
Saat ini Ami sedang dibantu mengoleskan obat di setiap lukanya oleh Ijah, setelah beberapa saat lalu dia selesai sarapan.
"Jadi majiakan, Bibi yang nolong aku itu pria atau perempuan?" tanya Ami pada Ijah yang tengah serius mengobati lukanya.
"Dia pria," jawab Ijah.
"Namanya siapa, Bi?"
"Namanya Den Fariz, dia pria yang tampan, baik, sopan dan sudah matang," terang Ijah seperti sedang menawarkan sebuah produk di pendengaran Ami.
"Fariz," gumam Ami.
"Iya nama lengkapnya Fariz Jauhar, nama papanya adalah Tuan Nevan, dan nama mamanya, Nyonya Alisha dia memiliki saudara pria bernama Aaric dan ...."
"Bi, Ami hanya ingin tau namanya saja, apakah harus sekalian sama nama keluarganya juga," potong Ami, hingga ucapan Ijah terhenti.
"Gak juga sih," sahut Ijah terkekeh, "Bibi cerita biar, Non Ami tau aja gitu," sambungnya lagi.
"Apa dia di sini tinggal sendiri,Bi?" tanya Ami.
"Iya den Fariz tinggal sendiri, dia masih singgel," jawab Ijah.
"Bibi sudah lama kerja di sini?"
"Lumayan lama, dari semenjak Den Fariz pindah, sekitar empat atau tiga tahunan lebih kayaknya." ijah mengambil beberapa butir obat dari cangkangnya.
"Ini minum dulu obatnya, setelah itu kembali istirahat," sambung Ijah lagi mengambil tangan Ami dan menyimpan obat di telapak tangan Ami.
Ami memasukkan obat itu ke dalam mulutnya dan meminum air yang sudah disodorkan oleh Ijah.
"Sebaiknya, Non kembali istirahat, agar tubuh, Non Ami segera sembuh."
"Iya makasih, Bi."
"Sama-sama, Non. Bibi keluar dulu ya, masih ada pekerjaan yang belum selesai," pamit Ijah sambil membereskan pring kotor bekas Ami makan, beserta obat-obat Ami dan langsung keluar dari kamar itu.
Setelah terdengar pintu kamar tertutup, Ami pun mulai memejamkan matanya karena kantuk sudah menghampirinya.
...*****...
__ADS_1
Sore harinya, saat Ami sedang duduk di ranjang dia mendengar pintu kamarnya terbuka, awalnya dia mengira, jika yang membuka pintu kamar itu adalah Ijah.
"Bi, ada baju ganti lagi gak ya, aku mau mandi," ucap Ami dengan tersenyum.
Orang yang membuka pintunya itu pun, melangkah mendekati ranjang. Dia kemudian menyimpan beberapa paperback di depannya, Ami meraba paperback itu dan memasukkan tangan ke dalamnya.
"Makasih, Bi," ucap Ami tersenyum senang saat tahu jika isi paperback itu adalah beberapa potong baju untuknya.
"Ini kayaknya, baju-baju baru ya, Bi ... padahal sebenarnya tidak perlu baju baru, aku pakai baju bekas aja. Gak enak sama majikan Bibi kalau beli baru." Ami bicara panjang lebar sambil mengeluarkan barang-barang dari dalam paperback itu.
Dia meraba-raba baju yang akan dipakainya dan menyampirkannya di pundak, termasuk pakaian bagian dalamnya. Orang yang berdiri di depannya, yang tidak lain ada Fariz itu hanya mematung dengan tatapan lurus pada Ami.
"Bi," panggil Ami membuat Fariz tersentak, hingga langsung tersadar dari keterpakuannya, karena menatap Ami.
"Bi, udah pergi ya," sambung Ami karena tidak mendapat sahutan.
Karena berpikir jika Ijah, telah pergi lagi. Ami pun memutuskan untuk segera mandi karena dia berencana akan berterima kasih pada penolongnya setelah orangnya datang.
Ami menurunkan dirinya dari ranjang, berjalan dengan perlahan ke arah kamar mandi, sedangkan Fariz mengikutinya dari belakang dengan langkah tanpa suara dia takut Ami akan menabrak sesuatu dan kembali melukai kakinya.
Saat sedang fokus mengikutinya, tiba-tiba saja Ami menghentikan langkahnya dan celingukan ke kanan dan ke kiri, melihat tingkahnya itu, Fariz kembali mundur, dia bertanya-tanya kenapa Ami tiba-tiba berhenti dan bertingkah aneh.
