Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 86.


__ADS_3

Aaric memasuki rumah orang-tuanya itu dengan langkah santai, dia berniat menjemput anak dan istrinya yang menginap di sana selama dua malam, selama dia menemani Fariz di rumah sakit.


"Den Aaric," sapa Art Nevan yang berpapasan dengannya.


"Di mana yang lainnya, Bi? Kenapa rumah sepi?" tanya Aaric menghentikan sejenak langkahnya.


"Tuan sama nyonya, sepulangnya dari rumah sakit langsung pergi ke kamar dan belum turun lagi, kalau Non Kia sama Non Melo lagi di kolam renang, Non Melo dari tadi mau berenang," terang Art itu, membuat Aaric mengangguk paham.


"Baiklah aku akan pergi ke kolam renang," ucap Aaric, langsung melanjutkan langkahnya menuju ke kolam renang.


Aaric melihat anaknya, Melody tengah berenang dengan lihai di kolam itu, sedangkan Kia istrinya hanya memperhatikannya dari dari pinggir kolam itu.


Pria itu berjalan ke arah istrinya yang tidak menyadari kedatangannya. dia meniup bagian belakang telinga Kia, hingga membuat si empu langsung menoleh ke arahnya.


"Ric, kamau udah pulang?"


"Belum," sahut Aaric santai, sambil meminum, minuman yang ada di tangan Kia.


"Oh berarti yang ada di depanku ini adalah mahkluk halus gitu?" Kia mencebik dengan ucapan dari Aaric itu.


"Bukan, ini adalah suami tercintamu," sahut Aaric menaik turunkan alisnya.


"Ya, ya, ya. Oh iya di mana Fariz? Apa dia langsung ke kamarnya?" tanya Kia melihat ke belakang Aaric, lebih tepatnya ke melihat ke dalam rumah yang masih terasa sepi.


"Dia tidak pulang ke sini," sahut Aaric yang sudah duduk di samping Kia.


Dia melipat celana panjangnya dan memasukkan kakinya ke dalam air seperti yang istrinya lakukan, dia menyenderkan kepala di pundak Kia.


"Kenapa?" tanya Kia dengan heran.


"Ada masalah antara Mama sama dia, jadi dia memutuskan untuk tinggal di apartemennya, beberapa hari ini," terang Aaric.


"Masalah apa?" tanya Kia lagi semakin penasaran.


"Sepertinya masalah Fariz yang tidak mencintai Cindy, jadi dia memiliki hubungan dengan wanita lain," terang Aaric.


"Apa! Fariz menjalin hubungan dengan wanita lain, jadi itu alasan kenapa kemarin-kemarin dia selalu menolak untuk menikah?" Mata Kia membulat tak percaya.


"Iya, dia memang tidak pernah mencintai Cindy, sejak awal dia mau berkenalan dengan Cindy bahkan bertunangan, itu semua karena dia tidak ingin mengecewakan Mama, bahkan untuk pernikahannya pun, jika Mama waktu itu tidak sakit dan tidak mendesaknya, dia tidak akan setuju dengan pernikahan itu," terang Aaric.


"Terus sekarang gimana, apa pernikahan mereka akan terus berlanjut, acara pernikahan itu, hanya tinggal seminggu lagi?" Kia menatap Aaric dengan serius.


"Mungkin jika Mama, kukuh ingin dia menikahi Cindy ya, pernikahan itu akan terjadi," sahut Aaric sambil mengangkat bahunya.


"Tapi Fariz pasti tidak akan bahagia dengan pernikahan itu, lagian bukankah sekarang dia belum pulih ya?"

__ADS_1


"Iya dia memang belum pulih, tapi entahlah. Aku belum tau akan seperti apa," sahut Aaric.


Di tengah-tengah obrolan serius mereka, Melody datang ke arah mereka dengan berenang, anak Aaric itu memang sudah pandai berenang.


"Pa, Paman Fariz mana?" tanya Melody pada Aaric.


"Kamu itu,kenapa yang ditanyain pertama kali malah dia, bukannya papa," ucap Aaric merajuk.


"Papa, kan baik-baik saja, udah ada di depan Melo juga, jadi untuk apa ditanyain lagi," jawab Melody yang sudah mulai mendudukkan dirinya di samping orang-tuanya.


"Dia baik-baik saja, tapi dia tidak pulang ke sini, dia pulang ke apartemennya," sahut Aaric.


"Kenapa tidak pulang ke sini? Bukankah dia masih sakit?" tanya Melody lagi menatap papanya dengan heran, sedangkan Kia hanya diam melihat interaksi anak dan suaminya itu.


"Dia katanya pengen menangin diri, karena di sini pasti akan sering bertemu kamu, jadi biar tenang dia tinggal di sana, kalau di sini bukannya cepat sembuh dia malah akan susah sembuh," sahut Aaric yang sengaja menggoda anaknya itu.


"Emangnya Melo peganggu apa? Kenapa Paman Fariz tidak mau bertemu denganku," Melo memanyunkan bibirnya, tidak terima dengan ucapan papanya itu.


"Kamu tidak sadar apa, kalau kamu itu emang pengganggu," sahut Aaric lagi.


