Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Ketemu.


__ADS_3

Fariz memasukkan kembali poselnya ke saku celana, kemudian membawa beberapa kemeja dan celana yang sudah didapatkannya ke kasir untuk membayar.


Setelah selesai membayar, dia segera menuju ke sofa tempat Ami menunggu tadi. Namun, saat sampai di depan sofa itu, keningnya mengerut, karena sofa itu telah kosong.


"Ke mana dia?" tanyanya sambil mencari ke sekeliling toko itu.


"Apa dia pergi, bukankah aku sudah menyuruhnya untuk tetap tinggal," gumamnya dengan sedikit kesal bercampur khawatir.


Dia kemudian bertanya pada seorang pelayan yang sedang melayani pengujung di sana.


Dia menggerakan tangannya, memberi pertanyaan tentang Ami menggunakan isyarat, tapi pelayan itu hanya melongo karena tidak mengerti dengan maksud Fariz.


Melihat pelayan itu hanya menatapnya, seperti orang bodoh, membuat Fariz berdecak kesal, dia kemudian mengeluarkan lagi ponselnya dan menuliskan sesuatu.


Apa kamu melihat, wanita yang duduk di sofa itu tadi? Isi tulusan di ponsel Fariz, lalu dia menunjuk ke arah sofa.


"Maksud, Mas? Mbak yang tidak bisa melihat itu?" tanya pelayan yang tidak lain adalah pelayan yang dimintai pertolongan oleh Ami tadi.


Fariz langsung memgangguk dengan cepat, sebagai jawaban dari pertanyaan pelayan di depannya itu.


"Maaf, Mas saya kira tadi yang sudah keluar itu, Mas. Jadi saya mengatakan kalau Mas sudah keluar pada istri Mas," jawab pelayan itu merasa tidak enak karena memberikan informasi salah pada wanita yang tidak bisa melihat yang dia yakini, adalah istri dari pria bisu di depannya ini.


Fariz menatap tajam, pelayan itu setelah mendengar penuturannya, ingin rasanya dia memaki wanita yang kini menatapnya dengan takut itu, karena telah membiarkan Ami pergi sembarangan.


Tanpa menunggu lama lagi, dia segera membalikkan badannya akan keluar dari toko itu mencari Ami, sebelum wanita itu terlalu jauh.


"Istri Anda ke arah sebelah kanan, Tuan!" ucap pelayan itu setengah teriak pada Fariz yang sudah berada di ambang pintu masuk toko itu.


"Pasangan yang serasi ... yang satu buta yang satunya lagi bisu, bagaimana mereka berkomunikasi kalau seperti itu," gumam pelayan toko itu yang mengira, jika Fariz benar-benar bisu.


Dia kemudian mengangkat bahunya, menurutnya tidak terlalu penting memikirkan masalah itu dan melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu, Fariz sudah mecari Ami sesuai dengan arah yang disebutkan oleh pelayan toko tadi, dia juga bertanya pada beberapa orang yang berpapasan dengannya.


"Ke mana kamu, Mi?" gumamnya tanpa menghentikan langkahnya.


Dia memindai setiap sudut lantai yang megah itu, mencoba untuk menemukan Ami di antara ratusan orang yang berlalu lalang.


Fariz benar-benar khawatir saat ini, takut Ami kenapa-napa, bagaimana jika dia bertemu dengan orang yang berniat jahat padanya lagi, memikirkan hal itu membuat hatinya semakin tidak tenang.

__ADS_1


Dia mencegat orang yang berpapasan dengannya, memperlihatkan ponsel yang telah berisi tulisan dengan menanyakan Ami dan ciri-cirinya.


Tiba-tiba saja dia menghentikan sejenak langkahnya, saat netranya menangkap siluet yang telah dicarinya.


Tanpa menunggu lagi dia melanjutkan langkahnya dengan langkah lebar, mendekati wanita yang kini tengah duduk di sebuah bangku yang berada di sudut yang yang sepi.


Fariz berdiri di depannya, menatap wanita yang kini tengah menutupi wajahnya dengan kedua tangan, punggung bergetar, isakkan tangis terdengar sangat lirih.


"Mi," panggilnya dengan nada pelan, dia menghela napas lega karena bisa menemukan wanita ini.


Ami yang mendengar suara yang sangat dikenalnya pun, menurunkan tangannya dan mendongak ke atas.


"Mas Fariz," lirihnya dengan bibir bergetar.


"Maaf, barusan aku nerima—"


Ami langsung berdiri dan secara reflek, menubruk tubuh Fariz, hingga membuat pria itu tidak dapat melanjutkan ucapannya lagi.


