
Semua orang yang ada di panti baru saja selesai makan siang, Ami sudah berpamitan untuk pulang, tapi lagi-lagi, Nino menahannya, anak kecil mengandalkan ekspresi sedihnya untuk meminta Ami agar tetap tinggal di sana beberapa saat lagi.
Akhirnya wanita itu pun hanya bisa pasrah, menuruti keinginan anak itu, dia tetap tinggal di sana, saat ini mereka sedang memainkan permainan menangkap orang dengan mata yang tertutup. Dan kini tiba giliran Ami yang harus ditutup matanya dan menangkap salah satu anak.
"Hitung sampai sepuluh ya, Kak. Setelah itu tangkap kita," ucap Via yang tengah memasangkan penutup mata pada Ami.
"Oke," sahut Ami mengangguk.
Saat mata Ami sudah tertutup sempurna, Via memutarkan tubuh Ami sambil menghitung, setelah itu setiap anak berpencar menjauh dari Ami.
Ami tidak langsung bergerak, dia hanya diam merasakan gerakan di sekitarnya dengan penuh perasaan, semua anak yang ikut serta dalam permainan itu, diam di tempatnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Sementara itu di sisi lain, Fariz saat ini sedang berpamitan pada Neti, dia memutuskan untuk pulang, karena kepentingan dirinya di sana sudah selesai.
"Terima kasih banyak atas bantuan-bantuan dari Nak Aris dan keluarga Nak Aris, sampaikan juga terima kasih ibu pada orang-tua Nak Aris ya," ucap Neti pada Fariz.
Fariz menganggukkan kepalanya, setelah itu dia membungkuk hormat pada Neti, sebelum akhirnya mulai keluar dari panti.
Saat sudah berada di teras, dia melihat ke arah Ami dan anak-anak yang lainnya sedang bermain, dia sedikit mengangkat sudut bibirnya, melihat Ami yang seharian ini bermain dengan anak-anak.
Lambaian tangan dari Nino, membuatnya tersadar dan mengalihkan perhatiannya pada anak kitu, Fariz mengangguk, dia melangkah mendekati Nino, bermaksud akan berpamitan pada anak itu.
"Ayo, Kak, tangkap kita!" teriak anak itu dengan serempak.
"Iya, iya kakak akan menangkap kalian," sahut Ami yang mulai melangkah, dia menuju salah satu anak, tapi anak itu segera menghindar dengan pelan, tanpa mengeluarkan suara.
Sementara itu Fariz yang berjalan tepat di depannya, berniat untuk menghindar saat melihat gerakannya yang semakin mendekat. Namun, ternyata belum sempat dia menghindar, tubuh Ami sudah menerjang tubuhnya itu terlebih dahulu.
Tanpa sengaja Ami menginjak tanah yang yang berlubang, hingga menyebabkan dia kehilangan keseimbangan dan menabrak Fariz yang belum siap mendapat gerakan tiba-tiba darinya.
'Buk' Suara tubuh mereka berdua yang kini sudah tergelak di rerumputan, karena Fariz yang tidak siap untuk menahan bobot tubuh Ami, akhirnya mereka pun sama terjatuh dengan posisi Ami yang menindih tubuh Fariz.
Fariz segera segera mendorong ke-dua bahu Ami, hingga wanita menjadi terduduk di tanah yang tertutup oleh rerumputan yang hijau.
__ADS_1
Tanpa memedulikan Ami lagi, Fariz segera berdiri dan menepuk-nepuk bajunya yang kotor dan terdapat beberapa daun kering yang menempel di baju dan celananya itu.
Sementara Ami, kini sudah membuka kain yang menjadi penutup matanya, dia menatap kosong ke arah Fariz yang sedang berinteraksi dengan Nino, tak lama kemudian pria itu, mengusap kepala anak itu dan pergi begitu saja, tanpa menengok lagi padanya yang masih tetap di posisinya.
"Ka, kakak baik-baik saja, kan? Apa ada yang sakit?" tanya Via yang kini sudah berada di sampingnya dengan khawatir karena Ami hanya diam.
Mendengar ucapan Via, Ami pun mengangkat wajahnya menatap gadis itu, dia kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban, jika dia baik-baik saja.
Dia kemudian, kembali melihat ke arah Fariz yang kini sudah mulai memasuki mobilnya dan semakin menjauh dari panti.
"Ya udah, bangun dulu, Kak," ucap Via lagi berusaha membantu Ami untuk berdiri.
"Iya," sahut Ami sambil berdiri. "Kakak mau pulang, mau pamit dulu ke Ibu ya," sambung Ami sambil menyerahkan kain penutup matanya pada Via.
"Baiklah, Kak."
