Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Kepikiran.


__ADS_3

Ami tersenyum ramah pada Cindy, sedangkan Cindy menatapnya dengan sedikit sinis, dia meyakini jika wanita yang baru saja bertunangan itu, sampai menatapnya seperti itu. Pasti karena dia yang telah menatap tunangannya terus-menerus dari tadi.


Salahkan hati dan matanya juga pria itu yang seolah memiliki magnet, hingga dia tidak bisa lepas dari pria yang sudah dewasa di depannya itu.


Kenapa aku ingin terus melihatnya, ada apa dengan diriku ini? tanya Ami dalam hatinya yang juga merasa heran dengan dirinya sendiri itu.


Setelah selesai menyapa dan mengucapkan selamat sambil berbincang sedikit dengan keluarga Nevan, Rayyan pun memutuskan untuk berpamitan pulang karena waktu sudah malam.


"Om, Tante, Rayyan sama teman Rayyan pamit dulu ya, takut pulangnya kemalaman," pamit Rayyan pada Nevan dan keluarganya.


"Iya, kamu hati-hati ya, salam buat ayah dan bunda kamu," sahut Alish.


"Iya, Tan. Nanti aku sampaikan sama Ayah dan Bunda salamanya," sahut Rayyan tersenyum diiringi anggukkan kepala.


"Kamu cantik dan baik, Rayyan pasti beruntung, jika bisa menjadi pasanganmu," ucap Alish dengan sedikit bercanda, saat Ami mengalaminya.


"Kita cuma temenan, Tan. Dan akan tetap seperti itu," sahut Ami dengan yakin. Tidak lupa juga sebuah senyuman, dia berikan pada Alish.


Rayyan dan Ami pun mulai melangkah, meninggalkan keluarga itu, menjauh dari tempat yang memberikan hatinya perasaan yang tak menentu.


Sementara itu, Fariz mulai menatap kepergian Ami dengan perasaan tidak rela yang hadir di hatinya, ingin rasanya, dia mengatakan semuanya pada wanita itu, saat mereka berhadapan.


Namun, Fariz sungguh tidak memiliki keberanian untuk itu, bahkan saat tadi, dia dan Ami nyaris bertemu saat sedang menerima telepon, di dekat lorong toilet, dia lebih memilih segera pergi mejauh, tidak mampu untuk berhadapan dengan Ami.


Semoga kamu bahagia, aku yakin kamu akan menemukan pria yang akan sangat mencintaimu, bantin Fariz dengan tatapan nanar pada Ami yang mulai menghilang.


Tadi juga, dia sengaja memotong ucapan mamanya yang akan memperkenalkan dirinya, karena dia yakin, jika Ami mendengar nama Alish secara langsung dia mungkin saja akan kembali mencari tahu tentang dirinya.


"Kamu juga menyukai wanita itu?" tanya Cindy dengan pelan, nyaris seperti bisikan.


Fariz menatap Cindy dengan datar dan langsung memalingkan wajah, menatap ke arah lain, melihat Fariz yang masih tetap sama seperti itu, membuat Cindy kesal.


Padahal selama ini dia sudah berusaha untuk berprilaku baik agar pria itu, mulai menyukainya dan menerima kehadirannya, tapi ternyata harapannya itu, tidaklah terjadi.

__ADS_1


Pria itu masih saja memasang tembok untuknya, tidak membiarkan dia masuk terlalu dalam ke hatinya, selalu bersikap datar padanya.


Sementara itu, di luar gedung, Ami melangkah dengan kaki serasa berat untuk menjauh dari tempat itu, suara yang tadi di dengarnya seolah berkeliaran di pikirannya, hingga membuat perasaannya kian tak karuan.


"Mi, ayo, ini udah malam, kenapa malah diam di sana," ajak Rayyan yang membuat Ami kembali tersadar dari lamunannya.


"I-iya, Yan," sahut Ami dengan berat hati.


Dia kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, saat baru saja akan masuk ke dalam mobil, wanita itu kembali menghentikan gerakannya, saat mendengar seseorang yang memanggil namanya.


Ami pun berbalik dan mengerutkan kening, heran saat melihat papanya yang baru saja keluar dari gedung tempat acara itu bersama seorang pria yang dia yakini adalah sekertarisnya.


