Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Keinginan Ami.


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah selesai makan malam. Ami mendatangi  papanya yang masih berada di depan televisi di ruang keluarga.


"Mi, kamu belum tidur?" tanya Denis saat melihat, Ami yang berjalan mendekatinya.


"Belum Pa, ada yang mau Ami bicarakan," ucap Ami.


"Bicara apa? Duduklah," sahut Denis menarik tangan Ami untuk duduk di sampingnya.


"Pa, Ami mau menjalani pengobatan lagi pada mata Ami, apa boleh?" tanya Ami.


"Serius, Nak. Kamu mau menjalani pengobatan mata kamu lagi?" tanya Denis dengan senang.


"Iya, Pa. Boleh gak Ami menjalani pengobatan itu lagi?"


"Tentu saja boleh, Nak. Papa senang dengar kamu mau melanjutkan pengobatan mata kamu lagi."


"Ami pasti akan merepotkan Papa lagi, karena harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk biaya pengobatan itu," ucap Ami.


"Kamu adalah tanggung jawabnya papa, sudah seharusnya papa seperti itu, justru papa senang kamu mau menjalani perawatan itu lagi, kamu tidak perlu memikirkan masalah lain."


"Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah fokus pada kesembuhanmu, jangan memikirkan masalah apa pun, agar tidak menghambat proses kesembuhan kamu nantinya," terang Denis.


"Makasih ya, Pa. Ami pasti akan menjalani pengobatan itu dengan sungguh-sungguh," ucap Ami dengan yakin.


"Kalau boleh papa tau, apa alasan kamu yang tiba-tiba ingin menjalani pengobatan lagi?" tanya Denis yang merasa sedikit penasaran, karena sebelumnya anak bungsunya itu, selalu tidak ingin saat dia memintanya untuk menjalani pengobatan pada matanya itu lagi. 


"Ami hanya ingin bisa hidup dengan normal lagi aja, Pa. Biar aku tidak terlalu bergantug pada orang lain lagi nantinya," jawab Ami yang tidak mengatakan yang sebenarnya pada Papanya itu.


"Baiklah kalau gitu, besok papa akan mengatur jadwal untuk ke rumah sakit, bertemu dengan dokter spesialis mata," ucap Denis, tidak bertanya lebih lagi tentang keputusan Ami yang tiba-tiba itu.


Baginya dengan Ami setuju untuk melanjutkan pengobatan pada matanya saja, itu sudah membuatnya senang.


"Apa kamu belum ngantuk?" tanya Denis.


"Belum, Pa." Ami menggelengkan kepalanya. "Ami, bolehkan ikutan nonton?" tanya Ami.


"Boleh, papa juga belum mengantuk," sahut Denis.


Ami menganggukkan kepalanya, dia mendengar suara yang berasal dari televisi di depannya itu.


"Apa tidak ada acara lain, Pa?" tanya Ami yang tidak terlalu suka, karena saat ini papanya sedang melihat acara bola.


"Emangnya kamu mau nonton apa?" tanya Denis.

__ADS_1


"Film komedi, Pa," jawab Ami yang sedang ingin berusaha mengalihkan pikirannya yang tidak berhenti memikirkan tentang Fariz.


"Kita nonton di laptop aja ya, mau gak?" tanya Denis melirik laptop yang terletak di meja.


Laptop yang tadi digunakannya untuk mengurus beberapa pekerjaan, mendapat anggukan dari Ami. Denis pun mengambil laptopnya dan mencari film dengan genre komedi dari aplikasi khusus untuk film, sesuai dengan yang Ami inginkan.


"Film komedi terbaru, baru beberapa bulan rilis di bioskop," terang Denis saat film mulai berjalan.


"Dari mana Papa tau?" tanya Ami heran, karena setahunya papanya itu, bukan orang yang suka mencari tahu tentang film.


"Lihat dari keterangan lah, emang dari mana lagi," sahut Denis terkekeh.


"Ami kira sekarang Papa jadi pengamat film," ucap Ami yang juga ikut terkekeh.


...******...


Beberapa saat kemudian, suara tawa mereka memenuhi ruangan itu, memecahkan keheningan malam selama film berlalu, untuk sementara Ami bisa mengalihkan pikirannya yang semula terus terpaku pada Fariz.


Dia mendengarkan suara dari laptop dan dari penjelasan papanya, tentang bagaimana alur film yang saat ini sudah berjalan setengahnya itu.


"Orang yang menolongmu waktu itu, pria atau wanita?" tanya Denis dengan tatapan fokus pada layar laptop.


"Pria."


"Saat pertama kali bertemu, dia masih singgel, tapi gak tau, kalau nanti kita bertemu lagi," ucap Ami yang tanpa sadar.


