
Pagi-pagi sekali, Ami dan Rini sudah siap untuk pergi bekerja, mereka memutuskan untuk berangkat kerja dengan berjalan kaki saja, karena tempat kos mereka dari restoran memang tidak terlalu jauh, ditambah saat ini masih sangat pagi.
Ami saat ini memang sudah tinggal di kosannya, sudah sebulan dia menempati kosannya itu, itu artinya sudah sebulan lebih dia bekerja di restoran tempatnya bekerja saat ini.
"Oh iya Mi, waktu itu siapa laki-laki yang jemput kamu ke kosan, pacar kami ya?" Rini memulai percakapan di antara mereka tanpa menghentikan langkahnya.
"Bukan, dia teman aku saat di SMP," sahut Ami menggeleng.
"Oh aku kira dia pacar kamu," sahut Rini menganggukkan kepalanya paham.
"Bukanlah, aku kan udah bilang kalau aku tidak punya pacar," ucap Ami.
"Iya, siapa tau aja kamu tiba-tiba punya pacar," sahut Rini disertai kekehan.
"Ya, tidak mungkinlah," sahut Ami.
"Tapi laki-laki kemarin lumayan, kenapa kamu tidak jadiin dia pacar aja."
"Kami berdua hanya teman dan selamanya akan seperti itu," sahut Ami santai.
"Yakin, bakal selamanya seperti itu? Setau aku yang namanya pertemanan antara laki-laki dan perempuan pasti selalu ada perasaan lain yang hadir di antaranya."
Ami segera menggeleng, menyanggah apa yang Rini katakan itu.
"Itu tidak mungkin, aku hanya menganggapnya teman, tidak akan berubah."
"Bagaimana kalau dia yang memiliki perasaan lebih padamu?"
Ami menoleh ke sampingnya, dia menatap Rini dengan mata menyipit, seolah mencurigai sesuatu saat mendengar ucapan temannya itu.
"Kamu suka sama dia ya?"
Rini langsung melotot dan menggeleng dengan cepat, mendengar ucapan Ami itu, pipi Rini tiba-tiba sedikit memerah, melihat reaksi temannya yang seperti itu, Ami tertawa karena merasa lucu.
"Apanya yang lucu?" decak Rini, menatap Ami dengan kesal.
"Kamu yang lucu, kamu kayak maling yang kepergok," sahut Ami masih disertai kekehan.
"Kayak maling gimana, perasaan aku biasa aja," sahut Rini membuang pandangan ke arah lain.
__ADS_1
"Tapi, pipi kamu bersemu, saat aku bilang seperti itu, jujur deh kamu menyukainya, kan? Kalau kamu memang menyukainya, aku pasti akan bantu kamu deketin dia," ucap Ami dengan antusias.
"Tidak! Aku tidak menyukainya," sanggah Rini menggeleng dengan cepat.
"Yakin?" Ami menatap Rini tak percaya.
"Iyalah," sahut Rini dengan tatapan lurus ke arah depannya.
"Yahh, sayang banget, padahal sebenarnya aku berniat untuk ngenalin kamu ke dia," ucap Ami.
Rini menatap Ami dengan kening mengerut, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Dia pasti sudah memiliki pacar, kelihatannya dia juga anak orang kaya," ucap Rini.
"Dia belum pacar, dia memang anak orang yang cukup berada sih, oh iya kamu tau tidak, dia sebenarnya calon dokter loh," ucap Ami.
"Apalagi seperti itu, derajat kita aja udah beda, tidak akan mungkin bisa bersama," ucap Rini tanpa sadar.
"Tuh kan, kami menyukainya, kan?" Ami menaik turunkan alisnya, semakin menggoda Rini.
"Tidak! Aku tidak menyukainya, udah ah ayo cepat jalannya,," sahut Rini berjalan dengan cepat, meninggalkan Ami.
"Hey tungguin, iya deh iya berhenti bahas Rayyan," ucap Ami, mempercepat langkahnya menyusul Rini.
Ami melirik ke arah temannya itu, dia tersenyum melihat Rini bergumam sambil tersenyum seperti itu, dia beranggapan jika Rini menyukai temannya itu.
