
"Udahan yuk, kakak capek nih. Sudah siang juga jadi tambah panas!" teriak Ami pada anak-anak yang lainnya dengan napas yang sudah ngos-ngosan.
Dia merasa capek, meskipun dia hanya diam menunggu bola datang, tapi mulutnya tidak berhenti berteriak dan tertawa, hingga lumayan menguras tenaga dan energinya.
Ami memutuskan untuk duduk berselonjoran di teras panti, cuaca sudah mulai terik hingga dia pun duduk diikuti oleh anak-anak lain di lantai tanpa pakai alas apa pun, agar lebih sejuk.
"Ini minumlah, untuk menghilangkan dahaga, cuaca hari ini sangat panas," ucap Neti yang diikuti oleh pembantu di sana. Dengan nampan yang berisi minuman dingin yang mereka bawa.
"Ini, Nak. Minumlah dulu," ucap Neti memberikan segelas minuman pada Ami.
"Terima kasih, Bu." Ami menerima gelas itu dan mulai menegak minumannya itu, hingga tersisa setengahnya.
"Bu, kalau boleh aku tau, Nino sudah berapa lama di sini, apa dia di sini dari bayi?" tanya Ami pada Neti yang tengah duduk di sampingnya.
"Iya, Nino di titipkan di sini semenjak dia bayi, ibu Nino adalah wanita yang memiliki keterbelakangan mental, orang yang mengantarkan Nino ke sini adalah tetangga ibu kandung Nino, mereka mengatakan ibunya harus dibawa ke rumah sakit jiwa, jadi menitipkan Nino di sini," terang Neti.
"Apa selama ini tidak ada keluarganya yang mencoba untuk mencarinya?" tanya Ami lagi.
"Tidak, dulu tetangganya bilang, jika orang-tua Nino adalah pendatang di tempat itu, selama mereka tinggal di tempat itu, tidak pernah ada sanak saudara dari ke-dua orang-tua Nino yang berkunjung."
"Ayahnya ke mana?"
Neti menggelengkan kepalanya lalu kembali berucap, "Ayah kandung Nino tidak pernah pulang lagi, semenjak ibunya mengandung anak itu, mungkin karena itu juga, ibunya Nino jadi memiliki keterbelakangan mental, bahkan beberapa jam setelah Nino dilahirkan, anak itu nyaris meninggal di tangan ibunya, beruntung saat itu ada tetangganya yang berniat menengok dan memergokinya hingga Nino bisa terselamatkan."
"Jadi itu alasannya, kenapa Nino dititipkan ke sini?" tanya Ami menatap Nino yang tengah memakan cemilan bersama teman-temannya dengan iba.
"Iya, tetangganya khawatir ibunya akan melakukan hal yang berbahaya lagi untuk anak itu, jadi mereka menitipkannya ke sini dan membawa ibunya ke rumah sakit jiwa."
__ADS_1
"Apa semua anak-anak di sini memiliki kisah-kisah yang memilukan seperti itu?" tanya Ami dengan sedih membayangkan, jika anak-anak yang kini tengah bercanda dan tersenyum tanpa beban itu, memiliki kisah hidup yang memilukan sebelumnya.
"Iya, setiap anak datang ke sini dengan ceritanya masing-masing, tapi Ibu merasa beryukur saat ini mereka sudah mulai kembali bangkit dan mencoba melepaskan bayang-bayang masa lalu, hidup dengan normal, contohnya Via," ucap Neti tersenyum menatap anak-anak asuhnya yang berjumlah 20 orang lebih itu.
"Via anak terbesar di sini?" tanya Ami.
"Sekarang iya, tapi dulu ada dua orang yang lebih besar dari Via, tapi mereka sudah tidak ada."
"Ke mana?"
"Mereka sudah meninggal, dulu ibu tidak dapat memberikan mereka pengobatan yang layak, hingga akhirnya mereka pergi karena penyakitnya itu, kalau mereka masih ada mungkin sekarang sudah berumur 18 sama 19 tahun," terang Neti dengan wajah yang sedih.
"Bagaimana dengan kisah Via?" tanya Ami yang penasaran dengan kisah gadis itu.
