
Tidak terasa kini sudah dua bulan, Ami tinggal di tempat Fariz itu, setelah pertemuan dia dan Cindy, Fariz bisa sedikit tenang karena wanita itu hanya menghubunginya sesekali.
Dari waktu ke waktu, hubungan Fariz dan Ami semakin dekat, mereka lebih sering berinteraksi, bahkan tidak jarang saling melemparkan candaan satu sama lainnya saat sedang bersama.
Saat Fariz bersama dengan Ami, dia seolah menjadi dirinya sendiri, terkadang dia bisa melupakan masalah yang tengah dihadapinya saat berada di dekat wanita yang tidak pernah lepas dari senyum itu.
Saat ini mereka tengah duduk di kursi yang ada di balkon apartemen Fariz, lebih tepatnya di luar kamar Fariz memang terdapat balkonnya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Fariz dengan tatapan lurus pada Ami yang duduk berhadapan dengannya, sebuah meja bulat kecil menjadi penghalang antara mereka.
Pria itu mengajak Ami untuk mengobrol terlebih dahulu sebelum tidur, setelah beberapa saat lalu mereka makan malam bersama seperti biasanya.
"Apa? Tanyakan saja," sahut Ami.
"Kamu bisa tidak menjawabnya, jika pertanyaanku ini mengganggu," ucap Fariz.
"Sebenarnya apa, sih yang mau, Mas tanyakan jadi penasaran," ucap Ami disertai kekehan kecil dari mulutnya.
"Apa kamu tidak dapat melihat sejak lahir?" tanya Fariz dengan hati-hati, dia sebenarnya tidak enak menanyakan hal itu, tapi rasa penasaran dalam dirinya tidak bisa dia tahan lagi.
Semakin lama bersama, semakin besar pula rasa penasaran dirinya, akan kehidupan wanita di depannya lebih dalam lagi.
Ami tersenyum lalu menggelengkan kepadanya dan berucap, "Aku tidak dapat melihat saat aku sudah dewasa dan ini terjadi karena sebuah kecelakaan."
"Kecelakaan?" tanya Fariz dengan kening mengerut.
Ami mengangguk, lalu dia pun mulai menceritakan semua kejadian yang menjadi awal mula dirinya mengalami kebutaan.
"Saat itu aku baru saja selesai mengikuti ujian nasional, aku sangat senang waktu itu karena kepala sekolah mengatakan, jika aku direkomendasikan untuk mendapat beasiswa di kampus yang sudah aku inginkan sebelumnya."
__ADS_1
"Saat aku menceritakan hal itu pada Papaku, dia juga ikut senang dengan hal itu, tapi ada satu orang yang tidak suka dengan kabar itu." Ami menghentikan sejenak ucapannya.
"Siapa?"
"Kakaku," sahut Ami tersenyum getir membayangkan apa yang terjadi saat itu.
"Saat itu Papa mengajak kita untuk makan bersama di sebuah restoran, sebagai perayaan aku yang sudah selesai melakukan ujian nasional dan direkomendasikan oleh sekolah untuk dapat beasiswa."
"Namun, di tengah-tengah acara makan itu, Papa mendapatkan telepon dari atasannya untuk menggantikannya menghadiri pertemuan penting dan pamit padaku dan kakaku."
"Kami pun mengiyakan Papa dan membiarkan dia pergi, setelah selesai makan, kami berencana langsung pulang karena saat itu Papaku belum bisa membeli mobil pribadi, jadi kami pulang dengan kendaraan umum."
"Saat sedang menunggu kendaraan, aku dan kakaku ribut, dia memintaku untuk tidak menerima tawaran beasiswa itu—"
"Kenapa dia memintamu untuk tidak menerima beasiswa itu?" tanya Fariz memotong ucapan Ami.
"Kenapa kakakmu tidak suka, bukanlah akan lebih baik, jika kalian kakak adik bersama, agar bisa saling menjaga," decak Fariz yang tidak habis pikir dengan kakaknya Ami.
"Tapi, kakaku beda. Dia adalah orang yang paling tidak menyukai keberadaanku dari semenjak aku hadir," sahut Ami.
