
"Non Ami, Tuan sama Non Zoya, sudah menunggu Non untuk makan bersama," ucap Tini dari luar kamar Ami.
"Suruh mereka makan duluan saja Bi, Ami belum lapar!" sahut Ami dari dalam kamar dengan sedikit berteriak.
"Tapi Non, mereka khawatir karena Non Ami belum makan dari tadi pagi," ucap Tini lagi.
"Nanti Ami akan makan kalau sudah lapar Bi," sahut Ami lagi.
"Non jangan seperti ini, Bibi mohon, Non makan ya, jangan menyiksa diri Non seperti itu, kalau sampai Non sakit gimana," ucap Tini masih berusaha membujuk Ami.
Akhirnya tidak lama kemudian, pintu kamar nona-nya itu terbuka, Ami menampakkan dirinya, keluar dari kamar, membuat Tini menghela napas lega.
Ami sudah dua hari mengurung dirinya di kamar, tidak mau menemui siapa pun, bahkan selama dua hari itu, dia hanya makan sekali saja, itu pun Tini yang memaksanya.
"Syukurlah Non, Non mau keluar juga, ayo makan Non," ucap Tini tersenyum pada Ami.
Dia menghawatirkan kondisi Ami yang terlihat pucat, efek dari jarang makan dan mengurung dirinya terus di kamar.
"Iya, Bi," sahut Ami memasang wajah datarnya, tidak ada lagi senyum seperti biasa yang selalu dia tunjukkan, pada Art yang sudah mengurusnya dari kecil itu.
Ami berjalan menuju ke meja makan, saat sampai di meja makan, dia langsung mendudukkan dirinya, tidak menyapa Denis dan Zoya yang tengah menatapnya dengan heran.
"Kamu sakit, Mi?" tanya Denis berusaha membuka percakapan.
"Tidak," sahut Ami singkat, tanpa melihat papanya, dia mulai sibuk mengambil makanannya.
"Kamu yakin?" tanya Denis yang khawatir karena dapat melihat, jika wajah Ami sedikit pucat.
"Ya."
Denis hanya menghela napas dalam, mendapat jawaban singkat dari anaknya itu, akhirnya dia tidak berbicara lagi dan fokus pada makanannya.
Beberapa menit kemudian, Ami berdiri dari tempat duduknya, dia meminum air di gelasnya dan menggeser kursi bermaksud untuk kembali ke kamarnya.
"Mau ke mana?" tanya Denis menatap Ami dengan kening mengerut.
"Aku mau ke kamar," sahut Ami sambil melangkah.
__ADS_1
"Tapi kamu baru makan sedikit," ucap Denis, berusaha menahannya karena melihat di piring Ami masih tersisa banyak makanan.
"Aku sudah kenyang," sahut Ami lagi.
"Zamira! kembali ke tempat dudukmu dan makan dengan benar!" Suara lantang Denis membuat Ami menghentikan langkahnya.
Ami kemudian membalikkan badan menatap papanya, bukan untuk kembali ke meja makan melainkan untuk membicarakan sesuatu dengan Denis.
"Besok Ami akan mencari pekerjaan," ucap Ami membuat Denis membulatkan matanya.
"Kamu mau kerja apa?"
"Apa saja," sahut Ami.
"Kenapa harus bekerja, bukankah papa selalu memberikan uang jajan untukmu tiap bulannya," ucap Denis menatap Ami dengan serius, dia tidak setuju dengan apa yang Ami katakan itu.
"Aku butuh suasana baru Pa, aku tidak mungkin berdiam diri terus di rumah seperti ini, aku ingin mencari kegiatan yang bisa mengalihkan pikiranku," terang Ami, menghela napas panjang.
"Baiklah, jika itu memang keputusanmu, tapi jika kamu tidak nyaman bekerja, jangan dipaksakan," sahut Denis pasrah, membuat Ami mengangguk.
"Papa tidak salah, bukan Papa juga yang seharusnya minta maaf." Ami menatap Zoya yang tengah asyik dengan makanannya.
Sementara Zoya yang sadar, jika Ami sedang menyindirnya tidak ambil pusing.
"Zoya minta maaf pada adikmu," ucap Denis pada Zoya yang masih memasang wajah santainya.
"Maaf," ucap Zoya tanpa minat, menatap Ami sekilas dan melanjutkan lagi makan malamnya.
"Zoya!" bentak Denis menatap Zoya dengan tegas.