"Via ke sini saat dia berumur tujuh tahu, dia sering mendapatkan kekerasan juga dari ayah tirinya, dia mengatakan jika ibunya sudah meninggal setahun sebelum dia memutuskan untuk kabur dari rumahnya, saat datang ke sini gadis itu benar-benar dalam keadaan kacau. Dia juga mengatakan jika dia hampir saja dilecehkan ayah tirinya, hingga akhirnya dia pun berhasil kabur," terang Neti.
"Apa dia mengalami masalah dengan pendengarannya dari semenjak lahir?"
"Sampai sekarang dia tidak berani pergi terlalu jauh dari panti, sepertinya trauma saat dia mendapatkan perlakuan buruk itu, telah mempengaruhi dirinya, hingga saat ini, meskipun dia terlihat sudah baik-baik saja," sambung Neti lagi.
Ami yang mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Neti, tentang bagaimana kisah anak-anak itu, hatinya terasa ngilu, mendengar hal itu, bagaimana bisa anak yang begitu rapuh dan rentan itu mendapatkan perlakuan seperti itu.
Terlebih lagi, orang yang melakukan tindakan buruk, hingga menimbulkan trauma pada diri anak-anak itu, adalah orang terdekat mereka, orang yang seharusnya menjadi pelindung untuk mereka.
Di saat Ami dan Neti sedang sibuk dengan obrolan mereka, Nino yang sedang duduk bersama teman-temannya, langsung berdiri, dia menatap dengan wajah bahagia ke arah gerbang panti.
Tak lama kemudian dia pun pergi dari tempatnya semula, berjalan dengan langkah cepat, melihat hal itu, Ami mengerutkan kening heran dengan apa yang terjadi pada anak itu.
__ADS_1
"Kenapa Nino?" tanya Ami sambil melihat ke arah yang dituju oleh anak itu.
Mata Ami menatap tak percaya pada orang yang tengah berjongkok di depan gerbang, saling berhadapan dengan Nino yang membalakanginya.
Bagaimana bisa pria itu ada di sini, pria yang beberapa hari lalu dia temui di acara pertunangannya. Dan Nino tersenyum lebar padanya, menyambutnya dengan antusias seperti dua orang yang sudah dekat sebelumnya.
"Itu pria yang selalu datang ke sini juga, dia adalah orang yang sangat dekat Nino, mungkin karena Nino dan dia memiliki kekurangan yang serupa, hingga mereka cepat dekat," terang Neti pada Ami yang kini tengah menatap Fariz tanpa berkedip.
"Oh, siapa namanya Bu?" tanya Ami yang kini sudah memalingkan wajahnya pada Neti.
"Namanya Aris," jawab Neti.
"Oh." Ami mengangguk paham.
"Ibu mau nyamperin dia dulu ya," pamit Neti pada Ami.
"Iya, Bu."
Neti mulai bangun dari duduknya, kemudian dia berjalan ke arah Fariz dan Nino yang masih berinteraksi di depan gerbang, Fariz langsung berdiri saat Neti mendekatinya, dia kemudian tersenyum pada wanita lanjut usia itu.
Ami terus memperhatikan dari jauh, bagaimana ekspresi wajah pria itu, kini wajah kaku nan dingin yang dia lihat beberapa waktu lalu, tidak kentara lagi. Yang ada hanyalah wajah ramah.
Tak lama kemudian, ke-tiga orang yang beda generasi itu, mulai melangkah menuju ke teras mendekat ke arahnya, Ami segera menyadarkan dirinya dari lamunannya berusaha bersikap biasa saja.
"Oh iya, Nak Aris ini adalah Nak Ami," ucap Neti yang memperkenalkan dirinya dan Fariz, saat mereka sudah saling berhadapan.
"Ami," ucap Ami mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Sama seperti sebelumnya saat di acara pertunangan, Fariz tidak menerima uluran tangannya itu, dia hanya mengangguk samar, dengan ekspresi wajah yang sudah berubah tidak seramah sebelumnya.
Ami menarik kembali tangannya, dia memasang senyum kaku, antara malu dan kesal karena sudah dua kali pria di depannya itu mengabaikan uluran tangannya itu.