Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 64


__ADS_3

"Kita langsung pulang?" tanya Ami, saat mereka sudah selesai makan dan selesai membayar semua pesanan mereka.


"Iya, nanti papa kamu khawatir, jika kamu pulangnya terlalu malam," sahut Fariz dengan kepala mengangguk.


"Baiklah," sahut Ami, bangun dari kursi dengan pasrah.


Fariz kembali menggandeng tangan Ami, dia menautkan jari-jarinya dengan jari, kecil milik Ami dan baru melepaskannya, saat mereka sampai di mobil.


Seperti sebelumnya, dia membukakan pintu mobil untuk Ami terlebih dahulu, setelah itu baru dia memasuki mobilnya.


"Kenapa, Mas sepertinya tidak terlalu senang saat Tante Alish, meminta Mas untuk pulang?" tanya Ami yang kembali mengingat, pembahasan saat di restoran tadi.


"Karena Mama selalu membahas masalah kelanjutan hubungan aku sama Cindy, itulah kenapa akhir-akhir ini, aku sedikit menghindar," terang Fariz.


"Apa Tante Alish begitu menyukai Mbak Cindy?" tanya Ami menatap Fariz dengan sebersit kesedihan di matanya.


"Ya, itulah alasannya, kenapa aku tidak bisa mengatakan hubungan kita sekarang, karena aku tidak ingin membuat dia merasa kaget dan berdampak. pada dia yang akhirnya berpikiran negatif tentangmu, hingga tidak menyukaimu," terang Fariz.


"Iya, Ami paham dengan hal itu," sahut Ami mengangguk.


"Gimana kalau Ami coba dekati Tante Alish, siapa tau dengan hal itu dia bisa secara perlahan menyukaiku," usul Ami menatap Fariz dengan serius.


"Apa kamu yakin dengan hal itu? Bagaimana , jika seandainya dia tau tentang hubungan kita dan malah menganggap, kamu sengaja mendekatinya hanya untuk memanfaatkannya, bukankah dia hanya akan semakin membencimu," ucap Fariz yang meragukan usul dari Ami itu.


"Terus harus gimana dong Mas?" tanya Ami dengan helaam napas kasar.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan pernah melanjutkan hubunganku dengan Cindy, mungkin aku akan bicara secara bertahap pada Mama dan keluargaku," ucap Fariz mengambil tangan Ami dan menggenggamnya.


Dia tahu, jika Ami pasti merasa sedih dengan hubungan mereka, tapi dia sudah tidak bisa mundur lagi sekarang, dia saat ini sedang menunggu waktu yang benar-benar tepat dan pas untuk membicarakan masalah ini pada keluarganya.


"Iya, Mas. Aku percaya kita pasti akan bisa bersama, tanpa sembunyi-sembunyi seperti ini," sahut Ami menggenggam tangan tangan Fariz.


"Aku harap kamu bisa bersabar dan menunggu hingga saat itu tiba," ucap Fariz menatap Ami sekilas.

__ADS_1


"Iya, Mas." Ami mengangguk dengan senyuman yang selalu membuat Fariz terpesona itu, menghiasi bibir manisnya.


"Mas, apa Mas sering ketemu sama Mbak Cindy?" tanya Ami yang kembali bersuara setelah beberapa saat hening.


"Aku ketemu sama Cindy, setelah kita pacaran hanya sekali, bukannya waktu itu aku memberitahumu tentang itu?" ucap Fariz apadaya.


"Serius hanya sekali itu?" tanya Ami memastikan.


"Iya, akhir-akhir ini dia selalu mengirim pesan dan mengatakan dia sedang sibuk," terang Fariz lagi.


"Dia, kan dokter wajar jika dia sibuk, gak kayak aku yang pengangguran, hanya berdiam diri di rumah terus, paling keluar kalau ada kegiatan sama anggota relawan saja," sahut Ami, seperti sebuah keluhan di pendengaran Fariz.


"Jadi relawan juga adalah hal yang mulia, kamu dan anggota kamu membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan, tidak ada bedanya sama tugas dokter," sahut Fariz.


