
Saat tengah asyik menumpahkan segala kesedihan dalam dirinya, tiba-tiba saja Ami merasakan usapan yang teramat lembut di pundaknya semula, kini telah berpindah ke pipinya.
Mengusap pipinya yang telah basah oleh air mata itu dengan lembut, hingga membuatnya terasa nyaman, secara perlahan wajahnya terangkat dan usapan itu berpindah lagi ke pipi sebelahnya.
"Apa kamu sudah puas?" tanya Fariz yang langsung dijawab gelengan oleh Ami.
Dia belum merasa puas, selama ini dia selalu menangis dalam diam, menangis di dalam kamarnya sendirian dan bersikap seolah dia sedang baik-baik saja saat keluar dari kamarnya.
"Baiklah kalau gitu, ayo kita berpindah tempat, aku akan meminjamkan bahuku untukmu malam ini," ajak Fariz bangun dari kursinya dan menarik tangan Ami dengan lembut.
"Ke-ke mana, Mas?" tanya Ami terputus-putus.
Dia mengikuti langkah Fariz yang sedang menarik tangannya, entah akan dibawa ke mana.
"Masuk ke dalam, di sini semakin dingin," sahut Fariz sambil terus berjalan.
Ami hanya menurut, dia terus melangkah mengikuti langkah Fariz yang menuntunnya, pria itu membawa Ami memasuki kamarnya dan keluar dari kamar itu, lalu menuju ke ruang tengah.
"Sekarang kamu bisa menangis sepuasnya, malam ini aku akan meminjamkan bahuku untuk kamu basahi dengan air mata dan aku akan menonton," ucap Fariz saat mereka sudah duduk di sofa dengan berdampingan.
"Ta-tapi, Mas." Ami merasa canggung karena mereka terlalu dekat, bahkan tidak ada lagi jarak antara mereka.
"Cepatlah,seen sebelum aku berubah pikiran." Fariz menarik paksa tubuh Ami, agar bersadar padanya.
Ami pun akhirnya tidak punya pilihan, dia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Fariz. Namun, kini bukan rasa sedih yang terasa seperti sebelumnya, melainkan Jantungnya yang berdebar.
Sementara Fariz, sibuk mengalihkan chanel di televisi, mencari siaran yang menarik. Dia sesekali melihat ke arah Ami yang terlihat mulai nyaman dengan posisinya itu.
"Mas," panggil Ami.
"Hemmm."
__ADS_1
"Apa yang Mas, rasakan dulu saat mama Mas pergi?" tanya Ami sambil memejamkan matanya, menikmati aroma parfum dari baju yang Fariz kenakan.
"Tentu saja sedih," sahut Fariz dengan tatapan lurus pada layar televisi di depannya.
"Mas, pasti merasa beruntung karena pernah merasakan dirawat dan disayangi oleh seorang ibu," ucap Ami.
"Ya, aku sedikit lebih beruntung darimu yang tidak pernah merasakan rasanya kasih sayang seorang ibu," sahut Fariz terus terang.
"Apa mamaku akan membedakan rasa sayangnya padaku dan kakaku, jika seandainya dia masih ada?"
"Seorang ibu, tidak akan pernah membedakan kasih sayang mereka terhadap anak-anaknya, mereka akan memberikan kasih sayang yang sama rata pada setiap anaknya."
"Seandainya mama masih ada, pasti aku akan lebih bahagia lagi."
"Apa kamu tidak bahagia dengan kehidupanmu sekarang?"
"Aku bahagia, apalagi aku memiliki Papa yang hebat, tidak hanya berperan sebagai ayah, tapi dia juga selalu berusaha berperan sebagai ibu juga untukku," sahut Ami yang mulai tersenyum.
Ami yang baru saja membicarakan soal papanya, jadi merasa rindu pada papanya itu, dia bertanya-tanya dalam hati, apakah pria itu mencarinya saat ini.
Apa papanya itu, istirahat dengan cukup, makan dengan baik dan meminum obat secara teratur, apa kakak dan papanya itu sering ribut atau tidak.
Mengingat bagaimana sikap kakanya, hingga menyebabkan dia dan papanya sering cek-cok, tapi dia selalu berdoa agar papanya selalu baik-baik saja.
Dia juga berharap agar kakaknya tidak membuat masalah, hingga membuat papanya setres atau marah yang berlebihan dan dapat memicu penyakitnya jadi kambuh.
"Apa kamu membenci kakakmu atas apa yang telah dia lakukan padamu selama ini?" tanya Fariz menyadarkan Ami dari lamunannya.
"Tidak," sahut Ami singkat.
"Kenapa kamu tidak membencinya?" tanya Fariz dengan heran.
__ADS_1
"Karena aku tidak bisa membencinya, aku hanya selalu merasa sedih setiap kali dia berbuat jahat padaku," jawab Ami apa adanya.
"Tapi, sesekali kamu tidak boleh diam saja, saat dia melakukan hal yang jahat padamu lagi, kalau kamu diam terus. Dia malah akan semakin senang dan terbiasa melakukan hal buruk padamu," ucap Fariz.
"Ya, mungkin nanti aku akan berusaha melawan," sahut Ami sekenanya.
Mendengar jawaban tidak memuaskan dari Ami, Fariz mencebikkan bibirnya dan memutar matanya malas.
"Mas, kalau mama, Mas Fariz sudah meninggal, terus di mana papa Mas?" tanya Ami yang baru teringat, jika pria itu hanya bercerita tentang ibunya saja. namun, tidak dengan ayahnya.
"Tidak tau, sudah meninggal mungkin," kini giliran Fariz yang menjawab sekenanya.
"Loh, kok mungkin sih Mas, emang Mas belum pernah ketemu sama papa Mas, lagi gitu?" Kini giliran Ami yang tidak puas dengan jawaban pria itu.
"Belum dan aku tidak ingin bertemu dengannya!" Fariz merubah nada bicaranya menjadi lebih tegas dari sebelumnya.
"Kenapa?" tanya Ami yang malah semakin penasaran.
"Jangan membahas masalah itu, aku tidak suka jika ada yang membahas tentangnya!" tegas Fariz membuat Ami langsung mengunci mulutnya.
"Maaf Mas!" lirih Ami menyesal.
"Tidak apa-apa, lupakan saja tentang pembahasan ini," sahut Fariz yang tudak ingin membahas tentang pria itu.
Dia selalu emosional saat ada yang menyinggung tentang ayah kandungnya itu, ayah yang meninggalkan dirinya begitu saja saat ibunya sedang sakit parah dan meninggalkannya seorang diri.
Ami pun tidak berbicara lagi dan masih bertahan dengan posisi nyamanannya itu, bersandar pada bahu Fariz yang menopang kepalanya dengan kokoh.
Semakin lama dia semakin nyaman dengan posisi itu dan tidak ingin waktu berlalu dengan cepat, baru kali ini dia merasakan sebuah kenyamanan yang benar-benar bisa membuatnya enggan untuk terlepas dari rasa itu.
Rasa nyaman, aman, dan tenang seperti saat dirinya sedang berada di dekat papanya dulu. Dia tidak tahu kapan dan di mana dia akan merasakan kenyamanan seperti itu lagi, kelak jika dia kembali ke keluarganya, mungkin dia dan Fariz akan seperti orang asing seperti sebelumnya.
__ADS_1
Seandainya aku bisa memilih, aku tidak ingin waktu itu tiba, waktu dimana aku dan kamu akan kembali menjalani hidup masing-masing, seperti dua orang asing.