Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 84.


__ADS_3

Fariz dan Ami tersentak kaget, saat mendengar suara yang tidak lain adalah suara Alish itu, mereka reflek menjauhkan tubuh mereka, Fariz menatap Alish yang tengah menatapnya dengan tegas.


Sementara Ami, hanya bisa berdiri di samping ranjang Fariz, sambil menundukkan kepalanya takut, dia tidak berani menatap Alish yang terdengar marah itu.


"Ma," panggil Fariz, pada Alish yang tidak mengeluarkan suaranya lagi.


Wanita paruh baya itu, hanya melangkah dengan tatapan lurus pada Ami, dia tidak menghiraukan panggilan dari Fariz.


Setelah dia berada di depan Ami, barulah dia mengalihkan tatapannya pada Fariz, dari tatapannya itu, dia meminta penjelasan dari apa yang baru saja dilihatnya itu.


"Apa maksudnya ini, Fariz? Kamu tidak mungkin memiliki hubungan dengan perempuan ini, di saat pernikahan kamu tinggal menghitung hari bukan?" tanya Alish berusaha mencari kebenarannya.


Ami mengangkat wajahnya dan melirik Fariz yang terlihat tengah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Maaf Ma, tapi Fariz memang memiliki hubungan dengannya, dia adal—"


"Mama tidak peduli siapa dia," potong Alish dengan cepat, dia tidak ingin mendengar ucapan Fariz selanjutnya.


Alish kemudian kembali menatap Ami yang sudah mulai menatapnya dengan mata yang memerah, terpancar raut kekecewaan dari wajahnya itu.


"Siapa pun kamu dan apa pun hubungan kamu bersama Fariz, segera tinggalkan Fariz, saya yakin kamu pasti tau, jika Fariz saat ini sudah memiliki pasangan dan sebentar lagi akan menikah!" tegas Alish menatap Ami dengan dalam.


"Ma, bisa biarkan dia pergi dulu, biar Fariz jelaskan semuanya," ucap Fariz berusaha menenangkan Alish dan mencoba tidak melibatkan Ami dalam hal itu.


"Kamu mau membelanya, Riz. Atau memang kalian berniat terus berhubungan meskipun kamu sudah menikah nanti?" tanya Alish menatap Fariz tak percaya.


"Bukan seperti itu Ma." Fariz berusaha berbicara secara baik-baik pada pada Alish.


Nada bicara Fariz masih normal, dia tidak ingin membuat keadaan semakin runyam dengan berbicara tegas pada Alish, walau bagaimanapun dia harus menghormati wanita itu.


"Terus apa Riz? Mama mohon jangan lakukan hal yang pernah mamamu dan papa nevan lakukan dulu!" ucapan tegas Alish itu, membuat Fariz diam tak berkutik.


Hatinya terasa sakit, mendengar hal itu keluar sendiri mulut wanita yang telah membesarkannya itu, dia tahu kesalahan ibu kandungnya dulu cukup menyisakan luka yang begitu dalam untuk Alish. Hingga mungkin tidak akan mudah untuk Alish melupakan hal itu.


"Cukup mama saja yang ngerasain sakitnya melihat suami sendiri mencintai wanita lain, jangan sampai wanita yang akan menjadi istrimu juga merasakan hal yang sama, jangan lakukan itu." Alish menatap Fariz dengan sedih, bahkan kini matanya sudah mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Ami yang sadar jika apa yang Alish ucapkan itu akan membuat Fariz tersakiti, memilih untuk menatap Alish dan membuka suara.


"Maaf Tante, ini bukan salah Mas Fariz, ini salah aku, saat itu aku yang sengaja mencari Mas Fariz, memintanya untuk menerimaku, jika saat itu aku tidak menemuinya dan melakukan itu—"


Plakk!


Ucapan Ami terputus karena Alish langsung menampar wajahnya, merasakan tamparan itu, mata Ami semakin memanas, diiringi dengan rasa panas yang menjalar di pipinya, hingga lelehan air mata tidak dapat dia tahan lagi.


"Ma," panggil Fariz dengan suara lirih, dia tidak menyangka jika Alish akan melakukan hal itu pada Ami.


"Tante bisa lampiaskan semua kemarahan Tante padaku, tapi aku mohon jangan membenci Mas Fariz, karena hanya Tante dan keluarga Tante yang dia punya," sambung Ami yang sudah mulai mengangkat wajahnya lagi.


"Tante juga jangan khawatir, ini adalah pertemuan terakhir kami, setelah ini kami tidak akan pernah bertemu lagi, iya kan Mas?" Ami menatap Fariz dan tersenyum pada Fariz.


"Tidak Mi." Fariz menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban atas ucapan Ami.


"Kita tidak akan bertemu lagi, Mas akan mencintai Mbak Cindy cepat atau lambat, Mas akan hidup bahagia setelah ini, maaf karena kehadiran Ami, membuat hubungan Mas dan keluarga Mas renggang."


Ami mulai mengambil tas yang semula ada di sofa, dia kemudian menatap Fariz sekali lagi, tidak lupa sebuah senyuman yang berusaha dia tunjukan pada Fariz.


