
Mobil milik Rayyan kini sudah terparkir apik di parkiran taman yang cukup terkenal di kota itu, taman yang tidak jauh berbeda dengan taman-taman lain pada umumnya.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa Mi?" tanya Rayyan yang kembali bertanya pada Ami.
Saat ini mereka sudah turun dari mobil dan sedang berjalan menuju ke sebuah bangku yang ada di bawah pohon rindang yang sejuk, tepat di pinggir danau teratai yang tidak terlalu luas.
Tidak hanya mereka berdua yang ada di sana. Namun banyak pengunjung lain yang sedang menikmati waktu libur mereka untuk berjalan-jalan, bersama keluarga atau teman.
"Aku tidak apa-apa Yan, akhir-akhir ini aku emang sedikit kurang fit aja, mungkin karena beberapa hari lalu, aku habis dari luar kota," sahut Ami, masih dengan langkah santainya.
"Oh iya waktu itu kamu ke luar kota sama siapa?" tanya Rayyan penasaran dengan siapa Ami pergi.
"Aku pergi sama teman aku," sahut Ami tanpa menoleh padanya.
"Teman sekolah?" tebak Rayyan.
"Bukan teman yang aku kenal saat aku masih buta," sahut Ami.
"Oh." Rayyan manggut-manggut, dia memilih tidak bertanya lebih jauh lagi tentang siapa teman Ami itu.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di bangku yang berada di pinggir danau teratai, udara yang cukup sejuk dan asri mampu memberikan ketenangan pada Ami yang beberapa hari ini dilanda kekalutan yang cukup mengguncangkan hati dan perasaannya.
Untuk saat ini mungkin dia bisa sedikit menenangkan hati dan pikirannya itu, dia menikmati hembusan angin sejuk yang menyentuh kulitnya dan dapat membuat tenang.
Namun sayang ketenangan itu tidak bertahan lama, saat netranya menangkap punggung seseorang yang sangat dikenalnya, seorang pria yang sedang difoto bersama dengan seorang wanita.
"Mas Fariz," bisik Ami dengan tatapan lurus, pada dua sejoli yang sedang melakukan foto pre-wedding.
posisi pemotretan itu, dilakukan di sebuah jembatan kecil yang menjadi akses penyeberangan danau teratai itu.
Pemandangan yang sangat menyakitkan baginya, tapi matanya itu tidak bisa berpaling, dari pemandangan itu, bahkan Rayyan yang berbicara di sampingnya tidak dapat mengalihkan perhatiannya.
Beberapa saat terpaku menatap pasangan di depannya, hingga akhirnya si pria mulai membalikkan badan, menghadap ke arahnya, akhirnya mata mereka saling bertabrakan, saling menatap dalam diam.
Kini mata Ami mulai memanas, hati yang sebelumnya sudah agak tenang, kini kembali bergemuruh, dengan rasa sesak yang kian mengihimpit, sekuat tenaga dia menahan air mata agar tidak kembali turun di pipinya.
__ADS_1
Dia menggigit bibir bawahnya, dia kemudian menundukkan kepala, agar dapat menghindar dari pemandangan itu, tangannya mengepal dengan kuat untuk kembali menenangkan hatinya.
"Mi, kamu kenapa, dari tadi diam saja, diajakin ngobrol juga," ucap Rayyan menyikut lengan Ami yang masih menundukkan kepala itu.
"A-aku baik-baik saja, aku lagi males ngobrol aja," sahut Ami dengan sedikit terbata-bata, dia mulai mengangkat kepalanya.
Dia memberanikan diri menatap temannya itu, berusaha terlihat baik-baik saja di depan Rayyan yang kini menatapnya dengan heran.
"Kenapa?" tanya Ami karena Rayyan terus menatapnya.
"Mata kamu merah, kenapa?" Rayyan terus menatapnya dengan kening semakin mengerut.
"A-aku, aku kayaknya kelilipan deh, perih banget nih," alibi Ami yang langsung mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian mengusapnya, seolah benar-benar ada sesuatu di matanya itu.
"Jangan digosok kayak gitu, nanti matanya malah luka lagi," ucap Rayyan menahan tangan Ami yang masih berada di matanya.
"Iya, sekarang udah mendingan, kok." Ami yang segera melepaskan tangannya dari Rayyan.
Rayyan pun mengnangguk, kemudian bertanya, "Masih mau di sini apa mau berkeliling lagi?"
"Aku mau jalan-jalan lagi aja, kita keliling aja yuk, bosen juga lama-lama di sini," sahut Ami yang tidak ingin berada di sana terlalu lama lagi.
