Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 92.


__ADS_3

"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Fariz menatap Aaric.


"Aku mau minta bantuan." Aaric menatap Fariz dengan serius.


"Apa?"


"Aku mau kamu gantiin Kia, ngawasin restoran."


Kerutan di kening Fariz semakin tajam saat menatap Aaric, dia tidak mengerti maksud pria di depannya itu.


"Kenapa harus digantiin, bukankah restoran itu sudah menjadi tanggung jawab Kia."


"Iya memang, tapi saat ini Kia tidak mungkin terus mengurus masalah di sana, dia harus banyak istirahat —"


"Kia sakit?" tanya Fariz memotong ucapan Aaric itu.


"Dia bukan sakit, tapi sekarang dia sedang hamil lagi, jadi aku ingin dia istirahat selama kehamilannya, seperti saat hamil Melody dulu," terang Aaric, "Sekarang tidak ada yang bisa dipercaya untuk mengawasi restoran, karena orang kepercayaan Mama dan kakek dulu, sudah tidak bekerja lagi," sambung Aaric lagi.


"Kamu, kan tau sendiri, kaki aku belum pulih sepenuhnya aku —"


"Kamu tenang saja, nanti di restoran kamu hanya perlu duduk manis, menerima laporan dari pegawai di sana." Aaric dengan cepat memotong ucapan Fariz, seolah tidak menerima bantahan dari pria itu.


"Kalau seperti itu, kenapa tidak kamu saja yang mengurusnya," ucap Fariz yang semakin heran.


"Aku tidak akan sanggup, kerjaanku di kantor sudah sangat banyak," ucap Aaric dengan nada lemah, seperti orang yang tengah banyak pikiran.


"Baiklah aku akan mengurus masalah restoran, tapi aku akan minta izin dulu pada Papa," sahut Fariz pasrah.


"Kamu tidak perlu minta izin, aku sebelumnya sudah bicara masalah itu," sahut Aaric dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


Fariz merasa ada maksud lain dari pria di depannya itu, kenapa Aaric memaksanya untuk mengurus restoran miliknya itu, tapi dia segera menepis keraguannya terhadap Aaric.


"Baiklah, mulai kapan aku harus mulai ke restoran,?"


"Besok saja," sahut Aaric.


Fariz pun menganggukkan kepalanya patuh, sedangkan Aaric tersenyum misterius tanpa Fariz sadari.


...*****...


Keesokan harinya, Fariz langsung pergi ke restoran milik Aaric, restoran peninggalan kakeknya, ayah dari Alish.


Mobil yang membawanya itu kini telah sampai di depan restoran yang akan mulai dia urus untuk sementara, dia menatap restoran yang lumayan ramai oleh pengunjung dengan seksama.


"Den, sudah sampai," ucap sopir yang Aaric perintahkan untuk mengantar jemputnya

__ADS_1


Fariz mengangguk dan mulai turun dari mobil, tidak lupa juga tongkat yang menjadi alat bantunya, kakinya memang sudah lebih baik, hanya saja, dia belum bisa berjalan dengan normal.


"Apa mau saya antarkan ke dalam?" tanya sopir itu langsung dijawab gelengan kepala oleh Fariz.


"Baiklah, saya permisi pulang dulu Tuan, nanti saat pulang saya jemput lagi," ucap sopir itu.


Fariz mengangguk, sopir itu pun segera menjalankan kembali mobilnya secara perlahan mulai menjauh meninggalkan Fariz.


Pria itu, mulai membawa dirinya untuk memasuki restoran, suara ketukan tongkat menjadi pengiring langkah hati-hatinya itu, dia memperhatikan setiap sudut restoran dengan seksama.


Dia memang jarang ke sana, terhitung hanya beberapa kali saja, dia menginjakkan kaki di restoran yang menjadi tempat almarhum kakeknya Aaric untuk mencari nafkah saat masih hidup.


Alish tidak ingin restoran itu tutup atau berhenti beroperasi, karena restoran itu peninggalan ayahnya, seperti rumah yang masih dia jaga, semua yang menjadi peninggalan kakek Aaric, masih dia jaga dengan baik hingga saat ini.


"Maaf Mas, apa sudah membuat janji atau mau pesan meja, di sini masih banyak meja yang kosong?" tanya salah seorang pelayan yang tidak lain adalah Rini.


Dia melihat Fariz yang hanya diam di depan pintu seperti tengah mencari sesuatu, dia pun akhirnya mencoba mendekatinya dan bertanya.


Fariz menatap Rini sekilas, kemudian kembali melihat ke sekelilingnya, bermaksud mencari keberadaan istri dari saudaranya.


"Mas," panggil Rini karena merasa heran dengan tingkah Fariz itu.


