
Di tengah teriknya matahari yang cukup menyengat, Fariz berjalan dengan langkah pelan menyusuri rerumputan hijau yang tersorot matahari dari atas tubuh tingginya.
Fariz berjalan melewati ribuan gundukan tanah, menuju ke salah satu gundukan tanah yang sudah cukup lama tidak dia datangi, dari kejauhan dia sudah dapat melihat tempat tinggal tubuh mamanya yang sudah 20 tahun lebih mamanya tempati itu.
Tidak ada suara yang dia ucapkan saat sampai di samping gundukan dengan nisan bertuliskan nama dan tanggal lahir serta tanggl wafat mamanya itu.
Dia berjongkok dan mengusap batu nisan yang tertutup oleh debu itu dengan merapalkan ayat-ayat suci Al-Quran dan menaburkan bunga yang dibawanya.
"Ma, maaf Fariz udah lama tidak ke sini, Fariz baik-baik saja di sini Ma," ucap Fariz dengan nada yang lemah.
Teriknya matahari yang membuat keringat bercucuran dari keningnya itu, tapi tidak dia hiraukan, tatapannya terpaku pada batu nisan mamanya.
Masih tersimpan dengan jelas dalam memori otaknya, saat dia menangis tanpa suara di pelukan tubuh kaku nan dingin mamanya itu.
Senyuman terakhir yang ditunjukkan oleh ibu kandungnya itu, sebelum menutup mata untuk selamanya, masih teringat dengan jelas di penglihatannya,
"Ma, apa yang Fariz lakukan ini tidak salah, bukan? Mama Alish sudah memberikan kasih sayangnya untukku, menggantikan peran Mama untuk merawatku, jadi sekarang aku tidak salah bukan? Menuruti apa yang dia inginkan, meskipun Fariz harus mengorbankan perasaan Fariz dan wanita yang mencintai Fariz. Itu tidak salah, Kan Ma?" tanya Fariz dengan tatapan masih lurus pada batu nisan mamanya.
Dia tersenyum pedih, senyum di tengah-tengah hatinya yang tengah remuk redam, hancur bagai segumpal daging yang dicincang oleh pisau yang teramat tajam.
Keluarganya dan keluarga dan Cindy saat ini sedang sibuk mempersiapkan berbagai persiapan untuk acara pernikahan dirinya dan Cindy.
Setelah keluar dari rumah sakit, setelah dua hari dirawat. Alish memang terlihat bahagia, dia segera mengatur segala sesuatunya untuk acara pernikahan itu.
Sementara dia, hanya bisa berpura-pura jika dia baik-baik saja, Fariz bersikap seolah menerima pernikahan itu.
Saat Fariz tengah sibuk dengan lamunannya. Dengan posisi yang masih sama, dari arah belakangnya dia mendengar ada yang memanggil namanya.
"Fariz."
Fariz berdiri dan membalikkan badannya, dia menatap orang di depannya dengan wajah datar dan dingin, pancaran matanya menunjukkan ketidaksukaan pada pria seumuran Nevan itu, tengah berdiri di depannya.
Pria hampir renta itu memasang senyum tanpa dosa yang membuat Fariz kesal, kemarahan dan kekecewaan dalam hatinya bercampur menjadi satu.
"Akhirnya Papa bisa bertemu dengan kamu juga, Nak," ucap pria yang tidak lain adalah Bima, ayah kandung Fariz.
__ADS_1
Pria lanjut usia dengan kerutan yang sudah nampak, di wajahnya itu masih tersenyum lebar pada Fariz yang masih mempertahankan wajah dinginnya.
"Bagaimana kabar kamu, Nak. Papa dengar kamu akan menikah apa itu benar?" tanya Bima dengan suara ramah.
Fariz tidak menyahutinya dia, malah berniat untuk segera pergi dari sana, meninggalkan orang yang sudah menghadirkan trauma di hati dan pikirannya.
Orang yang sudah membuat mamanya kecewa juga sakit hati, hingga akhir hayatnya, dia tidak ingin berada di dekat orang yang tidak lain adalah papanya itu lebih lama lagi.
"Tunggu, Riz. Papa mohon maafkan Papa Nak," ucap Bima yang tiba-tiba saja langsung menjatuhkan dirinya di rerumputan.
Mau tidak mau Fariz pun menghentikan langkahnya, dia berdiri dengan posisi membelakangi Bima yang tengah berlutut di samping kuburan mantan istrinya.
Dapat Fariz dengar, suara isakan samar yang keluar dari mulut pria renta di belakangnya itu. Namun, dia tidak berniat untuk membalikkan badannya itu.
