
"Kalau saya sudah siap untuk pulang, saya pasti akan langsung pulang ... saya juga akan mengerjakan pekerjaan rumah bareng Bi Ijah," sambung Ami dengan panjang lebar.
"Emang kamu bisa ngerjain pekerjaan rumah?" tanya Fariz yang tidak yakin dengan apa yang Ami katakan itu.
"Bisa, meskipun saya tidak bisa melihat. Tapi, kalau untuk mengerjakan perkerjaan ringan pasti bisa," ucap Ami dengan yakin.
"Kenapa kamu gak mau pulang?" Fariz menanyakan pertanyaan yang belum Ami jawab sebelumnya.
"Saya sedang ada masalah dengan keluarga saya dan saat ini saya ingin menenangkan diri dulu," ucap Ami berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun hatinya sedih membayangkan apa yang kakaknya lakukan padanya semalam.
"Masalah datang untuk diselesaikan, bukan untuk dihindari. Menghindari masalah bukan menjadi lebih baik, tapi malah akan memicu munculnya masalah-masalah yang lainnya." Fariz menatap Ami dengan serius, sedangkan Ami hanya menatap kosong di depannya.
"Tapi, saat ini saya ingin menenangkan diri dulu, saya tidak bisa pulang dan tidak tau harus ke mana lagi," ucap Ami dengan wajah berubah jadi sendu.
Fariz menghela napas dalam, dia juga tidak tega kalau harus memaksa wanita yang terlihat rapuh itu pergi dari tempat tinggalnya, bagaimana wanita itu akan menjalani kehidupan di luar sana yang berbahaya untuk orang sepertinya.
"Baiklah, kamu boleh tinggal di sini dan selama di sini kamu tidak perlu melakukan pekerjaan apa pun," sahut Fariz dengan pasrah.
"Terima kasih Tuan—"
"Jangan panggil aku Tuan," potong Fariz dengan cepat dan tegas.
"Iya maaf, terima kasih, Mas." Ami tersenyum senang karena diijinkan untuk tinggal di tempat tinggal penolongnya.
"Oh iya, kenalkan. Nama saya Ami," ucap Ami lagi mengulurkan tangannya ke arah lain.
Fariz mengambil tangan Ami dan membalas uluran tangan wanita yang saat ini telah memasang senyuman yang lebar itu, seolah dia baru saja mendapatkan hadiah yang teramat berharga.
"Fariz, kamu jangan bicara terlalu kaku padaku," sahut Fariz yang langsung melepaskan tangannya dari Ami.
"Baiklah," sahut Ami lagi dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya yang tanpa polesan itu.
"Nih, minum obatnya." Fariz memberikan obat yang sudah dia keluarkan dari cangkangnya.
"Terima kasih."
Fariz hanya menjawabnya dengan deheman, setelah selesai memberikan obat pada Ami. Dia memutuskan untuk keluar dari kamar itu dan menuju ke meja makan untuk menyantap makan malamnya.
Dia makan dengan tenang, kesendirian sudah menjadi hal yang biasa untuknya semenjak dia memutuskan untuk tinggal terpisah dengan orang tua angkat dan setelah saudara angkatnya menikah dan tinggal terpisah juga.
Orang tua angkat dan saudara angkatnya, selalu memintanya untuk mulai memikirkan masa depannya dengan mencari pendamping hidup. Namun, dia tidak memiliki keinginan untuk berkeluarga.
__ADS_1
Kenangan masa lalu yang masih selalu memghantuinya, membuat dia menutup hati dan pikirannya untuk masalah keluarga, ketakutan yang selalu disimpannya belum bisa hilang dalam dirinya.
Kenangan-kenangan buruk yang sudah terlanjur tinggal dalam pikirannya itu, seolah mendorongnya untuk tidak memiliki kehidupan layaknya orang yang normal.
Bagi pria itu, dengan adanya keluarga angkatnya sudah cukup. Dia tidak ingin memulai sebuah hubungan, jika akhirnya akan berakhir dengan sakit yang mungkin akan seperti yang dirinya rasakan dulu.
Rasa sakit ditinggalkan oleh ibu kandung untuk selamanya dan tidak dipedulikan oleh sosok yang seharusnya disebut ayah, masih teramat terasa hingga detik ini, meskipun kejadian itu sudah sangat lama.
Setelah selesai makan malam, Fariz membereskan meja makan dan menyimpan piring kotor ke wastafel, dia kemudian kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Saat akan menaiki tangga, tiba-tiba saja langkahnya terhenti dan tanpa sadar, matanya melirik ke arah kamar tempat Ami, hanya beberapa detik dia berhenti melangkah dan menatap kamar itu, hingga akhirnya dia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
...*****...
