
"Nak Aris, ini silakan diminum dulu," ucap Neti yang sedang menyajikan minuman untuk Fariz, di sebuah meja kecil yang ada tepat di depannya.
Fariz mengangguk dan mengucapkan terima kasih dengan isyarat tangannya, Neti membalasnya dengan senyuman juga dan meninggal Fariz duduk sendiri di kursi yang ada di teras.
Pria itu memperhatikan setiap anak yang masih berkumpul di teras, Nino, sekarang sudah pergi, setelah beberapa saat tadi terus menempel padanya dan baru pergi saat Netie memintanya untuk pergi.
Anak itu kini telah menempel pada Ami, wanita itu bermain bersama Nino dan anak-anak lainnya dengan posisi duduk di lantai teras yang tidak jauh dari tempatnya.
Dari tempat duduknya itu, dia terus curi-curi pandang pada wanita yang saat ini sedang dikerumuni oleh anak-anak, wanita itu bermain dengan sesekali tertawa diikuti oleh anak-anak lainnya.
Awalnya pria itu cukup kaget, saat melihat Ami juga berada di sana, dia memang sudah cukup lama tidak berkunjung ke sana karena kesibukannya dan saat memutuskan untuk berkunjung di saat ada waktu luang.
Dia malah dipertemukan dengan wanita yang selalu berusaha dia hindari, padahal beberapa waktu ini dia merasa sedikit tenang dan perlahan bisa mengendalikan dirinya, tapi kini. Dia malah kembali dipertemukan dengan wanita itu, bahkan ini sudah yang ke-dua kalinya.
"Nak Aris, ke mana aja sudah lama tidak datang ke sini?" tanya Neti yang sudah mendudukkan dirinya di dekat Fariz.
Aku akhir-akhir ini sibuk, Bu. sahut Fariz disertai senyuman tipis.
"Oh pantesan," sahut Neti mengangguk paham.
Bu, bagaimana Nino selama saya tidak ke sini?
"Anak itu baik-baik saja, hanya saja semenjak Nak Aris lama tidak berkunjung dia sedikit murung dan baru baikan, saat ada Nak Ami dan teman-temannya ke sini beberapa minggu lalu," cerita Neti.
Sudah berapa kali dia ke sini? Fariz menujuk ke arah Ami.
"Baru dua kali sama ini, dia ke sini sekarang karena ibu yang menghubunginya, Nino sudah beberapa hari minta untuk bertemu dengannya," terang Neti.
Fariz mengangguk paham, dia kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada Ami yang ternyata sedang menatap ke arahnya juga.
Saat mata mereka saling bertemu, Fariz segera memalingkan kembali wajahnya ke arah lain, seperti biasa, dia menghindari kontak mata dengan Ami secara langsung.
"Tuh orang kenapa sih, gak mau banget kayaknya melihat aku," decak Ami dengan gumamannya.
__ADS_1
"Nak Ami sepertinya orang yang baik," ucap Neti sambil tersenyum.
Fariz hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman samar, tapi dalam hatinya berkata, setuju dengan ucapan Neti itu.
Sementara itu di sisi lain, Ami seolah susah untuk tidak menghiraukan pria itu, entah kenapa matanya terasa gatal dan ingin terus melihat ke arah pria itu.
"Ya ampun, ada apa dengan mataku ini, kenapa ingin terus melirik ke arahnya," gumam Ami lagi dengan sedikit kesal.
Hati dan pikirannya tidak selaras, pikirannya meminta untuk tidak menghiraukan pria itu dan jangan mengalihkan perhatian pada Fariz, tapi matanya malah berkhianat, dia terus saja curi-curi pandang pada Fariz dan pria itu pun menyadari hal itu.
Fariz segera menatap balik Ami yang masih belum mengalihkan tatapannya itu, dia menatap Ami dengan mata menyipitkan, sebagai peringatan agar wanita berhenti menatapnya terus-menerus.
"Ini udah tidak bener, aku harus segera pergi dari sini kayaknya," gumam Ami dengan nada yang sangat pelan, dia sudah membuang muka ke arah lain, karena malu, ketahuan terus memperhatikan pria itu.
Dia kemudian berdiri dari tempat duduknya semula, mendekati tempat duduk Neti dan Fariz, bermaksud akan berpamitan, tapi ucapannya keduluan oleh Neti.
"Nak Ami, kamu temani dulu Nak Fariz ya, ibu mau melihat apakah Via sama Bibi dulu, udah selesai belum masaknya, biar kita bisa makan siang bersama di sini ya," ucap Neti yang sudah mulai berdiri.
"Tidak perlu repot-repot, Bu, saya mau langsung pamit aja," tolak Ami secara halus.
