
Waktu semakin larut, Fariz dan Ami masih sibuk dengan aktivitasnya … ralat, di sana yang tengah serius dengan aktivitasnya hanyalah Ami, sedangkan Fariz dari tadi masih curi-curi lihat pada Ami.
Fariz melihat dari jendela ruangan itu, di luar hari sudah semakin gelap, dia pun membuka suara berbicara pada Ami.
"Sebaiknya kamu ambilkan makanan untuk makan malam kita."
"Kita?" tanya Ami meyakinkan pendengarannya tidaklah salah, dia menatap Fariz dengan heran.
"Iya, kita. Aku sama kamu, memang kamu pikir siapa lagi." Fariz menatap Ami dengan serius.
"Aku bisa makan di bawah—"
"Aku mau kita makan bersama di sini!" potong Fariz dengan nada tegas, tidak ingin dibantah.
"Baiklah, aku akan mengambilkan makanannya." Ami akhirnya pasrah, mengikuti perintah Fariz itu.
"Kamu bisa menggunakan lift, jika nanti susah membawa makanannya," ucap Fariz sambil menatap Ami yang hampir menggapai pintu ruangan itu.
"Baiklah."
Tubuh Ami secara perlahan menghilang dari balik pintu, Fariz secara perlahan mulai berdiri dari kursinya, dia mengambil tongkatnya dan sedikit berjalan-jalan di ruangan itu karena sudah terlalu lama duduk.
Sementara itu Ami langsung menuju ke dapur, dia meminta beberapa makanan untuk Fariz juga untuknya, dia mengumpulkan beberapa menu makanan itu pada meja dorong agar lebih mudah membawanya.
Sesuai dengan apa yang Fariz perintahkan tadi, Ami menuju ke lantas atas, menggunakan lift, dia langsung masuk ke dalam ruangan, saat telah sampai di lantai atas dan mereka pun makan malam bersama dengan tenang.
"Mas setelah pekerjaanku ini selesai, aku sudah boleh pulang, kan?" tanya Ami sambil membereskan piring kotor.
"Ya, apa masih banyak yang belum kamu periksa?"
"Tinggal sedikit," jawab Ami.
"Baiklah, selesaikan saja dulu," ucap Fariz yang sudah mulai berdiri dari sofa dan kembali berjalan ke arah meja kerjanya.
Ami yang sudah selesai dengan tugasnya, hanya menatap Fariz dari belakang dengan diam, hatinya tidak bisa dibohongi, jika sampai saat ini rasa itu masih bertahta di pusat tertinggi, dalam hatinya itu.
"Apa Mas tidak ingin pulang?" tanya Ami yang sudah mulai menyusul Fariz duduk di hadapannya.
"Untuk apa pulang cepat-cepat, di rumah aku hanya akan merasa bosan," sahut Fariz santai.
"Bosan … bukannya di rumah ada is—"
__ADS_1
"Di rumahku tidak apa pun seperti biasanya, jadi tidak ada yang menarik menghabiskan waktu di rumah," potong Fariz.
Bukannya ada istri, bagaimana bisa kamu merasa bosan? Batin Ami yang merasa sesak, beranggapan jika pria di depannya itu sudah menikah.
"Kenapa malah melamun, bukannya kamu ingin segera pulang?"
Ami hanya mengangguk malas, sebagai sahutan dari ucapan Fariz itu, dia kemudian kembali menyibukkan dirinya dengan laporan-laporan itu lagi, mencoba membuang pikiran tentang Fariz yang sudah menikah.
Apa kamu masih berpikiran jika aku menikah dengannya, Mi. Apa itu alasan kamu menghindar dariku? Gumam Fariz dalam hatinya, dengan menatap Ami.
...*****...
Waktu kian berlalu, di lantai bawah, semua pegawai sudah mulai kembali beres-beres karena restoran sudah tutup, Rini yang sudah siap untuk pulang mencoba menghubungi Ami untuk menanyakan apakah Ami akan pulang bersamanya atau tidak.
Namun setelah beberapa kali mencoba, Ami tidak menjawab panggilannya itu karena Ami tidak sedang membawa ponselnya.
"Kamu belum pulang Rin? Nungguin Ami?" tanya salah satu temannya yang sudah siap untuk pulang.
"Iya, tapi kayaknya dia sibuk deh," ucap Rini yang melihat tidak ada pergerakan dari arah tangga.
"Kamu pulang saja, Pak Fariz masih membutuhkan Ami untuk membantunya," ucap seorang pria yang menjadi orang kepercayaan Kia dan Aaric.
