Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Setuju untuk Bertunangan.


__ADS_3

Hari ini setelah pulang kerja, Fariz pergi ke rumah Nevan karena Alisha memintanya untuk makan malam bersama.


Alisha mengatakan, jika ada yang ingin dia katakan padanya, Fariz terus bertanya hal apa yang ingin Alisha katakan padanya, dia berharap bukan tentang pembahasan antara hubungan dirinya dan Cindy.


Fariz menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Nevan, dia turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah yang cukup megah itu.


"Ma,"panggil Fariz saat melihat mamanya tengah duduk di sofa dengan televisi yang menyala di depannya.


"Kamu udah datang Riz," ucap Alisha sambil tersenyum padanya.


"Iya, apa Aaric gak ke sini?" tanya Fariz memperhatikan sekitar rumah itu yang sepi, biasanya jika ada Melody rumah pasti akan ramai.


"Tidak, mereka lagi berkunjung ke rumah orang-tua Kia," sahut Alisha.


"Oh pantesan sepi," sahut Fariz. "Aku mau mandi dulu ya, Ma."


"Iya nanti turunlah untuk makan malam," ucap Alisha.


"Iya." Fariz pun kembali melangkah menuju ke kamarnya.


"Kira-kira dia akan setuju tidak ya?" tanya Alisha pada dirinya sendiri.


"Setuju apa, Ma?" tanya Nevan yang tiba-tiba sudah berada di belakang sofa tempat Alisha duduk.


"Pa, sudah pulang? Kok gak kedengaran suara mobilnya," ucap Alisha bangun dari duduknya dan mencium tangan Nevan.


"Mamanya aja yang terlalu sibuk melamun, hingga tidak mendengarnya," sahut Nevan.


"Iya, maaf tadi lagi gak fokus," ucap Alisha terkekeh.


"Emang ngelamunin apa sih, sampai serius seperti itu?" Nevan menatap istrinya itu dengan heran.


"Mikirin Fariz, kira-kira nanti dia bakal setuju gak ya, sama apa yang akan mama sampaikan."


"Apa kamu bena-benar akan meminta hal itu pada Fariz?" tanya Nevan ada keraguan dalam hantinya.


Dia yang sudah mengalami bagaimana pernikahan yang semula dipaksakan, jadi takut itu tidak berjalan baik untuk anak angkatnya.


"Kalau gak gini harus gimana lagi Pa, seandainya Fariz saat ini sudah memiliki orang yang apesial menurutnya, mana mungkin mama ambil keputusan sendiri seperti ini, jadi hanya Cindy wanita yang saat ini bisa menjadi pasangannya, menurutku dia wanita yang cocok untuk anak itu," sahut Alisha.


"Tapi bagaimana jika ternyata Fariz sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun pada wanita pilihan kamu itu—"

__ADS_1


"Papa lupa bagaimana hubungan kita dulu, bahkan dulu Papa memiliki kekasih saat kita menikah, tapi ujung-ujungnya kita bisa bersama sampai saat ini. Apalagi Fariz dan Cindy, mereka tidak memiliki orang lain di hati mereka, jadi hanya butuh waktu untuk mereka menerima satu sama lainnya," ucap Alish yang memotong ucapan suaminya.


Mendengar ucapan Alisha, Nevan kembali teringat tentang bagaimana perlakuan dirinya pada wanita yang telah menemaninya hingga saat ini.


Jika ditanya menyesal, tentu saja rasa itu sampai saat ini masih terus singgah di hatinya, dia menyesal telah menyakiti istrinya di masa lalu.


Alish yang sadar jika ucapannya itu membuat Nevan tak enak hati pun, langsung menggenggam tangan Nevan dia tersenyum pada Nevan yang tengah menatapnya dengan sedih.


"Maaf bukan maksud aku untuk ngungkit tentang masalah itu, rasa sakit dulu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang aku miliki hingga saat ini," ucap Alish dengan senyuman teduhnya.


"Maaf karena dulu telah menyakitimu tanpa ampun," ucap Nevan tatapan menyesal masih jelas terlihat dari pancaran matanya itu.


"Tapi kamu sudah mengobati rasa sakit itu dengan kebahagiaan yang berkali-kali lipat, hingga sekarang aku sudah lupa sama rasa sakit itu," ucap Alish yang langsung menghamburkan dirinya pada pelukan Nevan.


"Terima kasih karena kamu mau menerima aku kembali, aku tidak tau bagaimana hidupku jika dulu kamu tidak menerimaku lagi dan memberikan aku kesempatan itu," ucap Nevan membalas pelukan Alish.


"Aku mencintaimu dari sebelum kita kenal, bisa bersamamu hingga saat ini adalah kebahagiaan terbesarku," sahut Alisha.


Pasangan paruh baya itu, berpelukan layaknya pasangan muda yang baru saja mengenal yang namanya jatuh cinta, mereka berpelukan tanpa memperhatikan di mana posisi mereka saat ini.


"Ekhem." Fariz yang sedang menuruni tangga, sengaja berdehem untuk menyadarkan pasangan itu agar tau tempat untuk bermesraan.


