
Dari hari ke hari, tidak ada yang berubah dari Ami, dia masih tetap dalam kondisi hati yang masih tidak baik-baik saja, setiap waktu hatinya selalu dipenuhi, tentang kerinduan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.
Saking asyiknya dengan lamunan, dia sampai tidak menyadari, jika saat ini mobil yang dikemudikan oleh Candra telah sampai di sebuah restoran, entah kenapa dia ingin sekali makan malam di luar untuk merilekskan pikirannya itu.
"Pak ikut makan aja yuk, Pak Candra belum makan juga, kan?" tawar Ami, saat turun dari mobilnya.
"Tidak apa-apa gitu Non, kalau saya ikut makan," sahut Candra yang sebenarnya sudah merasa lapar, tapi merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, ayo kita masuk," ajak Ami.
"Baiklah, Non terima kasih sebelumnya Non," ucap Candra yang ikut keluar dari mobil.
"Iya sama-sama," sahut Ami tersenyum, dia kemudian melangkah memasuki restoran itu.
Ami berjalan di depan Candra, dia duduk di bangku yang kosong dan meminta Candra untuk mencari meja yang kosong juga.
"Pak Candra, pesan sendiri saja makanannya, pesan apa saja yang Pak Candra mau," ucap Ami pada Candra yang duduk di meja yang tidak jauh dari tempatnya.
"Siap, Non," ucap Candra dengan semangat.
Ami pun mulai memesan makanan yang ingin dimakannya, saat pelayan sudah pergi lagi, dia memperhatikan seluruh sudut restoran itu, memperhatikan setiap orang yang ada di sana.
Merasa bosen dengan itu, dia kemudian, membuka ponsel dan membuka akun media sosialnya, tapi tidak menemukan hal yang menarik, dia hanya menscroll, layar di ponselnya itu dengan malas.
Media sosialnya memang sepi, karena orang yang berteman dengannya, hanya hitungan jari saja, jadi wajar saja jika tidak ada yang menarik.
"Silakan Mbak, selamat menikmati makanannya." Suara pelayan membuat aktivitas Ami yang menggeser-geser layar di ponselnya terhenti.
Dia menatap makan yang telah tersaji di mejanya, dia tidak menyadari jika makanannya sudah datang, mungkinkah barusan dia melamun lagi, saat melihat-lihat media sosialnya.
"Iya terima kasih, Mas," ucap Ami pada pelayan laki-laki yang terlihat seperti, masih seumuran dengannya itu.
"Iya sama-sama Mbak," sahut pelayan itu dengan ramah, dia kemudian pergi meninggalkan Ami yang mulai memakan malamnya.
Dia makan dengan tenang, untuk beberapa saat dia fokus pada makanan yang ada di depannya itu, tapi lagi-lagi itu tidaklah bertahan lama.
Di jarak yang lumayan jauh, lebih tepatnya di meja yang ada di pojok restoran itu, ada mata yang ternyata tengah menatapnya dengan intens, entah sejak kapan mata itu terus menatapnya.
Melihat pria yang selalu memenuhi hatinya, menatapnya seperti itu, membuat jantungnya berdebar tidak menentu, ternyata hatinya tidak bisa berbohong, jika dia benar-benar teramat merindukan si penghuni hati itu.
Ami menghentikan makannya, dia segera membasahi kerongkongannya yang terasa kering itu dengan minuman yang dipesannya tadi.
__ADS_1
"Riz tidak apa-apa, kan kalau kita tunda bulan madu kita nanti, aku bakalan ada tugas ke luar kota beberapa minggu setelah kita menikah," ucap Cindy.
Fariz yang semula menatap ke arah Ami, langsung mengalihkan perhatiannya pada wanita di depannya itu, entah kenapa dia selalu kesal, setiap wanita itu membicarakan tentang bulan madu.
Sungguh, dia tidak pernah memikirkan hubungan mereka akan sejauh itu, tapi sepertinya wanita di depannya itu, terlalu banyak berharap.
Fariz mengangkat bahunya tak peduli, sebagai jawaban atas pernyataan dari Cindy itu, dia kemudian berdiri bermaksud akan ke toilet.
"Kamu mau kemana Riz?" tanya Cindy.
Fariz menatapnya sekilas, dia kemudian menunjuk ke arah toilet dan Cindy pun mengerti dengan maksudnya itu dan menganggukkan kepala.
"Jangan lama-lama ya, habis ini kita langsung pulang, aku capek mau segera istirahat," ucap Cindy.
Tanpa memberikan respon atas ucapannya itu, Fariz melanjutkan niatnya, yaitu pergi ke toilet, mengikuti Ami yang sudah lebih dulu pergi ke arah toilet.
Dia ingin melihat Ami deri dekat, dia sudah sangat merindukan wanita itu, selama ini dia tidak berani menemuinya karena takut, itu malah akan menyakitinya, tapi sekarang dia tidak bisa menahan lagi.
