Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 83


__ADS_3

Keesokan paginya, Ami membantu Fariz untuk sarapan seperti hari sebelumnya, tapi dia merasa canggung karena sadar jika Fariz terus menatapnya.


"Mas kenapa liatin aku terus sih," ucap Ami dengan malu.


"Aku hanya heran saja, bukankah aku sering menyakitimu, meskipun tanpa aku sadari, tapi kenapa kamu masih saja bersikap baik padaku?" ucap Fariz, masih dengan tatapan intens pada Ami


"Karena aku menyayangimu Mas, kamu tidak pernah menyakitiku, tapi keadaanlah yang menyakiti kita," ucap Ami sambi tersenyum dan melanjutkan kegiatan menyuapi Fariz.


"Aku pasti akan sangat beruntung, jika seandainya kita bisa bersama, Mi."


Mendengar hal itu, Ami hanya bisa terseyum, memikirkan jika Fariz sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, beberapa hari lagi, dia akan sepenuhnya menjadi milik wanita lain.


"Oh iya, Mas kapan Mas pulang?" tanya Ami mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin membahas masalah pernikahan Fariz.


"Dokter bilang, aku sudah bisa pulang hari ini," sahut Fariz.


"Apa itu artinya, ini benar-benar pertemuan terakhir kita, Mas," ucap Ami menundukkan kepalanya sedih.


"Maaf," ucap Fariz, kemudian memegang tangan Ami yang tengah memegang mangkuk yang berisi nasi beserta sup.


"Mas tidak perlu, minta maaf, jangan pikirkan tentangku, aku baik-baik saja Mas, apa Mas sudah selesai sarapannya." Ami mulai mengalihkan lagi pembahasan di antara mereka lagi.


Dia tidak ingin Fariz terus merasa bersalah dengan apa yang terjadi terjadi pada mereka itu.


"Sudah, aku sudah kenyang, terima kasih ya," ucap Fariz tersenyum, dengan wajah yang mulai terlihat agak segar, tidak sepucat kemarinnya.


"Iya sama-sama Mas," sahut Ami membalas senyuman Fariz.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara mereka, hingga Ami menyadari jika Fariz terlihat seperti tidak nyaman, dia pun memberikan diri untuk bertanya.


"Kenapa Mas? Apa ada yang tidak nyaman?" tanya Ami, membuat Fariz yang semula melihat ke arah lain, menengok ke arahnya.


"Bisa kamu coba lihat ke luar, apa di sana ada Aaric," ucap Fariz, membuat Ami mengangguk.


"Baiklah." Ami pun beranjak dari tempat duduknya, melangkah ke arah pintu ruangan itu.


Dia membuka pintu dan melihat, di luar ruangan itu kosong, tidak terlihat keberadaan Aaric, akhirnya dia pun kembali menutup pintu dan memberitahukan hal itu pada Fariz.


"Tidak Mas, sepertinya Tuan Aaric, ke kantin," ucap Ami.


"Oh ya udah," ucap Fariz lesu.


"Mas perlu sesuatu, biar Ami ambilkan," tawar Ami.


"Ambilkan saja ponselku, aku mau meneleponnya," pinta Fariz.

__ADS_1


"Kalau Mas ada sesuatu yang Mas inginkan, katakan saja, Ami akan bantu," ucap Ami lagi.


Fariz menatap Ami dengan ragu, tapi dia benar-benar sudah tidak bisa menunggu lagi, meski dengan ragu akhirnya dia mengutarakan keinginannya itu.


"Aku mau ke toilet," ucap Fariz.


"Baiklah, Ami ambilkan kursi roda dulu," ucap Ami segera melangkah mengambil kursi roda yang ada di sudut ruangan itu.


"Apa kamu yakin bisa membantuku ke kursi roda?" tanya Fariz tidak yakin.


"Mas Fariz, mmeragukanku, aku tidak selemah itu, ayo." Ami sudah menyimpan kursi roda itu tepat di samping ranjang Fariz.


Meski dengan ragu, Fariz mulai menyingkirkan selimut yang menutupi kakinya, kaki sebelah kanan telah dipasang gips, hingga sampai ke lututnya, sedangkan kaki sebelah kiri dibiarkan tebuka, di sana hanya terlihat memar di betis dan pergelangannya.


"Apa kedua kakinya masih sakit?" tanya Ami mentap pergelangan kakinya yang terlihat memar.


Kulit kakinya yang putih dan dihiasi beberapa helai bulu itu, kini telah dihiasi dengan warna biru keunguan, efek dari benturan yang terjadi saat kecelakaan itu terjadi.


"Lumayan," sahu Fariz sambil meringis saat berusaha menurunkan kakinya dari ranjang.


"Hati-hati," ucap Ami kemudian menggandeng tubuh Fariz membantunya untuk turun dari ranjang.


Bobot tubuh Fariz yang dua kali lipat dengannya, ditambah Fariz tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri karena kakinya seperti itu, membuat Ami sedikit kesusahan membantu pria itu untuk pindah duduk di kursi roda.


"Akhirnya duduk dengan selamat," gumam Ami bernapas lega, saat Fariz sudah berhasil mendudukan dirinya di kursi roda.


