah terus, iya deh iya aku salah, aku minta maaf ya, kita di sini cuma sebentar aja, biar tidak terlalu malam pulangnya, nanti setelah menyapa dan mengucapkan selamat, kita akan langsung pulang janji deh," ucap Rayyan pada Ami yang masih terlihat marah.


Ami pun akhirnya mulai luluh, dia mengangguk dan kemudian mulai memfokuskan pandangannya, pada pasangan yang baru saja melakukan tukar cincin itu, saat melihat wajah si pria dengan seksama.


Dia merasa ada rasa yang familiar di hatinya, dia merasa jantungnya berdetak tidak karuan. Apalagi saat matanya dan mata si pria saling menatap seperti ada sebuah rasa lain di hatinya itu.


Amy mengerutkan kening saat si pria tiba-tiba saja memalingkan wajah dari dirinya ke arah lain, seolah menghindari kontak dengannya.


"Yan Siapa nama pria yang bertunangan itu?" tanya Ami pada temannya yang tengah fokus pada berlangsungnya acara itu.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Rayan yang malah balik bertanya pada Ami, dia menatap kami dengan heran karena pertanyaannya itu.

__ADS_1


"Tidak kenapa-kenapa, hanya ingin tahu saja kenapa gitu?" sahut Ami dengan santai.


"Namanya adalah Kak Fa—" ucapan Rayan terpotong oleh sebuah suara di belakangnya.


"Rayyan kamu ke sini, kenapa ayah kamu tidak ke sini juga?" tanya seorang pria yang yang terlihat lebih dewasa dari mereka tengah berdiri di samping tempat duduk mereka.


"Eh Kak Aaric, iya aku yang datang Kak, ayah lagi ada urusan, jadi tidak bisa datang dan minta Rayyan untuk datang ke sini," sahut Rayyan yang kini sudah berdiri dan berhadapan dengan pria yang tidak lain adalah Aaric.


"Oh gitu, ini siapa, pacar kamu ya?" tanya Aaric dengan nada menggoda.


"Bukan, aku teman Rayyan," ucap Ami yang langsung membuka suara, dia tidak membiarkan Rayyan membuka suara terlebih dahulu, karena dia yakin jika temannya itu menjawab dengan asal-asalan.


"Oh gitu kirain pacar kamu, ya udah kamu tunggu aja di sini ya, nanti setelah acara intinya selesai, kamu bisa menemui Om Nevan dan Tante Alish, Kak Aaric mau nyapa dulu tamu yang lain," ucap Aaric.


"Iya, Kak, nanti aku sama teman aku akan menyapa om sama tante," sahut Rayyan dengan kepala yang mengangguk.


Aaric pun mengangguk dan pergi untuk menyapa tamu lainnya, Rayyan kembali duduk di kursinya dia menngajak Ami untuk berbicara, tapi tidak mendapatkan sahutan dari orang di sampingnya itu.


"Kenapa sih kamu terus lihatin pria yang baru saja bertunangan itu, jangan bilang kamu suka sama orang itu ... kalau benar seperti itu, sebaiknya kamu lupakan itu, ingat pria yang berdiri di depan itu baru saja bertunangan, kamu gak boleh jadi perusak hubungan orang," ucap Rayyan panjang lebar.


Sementara orang yang diajaknya bicara, tidak menghiraukan ucapannya, wanita di sampingnya itu, tetap menatap pria yang kini tengah tersenyum tipis pada pasangannya.


"Mi, nyebut, Mi." Rayyan mengguncang bahu Ami hingga membuat wanita tersadar, dari apa yang dilakukannya.


"Apaan sih, Yan. Aku gak kesurupan kali," ucap Ami dengan kesal.


"Habisnya kamu liatin orang yang jelas-jelas sudah bertunangan sampai kayak gitu, kayak yang mau nelan orang hidup-hidup tau gak," sahut Rayyan, membuat Ami mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Aku tidak tau kenapa, tapi aku merasa ada perasaan yang terasa familiar dalam hatiku, melihat orang itu," ucap Ami menatap pria yang tidak lain adalah Fariz itu dengan perasaan aneh dalam hatinya.


__ADS_2