"Tidak, Melo bukan pengganggu," bantah Melo dengan nada kesal.


"Tuh buktinya marah-marah gitu, itu namanya pengganggu ketenangan," ucap Aaric.


"Iya, kamu bukan pengganggu, tapi kamu tukang rusuh," sahut Kia yang ikut menggoda anaknya itu.


"Mama!" rengek Melo karena tidak mendapat pembelaan.


Aaric dan Kia hanya terkekeh melihat anaknya merajuk seperti itu, sedangkan Melo semakin memanyunkan bibirnya.


"Udah, udah. Ayo kita mandi, kamu juga mandi gih Pa," ucap Kia sambil berdiri.


"Iya, aku juga sudah tidak nyaman," sahut Aaric ikut bangun dari duduknya.


"Ayo Melo, kita ke kamar mandi," ucap Kia membawa Melo ke kamar mandi yang ada di dekat kolam, karena jika mereka mandi di kamar mandi yang ada di dalam rumah, maka akan mengotori lantai.


Sementara Aaric juga, mulai melangkah memasuki rumah dan segera menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Saat tengah menaiki tangga menuju ke kamarnya itu, dia berpapasan dengan Nevan yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ric, sudah sampai? Mana Fariz?" tanya Nevan.


"Fariz pulang ke apartemennya," sahut Aaric.


"Kenapa dia tidak pulang ke sini saja, di sana siapa yang akan mengurusnya," gumam Nevan yang tidak mendapatkan sahutah dari Aaric.

__ADS_1


"Oh iya Mama mana?" tanya Aaric.


"Mama kamu sedang istirahat, dari tadi sepulang dari rumah sakit dia mengeluh kepalanya sakit lagi," sahut Nevan.


"Oh, kalau gitu Aaric pergi bersih-bersih diri dulu ya," pamit Aaric.


"Iya," sahut Nevan sambil mengangguk.


Mereka berpisah menuju ke tempat mereka masing-masing, Aaric menuju ke kamarnya, sedangkan Nevan pergi ke ruang keluarga.


Nevan mendudukkan dirinya, dia kembali teringat apa yang Alish katakan tadi saat mereka pulang dari rumah sakit, Alish menceritakan semua yang terjadi padanya dan Fariz.


Dia beberapa kali menghela napas panjang, bingung harus menanggapi masalah ini seperti apa, jika dia membiarkan Fariz memilih wanita yang Alish ceritakan itu.


Hal itu mungkin tidak cukup adil untuk Cindy dan keluarganya, walau bagaimanapun, wanita itu sudah menunggu Fariz selama hampir dua tahun, jadi jika sekarang dari pihaknya tiba-tiba saja membatalkan pernikahan, itu pasti akan sangat menyakiti Cindy.


Nevan terus larut dalam pikirannya itu, dia bingung jalan mana yang harus dia ambil saat ini, di tengah-tengah lamunannya itu, Aaric sudah berada di sana dan segera mendudukkan dirinya di sofa yang ada di samping papanya itu.


"Apa Mama mengatakan sesuatu saat pulang dari rumah sakit tadi?" tanya Aaric membuat perhatian papanya tertuju padanya.


"Kamu sudah selesai, Ric, cepet banget bersih-bersihnya," ucap Nevan menatap Aaric dengan kening mengerut.


"Kenapa harus lama sih, Pa, cuma mandi doang ini," sahut Aaric.


"Yakin kamu mandi," sahut Nevan tidak percaya karena Aaric hanya sebentar di kamarnya.


"Iyalah, Pa." Aaric memutar matanya malas, menanggapi Nevan itu.


"Jadi gimana, apa Mama mengatakan sesuatu tadi?" tanya Aaric lagi.


"Ya, dan sekarang papa sedang sedang memikirkan hal itu?" sahut Nevan.


Nevan pun mulai menceritakan apa yang mengganggu dalam pikirannya, Aaric hanya menanggapinya dengan anggukan kepala dan berpikir juga.


Dia membenarkan apa yang papanya katakan itu, itu mungkin akan berdampak tidak baik untuk keluarganya jika mereka membatalkan pernikahan ini begitu saja.


"Mungkin saat ini Fariz kecewa pada Mamamu, papa harap semoga itu tidak akan lama, dia segera memafkan kesalahan Mama kamu itu," ucap Nevan.


"Iya Aaric juga berharap seperti itu," sahut Aaric dengan mengangguk, "Tapi, Aaric yakin Fariz tidak mungkin marah terlalu lama, dia pasti akan baikl lagi seperti sebelumnya," sambung Aaric lagi.


Nevan pun mengangguk setuju dengan ucapan Aaric itu, dia percaya Fariz tidak akan marah terlalu lama pada istrinya, meskipun dia juga merasa apa yang dilakukan istrinya itu, sedikit keterlaluan.


Namun, dia tidak menyalahkan istrinya sepenuhnya, karena wajar jika Alish itu, masih trauma dengan hal yang seperti itu, dia sadar istrinya hanya manusia biasa yang tidak mungkin bisa selamanya baik, benar, sabar, dan kuat.


Terlebih lagi, akar dari masalah itu muncul dari dirinya di masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2