"Maksudmu, kamu menyukainya, Nak?" tanya Denis. "Dan kamu berharap kalian bisa bertemu lagi?" sambung Denis yang sudah mengalihkan pandangannya pada Ami.


Ami yang sadar dengan apa yang baru saja dia katakan, menunduk malu, padahal rencananya dia akan mengatakan tentang Fariz setelah dia sudah bisa melihat lagi.


"Katakanlah, Nak. Papa akan mendukung apa pun yang kamu inginkan," ucap Denis yang sudah menyadari, jika ada hal yang mengganggu anaknya itu, dari semenjak dia kembali.


"Aku sebenarnya menyukai, pria yang menolongku itu, Pa," ucap Ami yang sudah mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk.


"Apa pria itu tidak menerimamu, apa dia melakukan hal itu karena melihat kekuranganmu itu, hingga akhirnya kamu setuju untuk kembali menjalani pengobatan lagi."


Mendengar ucapan papanya, Ami segera menggelengkan kepalanya, menyanggah ucapan itu.


"Dia memang menolakku, tapi bukan karena kekurangan yang Ami miliki ini, ada alasan lain yang membuatnya menolak Ami," sahut Ami dengan sedih.


"Alasan apa?"


"Dia tidak ingin mengecewakan mamanya, karena ternyata mamanya sudah memiliki calon untuknya," terang Ami yang semakin menekuk wajannya.

__ADS_1


"Apa kamu yakin, jika dia menolakmu karena hal itu? Bukan karena dia memang tidak memiliki perasaan yang sama sepertimu?" tanya Denis meyakinkan Ami.


"Dia adalah pria yang susah untuk dekat dengan orang lain, tapi saat dia bersama dengan Ami sikapnya biasa saja, seperti orang normal lainnya," terang Ami meyainkan papanya.


"Apa kamu yakin dengan hal itu?" tanya Denis yang masih belum yakin dengan ucapan Ami.


Dia takut, anaknya itu hanya terlalu berharap dan apa yang ada tidak sesuai dengan ekspetasi-nya, bukankah jika seperti itu, hanya akan melukai dirinya sendiri nantinya.


"Ami yakin, Pa. Dia benar-benar pria yang baik, itu juga alasan kenapa sekarang Ami ingin melanjutkan pengobatan pada mataku, agar nanti aku bisa menemuinya dan menjadi pantas untuknya." Ami berusaha menghilangkan keraguan dalam diri papanya.


"Baiklah, kalau pria itu bisa menjadi semangatmu untuk kembali sembuh sepenuhnya, papa akan mendukungmu," sahut Denis, sesuai ucapan sebelumnya.


Dia akan mendukung apa pun yang menjadi sumber semangat anaknya itu untuk kembali seperti sebelumnya, baginya yang terpenting saat ini adalah Ami mau menjalani pengobatan lagi.


Masalah bagaimana pria itu, biar dipikirkan nanti setelah anaknya benar-benar sembuh dan kembali bisa melihat dengan normal.


"Pa, Papa akan mendukung apa pun keputusan Ami nantinya, kan?" tanya Ami penuh harap.


"Iya, selama itu membuatmu bahagia, papa hanya bisa mendukungmu," sahut Denis tersenyum.


Ami tersenyum mendapat jawaban dari papanya itu, dia langsung menghamburkan dirinya dan memeluk kembali papanya.


"Terima kasih, Pa." Ami menenggelamkan dirinya di pelukan pria paruh baya itu.


"Sama-sama Sayang," sahut Denis tersenyum dan mengusap kepala Ami.


Kini anaknya telah bertumbuh dewasa, tapi baginya dia tetaplah anak yang selalu dipangku dan dia timang saat mamsih kecil, anak yang selalu mengalah saat kakaknya menyakitinya.


Hidup tanpa pernah merasakan bagaimana rasa kasih sayang seorang ibu tentu bukan hal yang mudah untuk anaknya itu, tapi Ami tidak pernah rewel atau membuatnya kewalahan sejak kecil.


Malah sebaliknya, Zoyalah yang lebih sering membuatnya kewalahan dari saat dia masih kecil.


"Sekarang sebaiknya kita tidur, ini sudah malam," ucap Denis saat melepaskan pelukan antara dirinya dan Ami.


"Iya, Pa. Papa udah minum obat, kan?" tanya Ami.


"Sudah," jawab Denis mengangguk.


"Ya udah kalau gitu, selamat malam, Pa," ucap Ami mulai bangun dari sofa disusul oleh Denis.


"Iya selamat malam."


Denis mematikan laptopnya terlebih dahulu dan membawanya, kini ayah dan anak itu pun, mulai berjalan menuju ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2