"Iya sih, Mas. Oh iya Mas, aku rencananya mau mencari pekerjaan gimana menurut Mas?" tanya Ami membalikkan badannya mengahadap ke arah Fariz.


"Aku tidak berhak melarang kamu melakukan apa pun yang kamu inginkan, selama papa kamu mengijinkannya, karena status kita saat ini, baru sekedar pacaran, bukan suami-istri. Jadi kamu berhak melakukan apa pun tanpa ijin dariku, asal tidak merugikan dan membahayakan dirimu," terang Fariz.


"Ami belum cerita sih ke Papa."


"Belum tau, paling pekerjaan yang sesuai dengan ijazah yang aku punya saja," terang Ami.


"Oh, kamu gak ada niatan untuk melanjutkan pendidikanmu?"


"Papa juga pernah, memberikan usul untuk melanjutkan pendidikan, tapi Ami tolak."


"Kenapa kamu tolak?"


"Entahlah, Ami saat ini belum kepikiran untuk melanjutkan pendidikan, tapi tidak tau jika ke depannya," terang Ami.


"Ya udah, terserah kamu aja," ucap Fariz.


Setelah itu mereka kembali diam, hingga mobil yang mereka tumpangi itu, telah sampai di depan gerbang rumah Denis, Fariz menghentikan mobilnya.

__ADS_1


Dia kemudian memiringkan tubuhnya, menghadap pada Ami yang ternyata tengah tertidur, dia menyingkirkan beberapa helai rambut yang berada di wajah wanita itu dan menyimpannya, ke belakang telinga.


"Kenapa kamu mau bersama denganku, di saat di luaran sana, banyak yang lebih baik dariku yang tidak ada apa-apanya," gumam Fariz, dia tersenyum dengan tatapan dalam pada wajah polos Ami yang tenang.


Baginya, menatap wajah polos Ami, seperti menatap air di sungai, tenang dan mampu menenangkan siapa saja yang melihatnya.


Lagi dan lagi, dia merasa jatuh semakin dalam, ke dalam lautan cinta yang Ami miliki itu, tidak ada niatan untuk kembali ke permukaan, justru rasanya semakin ingin tenggelam lebih dalam lagi.


"Mi, kita sudah sampai." Fariz berusaha membangunkan Ami dengan sedikit mengguncang tubuhnya.


Medapatkan guncangan pelan, Ami pun secara perlahan mulai membuka mata. Hal yang pertama kali, dia lihat saat matanya terbuka, adalah wajah Fariz yang dihiasi sebuah senyuman.


"Kita sudah sampai ya, Ami gak sadar sampai ketiduran," gumam Ami dengan mata yang masih mengantuk.


"Nanti kamu segeralah istirahat," ucap Fariz pada Ami yang sudah mulai melepaskan sabuk pengaman.


"Iya, Mas hati-hati ya," sahut Ami dijawab anggukan oleh Fariz.


"Selamat malam, Mas."


"Iya, selamat malam juga," sahut Fariz.


Ami akan segera membuka pintu mobilnya, tapi Fariz menghentikan gerakannya dan malah menggenggam tangannya, hal itu membuat Ami menatapnya dengan heran.


"Dua hari lagi, aku akan pergi ke luar kota, untuk mewakili Papaku menghadiri undangan dari rekan bisnisnya, apa kamu mau ikut aku ke sana?" tanya Fariz berbicara dengan ragu-ragu.


"Nanti Ami mau ijin dulu ke Papa ya," sahut Ami.


"Iya, tapi jika Papa kamu tidak mengijinkan jangan dipaksain ya," ucap Fariz.


"Iya Mas, ya udah Ami turun ya," ucap Ami lagi.


"Iya, kamu harus langsung masuk ke dalam rumah." Fariz mulai melepaskan genggaman tangannya dari Ami.

__ADS_1


Ami pun mengangguk dan kembali melanjutkan niatnya, membuka pintu mobil, dia segera memasuki rumahnya, sesuai dengan perintah Fariz.


__ADS_2