
Mendengar apa yang Ami katakan itu, Fariz memalingkan wajahnya ke arah Ami dan menatap wanita itu dengan dalam, menelisik tentang apa maksud dari ucapannya itu.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Bolehkah aku menyukai Mas Fariz?" tanya Ami terus terang.
Fariz menatap tak percaya pada Ami, kenapa tiba-tiba Ami menanyakan hal itu, apa maksud dari pertanyaannya itu.
"Aku tau itu tidak benar, tapi aku tidak bisa mengendalikan hatiku sendiri untuk tidak menyukaimu," terang Ami.
Fariz mengepalkan tangannya, dia juga ingin mengatakan, jika dia pun memiliki rasa yang sama pada wanita ini. Namun, wajah kecewa Alisha memenuhi pikirannya.
Dia tidak ingin hal itu terjadi, membayangkan bagaimana mama angkatnya itu, sering bersedih karena perbuatan ibu kandungnya, membuat dia tidak ingin membuat wanita itu merasa kecewa padanya.
"Tapi, kamu harus kecewa karena perasaanmu itu adalah perasaan sepihak saja," ucap Fariz dengan berat.
Bukankah lebih baik seperti itu, setidaknya Ami hanya akan sakit hati sekali jika dia mengatakan hal itu sekarang, dia tidak ingin menyakitinya lebih dalam dan memberikan angan yang bahkan dia sendiri pun tidak mampu untuk menggapainya.
"Apakah, Mas tidak bisa untuk tidak langsung berterus terang seperti itu," ucap Ami memaksa bibirnya untuk tersenyum.
Meskipun dia sudah mempersiapkan hatinya untuk hal yang seperti itu, tapi tetap saja, ditolak secara langsung, nyeseknya bukan main.
"Daripada aku bersikap seolah aku membalas perasaamu, itu hanya akan membuatmu semakin banyak berharap." Fariz merasa sedih dengan ucapannya itu, tapi dia sendiri tidak punya pilihan lain.
"Terus apa arti kebaikan yang Mas, lakukan selama ini padaku?"
"Aku melakukan hal itu hanya demi rasa kemanusiaan saja, niatku dari awal hanya hanya ingin membantu sebagai sesama manusia, tidak lebih!" terang Fariz.
Ami menunduk tidak berani mengangkat wajahnya lagi, antara sedih, malu dan kecewa menjadi satu, dia memainkan jemari tangannya melampiaskan kegundahan yang dalam hatinya.
"Aku sarankan kamu, jangan terlalu gampang mudah menyukai orang lain hanya dengan kebaikan yang telah orang itu lakukan, jika kamu selalu seperti ini, aku yakin kamu akan semakin sering kecewa," ucap Fariz lagi dan mulai bangun dari tempat duduknya.
"Sebaiknya kamu, mulai pikirkan untuk pergi dari sini, keluargamu pasti sudah mencarimu terlalu lama, jangan bersikap egois dan hanya memikirkan diri sendiri, Tapi, coba pikirkan keluargamu yang sudah mengharapkan kepulanganmu," terang Fariz dengan posisi berdiri dan membelakangi Ami.
"Apa sekarang Mas, benar-benar ngusir aku!" lirih Ami dengan air mata yang mulai luruh di pipinya.
"Anggap saja seperti itu." Setelah mengatakan hal yang sama sekali tidak sejalan dengan hatinya, Fariz melangkah pergi dari tempatnya itu.
Dia melangkah dengan berat hati menaiki tangga, menuju ke kamarnya, setelah sampai di kamarnya dia menutup pintu dan bersandar pada pintu kamarnya.
__ADS_1
Beberapa kali dia menarik napas dan mengeluarkannya secara berulang-ulang, untuk memenangkan hatinya.
"Maaf," gumamnya dengan rasa sesak yang juga menyelimuti hatinya.
Akhirnya setelah kembali berpikir, dia harus mengambil langkah ini, membiarkan Ami pergi kembali ke keluarganya.
Mereka kembali menjadi orang asing yang tidak pernah mengenal sebelumnya, itu adalah jalan terbaik menurutnya, agar tidak mengecewakan lebih banyak hati lagi.
...*****...
Di ruang tengah, Ami mulai terisak saat mendengar Fariz sudah tidak ada di sana, dia lagi dan lagi kembali merasakan sakit hati, tapi kali ini lebih parah.
Entah rasa yang dia miliki tidak sesederhana saat dia memiliki perasaan pada Daffin atau dia awalnya terlalu berharap pada Fariz.
"Non," panggil Ijah yang mengusap punggung Ami.
"Bi, dia menolakku begitu saja, bahkan dia mengusirku, apa aku salah kalau aku memiliki perasaan itu padanya," ucap Ami yang diiringi dengan derai air mata.