Tiba-tiba saja ada yang menarik ujung bajunya, hingga membuatnya mengalihkan pandangan ke bawah, dimana Nino sedang menatapnya dengan memelas.
Kakak, jangan pulang dulu, ya. Aku masih ingin bermain bersama kakak,
Melihat gerakan tangan Nino yang memintanya untuk tetap tinggal, membuatnya merasa tidak tega untuk menolaknya, dia pun menghembuskan napas pasrah dan mengangguk, mengiyakan permintaan anak laki-laki itu.
"Baiklah, kakak akan di sini beberapa saat lagi," ucap Ami pada akhirnya hanya bisa pasrah.
Nino kembali tersenyum, dia meminta Ami untuk duduk berhadapan dengan Fariz, sedangkan dirinya duduk di samping Fariz.
Ami melihat interaksi antara Fariz dan Nino yang alami, mereka bercerita dengan serius menggunakan isyarat, pantas saja Nino begitu dekat dengan pria itu, dia memang benar-benar bisa menjadi teman cerita untuk anak yang sebenarnya membutuhkan kasih sayang orang-tua itu.
Ami tanpa sadar, terus menatap Fariz lagi tanpa berkedip, bahkan kini dia menyimpan dagunya di ke-dua telapak tangannya yang berada di atas meja.
__ADS_1
Menyadari Ami terus menatapnya lagi, Fariz yang semula sedang fokus bercerita dengan Nino, langsung memalingkan wajahnya secara tiba-tiba, melihat ke arah Ami yang langsung salah tingkah karena sadar dengan apa yang sedang dilakukannya itu.
"Mas," ucap Ami dengan senyum terpaksa.
Mendengar panggilan dari Ami itu, ingatan Fariz kembali ketarik, ke waktu setahun yang lalu, dimana panggilan itu selalu dia dengar saat wanita ini berada di apartemennya.
Dia kira, dia tidak akan pernah mendengar suara itu lagi, memanggilnya seperti itu untuk selamanya, tapi baru saja dia mendengar suara itu lagi dan suara itu, bisa membuat hatinya yang sudah redup, kembali menghadirkan binar.
"Mas, kenapa melamun sambil liatin aku seperti itu, aku cantik ya?" ucap Ami sambil terkekeh, merasa geli dengan ucapannya sendiri.
Fariz langsung membuang muka ke arah lain, sambil membuang napas dari hidung dengan kasar, saat mendengar ucapan dari Ami itu, bukan kesal atau marah, tapi lebih tepatnya menyembunyikan perasaan lain di hatinya karena kini, dia telah berada di depan wanita itu lagi.
Melihat wanita itu dengan jarak yang hanya kurang dari satu meter, hatinya ternyata tetap tidak bisa dibohongi, sekuat apa pun dia berusaha menghilangkan rasa itu.
Rasa itu seolah enggan untuk menyingkir dan kukuh berdiam diri dengan teguh, apalagi kini dia telah berada di dekat wanita itu.
"Mas, boleh tanya sesuatu gak?" tanya Ami menatapnya dengan serius.
Fariz menatap Ami kembali dengan alis yang hampir menyatu, pertanda jika dia menunggu wanita itu untuk melanjutkan ucapannya.
"Kita pernah bertemu gak, sih sebelumnya?" Ami masih dengan wajah seriusnya, menatap Fariz dengan seksama.
Fariz menggeleng dengan cepat, sebagai jawaban atas pertanyaannya itu, dia kemudian menggerakkan tangannya, bertanya balik pada Ami.
Kenapa kamu menanyakan hal itu?
"Aku hanya merasa, jika aku dan Mas, siapa namanya lupa ...." Ami menghentikan ucapannya dan berpikir beberapa saat. "Oh iya, Mas Aris ya," sambungnya saat sudah ingat.
"Mas Aris, aku merasa ada perasaan yang cukup familiar saat pertama kali aku melihatmu," terang Ami apa adanya.
Kamu pasti sedang berusaha mendekatiku dengan mengatakan hal itu, kan? Apa kamu lupa jika aku sudah memiliki tunangan, jadi jangan memakai cara seperti untuk mendekatiku. Fariz menuliskan pernyataan panjang itu menggunakan ponselnya.
"Aku tidak berniat seperti itu, aku hanya mengatakan apa yang benar-benar aku rasakan," sahut Ami sedikit ketus, karena kesal dengan Fariz yang salah mengartikan maksud dari ucapannya itu.
__ADS_1
...----------------...
Kakak-kakak pembacaku tersayang, masih betah, kan? Di sini. Mudah-mudahan betah selalu yaš¤