
Saat hari sudah beranjak dari gelap, ke terang seperti biasanya, Fariz memasuki kamar mandi membasuh muka dan sikat gigi, setelah itu dia berganti pakaian.
Dia memakai celana trening dan kaos olahraga, seperti biasa hal yang tidak pernah dia lewatkan saat hari libur adalah lari pagi, di lapangan yang tidak jauh dari apartemennya.
Saat dia menuruni tangga, bertepatan dengan bel apartemennya berbunyi, dia sudah tahu, orang yang biasa ke sana di jam segitu, siapa lagi jika bukan Ijah.
Dia segera mendekati pintu dan membuka kunci pintu apartemennya, di depan pintu Ijah tersenyum ramah padanya.
"Den, mau olahraga pagi ya," ucap Ijah yang memang sudah tahu kebiasaan Fariz di pagi hari, saat sedang libur.
"Iya." Fariz menjawabnya singkat.
Ijah hanya mengangguk dan tersenyum, sementara Fariz keluar dari apartemennya, meninggalkan Ijah yang masih berada di depan pintu.
Ijah masuk ke dalam dan mulai mengerjakan tugasnya, hal yang selalu dia lakukan untuk pertama kali, adalah menyiapkan sarapan. Setelah itu barulah dia mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
Saat Ijah sedang asyik dengan bahan-bahan makanan, dia dikagetkan oleh suara Ami yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
"Bi, sudah datang?"
"Astaghfirullah, Non. Bikin kaget aja, kebiasaan deh kalau jalan gak ada suaranya," ucap Ijah bahkan sampai menjatuhkan bahan-bahan sayuran yang mau dicuci, saking kagetnya.
"Maaf, Bi." Ami tersenyum lalu memajukan badannya, hingga berdiri di sebelah Ijah.
"Biar Ami bantu ya," sambungnya meraba meja di depannya.
"Non, cuci ini saja ya, kalau potong, memotong takutnya malah nanti salah potong lagi," ucap Ijah mengambil alih pisau yang ada di tangan Ami.
"Ami bisa, Bi kalau cuma motong bawang," sahut Ami.
"Bibi gak mau, Non sampai terluka lagi, ingat kaki sama tangan, Non itu baru saja sembuh."
"Ami tidak berguna ya, Bi!" lirih Ami dengan tersenyum getir sambil mencuci sayuran.
"Papa juga selalu melarang Ami untuk melakukan apa pun, padahal Ami bisa, meskipun kadang suka ceroboh," sambung Ami lagi.
"Bukannya, Non tidak berguna, tapi Bibi sama Den Fariz tidak ingin sampai, Non kenapa-kenapa dan Papa Non pasti juga berpikiran seperti itu," sahut Ijah berusaha menghibur Ami.
"Tapi, terkadang Ami juga merasa tidak nyaman, Bi. sekarang hidup Ami seolah bergantung pada orang lain, tidak bisa mengerjakan apa pun, hanya membuat susah orang yang ada di sekitar Ami."
"Bibi tau gak, Ami kadang berpikir, mungkin akan lebih baik, jika saat itu aku tidak selamat dari kecelakaan itu, mungkin aku tidak akan menyusahkan orang-orang di sekitarku lagi."
"Husst, gak boleh bicara seperti itu, Non. Seharusnya Non besyukur, Allah masih menyayangi Non Ami dan membiarkan Non Ami menghabiskan waktu lebih lama dengan keluarga Non."
__ADS_1
"Non harus tau, kalau orang-orang yang menyayangi Non tau Non memiliki pikiran yang seperti itu, pasti akan sedih. Apalagi papa, Non yang sangat mencintai, Non." Ijah bicara panjang lebar dengan tangan yang terus bergerak membuat sarapan.
"Non tidak boleh berputus-asa, hanya karena memiliki kekurangan seperti ini, di luaran sana masih banyak lagi orang yang memiliki kekurangan lebih dari yang Non miliki," sambung Ijah lagi mengusap punggung Ami.
Mendengar perkataan Ijah itu, Ami hanya tersenyum samar, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh wanita yang jauh lebih tua darinya itu.
Di luaran sana masih banyak orang yang memiliki kekurangan lebih darinya, tapi mereka tetap bisa bersyukur dengan apa yang mereka alami.
"Iya, Bibi benar, tidak seharusnya Ami memiliki pikiran negatif seperti itu," sahut Ami tersenyum.
"Sekarang sebaiknya, Non tunggu saja di meja makan ya, biar bibi beresin dulu masakannya, sambil nunggu Den Fariz pulang," pinta Ijah pada Ami.