"Maafkan Papa Riz." Hanya kata itu yang terucap dari mulut Bima.
Tatapannya lurus, pada punggung Fariz yang masih bergeming di tempatnya, tidak menoleah sedikit pun padanya.
"Papa salah Nak, Papa sudah salah pada kalian, maaf Nak," lirih Bima sambil menangis.
"Tidak bukan, jadi sebaiknya kamu jangan pernah menemuiku lagi, bersikaplah seperti dulu, seolah kamu tidak mengenalku, seolah kamu tidak pernah memiliki anak dan istri yang telah tinggalkan begitu saja, demi menyelamatkan dirimu sendiri."
Bima hanya diam, dia sadar kesalahan yang dilakukannya dulu teramat fatal, tatapan matanya nanar menatap Fariz yang masih tidak ingin berbalik sekilas saja untuk melihatnya.
Fariz mulai melangkah, meninggalkan Bima yang masih terpaku di posisinya, dia sama sekali tidak menoleh sedikit pun, meski Bima terus memanggil namanya dan mengucapkan kata maaf berkali-kali.
"Maafkan papa Nak!"
"Papa tau kesalahan papa sangat fatal, tapi papa mohon, bukalah hatimu untuk memaafkan papa!"
"Seandainya papa bisa memutar waktu, papa akan memperbaiki semuanya!"
Fariz semakin menjauh dari posisinya, Bima pun mulai melihat pada gundukan tanah tempat mantan istrinya beristirahat, disuapnya batu nisan yang terdapat nama Mesha itu.
"Maafkan aku Sha, aku tidak menyangka jika saat itu aku meninggalkanmu yang tengah sakit keras, aku tidak menyangka jika kamu pergi secepat itu, meninggalkan anak kita sendirian, maafkan aku, aku benar-benar menyesal Sha."
__ADS_1
Ribuan kata maaf dan penyesalan yang tepatri dalam hatinya itu kini telah menjadi hal yang percuma, karena mantan istri yang dia tinggalkan begitu saja bersama dengan anaknya, telah tiada lagi.
Kini hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa penyesalan yang semakin lama, semakin menggerogoti hatinya secara perlahan.
Sementara itu, Fariz segera memasuki mobil saat dia sudah di dekat mobilnya itu, tangannya mengepal kuat, membayangkan pertemuan antara dirinya dan Bima barusan.
"Kenapa kamu hadir lagi sekarang, di saat semuanya sudah berlalu dan sudah terlambat," gumam Fariz menatap Bima yang masih berada di samping kuburan mamanya.
Dia tidak bisa memaafkan papanya itu, bayangan masa lalu yang masih menjadi mimpi buruknya sampai saat ini, membuat dia tidak ingin memaafkan pria itu.
Perlahan dia mulai menghidupkan mobilnya itu, meninggalkan pemakaman umum itu, untuk segera pulang karena tadi dia mengatakan jika dia akan pergi sebentar pada mamanya.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam berkendara, mobilnya kini telah sampai di depan rumah Nevan, dia segera turun setelah mobilnya terparkir dengan sempurna.
"Riz," panggil Alish yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Iya Ma," sahut Fariz.
"Itu di dalam, Cindy sudah menunggumu dari tadi, dia lagi bicara sama pihak WO," ucap Alish.
"Iya Ma." Fariz mengikuti langkah mamanya dengan langkah malas.
Di ruang tamu, Cindy sedang melihat gambar contoh tema acara untuk pernikahan mereka, wanita itu langsung tersenyum saat menyadari kedatangannya bersama Alish.
Fariz duduk di samping Cindy dengan menyisakan jarak di antara mereka, tapi Cindy langsung menggeser tubuhnya, mendekati Fariz.
"Kamu suka yang mana yang ini atau yang ini?" tanya Cindy menujukan gambar-gambar tema untuk acara pernikahan.
Fariz yang tidak ingin terlalu lama berada dalam situasi itu, terlebih tidak ingin terlalu lama berdekatan dengan Cindy pun menunjuk asal sebuah gambar agar segera selesai.
"Tapi aku gak suka yang ini, ini terlalu sederhana," sahut Cindy membuat Fariz memutar matanya jengah.
"Yang ini saja gimana?" sambung Cindy kembali menunjuk sebuah gambar lagi yang menurutnya cocok.
Fariz hanya mengangguk singkat sebagai jawban, dia tidak peduli mau seperti apa tema acara pernikahan itu nanti. Baginya semewah atau semeriah apa pun acara itu, pernikahannya itu hanya akan jadi hari yang menyedihkan.
__ADS_1