Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bertemu Kembali.


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di parkiran apartemen yang cukup mewah di ibu kota, tak lama kemudian si pemiliknya pun, keluar dan langsung memutari mobil, membuka pintu samping kemudi, pria si pemilik mobil itu menggendong seorang wanita yang ditemukannya tengah tergeletak di jalanan beberapa saat yang lalu.


Meskipun sedikit kesulitan, dia mengunci mobilnya dan membawa wanita itu memasuki lobby apartemennya, beruntung saat ini sudah tengah malam, jadi tidak akan ada orang yang menatapnya dengan aneh karena membawa wanita yang tidak sadarkan diri di tengah malam seperti itu.


Saat memasuki lift dan menekan tombol nomor tujuannya, dia menghela napas sedikit kasar, karena wanita di gendongannya ternya lumayan berat.


Secara perlahan pria itu menurunkan pandangannya pada wanita yang tadi belum sempat dia lihat dengan jelas wajahnya itu.


Dia, ucapnya dalam hati, tatapan matanya terpaku pada wanita yang masih tidak sadarkan diri di gendongannya itu.


Pria berusia 33 tahun itu menatap tak percaya, pada apa yang dilihatnya. Wanita yang saat ini berada di gendongannya, ternyata adalah wanita yang dia temui beberapa tahun lalu.


Dia jelas ingat wanita itu, karena untuk pertama kalinya setelah 20 tahun lebih dia tidak ingin bicara pada siapa pun, tapi tanpa diduga-nya dia malah bicara pada wanita buta yang hampir tertabrak oleh mobil beberapa tahun silam.


Setelah lift sampai di tempat tujuannya, dia segera keluar dan bergegas pergi menuju ke unit apartemennya, dia membawa tubuh Ami ke kamar tamu dan menidurkannya di ranjang yang ada di kamar itu.


Sekarang apa yang harus aku lakukan padanya, ucapnya dalam hati.


Kebiasaanya untuk tidak bisa bicara sampai sekarang masih terjadi, meskipun dia sudah mau bicara pada keluarganya, tapi tidak pada orang asing. Dia masih tidak bisa bicara dengan orang yang tidak terlalu dekat dengannya.


Dia akhirnya mengambil baskom yang berukuran sedang dan mengisinya dengan air hangat, setelah itu mengambil handuk kecil yang biasa dia pakai untuk mengelap keringat saat dia olahraga. Dengan hati-hati dia melepaskan jaket yang dikenakan Ami dan mulai mengelap wajah wanita itu terlebih dahulu.


Pria itu mngelap bagian tubuh Ami yang dapat dijangkaunya dengan hati-hati, setelah selesai dengan wajah dan tangannya dia melanjutkannya ke kaki.


Jempol kaki Ami berdarah karena tersandung mobil saat mengejar kakaknya tadi, lututnya juga terluka terlihat dari darah yang sedikit merembes di celana bahan yang dikenakannya.


Namun pria itu tidak mungkin membersihkanya, karena takut disangka macam-macam oleh wanita itu, dia hanya membersihkan telapak kaki hingga ke pergelangannya saja dan akan meminta art-nya yang selalu datang pagi-pagi ke apartemen untuk membantu wanita itu merawat lukanya.


Setelah dirasa selesai, pria itu kemudian keluar dari kamar itu, dia menyimpan baskom itu ke tempat pencucian piring dan melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnaya, untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum akhir istirahat.


Pria itu adalah Fariz Jauhar, pria yang bertemu dengan dan orang yang menolong Ami beberapa tahun lalu, saat Ami hendak menyebrang sendiri dan hampir tertabrak.


Dia tidak menyangka, jika mereka akan dipertemukan kembali dengan cara yang tidak terduga seperti ini.


...*****...


Keesokan harinya Ami mulai membuka mata, dia segera duduk dan meraba bagian atas tubuhnya, saat merasa pakaiannya masih lengkap hanya jaketnya saja sudah terlepas, dia pun menghela napas lega.

__ADS_1


Dia awalnya berpikir, jika semalam dibawa lagi oleh pria yang berniat jahat padanya itu. "Di mana ini?" gumamnya.


Dia berusaha menurunkan kakinya. Namun, karena sakit yang terasa di sekujur tubuhnya membuat wanita itu meringis dan mengurungkan niatnya untuk mencari tahu tentang tempat itu.


"Nona, anda sudah bangun?" tanya seorang wanita yang baru saja membuka pintu kamar itu dengan sebuah paperback di tangannya.


"Anda siapa?"


Wanita yang tidak lain adalah art di apartemen itu, manatap Ami dengan heran karena wanita yang dibawa oleh majikannya itu, bicara dengan pandangan ke arah lain.