"Ya udah kalau gitu, Bi. Ami ke meja makan dulu ya," pamit Ami.
"Iya, Non."
...*****...
Fariz sudah selesai dengan lari paginya, dia pun memutuskan untuk pulang ke apartemennya, saat memasuki lobby apartemennya seorang security mencegatnya yang akan memasuki lift.
"Tuan, ini ada paket," ucap security itu menyerahkan sebuah paket berukuran persegi panjang padanya.
Fariz mengangguk dan mengambil paket itu, dia mengambil ponselnya di saku celananya dan mengetikan sesuatu.
Security itu mengangguk dan tersenyum lalu berucap, "Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan," pamit security itu pada Fariz.
Fariz mengangguk dengan sedikit membungkuk, setelah security itu menghilang, dia segera melanjutkan langkahnya membuka kembali lift sudah tertutup.
Dia memasuki lift dan menekan angka yang sesuai dengan lantai tempat unit-nya berada, tak membutuhkan waktu lama lift pun kembali berhenti.
Fariz keluar dari lift dan mengayunkan kakinya, menuju ke unit-nya, saat sampai, dia segera membuka pintu, tidak ada siapa pun di ruang tengah hanya terdengar suara ribut dari dapur.
Dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum sarapan, karena badannya lengket oleh keringat. Dan baru ke meja makan saat di sudah selesai mandi.
"Mas, sudah pulang?" tanya Ami saat mendengar langkahnya yang menuju ke meja makan.
"Ya," sahut Fariz singkat, dia mengambil air minum dan menegaknya dengan sekali tegukan karena meras haus.
"Kenapa belum sarapan?" tanya Fariz karena melihat makanan masih utuh di meja makan.
"Aku nungguin Mas Fariz," ucap Ami tersenyum.
"Makanlah, ini sudah siang," perintag Fariz yang mulai menarik kursi dan mendudukinya.
__ADS_1
"Iya, Mas." Ami mengangguk dan mulai mengambil makanan dengan hati-hati.
Fariz pun mulai mengambil makanan dan menuangkan ke piringnya, dia ikut mengisi perutnya yang sudah terasa lapar dari tadi.
"Ini," ucap Fariz menyimpan paket tadi di depan Ami yang baru saja selesai dengan sarapannya.
"Apa ini, Mas?" tanya Ami sambil meraba paket itu.
"Bukalah," sahut Fariz.
Ami mengangguk dan mulai membuka paket itu, dia meraba isi paket yang masih terbungkus oleh kain kulit. Setelah beberapa saat meraba, dia kemudian tersenyum senang, saat tahu apa isi di dalam bungkusan itu dan segera mengeluarkan isinya.
"Ini untukku, Mas?" tanya Ami dengan tersenyum dan memanjangkan tongkat lipat itu.
"Iya, agar kamu tidak terlalu kesusahan lagi saat berjalan," ucap Fariz.
"Makasih, Mas." Ami tersenyum dengan begitu lepasnya, hingga membuat Fariz tidak mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
"Sama-sama," sahut Fariz yang ikut tersenyum samar.
Dia ikut senang karena melihat Ami yang terlihat senang dengan apa yang diberikan olehnya, Fariz memang sengaja membelikan tongkat itu, agar wanita di depannya itu tidak terlalu kesulitan saat berjalan.
Saat Fariz sedang serius menatap Ami, ponselnya yang berada di atas meja berbunyi, dia segera mengangkat telponnya.
"Iya, Ma?"
Ris, kamu ingatkan nanti siang, mama sudah mengatakan pada Cindy kalau kalian akan bertemu di restoran ....
"Iya, Ma. Fariz ingat dan Fariz akan usahakan untuk datang."
Kamu harus datang ya, Nak. Jangan cuma diusahakan.
"Iya, Ma."
Ya udah itu aja, mama takut kamu gak dateng nanti, kalau gitu mama tutup ya telponnya.
"Iya, Ma."
Fariz menghela napas panjang saat panggilan antara dirinya dan mamanya terputus, akhirnya apa yang dihindarinya selama ini terjadi juga.
Mamanya tetap kukuh dengan niatnya, dia jadi tidak kuasa untuk membantah keinginan wanita yang telah membesarkannya itu.
"Mama kamu, Mas?" tanya Ami.
__ADS_1
"Iya," sahut Fariz singkat, pikirannya kacau karena memikirkan nanti siang yang harus bertemu dengan wanita pilihan mamanya.