Pria itu adalah orang yang mengawasi dan mengatur setiap pegawai di restoran itu, dia bisa dibilang asisten Kia di sana, sebenarnya pria itu bisa saja menjadi pengganti Kia selama Kia berhenti.
Namun, karena Aaric memiliki rencana lain, yaitu mendekatkan Fariz dan Ami lagi, jadi dia meminta Fariz untuk menggantikan istrinya di sana, rencana itu muncul begitu saja saat tahu, jika wanita yang dicintai oleh saudaranya ternyata bekerja di sana.
"Iya, ayo kita pulang!" perintah Pian pada para pegawai di sana.
"Tapi, bagaimana dengan Ami, jika semua orang pergi dari sini," ucap Rini yang mengkhawatirkan Ami, jika harus meninggalkan Ami bersama dengan Fariz berdua di sana.
"Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa pun di antara mereka. Atau kamu mau nungguin di sini, sampai pekerjaan mereka selesai?" tanya Pian menatap Rini dengan serius.
"Baiklah, aku juga akan pulang," ucap Rini dengan pasrah, dia sudah pengen pulang dan istirahat.
"Ya udah sana pulang, biar aku bisa segera mengunci restoran ini," ucap Pian pada seluruh pegawai di sana, bukan hanya pada Rini saja.
Rini hanya mengangguk pasrah dan mengikuti pegawai lainnya untuk pulang, mereka semua mulai meninggalkan restoran itu satu per satu, sedangkan Ami di dalam ruangan itu, sudah beberapa kali menguap.
"Kamu bisa pulang kalau sudah lelah," ucap Fariz yang menjadi tidak tega melihat Ami terus menguap.
"Beneran aku sudah boleh pulang gitu Mas?" tanya Ami menatap Fariz dengan mata yang sudah memerah.
__ADS_1
"Iya, kamu boleh pulang, besok itu bisa lanjutkan lagi, tapi temani aku nunggu sopir yang jemput aku."
"Baiklah, aku akan menemani Mas di sini, sampai sopir itu datang," ucap Ami mengangguk dengan antusias.
Fariz mengambil ponselnya dan menghubungi sopir yang Aaric siapkan untuk memgantar jemputnya.
"Ayo kita tunggu di bawah," ucap Fariz lagi, lalu berdiri.
"Iya ayo Mas," sahut Ami yang sudah ikut berdiri.
Setelah itu mereka pun, berjalan dengan beriringan keluar dari ruangan itu, mereka menuju ke lantai bawah menggunakan lift, saat sampai di bawah, keadaan sudah hening dan gelap.
Ami yang sudah tahu, di mana letak saklar, dia pun segera menuju ke saklar itu dan lampu di sana pun kembali menyala.
"Mas aku mau ngambil tas dulu di loker ya," pamit Ami pada Fariz.
"Berani kamu ke sana sendiri?" tanya Fariz.
"Berani," sahut Ami uang langsung melangkah menuju ke ruangan ganti baju yang terdapat loker di dalamnya.
Dia memencet saklar lampu yang berada di samping pintu dan segera menuju ke salah satu loker dan mengambil tasnya, setelah mendapatkan tasnya, dia segera kembali ke tempat Fariz menunggu, tidak lupa juga mematikan kembali lampu di ruangan itu.
"Mas, sopirnya belum datang?" tanya Ami pada Fariz yang tengah duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Belum, kamu sebaiknya matikan kembali lampunya dan kita keluar dari sini, kita tunggu sopirnya di depan saja."
Ami mengangguk dan mulai melakukan apa yang Fariz perintahkan itu, mereka pun keluar dari sana dengan hati-hati dan menyalakan senter di ponsel Fariz, agar mereka dapat melihat jalan dengan benar.
Fariz membuka pintu kaca dengan kunci yang dimilikinya dan keluar dari sana, lalu kembali mengnci pintu itu dan begitu dia selesai mengnci pintunya, sopirnya pun datang.
"Ayo aku antar pulang sekalian," ajak Fariz pada Ami saat akan memasuki mobil.
"Tidak perlu Mas, aku bisa pulang menggunakan kendaraan umum, lagian kontrakanku, tidak jauh dari sini," tolak Ami secara halus.
"Bahaya pulang sendiri malam-malam seperti ini, ayo ikut saja," ucap Fariz lagi.
"Tapi Mas—"
"Mi, ayo ikut, kenapa kamu jadi suka banget membantah ucapanku?" ucap Fariz sedikit kesal, mendapatkan penolakan dari Ami itu.
Ami akhirnya hanya bisa pasrah, dia memasuki mobil mengikuti Fariz, meskipun dengan sedikit rasa canggung yang terasa.
__ADS_1