"Maaf sudah membuat Tante tidak nyaman, permisi Tante, aku harap setelah ini Tante akan menyayangi Mas Fariz seperti sebelumnya," ucap Ami pada Alish.


"Mi, tunggu dulu." Fariz memanggilnya, dia menggelengkan kepala, meminta Ami untuk tidak pergi.


Ami tidak bersuara lagi, dia hanya terseyum dan mulai melangkah menuju ke arah pintu dengan langkah yakin, sedangkan Fariz hanya menatap punggung Ami itu dengan sedih.


Seandainya dia dapat berjalan saat ini, dia pasti sudah mengejar Ami, tapi saat ini dia tidak berguna, dia hanya bisa menatap kepergian Ami dengan hati yang hancur.


"Ma, kenapa Mama melakukan itu, apa yang Ami katakan itu tidak benar, seandainya Ami tidak datang, Fariz tetap tidak akan bisa mencintai Cindy, Fariz setuju untuk berhubungan dengan Cindy hanya karena terpaksa, Fariz hanya berusaha menuruti keinginan Mama," terang Fariz menatap Alish yang masih bergeming di tempatnya.


"Fariz tau, apa yang Mama Mesha lakukan dulu itu salah, sangat salah dan sekarang Fariz sebagai anaknya meminta maaf atas nama Mama Mesha, Fariz juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan Mama dan Papa yang sudah menjaga dan membesarkan Fariz, hingga saat ini, terima kasih untuk kasih sayang yang kalian berikan untuk Fariz, maaf Fariz tidak bisa membalas semua itu," ucap Fariz dengan sedih, dia kemudian membuang pandangan ke arah lain.


Menenangkan hati yang kembali hancur, melihat kepergian Ami untuk kesekian kalinya dan dirinya tetap tidak berguna, tudak bisa melakukan apa pun, untuk menahannya.


Sementara itu Alish yang mulai sadar dari apa yang dilakukannya itu, mulai mengangkat tangannya yang baru saja dia gunakan untuk menampar Ami.

__ADS_1


"Maafkan mama Riz, mama tidak bermaksud seperti itu," ucap Alish menatap Fariz menyesal.


"Tidak Ma, Mama tidak bersalah, Farizlah yang bersalah, seharusnya Fariz tidak menyeret Ami untuk masuk ke kehidupan Fariz, hingga ini semua tidak akan terjadi," sahut Fariz dengan tatapan kosong ke arah sampingnya.


Alish menangis dengan apa yang terjadi itu, dia tidak percaya semua itu telah dia lakukan, kenapa saat mengingat tentang masa lalu, dia bisa hilang kendali seperti itu.


Apa benar dalam hatinya yang terkecil, dia masih belum bisa mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu, apa benar, kata maaf yang selalu diucapkan pada suaminya, hanya sekedar kata-kata saja.


Nevan memasuki ruangan itu, disusul oleh Aaric, Nevan mendekati Alish dan menatapnya dengan heran, saat melihat Alish tengah menangis, karena tadi saat datang ke sana istrinya itu baik-baik saja.


"Kamu kenapa Ma?" tanya Nevan mengusap punggung Alish yang sedang menangis, tapi bukannya menjawab, Alish malah memeluk suaminya itu dan meneruskan tangisannya itu.


"Riz, Mama kamu kenapa?" tanya Nevan pada Fariz karena tidak mendapat jawaban dari Alish.


Namun, Fariz pun tidak menjawabnya, dia hanya membisu dengan tatapan masih kosong, dia bahkan tidak melihat ke arah mereka, hanya menatap ke arah lain.


Sementara itu, Aaric yang sudah menduga dengan apa yang terjadi, hanya bisa menghela napas berat, saat di perjalanan menuju ke ruangan itu, dia berpapasan dengan Ami yang berjalan sambil menangis.


Dia sudah menduga, jika ada yang terjadi antara Fariz, mamanya dan wanita itu, dia merutuki dirinya karena setelah sarapan tadi, dia langsung mengurus kepulangan Fariz, hingga lupa memberitahu masalah kedatangan orang-tuanya pada Fariz.


"Pa sebaiknya kalian pulang duluan saja," ucap Aaric pada Nevan, membuat Nevan mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Terus Fariz gimana?" tanya Nevan.


"Biar nanti Aaric yang bawa dia pulang," ucap Aaric pada papanya itu.


"Baiklah, jika segala sesuatunya sudah beres segeralah pulang," ucap Nevan, memilih tidak banyak bertanya sekarang.


"Ayo Ma," ajak Nevan yang masih memeluk Alish.


Alish hanya menurut, dia melangkah meninggalkan ruangan itu, tapi sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu, dia melirik ke arah Fariz terlebih dahulu.


Melihat Fariz yang tidak melihat ke arahnya dan hanya diam dengan tatapan lurus ke arah lain, akhirnya pasangan paruh baya itu pun mulai menghilang dari balik pintu.


"Apa yang terjadi Riz?" tanya Aaric pada Fariz.

__ADS_1


Fariz hanya diam, dia hanya menggelengkan kepalanya, tidak berniat untuk membicarakan apa yang baru saja terjadi itu.


__ADS_2