Keesokan harinya, sama seperti hari sebelumnya. Pagi-pagi Ijah sudah datang untuk membereskan apartemen itu dan membuat Sarapan. Saat Faris turun dari kamarnya, dia meminta Ijah untuk memanggilkan Ami agar bisa sarapan bersama.
"Non, kata Den Fariz, sarapan bersama di meja makan," ucap Ijah dari ambang pintu.
"Iya, Bi." Ami turun dari ranjangnya dan menuju pintu.
"Ayo, Bibi bantu ke meja makannya," ajak Ijah sambil menggandeng Ami.
"Makasih, Bi."
"Selamat pagi, Mas," sapa Ami sambil tersenyum.
Fariz hanya menjawabnya dengan deheman dan mulai mengambil makanan untuk disantapnya, sedangkan Ijah pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
"Mas Fariz mau kerja?" tanya Ami membuka percakapan di sela-sela makannya.
"Ya," sahut Fariz singkat.
Ami tidak lagi bersuara karena mendengar Fariz yang seperti enggan untuk bicara dengannya. Dia berpikiran, mungkin saja pria itu kurang nyaman dengan kehadirannya di sana.
Setelah selesai sarapan, Fariz langsung pergi ke tempat kerjanya, sedangkan Ami yang kini kakinya sudah lebih baik, tidak nyaman terus berdiam diri di dalam kamar saja.
Ami memutuskan untuk membantu Ijah mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan, untuk mengisi waktunya.
Perlahan Ami, mulai membereskan meja makan itu dengan cara meraba-raba secara perlahan, karena takut ada yang kesenggolnya dan jatuh.
"Non, ayo Bibi anterin lagi ke kamarnya," ucap Ijah mendatanginya di meja makan.
__ADS_1
"Ami bosan di kamar terus, Bi. Bibi lagi ngapain?" tanya Ami.
"Bibi lagi nyapu, kamar Den Fariz," jawab Ijah.
"Ami bantuin nyuci piring ya, Bi," ucap Ami dengan antusias.
"Jangan, Non. Non kembali lagi aja ke kamar, masalah kerjaan biar Bibi aja yang beresin."
"Tapi, Ami bosen di kamar, Bi. Ami bisa kok kalau hanya cuci piring," ucap Ami dengan tampang memelas.
"Emang gak pa-pa gitu, Non?" tanya Ijah meyakinkan.
"Gak pa-pa, Bi. Ami akan hati-hati kok cuci piringnya," ucap Ami dengan yakin.
"Baiklah, kalau gitu hati-hati ya. Kalau nanti kakinya kembali sakit lagi, karena kelamaan berdiri, Non. Berhenti aja," ucap Ijah pasrah.
"Iya, Bi."
"Ya udah, ayo Bibi anterin ke wastafelnya."
"Iya Bi," sahut Ami mengikuti langkah Ijah dengan hati-hati.
Meskipun dia tidak bisa melihat, tapi dia cepat hapal dengan apa yang sudah dilewatinya, dia selalu menghitung langkah dari tempatnya semula sampai ke tempat tujuannya untuk mempermudah.
Dia juga selalu mengingat barang-barang disekitar yang dilewatinya, agar jika dia melewati tempat yang sama tidak akan pernah menabrak atau menyenggol barang di dekatnya.
"Ini wastafelnya, ini tempat spons dan sabun. Kalau piring yang udah dicuci, simpan di rak ini ya. Biar nanti Bibi saja yang simpan piring dan perlatan lainnya kalau sudah kering," terang Ijah.
Ami mengangguk dan mulai meraba, untuk mengingat letak barang-barang yang Ijah katakan tadi.
"Ya udah, kalau gitu Bibi beresin dulu meja makannya ya dan ngumpulin piring dan perlatan kotor lainnya," pamit Ijah.
"Iya, Bi."
Setelah mendengar langkah Ijah menjauh dari dapur, Ami mulai mencuci perlatan yang sudah terkumpul di wastafel dengan sangat hati-hati, karena takut memecahkan perlatan atau piring itu.
Dia mengerjakannya dengan senang hati, meskipun Fariz semalam bilang, jika dia tidak perlu mengerjakan apa pun, tapi kalau dia bisa bekerjasama sedikit apa salahnya.
...----------------...
Halo, semunya maaf nih sebelumnya. Sebenarnya kemarin aku rada oleng karena salah ngasih judul di bab sebelumnya dan baru ngeh tadi🤣
__ADS_1
Makasih untuk dukungan dari semuanya ya, semoga tidak bosen ngikutin perjalanan Ami dan Fariz, aku bakal selow update ya, gak mau terlalu buru-buru,🙏