"Apa aku bilang, kamu akan kesulitan membantuku," ucap Fariz yang masih asyik mengusap pipi lembut Ami dengan tatapan mata terpaku pada wajah manis Ami.


Ami yang saat itu tengah membungkukkan tubuhnya, mulai wajah, hingga jarak antara wajah mereka, hanya berjarak beberapa senti saja, hembusan napas yang keluar dari hidung mereka bahkan sampai terasa, menyapu permukaan kulit wajah mereka.


Untuk beberapa saat, mereka lupa pada niat awal dan hanya menatap mata satu sama lainnya dengan serius, tidak ada yang mau mengakhiri saling tatap itu, seolah sayang untuk melawatkan kesempatan itu.


Namun, Fariz yang sadar jika ada yang mendesak dari bagian bawah tubuhnya yang ingin segera keluar pun, segera menarik tangan yang masih berada di pipi Ami itu dan segera mengalihkan tatapannya.


"Bisa tolong antarkan aku ke toilet, Mi," ucap Fariz membuat Ami menepuk keningnya.


"Oh iya lupa, ayo Mas." Ami segera menegakkan tubuhnya dan mulai mendorong kursi roda itu memasuki toilet.


"Mas bisa sendiri, kan?" tanya Ami saat sudah sampai di depan pintu toilet.


"Bisa," sahut Fariz menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku tunggu di sofa ya," ucap Ami mulai menutup pintu dan mendudukkan dirinya di sofa, dia menunggu Fariz keluar sambil memainkan ponselnya.


Dia melihat jam di ponselnya, waktu sudah cukup siang, itu artinya dia harus segera pulang karena takut keluarga Fariz akan datang, begitu pun dengan Cindy.

__ADS_1


"Kenapa Mbak Cindy tidak menamai Mas Fariz di sini ya," gumam Ami yang baru sadar akan hal itu.


Dari semenjak datang semalam, dia tidak bertanya tentang calon istri Fariz itu, dia hanya fokus pada Fariz, hingga melupakan kehadiran Cindy yang seharusnya, ada di sana menemani pria itu.


Tak lama kemudian pintu toilet terbuka, Fariz keluar dari sana sambil menggerakkan kursi rodanya.


"Mas mau ke ranjang lagi sekarang?" tanya Ami, dia kembali menyimpan ponselnya ke tas dan mulai beranjak mendekati Fariz.


"Apa kamu bisa membantuku lagi?" tanya Fariz menatap Ami.


"Bisa, tadi juga bisa." Ami menganggukkan kepalanya dengan yakin.


Fariz hanya menganggukkan kepalanya, Ami mulai menghentikan kursi roda itu kembali di samping ranjang, dia melakukan seperti yang tadi dilakukannya, membantu Fariz untuk naik ke ranjang, meski dengan sedikit kesulitan.


"Oh iya Mas, ini udah siang aku pulang sekarang ya," ucap Ami, setelah selesai membantu Fariz kembali ke ranjangnya.


"Bisakah kamu tunggu di sini sebentar lagi, hari ini orang-tuaku akan datang siang, sambil menjemputku pulang," ucap Fariz.


Kemarin Nevan memang mengatakan, jika mereka akan datang ke rumah sakit, pada siang hari, karena sekalian menjemputnya untuk pulang.


"Kalau Mbak Cindy?" tanya Ami.


"Dia ada pekerjaan, jadi tidak bisa datang," sahut Fariz dengan nada malas.


"Eummm baiklah, Ami akan di sini sebentar lagi," sahut Ami mengangguk.


Mereka akhirnya kembali mengobrol, sedangkan Aaric saat ini tengah sibuk, mengurus kepulangan Fariz, dia lupa memberitahu Fariz, jika orang-tuanya akan segera sampai.


"Mungkin setelah ini kita tidak akan bisa seperti ini lagi ya Mas," ucap Ami menatap Fariz dengan sedih.


Namun, tak lama kemudian raut wajah itu hilang digantikan oleh sebuah senyuman yang selalu Ami tunjukkan untuk menutupi kesedihannya.


"Tapi, tidak apa-apa Mas, aku selalu berharap setelah ini Mas akan hidup bahagia," ucap Ami masih dengan senyumnya.


"Aku pasti akan bahagia," ucap Fariz mengangguk.


"Iya, kamu harus bahagia."


"Kamu kenapa menangis?" tanya Fariz mengusap pipi Ami, saat menyadari jika pipi itu telah dibasahi oleh lelehan air mata.


"Aku tidak tau, tapi memikirkan kamu akan bersama dengan wanita lain, membuatku tidak bisa mengendalikan diriku, untuk tidak menangis, sekuat apa pun aku berusaha untuk kuat," terang Ami, masih dengan diiringi lelehan air matanya.


Fariz yang tidak bisa melihat Ami menangis seperti itu pun, segera menarik Ami dan menenggelamkan Ami dalam pelukannya untuk menenangkannya.


Tanpa mereka sadari, jika seseorang kini tengah berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan tidak percaya, sorot matanya memancarkan sebuah kekecewaan.

__ADS_1


"Fariz!"


__ADS_2