Fariz merogoh saku celananya, dia kemudian mengetikkan sesuatu dan memperlihatkan tulisan di ponselnya itu pada Rini.


Di mana Kia?


"Riz, kamu udah dateng, kenapa tidak langsung ke ruangan saja?" Sebuah suara dari belakang Rini memotong ucapan wanita itu.


Fariz berbicara dengan bahasa isyarat pada Kia dan Kia hanya mengangguk paham.


"Ayo kita langsung ke ruangan saja, aku ingin memberitahu beberapa hal padamu," ucap Kia.


Fariz mengangguk dan mulai melangkah meninggalkan Rini yang masih berdiri di depa pintu, menatap heran pada dua orang yang sudah berjalan meninggalkan tempat itu.


Sama seperti orang-orang yang Fariz temui sebelumnya, jika dia juga menganggap Fariz orang yang bisu.


"Hey! Ngapain bengong," ucap Ami sambil menepuk pundak Rini hingga dia tersentak kaget.


Dia baru saja kembali dari toilet, tapi saat akan kembali ke pekerjaannya, dia heran karena melihat temannya itu sedang berdiri di depan pintu sambil melamun.


"Ish, kamu ngagetin aja," sahut Rini menengok pada Ami dan mengelus dadanya.


"Lagian kamu ngapain bengong di sini."


"Tadi ada orang yang nyari Bu Kia, tapi orangnya aneh," cerita Rini yang sudah mulai berjalan ke arah meja kasir.

__ADS_1


"Aneh gimana?" tanya Ami heran.


Baru saja Rini akan bercerita, tapi lambaian dari pengunjung, membuat Rini mengurungkan niatnya dan pergi menemui pelanggan itu, sedangkan Ami tidak ambil pusing tentang apa yang mereka bahas sebelumnya dan melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu, di dalam ruangan yang sebelumnya ditempati oleh Kia, Fariz dan Kia kini sedang duduk saling berhadapan di sofa.


"Ini laporan pengeluaran dan pemasukan restoran ini untuk beberapa bulan ke belakang dan semua tentang restoran ini ada di sini ... oh iya mulai besok aku tidak akan ke sini lagi."


"Kenapa secepat itu?" Fariz menatapnya dengan heran.


"Karena di sini sudah ada kamu, jadi untuk apa lagi aku di sini," sahut Kia diiringi dengan kekehan.


"Kamu tenang saja, aku yakin kamu akan betah bekerja di sini," sambung Kia, membuat Fariz yang semula sudah mulai memeriksa beberapa kertas langsung mengalihkan perhatian padanya.


"Apa penting aku betah atau tidak," gumam Fariz yang terdengar dengan jelas oleh Kia dengan mata yang sudah fokus kembali pada kertas di tangannya.


"Kamu harus betah Riz, karena kamu di sini akan lama, mungkin nanti setelah aku melahirkan aku juga tidak akan bisa langsung mengurus masalah di sini lagi," jelas Kia.


"Ada Aaric, dia pasti bisa mengurus masalah di sini juga," sahut Fariz tanpa melihat ke arah Kia.


"Ya udah deh, aku mau keluar dulu ya, mau ke dapur," pamit Kia yang sudah mulai beranjak dari tempat duduknya, tanpa menyahuti ucapan Fariz sebelumnya.


Fariz hanya menanggapinya dengan anggukan kepala saja, Kia pun keluar dari ruangan yang berada di lantai dua tempat itu, dia turun ke lantai bawah menggunakan lift yang khusus untuknya.


"Mi, saya mau bicara," ucap Kia pada Ami yang saat ini sedang berada di meja kasir.


"Ada apa Bu?" tanya Ami terseyum ramah dan menatapnya.


"Mulai besok saya tidak akan datang ke sini."


"Loh kenapa Bu?"


"Saya harus istirahat karena alhamdulillah saat ini saya sedang hamil."


"Wah, selamat Bu, hamil anak kedua, kan Bu?"


"Iya." Kia tersenyum pada Ami.


"Terus kalau ibu tidak ke sini yang memantau di sini siapa? Apa ada orang yang Bu Kia percaya untuk mengurus masalah di sini?" tanya Ami.


"Iya, untuk masalah itu, ada saudara suami saya yang akan mengurus masalah di sini, cuma ada satu masalah."


"Masalah apa Bu?" tanya Ami dengan penasaran.


...----------------...

__ADS_1


Kakak-kakak semuanya, bagi yang masih setia nunggu kelanjutan cerita ini makasih banget, maaf kalau up-nya jadi jarang, soalnya sekarang aku udah coba nulis di lapak lain, jadi harap maklum kalau ngaret up-nya🤭


__ADS_2