Zoya menghentikan makannya dan langsung berdiri, kemudian menyimpan sendok di piring dengan kasar, hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring, dia kembali menatap papanya dan Ami bergantian sambil mencebikkan bibirnya.
"Maaf! Apa kamu puas? Atau kamu mau aku pakai pengeras suara untuk mengatakan hal itu, agar dapat didengar dengan jelas oleh telinga kecilmu itu," ucap Zoya yang langsung pergi dari meja makan dengan menggeser kursi secara kasar.
Melihat hal itu Denis hanya bisa menghela napas lelah, anak pertamanya masih saja tidak berubah, meskipun dia sudah memiliki anak, tapi hal itu tidak dapat merubah prilakunya.
"Ami ke kamar dulu Pa," pamit Ami yang juga melangkah meninggalkan Denis yang tengah mengurut pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Tini yang baru datang dari arah dapur.
"Saya baik-baik saja, Bi. Saya hanya bingung saja dengan sikap Zoya yang masih belum berubah," ucap Denis.
"Tuan yang sabar saja, saya yakin Non Zoya pasti akan berubah cepat atau lambat," ucap Tini sambil mulai membereskan meja makan.
"Apa saya salah Bi, kalau meminta Ami untuk meninggalkan pria itu, Ami terlihat berat melepaskan pria itu," ucap Denis yang kembali memikirkan Ami.
"Menurut saya anda tidak salah Tuan, jika pria itu memang akan menikah lebih baik Non Ami tidak berhubungan lagi dengannya, meskipun saat ini Non Ami terlihat berat, tapi secara perlahan Non Ami pasti akan mulai melupakan pria itu," terang Tini lagi.
"Iya semoga saja dia segera melupakan perasaannya pada pria itu, padahal jika dipikir-pikir Rayyan juga baik, dia juga dekat dengannya, tapi kenapa dia malah mencintai pria yang jelas-jelas sudah memiliki pasangan, ya meskipun pria itu sudah menolongnya."
"Namanya juga cinta Tuan. Cinta, kan kadang tidak tau tempat dan situasi, buktinya Tuan sendiri, setelah almarhum nyonya meninggal, Tuan juga tidak mencoba menjalin hubungan lagi dengan wanita lain," sahut Tini sambil terkekeh.
"Saya tidak ingin ada wanita lain yang menggantikan mama mereka, lagian hidup sendiri seperti ini cukup nyaman," sahut Denis.
"Ya, nyonya memang tidak akan ada duanya," sahut Tini yang memang sudah mengenal almarhum ibunya Ami dari saat dia masih muda.
...*****...
Ami yang sudah sampai di kamar segera menjatuhkan dirinya di kasur empuk miliknya, kamar itu kini terlihat seperti habis diterpa badai, berantakan tidak terkendali.
Selama dua hari dia menghabiskan waktunya di kamar. Yang dilakukannya hanya menonton, membaca novel dan ujung-ujungnya, dia pasti akan nangis lagi, saat baca novel atau nonton ada bagian sedihnya.
Ujung-ujungnya, dia kembali teringat pada kejadian dua hari yang lalu dan tentang kisah cintanya yang harus kandas, padahal baru beberapa bulan itu.
"Bagaimana kabar kamu sekarang Mas? Apa kamu baik-baik saja, pasti kamu baik-baik saja, kan? Apalagi ada Mbak Cindy yang jagain kamu," gumam Ami yang mulai melamun lagi.
Suara dering ponselnya, membuat atensinya teralihkan pada ponsel itu, masih dengan gerakan malas dia mengambil benda pipih itu dan segera mengangkat telepon itu.
"Beneran ada lowongan?" Ami sedikit bersemangat mendapatkan kabar dari temannya yang mengatakan, jika ada lowongan pekerjaan untuknya, di tempat kerja temannya itu.
"Baiklah besok aku akan datang ke sana, terima kasih ya udah bantuin aku, sampai ketemu besok."
Ami menyimpan ponselnya saat sambungan telepon itu terputus, dia merasa senang karena dia akan segera bekerja, dia berharap dengan bekerja akan membuat dirinya sedikit demi sedikit, melupakan tentang masalahnya itu.
"Mudah-mudahan dengan kesibukanku bekerja nanti, secara bertahap bisa buat aku lupa tentang masalah ini," gumam Ami diiringi helaan napas panjang.
__ADS_1