Fariz secara reflek mencium badannya, padahal dia hanya memakai parfum sedikit, bagaimana bisa wanita di depannya itu bisa mencium aroma parfumnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Ami kembali melanjutkan langkahnya, tidak menghiraukan apa yang diciumnya itu, dia berpikir mungkin itu hanya perasaannya saja, atau aroma parfum pemilik rumah itu yang tertinggal di kamar itu.
Sementara Fariz, setelah memastikan Ami baik-baik saja. Dia keluar dari kamar itu dan segera ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Sebenarnya dia baru saja pulang bekerja, tapi tadi saat memasuki apartemen, Ijah memintanya untuk mengantarkan baju yang baru dibelinya karena perintah darinya ke kamar Ami, karena dia harus segera pulang.
Akhirnya Farizlah yang mengantarkan baju-baju itu, ke kamar Ami.
Fariz selesai mandi dan berpakain, dia kemudian keluar lagi dari kamarnya dan pergi ke dapur. Dia melihat jam sudah malam, itu artinya sudah waktunya untuk makan malam.
Dia mengambil makanan ke piring, terus mengambil gelas dan diisi oleh air putih. Setelah semuanya selesai, Fariz menyimpan semuanya di nampan, tidak lupa juga dia menyiapkan obat untuk Ami.
Pria itu kembali mendekati kamar Ami, dia mengetuk pintu kamar terlebih dahulu sebelum masuk dan saat sudah mendapatkan sahutan dari dalam, barulah dia membuka pintu kamar itu.
"Bi," panggil Ami yang masih mengira yang masuk itu adalah Ijah.
__ADS_1
"Aku nganterin makanan untukmu, ini sudah waktunya untuk makan dan minum obat" ucap Fariz sambil berjalan mendekati.
"Tuan, maaf saya kira anda Bi Ijah," ucap Ami kaget.
"Bi Ijah sudah pulang," sahut Fariz singkat.
"Terima kasih karena sudah menolong saya, Tuan," ucap Ami tersenyum.
"Siapa pun, pasti akan melakukan hal yang sama," sahut Fariz. "Apa, kamu korban tabrak lari?"
"Tidak, saya melarikan diri dari pria-pria yang berniat jahat."
"Terus, kenapa kamu kelayapan malam-malam seperti itu. Apa kamu tau, pergi sendiri dengan keadaan kamu yang seperti ini sangat berbahaya." Fariz menyimpan nampan ke nakas setelah itu dia menyerahkannya pada Ami.
"Aku ...." Ami tidak melanjutkan ucapannya dia hanya menduduk.
"Sekarang makanlah." Fariz mengalihkan pembicaraan, kemudian mengambil tangan Ami dan menyerahkan piring yang dibawanya tadi.
"Terima kasih, Tuan. Maaf merepotkan," ucap Ami menerima makanan itu.
"Panggil Fariz saja, jangan panggil Tuan," sahut Fariz.
"Tapi umur anda lebih tua dari saya, rasanya kurang pantas kalau saya panggil nama saja ... gimana kalau saya panggil, Mas aja. Boleh tidak?"
"Terserah," sahut Fariz.
Ami tersenyum sambil mengangguk, setelah itu dia mulai memakan makanannya. Fariz menatapnya dengan tangan disilangkan di dada.
"Apa kamu mau aku anterin pulang? Di mana rumah kamu?" tanya Fariz saat Ami selesai makan.
Ami tidak menjawabnya, dia bingung apakah dia harus pulang. Tapi, kalau dua pulang, kakaknya pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk membuat dia pergi lagi dari rumah.
Kakaknya pasti tidak akan melepaskan dirinya lagi, apalagi saat ini papanya tidak ada rumah. Entah apa yang akan kakaknya itu lakukan, jika dia kembali lagi ke rumah sekarang.
Melihat Ami hanya diam, Fariz mengerutkan keningnya heran, apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu, dia dapat melihat ada keraguan dalam ekspresi wajahnya.
"Kenapa? Apa kamu tidak ingin pulang ke rumahmu, bertemu dengan keluargamu?" tanya Fariz.
"Bolehkah saya tinggal dulu di sini untuk beberapa saat, saya sedang ada masalah dengan keluarga saya, nanti setelah saya siap untuk pulang, pasti akan langsung pulang." Ami mengangkat wajannya dan menghentikan makannya.
__ADS_1