Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Kapan Nikah?


__ADS_3

Fariz turun dari mobilnya yang baru saja terparkir di halaman rumah orang-tua angkatnya, dia berjalan dengan langkah ringan memasuki rumah tempatnya menghabiskan masa kecil dengan penuh kebahagiaan.


Awalnya dulu dia mengira, setelah kepergian mamanya, dia tidak akan pernah bisa merasakan lagi, bagaimana rasanya bahagia itu.


Namun, ternyata takdir berkata lain, dia dipertemukan dengan sosok wanita yang begitu baik dan mau merawatnya dengan tulus.


Semenjak memasuki rumah ini, kebahagiaan karena memiliki keluarga yang menyayangi dan menjaga sudah dia rasakan.


"Den, sudah datang," sapa seorang art yang berpapasan dengannya.


Fariz hanya mengangguk dan tersenyum samar, dia kemudian memberikan isyarat pada art itu, bertanya tentang keberadaan keluarganya.


"Tuan, sama nyonya baru saja pergi ke kamar mereka, mau bersih-bersih dulu, sebelum makan malam," jawab art itu yang sudah mengerti dengan isyarat Fariz.


Fariz menganngguk, kemudian melanjutkan langkahnya, untuk ke kamar, dia juga akan membersihkan dirinya dulu, sebelum ikut makan malam bersama dengan keluarganya.


Saat memasuki kamar, dia mendengar ada suara di kolong tempat tidurnya. Dia sudah menebak apa yang terjadi di sana.


Siapa lagi orang yang suka memasuki kamarnya untuk bersembunyi, agar tidak ketahuan oleh orang-tuanya.


"Hayoh, ngapain kamu di kamar paman," ucapnya langsung berjongkok dan mengagetkan seseorang yang sedang memakan cemilan di kolong ranjang itu.


"Ihhh, Paman. Ngagetin aja," ucap seorang anak perempuan berusia enam tahun dengan gigi ompongnya.


Anak itu segera menghabiskan, coklat di tangannya dan membersihkan bibirnya dari sisa coklat yang baru saja habis itu.


"Pasti kamu makan cemilan yang manis lagi dan sembunyi-sembunyi dari mama kamu," ucap Fariz.


"Paman baik, jangan bilangin ini ke Mama sama Papa ya," ucap anak itu menatapnya dengan tampang memelas.


"Tidak, paman akan bilang ke mama sama papa kamu," ucap Fariz pura-pura tidak perduli.


"Paman!" rengek anak itu semakin memasang wajah melasnya untuk meluluhkan Fariz.


"Melody janji ini yang terakhir," ucap anak bernama Melody itu, meyakinkan Fariz.


"Tidak, paman tidak akan percaya lagi dengan perkataanmu itu. Setiap paman ke sini kamu selalu mengatakan hal yang sama," ucap Fariz seolah tidak luluh.


Karena tahu, caranya itu tidak berhasil Melody keluar dari kolong ranjang, dia kemudian mendudukkan dirinya di ranjang memasang wajah cemberut dan menatap Fariz yang kini sudah berdiri di depannya.


"Kalau gitu, mulai sekarang, Paman bukan, Paman baik Melody lagi. Melody akan cari Paman baru," ucapnya dengan menyilangkan tangan di dadanya.


Fariz terkekeh geli melihat ekspresi anak Aaric itu, sikap Melody sama seperti Aaric waktu kecil, cerewet dan pandai mengancam orang lain.

__ADS_1


"Oh ya, emang ada yang mau jadi paman, anak bawel dan suka berbohong kayak kamu," ledek Fariz dengan sebelah alis yang terangkat.


"Pasti ada, Melody 'kan cantik."


"Kata siapa?"


"Kata semua orang," sahut Melody,  tak lama kemudian terdengar seseorang memanggil namanya dari luar kamar itu.


"Tuh mama kamu udah manggil," ucap Fariz.


"Paman, jangan bilang sama Mama atau Papa ya," ucap Melody dengan kembali memasang wajah melasnya.


"Kamu gak boleh terlalu sering memakan cemilan yang manis-manis seperti itu, gigi kamu udah ompong tuh," ucap Fariz sambil menjawil hidung Melody.


"Terus Melody harus ngemil apa dong, Mama sama Papa selalu larang Melody buat ngemil lagi," sahut Melody dengan berkaca-kaca.


"Baiklah, baiklah. Kamu menang, paman tidak akan bilang pada Papa, Mamamu. Puas," sahut Fariz pasrah.


"Makasih, Paman memang yang terbaik," ucap Melody dengan riang. "Kalau gitu, Melody keluar dulu ya, Mama pasti nyariin dari tadi."


Melody keluar dari kamar itu dengan langkah riangnya, entah ke mana ekspresi sedihnya tadi itu, langsung hilang dengan sekejap.