"Oh iya Rin, kamu belum cerita loh, tentang kehidupan kamu," ucap Ami kembali membuka percakapan.
"Apa yang mau diceritain, hidupku tidak ada yang menarik," sahut Rini dengan enggan.
"Aku sebenarnya merasa aneh saja, saat kita bertemu lagi, kamu kerja sebagai pelayan seperti itu, sementara aku tau, jika dulu waktu kita sekolah, kamu anak orang yang berada," ucap Ami dengan heran.
Rini memang teman Ami saat di SMA, dia dan Rini kenal dari kelas dua, saat itu Rini adalah siswi pindahan di sekolahnya.
Dulu Ami ingat betul, temannya itu ke sekolah sering diantar jemput oleh sopir dia juga sempat beberapa kali main ke rumahnya, saat ada tugas kelompok, karena mereka memang satu kelas.
Jujur saja Ami sedikit heran saat mereka bertemu lagi, Rini menjadi pelayan di restoran tempatnya bekerja itu, karena kehidupan temannya dulu terlihat sangat baik secara materi.
"Aku ada masalah aja sama keluargaku, jadi memutuskan untuk pergi dari rumah," sahut Rini.
__ADS_1
"Masalah apa?" tanya Ami dengan penasaran.
Rini tidak menjawabnya, pandangan lurus ke arah lain, melihat temannya tidak ingin bercerita Ami pun tidak memaksanya.
Dia kembali fokus pada jalannya yang ternyata tidak terasa, mereka sudah sampai di dekat tempat kerja mereka, dari tempatnya saat ini, Ami dapat melihat atasannya tengah berbicara dengan seseorang di dalam mobil.
Tak lama kemudian atasannya itu, tersenyum dan melambaikan tangannya pada orang yang ada di dalam mobil itu.
"Pagi Bu Kia," sapa Ami disusul oleh Rini.
Atasannya itu menoleh ke arah mereka dan tersenyum ramah, atasannya itu memang ramah, dia selalu tersenyum dan mudah berbaur dengan para karyawannya.
"Pagi, kalian udah nyampe juga, kalian naik apa? Kok saya tidak melihat kalian turun dari kendaraan?" tanya Kia dengan heran.
"Kami jalan kaki Bu, sekalian sambil olahraga," sahut Rini diiringi anggukan kepala oleh Ami.
"Oh pantesan." Kia menganggukkan kepalanya.
"Bu Kia, barusan diantar sama suaminya ya," ucap Rini.
"Iya, tadi kebetulan dia tidak terlalu sibuk di kantornya, jadi bisa nganterin dulu ke sini," sahut Kia menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita masuk," ajak Kia yang mulai berjalan memasuki restorannya itu.
Di dalam restoran itu sudah ramai pelayan lain yang sudah sibuk dengan tugasnya masing-masing, mereka sempat menghentikan pekerjaan mereka terlebih dahulu dan menyapa Kia.
Sementara Ami dan Rini, pergi menuju ke loker mereka terlebih dahulu untuk menyimpan tas mereka dan setelah itu, baru ikut yang lainnya melakukan pekerjaan mereka.
...*****...
Sementara itu di sisi lain, Aaric baru saja sampai di depan pintu apartemen Fariz, dia segera mengetuk pintu apartemen itu dan tak menunggu lama pintu pun terbuka.
"Den Aaric, silakan masuk Den," ucap Bi Ijah tersenyum ramah dan membuka pintu lebih lebar, agar Aaric bisa masuk.
"Di mana Fariz Bi?" tanya Aaric sambil berjalan masuk.
Belum sempat Ijah menjawab pertanyaan dari Aaric itu, Fariz sudah terlebih dahulu bersuara dari arah dapur.
"Ada apa kamu ke sini pagi-pagi seperti ini? Kamu gak kerja?" tanya Fariz berjalan ke arahnya dengan bantuan tongkat, karena kakinya belum sepenuhnya sembuh, jadi dia berjalan dengan bantuan tongkat.
__ADS_1
"Ada yang mau aku bicarakan, aku langsung berangkat setelah itu," ucap Aaric yang langsung mendudukkan dirinya dengan santai di sofa.
"Apa?" tanya Fariz yang juga ikut mendudukkan dirinya.