"Papa, Om." Ami dan Rayyan memanggil Denis bersamaan.


"Kenapa Papa bisa ada di sini juga?" tanya Ami dengan heran.


"Ini, kan acara yang diadakan oleh keluarga atasan Papa, jadi Papa ke sini, kalian juga ke sini ternyata, tau gitu tadi kita barengan saja ke sininya," ucap Denis.


"Iya, ya. Kita kira tujuan kita beda, tapi kenapa Papa gak nyamperin kita tadi, apa Papa tidak melihat kita? Ami tidak melihat Papa tadi," tanya Ami yang tidak menyadari kehadiran papanya saat di dalam.


"Masa sih Pa," ucap Ami tak percaya.


Mungkin karena dirinya yang terus memperhatikan Fariz, dari semenjak dia duduk di kursi, hingga tidak memperhatikan sekitarnya lagi.


"Kamu pulangnya bareng papa aja," ucap Denis pada Ami.


"Iya, Pa." Ami mengangguk setuju dengan ucapan dari papanya itu.


"Yan, kamu pulang sendiri gak apa-apa, kan?" tanya Denis pada Rayyan yang dari tadi hanya menjadi pengamat obrolan antara ayah dan anak itu.


"Iya gak apa-apa, Om," sahut Rayyan.


"Ya udah kalau gitu ayo, Mi," ajak Denis, mulai melangkah menuju ke mobilnya, diikuti oleh sekertarisnya yang juga menuju ke mobil miliknya.

__ADS_1


"Iya, Pa."


"Yan, aku pulang duluan ya, kamu hati-hati jangan ngebut bawa mobilnya," ucap Ami pada Rayyan.


"Iya," sahut Rayyan.


Ami pun mulai melangkah menuju ke mobilnya, sedangkan Rayyan memasuki mobilnya dan mobil mereka pun perlahan pergi dari parkiran gedung itu dengan saling beriringan, hingga sampai di persimpangan, barulah mobil mereka terpisah.


Selama di perjalanan, Ami hanya diam melamun, dia memikirkan tentang suara yang didengarnya tadi, suara itu benar-benar mirip sekali dengan suara Fariz.


Dalam benaknya timbul tanya, apakah itu benar-benar suara Fariz, pria yang selama setahun ini memebuhi relung hatinya, jika benar pria itu ada di sana, apakah pria itu sengaja menghindar darinya.


Hatinya terasa sesak, memikirkan jika pria itu benar-benar, tidak ingin bertemu dengannya, apakah dia memang tidak pantas sama sekali untuk pria itu.


"Kamu kenapa, Mi?" Suara dari papanya itu, menyadarkan Ami dari lamunannya.


"Ami tidak kenapa-napa, kok Pa," sahut Ami dengan memasang senyum.


"Kenapa kamu melamun seperti itu? Apa yang kamu lamunkan?" tanya Denis yang sibuk dengan setirnya.


"Ami gak ngelamunin apa pun, Pa ... Oh iya kenapa Papa gak samperin Ami sama Rayyan, kalau tadi Papa lihat kita?" Ami segera mengalihkan pembicaraan antara mereka.


"Tadi papa, lagi sama para rekan kerja papa, jadi gak enak kalau pergi gitu aja," sahut Denis.


"Oh pantesan," ucap Ami mengangguk paham.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi antara mereka, Denis tetap fokus pada setirnya dan Ami melihat lurus ke arah jalan raya.


"Oh iya Pa, apa Papa kenal sama pria yang bertunangan itu?" tanya Ami yang tiba-tiba saja kepikiran untuk bertanya pada papanya itu.


"Kenal, dia saudara dari atasan papa, Tuan Aaric."


"Siapa nama pria itu?"

__ADS_1


"Kenapa kamu menanyakan hal itu, apa tadi kamu tidak mendengar saat MC menyebutkan nama pasangan itu," ucap Denis.


"Tidak," sahut Ami yang tidak menyadari hal itu. "Ami emang tidak mendengarnya, Pa. Jadi siapa namanya?" desak Ami yang sangat ingin mendengar nama pria itu.


__ADS_2