"Apa alasan dia tidak menyukaimu?" tanya Fariz menatap Ami dengan serius.
"Karena mamaku meninggal saat melahirkanku, dia selalu menganggap akulah penyebab kepergian mama, selain itu dari kecil juga dia selalu menganggap jika aku merebut semua perhatian orang-orang di sekitarnya."
"Alasan kakakmu terlalu tidak masuk akal menurutku, aku lebih berpendapat jika kakakmu hanya cemburu padamu," ucap Fariz.
"Mungkin memang seperti itu," sahut Ami lalu mengangkat bahunya.
"Terus apa yang terjadi setelah keributan kalian?"
__ADS_1
"Untuk pertama kalinya aku membantah ucapan kakaku, hingga membuat dia marah, karena diliputi oleh amarah kakak mendorongku hingga aku terjatuh ke tengah jalan."
"Saat itu aku baru saja berdiri dan belum sempat melangkahkan kaki, tapi sebuah mobil menghantam tubuhku, hingga aku terpental jauh dari posisiku sebelumnya."
Ami mengenang masa lalu itu dengan diiringi air mata yang terus mengalir di pipinya, mengingat hal itu tentu saja menyisakan sebuah trauma untuk dirinya.
Meskipun dia berusaha melupakan kejadian itu dan berusaha terlihat baik-baik saja, tapi siapa sangka kejadian itu bahkan sampai sekarang masih selalu menjadi mimpi buruknya yang selalu dia takuti.
"Setelah itu aku tidak bisa ingat apa pun, aku hanya ingat beberapa hari setelah kejadian itu, aku sadar setelah beberapa hari kemudian, Papa bilang, jika aku mengalami koma selama beberapa hari."
"Sejak saat itu pula, aku membuka mata tapi hanya ada kegelapan dalam hidupku, bertahun-tahun aku hidup dengan kegelapan itu yang menjadi temanku setiap saat."
Mendengar setiap kata yang diiringi oleh isakan tangis dari Ami, membuat hati Fariz terenyuh, dia secara reflek mengangkat tangannya dan diletakkan di bahu yang bergetar itu.
Diusapnya secara perlahan bahu itu dengan usapan yang teramat lembut, seolah takut si empunya terluka jika dia mengusapnya dengan sedikit kasar.
"Mungkin apa yang Kakaku katakan itu benar, seharusnya aku tidak pernah hadir, hingga mama akan tetap ada tidak meninggalkan Kakak dan Papaku," sambung Ami dengan disertai air mata yang kian luruh di pipinya.
Selama ini dia hanya bisa menahan kesedihan yang dirasakannya dalam hati, dia berusaha menahan setiap kata pedas atau perlakuan kakaknya yang menyakitkan dari semenjak mereka kecil itu. Dia selalu berharap agar kakaknya bisa menerima kehadiran dirinya suatu saat nanti.
Bahkan atas apa yang telah kakaknya lakukan selama ini, tidak pernah sedikit pun, terbesit dalam hatinya untuk membenci kakaknya itu, dia selalu menerima perlakuan wanita itu dan tidak pernah melaporkan pada papanya.
"Kakak kamu yang salah, bukankah dia lebih dewasa darimu, seharusnya dia bisa mengerti, jika tidak ada yang dapat menghindar dari takdir yang sudah Allah tetapkan."
"Kamu jangan menyalahkan dirimu seperti itu, meskipun saat itu mama kamu tidak hamil dan melahirkan kamu, jika Allah sudah menentukan takdir mama kamu sampai di sana, maka itu pasti akan terjadi, dengan atau tanpa kehadiran kamu saat itu."
Ami tidak menyahuti ucapan Fariz itu, dia hanya menundukkan kepalanya, menumpahkan kesedihan yang berusaha dia tahan selama ini.
Kesedihan yang kini bahkan telah menggunung dan sekarang dia menumpahkannya, seperti gunung merapi yang meletus, hingga menumpahkan lahar yang begitu panas di pipinya.
__ADS_1