Fariz hanya berdiri di lorong toilet itu dengan tenang, menunggu Ami keluar dari pintu toilet wanita, setelah beberapa saat, akhirnya yang ditunggu pun menampakkan dirinya, wanita yang selalu dirindukannya keluar dari pintu toilet.
Ami kaget dengan keberadaannya di sana, tapi tidak bisa dibohongi, jika hati kecilnya merasa sedikit senang, bisa berhadapan lagi dengan pria itu.
"Mas."
Mereka saling memanggil satu sama lainnya dengan beriringan, setelah itu tidak ada lagi kata yang terucap dari mulut keduanya, hanya mata yang saling menatap dengan dalam.
Seolah mengatakan kerinduan yang teramat dalam, kerinduan yang selalu berusaha mereka tahan sekuat tenaga, hingga kini mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
"Bagaimana kabar kamu, Mi?" tanya Fariz membuka lagi suaranya.
"Ami baik Mas," sahut Ami yang sebenarnya ingin mengucapkan, jika hatinya tidaklah baik-baik saja.
"Baguslah, jika kamu baik-baik saja," ucap Fariz dengan sedikit senyuman di wajahnya.
"Mas juga, kelihatannya baik-baik saja dengan Mbak Cindy," ucap Ami tersenyum kecut, setelah selesai mengucapkan hal itu.
"Aku tidak baik-baik saja, Mi," cerita Fariz terus terang.
Ami tidak membuka lagi suaranya, dia berusaha sekuat tenaga menahan, dirinya untuk tidak menerjang pria yang kini sedang berdiri di depannya itu.
"Mas harus baik-baik saja," ucap Ami berusaha tetap tenang.
__ADS_1
"Aku tidak bisa, Mi, meskipun sekuat tenaga aku memaksa diriku, tapi aku tidak bisa, sebagian dari diriku seolah telah hilang," terang Fariz.
Sungguh demi apa pun, mendengar ucapan Fariz itu membuat mata Ami kembali memanas, ingin rasanya dia mengatakan, jika itulah yang dirasakan olehnya.
Selama pertemuan itu terjadi, mereka saling menatap dengan posisi yang tidak bergeser sedikit pun, Ami baru saja akan membuka suaranya tapi, dia melihat bayangan yang mendekati mereka.
Dia segera melangkah melewati Fariz dengan kepala tertunduk, karena takut jika yang datang itu adalah Cindy dan ternyata benar. Yang datang itu adalah Cindy, wanita itu sudah mulai bosen menunggu Fariz yang tak kunjung kembali.
"Riz kenapa kamu lama banget," ucap Cindy.
Fariz melangkah mendahului Cindy, dia memutuskan untuk segera pulang, tapi sebelum itu, matanya melirik pada Ami yang terlihat sedang mengobrol bersama pelayan.
Cindy mencebikkan bibirnya dengan kesal, dia mengikuti langkah Fariz dengan menghentakkan kaki, melampiaskan kekesalannya.
Sementara itu, di sisi lain Ami yang sudah selesai membayar makanannya, mengajak Candra yang kebetulan sudah selesai makan untuk segera pulang.
Selama di dalam mobil, Ami diam mengingat pertemuannya dengan Fariz barusan, dia kembali lagi menangis, mendengar cerita Fariz yang seperti sebuah keluhan itu.
"Kenapa kamu mengatakan hal itu Mas, mendengar apa yang kamu katakan barusan, hatiku kembali rapuh," gumam Ami diiringi isak tangis yang membuat Candra khawatir.
"Non Ami kenapa?" tanya Candra khawatir.
"Tidak apa-apa Pak, Ami baik-baik saja," sahut Ami yang langsung mengusap pipinya.
Dia sampai tidak menyadari tempat, membuat sopirnya itu khawatir dan keheranana karena dia yang tiba-tiba menangis.
Candra pun menganngguk, tidak bertanya lagi, dia memang sudah tau, jika semenjak kedatangan pria itu ke rumah beberapa waktu lalu, nona-nya itu terlihat selalu murung dan sedih.
Tak lama kemudian mobil mereka pun samapai di depan gerbang, Candra turun dari mobil dan membuka pintu gerbang, setelah itu kembali masuk dan memasukkan mobilnya.
"Pak jangan ceritakan apa yang terjadi barusan sama Papa ya," ucap Ami saat turun dari mobil.
"Iya baik, Non," sahut Candra dengan patuh.
"Terima kasih, Pak."
Ami tersenyum dan mulai melangkah memasuki rumahnya, tapi sebelum itu dia beberapa kali menarik napas terlebih dahulu, berusaha manghapus sisa-sisa kesedihan agar tidak diketahui oleh Papanya.
"Udah pulang Mi?" tanya papanya seperti biasa, pria paruh baya itu, tengah duduk di ruang keluarga dengan televisi yang menyala.
"Iya Pa, Ami mau langsung ke kamar ya Pa, capek," sahut Ami sambil terus melangkah menuju ke kamarnya.
__ADS_1
"Iya istirahatlah," sahut Denis.