"Fariz kamu sudah selesai mandinya," ucap Alish yang langsung menjauhkan dirinya dari Nevan.


"Ayo kita tunggu di meja makan, biar Papa kamu bersih-bersih dulu," ucap Alish yang langsung pergi ke meja makan karena merasa canggung.


"Kamu ganggu aja sih, Riz," ucap Nevan menatap Fariz dengan tatapan malas.


"Ini bukan kamar kalian, Pa. Jadi siapa saja bisa bisa datang ke sini," sahut Fariz menyindir secara halus.


"Ya udah papa mau bersih-bersih dulu," ucap Nevan yang langsung pergi dari sana.


Fariz menghela napas dalam-dalam saat Nevan dan Alish sudah tidak terlihat lagi, barusan dia mendengar percakapan antara orang-tua angkatnya dan dia semakin tidak memiliki pilihan lain.


Pria itu mulai melangkahkan kakinya menuju ke meja makan, mereka menunggu Nevan dengan hening, sampai Nevan datang ke meja makan dan mereka pun memulai makan malamnya.


Saat makan malam selesai, Alish meminta Nevan dan Fariz untuk kembali ke ruang keluarga, mereka pun duduk di sofa ruang keluarga dengan tenang.


Fariz sudah mempersiapkan hatinya untuk apa yang akan didengarnya dari mamanya itu. Dia terus meyakinkan dirinya, jika semua pasti akan baik-baik saja.


"Riz mama akan langsung ke intinya saja, kamu mau, kan bertunangan dengan Cindy, kalian kenal sudah setahun, itu sudah cukup untuk pendekatan," ucap Alish menatap Fariz dengan serius.

__ADS_1


Fariz hanya diam, dia tidak langsung menjawab pertanyaan itu dan menatap Alisha dengan intens, dia berusaha sebaik mungkin memasang wajah tenang, mengabaikan perasaan tidak nyaman yang timbul di hati.


"Kamu setuju kan, Nak?" Alish menatap Fariz yang masih diam dengan penuh harap.


"Iya Ma, Fariz mau," jawab Fariz dengan wajah tenangnya.


"Beneran kamu mau?" tanya Alish dengan antusias.


"Iya, Ma. Cindy wanita yang baik, meskipun saat ini Fariz belum sepenuhnya membuka hati untuk dia, tapi Fariz yakin lambat laun Fariz akan bisa membuka hati sepenuhnya," ucap Fariz tersenyum tipis.


"Kamu yakin, Riz?" tanya Nevan yang tidak yakin dengan jawaban Fariz itu.


"Yakin, Pa. Fariz sudah dewasa, sudah saatnya untuk Fariz memiliki pendamping." Fariz mengangguk mantap.


"Kamu tidak merasa terpaksa?" tanya Nevan lagi masih berusaha meyakinkan Fariz.


"Tidak Pa," sahut Fariz menggeleng dengan wajah yang tanpa beban sama sekali.


Alish senang dengan hal itu, awalnya dia mengira jika Fariz akan menolaknya lagi, tapi anak angkatnya langsung menerima semua itu begitu saja.


Dia jadi berpikir, jika Fariz menerima permintaannya begitu saja, pasti karena Fariz sudah mulai memiliki perasaan pada Cindy, meskipun dia tidak mengatakannya secara blak-blakan.


"Pa, Fariz sudah setuju," ucap Alish dengan senang.


"Baiklah, kalau gitu besok kita ke rumah orang tua Cindy untuk membahas masalah ini dengan lebih serius lagi," ucap Nevan pasrah.


"Iya, Pa. Biar mama hubungi Cindy dulu ya, untuk memberitahu kabar ini," ucap Alish yang langsung bangun dengan antusias, pergi mengambil ponselnya yang ada di kamar.


Melihat raut bahagia di wajah Alisha, Fariz tersenyum tipis, sedangkan Nevan masih menatap Fariz dengan seksama, sementara Fariz tetap memasang wajah tenangnya itu.


"Kamu jangan memaksakan diri kamu," ucap Nevan.


"Fariz tidak memaksakan diri, apa yang Fariz katakan tadi adalah yang sebenarnya," sahut Fariz tanpa ragu.


Nevan kembali menghela napas pasrah mendengar jawaban dari Fariz itu, dia kemudian bangun dari sofa dan akan pergi menyusul Alish ke kamarnya.


"Papa harap, kamu tidak menyesalinya suatu saat nanti." Nevan menepuk pundak Fariz dan meninggalkan Fariz yang masih betah dengan posisinya.


"Aku tidak akan menyesalinya," gumamnya dengan menerawang jauh ke sembarang arah, mencoba meyakinkan hatinya, jika dia tidak akan menyesal.


Sementara di tempat lain, saat ini Ami tengah duduk di ranjang dengan menggenggam dress dan tongkat yang Fariz berikan padanya, entah kenapa saat ini hatinya merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Mas, kita pasti akan bertemu lagi, kan?" gumam Ami tersenyum dengan tatapan terpaku pada dress dan tongkat di tangannya.


__ADS_2