"Saya art di sini, Nona bisa memanggil saya Bi Ijah," sahut Ijah memperkenalkan dirinya.


"Saya Ami, Bi," sahut Ami tersenyum.


Karena rasa penasarannya, Ijah berjalan dengan hati-hati dan berdiri di depan Ami, dia kemudian mendekati wajah Ami memastikan apa yang ada pikirannya benar atau salah.


"Bi, Bi Ijah masih di sini?" tanya Ami yang langsung membuat Ijah tersentak dan langsung menutup mulutnya karena tidak percaya, jika pikirannya benar.


Jadi wanita ini buta, tapi kenapa Den Fariz membawanya ke sini, atau jangan-jangan Den Fariz jatuh cinta pada pandangan pertama, batin Ijah dengan pikiran yang sudah kelayapan ke mana-mana.


Karena setahunya, majikannya itu tidak akan membawa sembarangan orang ke tempat tinggalnya, meskipun dia berniat menolong Ami karena terluka. Majikannya itu 'kan bisa saja membawa Ami ke rumah sakit, tidak harus membawa ke tempat tinggalnya.


Ijah memundurkan langkahnya dengan perlahan, setelah agak jauh dia baru menjawab panggilan Ami itu.


"I-iya, Non. Maaf barusan Bibi ngambil dulu obat sama baju ganti buat Non Ami, ayo biar Bibi bantu ke kamar mandi dulu." Ijah mendekati Ami lagi dan membantunya untuk turun dari ranjang.


"Makasih, Bi."


"Iya sama-sama, Non."


Mereka pun berjalan menuju ke kamar mandi dengan Ijah memapah Ami yang berjalan dengan kaki pincang.


"Mau dibantu sekalian gak mandinya?" tanya Ijah.


"Tidak perlu Bu, tapi tolong tunjukin tempat peralatan mandi sama tempat handuknya, Bu," pinta Ami.


"Ini tempat sabun dan yang lainnya, tempat handuk dan jubah mandi di sebelah sini dan ini showernya," jelas Ijah menuntun tangan Ami ke tempat-tempat yang disebutkannya.

__ADS_1


"Sudah hapal belum, Non?" tanya Ijah.


"Sudah," jawab Ami disertai anggukkan kepala.


"Ya udah kalau gitu, Bibi tunggu di luar ya, kalau sudah selesai mandinya panggil lagi."


"Iya, Bi. makasih ya," ucapa Ami.


"Iya," sahut Ijah, setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan membiarkan Ami mandi.


Ami membersihkan dirinya dengan hati-hati, beberapa kali bibirnya mengeluarkan suara ringisan, karena rasa perih di badannya saat terkena air dan sabun.


Tak memerlukan waktu yang lama, Ami sudah selesai dengan mandinya. Dia meraba dinding untuk mengambil handuk dan jubah mandi, untuk membungkus tubuh dan rambutnya.


Setelah tubuhnya tertutup, dia kembali berjalan dengan hati-hati meraba sekitarnya, mencari letak pintu, saat menemukan apa yang dicarinya dia segera membuka pintu itu dengan hati-hati.


"Non, kenapa gak panggil, Bibi kalau sudah selesai," ucap Ijah yang sedang berdiri di samping pintu kamar mandi.


"Aku bisa bisa sendiri kok, Bi," sahut Ami yang masih tersenyum.


"Ya udah, kalau gitu ini baju gantinya, Bibi mau ambilkan dulu sarapan ya, setelah itu bantu obati luka-lukanya." Ijah menherahkan paperback yang berisi baju ganti untuk Ami.


"Iya makasih, Bi."


"Non Ami dari tadi udah bilang makasih sampai beberapa kali loh," ucap Ijah terkekeh.


"Habisnya Ami gak tau harus bilang apalagi selain kata itu, Ami bersyukur karena bisa selamat semalam," ucap Ami yang berubah jadi sedih, mengingat kejadian semalam.


"Yang pantas mendapatkan ucapan terima kasih dari, Non adalah majikan Bibi, karena dia yang bantuin, Non semalam," terang Ijah.


"Di mana majikan Bibi sekarang?" tanya Ami.


"Sudah berangkat kerja."


"Ya udah, biar nanti aja saat majikan Bibi pulang ucapin makasihnya."


"Iya, Non. kalau gitu Bibi mau ambil makanan dulu ya, ini sudah siang." Setelah itu Ijah keluar untuk mengambil makanan untuk sarapan Ami.

__ADS_1


Sementara Ami segera berpakaian, dia merasa bersyukur ada yang menolongnya semalam, dia harus mengucapkan terima kasih pada penolongnya itu.


Meskipun hanya ucapan saja, karena dia tidak bisa melakukan atau memberikan apa pun lagi pada penolongnya sebagai ucapan terima kasih.


__ADS_2