"Non, kita bicarakan di dalam kamar yuk, ada yang mau Bibi ceritakan," ajak Ijah pada Ami.
"Apa, Bi?" tanya Ami yang sudah mulai mengangkat wajahnya.
"Ada apa sih Bi, sebenarnya?" tanya Ami dengan heran.
Saat ini mereka sudah sampai di kamar Ami dan sedang duduk saling berhadapan di pinggir ranjang.
"Non, jangan sedih gitu. Sebenarnya apa yang Den Fariz katakan itu, tidak sesuai dengan apa yang ada dihatinya," terang Ijah dengan yakin.
"Maksud Bibi?" kening Ami semakin mengerut karena tidak memahami apa yang Ijah ucapkan itu.
"Den Fariz sebenarnya memiliki perasaan sama seperti yang Non rasakan, hanya saja dia tidak ingin membuat kecewa mamanya, apalagi ternyata wanita itu sepertinya menyukai Den Fariz," terang Ijah.
"Bagaimana Bibi bisa tau kalau dia menyukaiku juga?"
"Bibi selalu mengintip kalau kalian lagi berdua, Den Fariz tidak pernah memalingkan wajahnya dari Non, dia selalu menatap Non dalam diam," terang Ijah lagi yang membocorkan rahasia Fariz.
"Benarkah, seperti itu Bi?" Pipi Ami terasa memanas saat mendengar apa yang Ijah ucapkan itu.
Ijah tersenyum melihat, wajah Ami yang memerah, pipinya yang putih kini seperti dipakaikan blush-on.
__ADS_1
"Iya Non beneran, hanya saja dia pasti tidak ingin egois dengan mengikuti kata hatinya dan mengecewakan keluarganya, apalagi mamanya."
"Coba saja, Non pikirkan, saat kecil harus kehilangan ibu dan tidak ada sanak keluarga yang mau merawatnya, bahkan dulu almarhum ibunya mau menitipkan dia di panti asuhan, jika Bu Alish dan Tuan Nevan tidak mengadopsinya, jadi yang menjadi prioritasnya saat ini adalah keluarganya."
"Den Fariz juga tidak ingin menyakiti Non Ami pada akhirnya, Bibi dapat melihat jika dia juga berat untuk berkata seperti itu tadi-"
"Maksud Bibi dia menolakku karena tidak ingin memberikan aku harapan, di saat dia sendiri tidak memiliki pilihan lain," sahut Ami yang mulai paham.
"Iya, Non. Kelemahan Den Fariz ada pada Bu Alish, dia tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya kali ini untuk menyenangkan Bu Alish," terang Ijah lagi.
"Mungkin benar, Bi, apalagi dari yang Ami dengar tadi sepertinya, mamanya Mas Fariz sangat menyukai wanita itu."
"Iya Non," sahut Ijah menganggukkan kepalanya.
"Seandainya Bibi, bisa ingin rasanya Bibi mengatakan pada Bu Alish, jika Den Fariz tidak menyukai wanita itu sama sekali, tapi Bibi tidak memiliki hak untuk itu."
"Makasih karena Bibi, sudah memberitahu masalah ini pada Ami, aku akan memikirkan cara agar bisa dekat Mas Fariz dan membuat mamanya menyukaiku kelak," ucap Ami dengan yakin dan langsung mengusap pipinya yang basah,
"Iya Non, Bibi hanya gak senang saja liat dua orang yang saling menyukai harus berpisah gitu aja, kan gak seru," canda Ijah, membuat Ami tertawa.
"Baiklah, kalau gitu Bibi kembali nyetrika baju lagi ya," pamit Ijah.
"Iya Bi," sahut Ami.
Ijah pergi dari kamar itu dengan tersenyum lega karena dia telah meluruskan masalah antara Fariz dan Ami, dia dapat melihat jika majikannya itu memiliki perasaan pada Ami.
"Den!" ucap Ijah dengan kaget karena dia keluar dari kamar Ami Fariz tengah berdiri di ujung tangga dengan tatapan datar padanya.
Apakah majikannya itu mendengar obrolan dia dan Ami barusan, dia berusaha tenang dan memaksa bibirnya untuk tersenyum.
"Jangan memberikan dia harapan yang hanya akan menyakitinya," ucap Fariz dengan nada datar.
"Maaf, Den. Bibi hanya tidak tega melihat Non Ami sedih," terang Ijah mendudukkan kepalanya takut.
Fariz tidak menyahutinya, dia memutuskan pergi dari apartemennya untuk menenangkan hati dan pikirannya sejenak.
...----------------...
Selamat hari raya Idul Fitri, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin para pembaca sekalian. Semoga kita semua diberkahi rahmat dan kebahagiaan di hari nan fitri ini🙏🤗
__ADS_1