"Baiklah ayo kita keliling lagi," ajak Rayyan yang mengulurkan tangannya. Namun langsung ditepis oleh Ami.
"Tidak perlu gandengan juga kali, kita bukan mau nyebrang," ucap Ami memutar matanya malas. Dia mulai bangun dari bangku dan berjalan mendahului Rayyan.
"Kan, biar dianggap punya gandengan Mi, gak dianggap Jones terus," sahut Rayyan dengan mencebikkan bibirnya, sambil menyeimbangkan langkahnya dengan Ami.
"Makanya cari pacar gih, biar ada gandengannya, jomblo terus perasaan," ucap Ami.
"Kayak yang ngomongnya udah punya gandengan aja," sindir Rayyan memutar matanya juga.
Ami tidak menyahuti ucapan temannya itu, dia fokus dengan langkanya, menyusuri jalan yang hanya pas untuk dua orang itu, di sekelilingnya dipenuhi oleh rumput yang hijau dan beberapa jenis tanaman dan pohon.
"Oh iya Mi, kamu masih sering ikut anak-anak yang lainnya jadi relawan?" tanya Rayyan kembali membuka percakapan.
__ADS_1
"Kadang-kadang, kalau tempatnya masih dekat, tapi kalau jauh tidak pernah lagi, karena Papa tidak ngasih ijin, dia khawatir kalau aku melakukan perjalanan jauh apalagi sampai yang beberapa hari," sahut Ami.
"Oh gitu ya, iya juga sih, apalagi sekarang gak ada aku, kan?" Rayyan menaik turunkan alisnya, membuat Ami kembali mencebikkan bibirnya dengan hal itu.
...*****...
Sementara itu, di sisi lain Fariz yang sudah merasa jengah dengan pemotretan itu, memutuskan untuk mengakhiri sesi pemotretan itu, meskipun belum banyak gambar yang mereka dapatkan.
Hal itu, sontak saja membuat Cindy protes, dia masih belum puas dengan pemotretan itu, tapi Fariz tidak memedulikan protesannya itu.
Kalau kamu masih mau melakukan pemotretan itu, foto saja sendiri. aku ingin pulang! Tulis Fariz pada ponselnya yang diperlihatkan pada Cindy yang menahannya agar tidak pergi.
"Baiklah, kita akhiri saja pemotretannya," sahut Cindy pasrah dengan hati yang dongkol.
Dia kemudian mengatakan pada fotografer yang membantunya mengambil foto, jika pengambilan foto itu telah selesai.
Fariz terlalu tidak acuh dengan persiapan pernikahan mereka itu, hal itu membuat Cindy jengkel dengan pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.
Fariz pergi begitu saja, meninggalkan Cindy yang kesusahan berjalan dengan hells yang tinggi dan gaunnya yang panjang itu.
"Fariz tungguin, aku kesulitan berjalan," ucap Cindy dengan nada merajuk.
Fariz mencebikkan bibirnya dan menghentikan langkahnya, menunggu Cindy dan mulai kembali berjalan dengan perlahan saat Cindy berjalan di sampingnya,
Jika bukan karena Alish yang memintanya untuk melakukan foto-foto seperti itu, dia malas melakukan semua itu, apalagi melakukannya di depan umum seperti itu.
"Kita makan dulu ya, aku lapar tadi pagi hanya minum segelas susu aja," ucap Cindy saat mereka memasuki mobil.
Fariz hanya menganggukkan kepala. singkat dan melanjukan mobilnya ke arah restoran untuk makan, Cindy melepaskan hells yang membuat kakinya lelah itu dan mengganti dengan sendal yang lebih nyaman.
"Kamu kapan sih mau ngomong sama aku juga, masa kamu mau gitu terus, berkomunikasi denganku," ucap Cindy.
Fariz tidak memberikan respon apa pun untuk ucapannya itu, dia masih menyetir dengan fokus, tidak memedulikan Cindy, seolah wanita yang ada di sampingnya itu adalah makhluk tak kasat mata.
Cindy mendengkus kesal dengan sikap Fariz itu, dia kemudian menyadanrkan punggungnya dan fokus pada jalan di depannya.
__ADS_1
Sedikit kilas balik, sebenarnya pria di sampingnya itu sempat menemuinya saat Alish masih di rumah sakit, dia meminta Cindy untuk tidak meneruskan hubungan mereka, tapi tentu saja dia tolak.
Cindy sudah bertahan di samping pria itu sampai ke titik ini dan dia disuruh untuk mundur, tentu saja dia tidak akan melakukan hal itu, meskipun sikap Fariz tetap dingin padanya.