"Mas, Ami takut ... takut tidak akan bertemu dengan Mas lagi, takut Mas ninggalin aku gitu aja," racau Ami dengan tangis yang semakin menjadi.


Fariz mematung mendapatkan pelukan secara mendadak dari Ani itu, dia mengangkat tangannya dengan kaku dan membalas pelukan Ami itu.


"Maafkan aku, barusan aku mengangkat telepon dulu, jadi tidak menyadari jika aku meninggalkanmu sudah terlalu lama."


Ami mengangguk dengan posisi kepalanya masih berada di dada Fariz.


"Aku kira, Mas ninggalin aku," ucap Ami dengan hati yang merasa lega, karena pria itu ternyata tidak meninggalkannya.


"Aku tidak mungkin ninggalin kamu gitu aja, aku harus ganterin kamu ke keluargamu dan memastikan kamu aman, baru aku bisa tenang nanti," sahut Fariz.


Mereka masih saling berpelukan, saling memberikan ketenangan, tidak memedulikan keberadaan mereka saat ini yang berada di tempat umum.


Kini mereka hanya merasa jika hanya mereka berdualah yang berada di sana, tidak memedulikan orang-orang yang lewat mencuri pandang pada mereka.


Ami yang tadi masih terbawah suasana, kini sudah sadar dari apa yang sedang mereka lakukan itu, dia segera melepaskan pelukannya, menjauhkan dirinya dari Fariz yang kini merasa kehilangan saat pelukan itu terlepas.


"Ma-maaf, Mas. Barusan aku terbawa suasana, jadi tidak menyadari apa yang barusan aku lakukan," ucap Ami merasa canggung.


Dia menundukkan kepalanya dan mengelap pipinya yang basah oleh air mata, hingga pipinya jadi kering.

__ADS_1


"Ekhem, iya tidak apa-apa," sahut Fariz yang juga merasa canggung dan melihat sekelilingnya banyak orang.


"Ya udah, kalau gitu. Ayo kita pulang," ajak Fariz mengambil beberapa paperback milik Ami dan miliknya, membawanya dengan satu tangan.


Dia juga menggenggam tangan Ami dan mulai melangkah meninggalkan tempat itu.


"I-iya Mas," sahut Ami sambil melipat tongkatnya.


Fariz berjalan dengan hati-hati karena saat ini dia berjalan, sambil menuntun Ami.


...*****...


Kini mereka telah berada di dalam mobil, masih ada sisa kecanggungan yang terasa antara mereka setelah apa yang baru saja terjadi.


"Mas, maaf ya karena aku sudah mengotori baju Mas," ucap Ami membuka percakapan.


"Tidak apa-apa, ini hanya sedikit basah," sahut Fariz, melihat Ami sekilas setelah itu kembali melihat ke arah depan.


"Kenapa tadi kamu pergi sampai sejauh itu?" tanya Fariz.


"Aku tidak menyadari hal itu, karena saat pelayan toko itu bilang, kamu telah pergi aku langsung menyusulnya."


"Pelayan toko itu salah orang, aku masih berada di toko itu, cuma aku ke tempat sepi terlebih dahulu karena Mama aku nelepon," terang Fariz.


"Oh gitu ya, aku kira tadi itu beneran Mas Fariz, pikiranku udah ke mana-mana tadi, apalagi saat aku meminta pertolongan pada orang lain untuk mengantarkan aku ke lobby, tidak ada yang mendengarkan aku sama sekali," cerita Ami.


"Mau ngapain kamu ke lobby?" tanya Fariz heran.


"Menyusul Mas, kan tadi aku berpikirnya Mas udah pergi jadi aku ingin menyusul ke lobby," jawab Ami dengan polos.


"Untung saja tadi tidak ada yang mengantarkanmu, kalau ada, aku akan semakin kesulitan menemukanmu lagi," ucap Fariz.


"Maaf ya, Mas sudah buat Mas susah," ucap Ami merasa tidak enak.


Selama bersama dengan Fariz, dia selalu saja membuat pria itu kerepotan karenanya.


"Tidak apa-apa yang penting sekarang kamu sudah ketemu dan baik-baik saja," sahut Fariz, dia juga merasa lega karena dapat menemukan Ami.


Tadi dia juga sudah berpikiran buruk, jika dia sampai tidak menemukan wanita itu, selamanya dia pasti akan dihantui oleh perasaan bersalah, apalagi jika sampai Ami kenapa-napa.

__ADS_1


__ADS_2