Ami pun mulai melangkah pergi memasuki panti, anak-anak yang berada di sana menatap Ami dengan bingung, bukankah tadi Ami baik-baik saja, tapi kenapa setelah jatuh barusan, Ami tiba-tiba berubah dan tampak aneh.
"Mungkin Kak Ami, merasa sakit karena jatuh barusan, kita jangan memaksa Kak Ami untuk tetap di sini ya, biarkan dia pulang dan istirahat," ucap Via memberikan pengertian pada anak-anak di sana.
Tak lama kemudian, Ami keluar lagi dari panti, dia kembali mendekati anak-anak itu, berusaha memperlihatkan senyumnya pada anak-anak yang kini tengah menatapnya dengan tatapan khawatir itu.
"Anak-anak, kakak mau pulang dulu ya, nanti Papa, kakak nyariin kalau kakau terlalu sore pulangnya," ucap Ami pada Anak-anak itu.
"Kakak akan ke sini lagi, kan? Kita nanti bisa bermain lagi, kan Kak?" tanya salah satu anak perempuan yang seumuran deng Nino.
"Iya. kakak pasti akan ke sini lagi, nanti kita akan main lagi," ucap Ami pada anak-anak itu.
"Baiklah kalau gitu Kakak hati-hati, ya."
"Iya, kalian harus baik-baik ya, di sini jangan berantem, jangan membantah apa yang Ibu katakan," pepatah Ami anak-anak itu.
"Iya, Kak!" sahut anak-anak serempak.
__ADS_1
Ami tersnyum pada anak-anak itu, dia kemudian menatap Nino yang juga tengah menatapnya, dia berjongkok, mensejajarkan dirinya dan Nion.
"Kakak akan ke sini lagi, Kok, kamu tenang aja," hibur Ami pada Nino yang tidak mengalihkan perhatian darinya.
Kakak baik-baik saja, kan? Apa ada yang sakit karena jatuh barusan? tanya Nino yang ternyata mengkhawatirkan dirinya.
Ami merasa tersentuh dengan hal itu, padahal dia baru dua kali bertemu dengan Nino dan anak-anak di sana, tapi anak-anak di sana menghawatirkan dirinya, seolah mereka telah kenal begitu lama.
"Kakak baik-baik saja, kamu tenang aja ya," ucap Ami mengusap kepala Nino.
"Ya udah, kakak pergi ya," pamit Ami sambil mulai berdiri.
Nino mengangguk diikuti oleh anak-anak yang lain, begitu pun dengan Via, setelah itu Ami mulai melanjutkan langkahnya menjauh dari tempat itu, dia segera memasuki mobilnya dan duduk dengan tenang.
"Kita langsung pulang, Non?" tanya Candra yang sudah mulai menghidupkan mobilnya.
"Iya, langsung pulang saja," sahut Ami.
Saat mobil mulai berjalan, Ami memejamkan matanya membayangkan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Fariz, atau yang dia kenal sebagai Aris.
Berada bergitu dengan pria itu, membuat dia merasa pria itu adalah Fariz yang dia kenal, postur tubuh, juga wangi aroma parfum pria itu, sama persis dengan Fariz yang dia kenal.
"Apa ini hanya kebetulan saja ... atau mereka adalah orang yang sama," gumam Ami dengan perasaan yang campur aduk dalam dirinya.
Penasaran, senang, takut, dan khawatir, semua seolah bercampur dalam hatinya, dia penasaran apakah pria bernama Aris itu adalah Fariz.
Dia merasa senang, jika memang pria itu adalah pria yang dia cari selama ini, tapi dia juga merasa takut dan khawatir. Takut jika pria itu benar-benar Fariz, itu artinya dia sudah memiliki wanita lain di sisinya, khawatir Fariz sudah benar-benar mencintai wanita itu.
"Apa ini benar-benar nyata?" gumam Ami pada dirinya sendiri.
Sementara itu di sisi lain, Fariz menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sudah cukup jauh dari panti, debaran di jantungnya kian meningkat, apa lagi membayangkan jika baru saja dia dan Ami tanpa sengaja berdekatan, bahkan tidak jarak antara mereka, hanya pakaian yang menjadi jarak mereka.
"Apa yang haru aku lakukan untuk melupakanmu, jika ternyata kamu tidak bisa jauh dari hati dan pikiranku," gumamnya dengan beberapa kali menghela napas dan mengeluarkannya.
__ADS_1
Barusan dia sengaja mendorong Ami dengan cepat dari atas tubuhnya, karena dia takut wanita mendengar detak jatungnya yang sangat kencang.
Aroma parfum campur keringat yang masuk ke indra penciumannya, membuat pria itu seolah akan kehilangan kendali, akan dirinya sendiri.