Fariz hanya menggeleng sambil terkekeh kecil melihat tinggkah gadis kecil Aaric itu, setelah Melody menutup pintu kamarnya. Dia membereskan sampah bekas cemilan Melody.


Lalu memasukkannya ke keranjang sampah yang berada di kamar itu, setelah itu dia langsung memasuki kamar mandi, melanjutkan niat awalnya.


Fariz menuruni tangga menuju ke meja makan, saat langkahnya nyaris sampai di dapur. Dia mendengar suara riuh yang dihasilkan dari suara cempreng Melody yang tengah bercerita pada orang-orang yang ada di meja makan.


"Malam semuanya," sapa Fariz dengan memasang senyuman saat memasuki ruang makan.


Semua orang yang ada di sana menghentikan obrolan mereka terlebih dahulu, saat melihat Fariz memasuki ruang itu.


"Gimana kabar kamu, Nak?" tanya wanita yang masih terlihat segar meski sudah menginjak usia 54 tahun, yang tidak lain adalah Alisha.


"Baik, Ma. Gimana dengan Mama dan Papa?" Fariz menarik kursi yang berada di depan Melody dan mendaratkan b*kongnya di sana.


"Kami baik juga," sahut Alisha.


"Sekarang sebaiknya kita mulai makannya," ucap Nevan.


Mereka semua mengangguk dan memulai acara makan malamnya, saat makam malam telah berlangsung, Alisha tiba-tiba saja menanyakan hal yang sama seperti biasanya, saat dia pulang ke rumah.


"Jadi, kapan kamu nikah Riz? Gimana udah nemu belum calonnya?" tanya Alisha di sela-sela makannya.

__ADS_1


"Fariz belum memikirkan masalah itu, Ma."


"Kamu sudah lebih dari cukup untuk berkeluarga loh, Riz. Kalau kamu gak nyoba, buat deket sama perempuan, gimana kamu kepikiran untuk berkeluarga."


"Kamu tidak bisa seperti ini terus, Riz. Kamu harus menikah agar ada yang ngurusin kamu nantinya," ucap Alisha panjang lebar.


"Sudah, Ma. Jangan paksa Fariz kayak gitu, nanti dia malah tertekan lagi," potong Nevan menatap Alisha.


"Aku hanya gak mau dia seperti ini terus, Pa. Gimana kalau nanti aku atau kamu udah gak ada, siapa yang bakal ngurusin dia coba?" sahut Alisha dengan wajah sedih.


Fariz mengerti keluarganya itu, ingin yang terbaik untuknya. Tapi, bagaimana bisa dia memulai sebuah hubungan jika hatinya saja tidak memiliki keinginan untuk itu.


Bukankah sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan baik akhirnya, dia tidak ingin memaksakan untuk melakukan hal yang tidak diinginkan oleh hatinya.


Dia tidak ingin ujung-ujungnya malah tidak hanya menyakiti dirinya, tapi juga pasangannya kelak, karena hubungan yang terjadi karena sebuah keterpaksaan.


"Gimana kalau Mama coba kenalkan kamu sama salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit tempat Mama kerja, dia sudah berumur 28 tahun, dia juga sama-sama masih singgel," tawar Alisha menatapnya dengan penuh harap.


"Tapi, Ma—"


"Kalau kamu memang tidak cocok dengannya, kamu tidak perlu memaksakan diri, yang penting sekarang kamu mencobanya dulu aja," potong Alisha yang semakin menatapnya dengan penuh harap.


"Sebaiknya kamu coba dulu aja Riz, kamu tidak perlu jadi orang lain. Cukup jadi diri kamu dan lihat apa wanita itu masih mau menerima kamu apa adanya, atau tidak nantinya," usul Aaric.


"Iya, kamu juga bisa mencoba membuka hatimu untuk itu, siapa tau kalian memang ada jodohnya." Kini Nevan yang ikut memberikan usulan.


Merasa tidak bisa membantah lagi, mau tidak mau Fariz pun mengangguk, setuju dengan hal itu. Dia tidak ingin mengecewakan keluarganya itu.


"Baiklah, nanti Fariz coba."


"Baguslah, nanti Mama atur kapan kalian bertemu ya," sahut Alisha dengan senang.


"Iya."


"Kamu nginep 'kan?" tanya Alisha.


"Tidak, Ma. Nanti setelah makan malam Fariz pulang ke apartemen," sahut Fariz, entah kenapa dia ingin pulang.


Padahal biasanya dia selalu menginap saat pulang ke rumah itu, tapi sekarang dia ingin pulang ke apartemennya.


"Kenapa?"


"Ada hal yang harus Fariz kerjakan," alibinya.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Alisha.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi antara mereka, hingga makan malamya selesai dan Fariz segera pamit untuk pulang pada semua orang.


__ADS_2