
"Oh iya Vi, umur kamu berapa tahun?" tanya Ami.
"Via 15 tahun, Kak," sahut Via.
Ami pun menganggukkan kepalanya dan kembali fokus memperhatikan anak-anak lainnya.
Saat tengah memperhatikan setiap anak panti yang sedang asik bermain, pandangan Ami teralihkan pada seorang anak yang sedang duduk menyendiri di ayunan yang terletak di halaman.
Anak itu terlihat melihat ke sembarang arah dengan tatapan kosong, di saat anak-anak lain tengah asyik bermain, anak itu malah asyik dengan kesendiriannya.
"Kenapa anak itu tidak ikut bermain?" tanya Ami pada Via, sebelum bicara dia menepuk lengan gadis itu agar melihatnya.
"Dia beberapa hari ini selalu murung, karena orang yang selalu datang ke sini dan cukup dekat dengannya sudah lama tidak pernah datang," terang Via.
"Bolehkah aku ke sana?"
"Boleh Kak, ayo." Via mengangguk setuju dan berjalan ke arah ayunan.
Mendekati seorang anak laki-laki yang tengah asyik melamun, bahkan anak itu tidak menyadari kedatangan Ami dan Via.
"Nino, kenapa kamu tidak ikut main dengan teman-teman kamu?" tanya Via membuat anak bernama Nino itu mengangkat kepala dan melihatnya dan Ami bergantian.
Nino hanya menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban dari pertanyaan Via itu.
"Kenapa, apa ada yang jahatin kamu?" tanya Via lagi.
Aku sedang tidak ingin bermain saja, jawab Nino dengan menggunakan isyarat tangannya.
Melihat isyarat dari Nino itu, Ami langsung paham, jika anak di depannya itu adalah anak yang tidak bisa bicara.
"Terus kamu kenapa melamun di sini, kenapa gak istirahat di dalam saja, di sini sudah mulai panas," ucap Via lagi.
Nino kembali menggelengkan kepala, Via hanya menarik napas dan tidak bicara lagi.
"Hai, Nino. Kenalkan nama kakak Ami," ucap Ami yang berinisiatif memperkenalkan dirinya pada Nino dengan mengulurkan tangannya.
Nino hanya diam, menatap wajah dan tangan Ami secara bergantian, seolah ragu untuk menyambut uluran tangan itu.
"Nino kenapa diam saja, Kak Ami mau berkenalan tuh sama Nino," ucap Via.
Nino pun mulai mengangkat tangannya dan menerima uluran tangan Ami dengan singkat, lalu menarik tangannya lagi.
"Kakak temani kamu di sini ya," ucap Ami yang dijawab anggukan samar dari Nino.
__ADS_1
Mendapat persetujuan dari Nino, Ami pun tersenyum dan mendudukkan dirinya di ayunan yang ada di sebelah Nino.
"Via, kalau kamu mau ke dalam, masuk saja, aku mau di sini aja sama Nino," ucap Ami pda Via.
"Baiklah, Kak. Via mau lihatin anak-anak yang lain dulu ya," ucap Via.
"Iya pergilah," ucap Ami.
Via mulai melangkah pergi dari hadapan Ami dan Nino, dia memperhatikan Ami dan Nino dari terasa panti sambil memperhatikan anak-anak lainnya.
"Umur kamu berapa tahun?" tanya Ami membuka kembali percakapan.
Nino mengangkat kedua tangannya dan memperlihatkan sembilan jarinya pada Ami, Ami kembali mengangguk dan tersenyum, mendapatkan jawaban itu.
"Kamu mau gak jadi teman kakak? Kakak sebenarnya tidak banyak teman, jadi kakak selalu merasa kesepian," cerita Ami.
Nino menatapnya tak percaya, seolah meragukan perkatannya itu, melihat tatapan meragu dari Nino, Ami kembali tersenyum.
"Beneran loh, kakak gak punya banyak teman, kamu tau gak? Sebenarnya dulu kakak tidak bisa melihat, jadi sekarang kakak gak punya banyak teman," cerita Ami lagi dengan memasang wajah sedih.
Nino memberikan isyarat dengan tangannya, bertanya sejak kapan Ami kembali bisa melihat lagi.
"Baru setahunan, kakak bisa melihat lagi," sahut Ami. Nino pun mengangguk mengerti.
"Kamu kenapa duduk di sini sendirian?" tanya Ami.
"Siapa?"
Orang yang sudah aku anggap om ku sendiri.
"Oh." Ami menganggukkan kepalanya mengerti. "Apakah dia sudah lama tidak berkunjung ke sini?" sambung Ami penatap Nino yang juga tengah menatapnya.
Nino menganggukkan kepalanya, Ami pun menggut-manggut mengerti.
"Mungkin saat ini dia sedang sibuk, jadi dia belum sempat ke sini lagi," ucap Ami berusaha menghibur Nino yang terlihat sangat merindukan orang itu.
"Apa dia begitu baik padamu?" tanya Ami yang tiba-tiba menjadi penasaran.
Nino menganggukkan kepalanya dengan antusias, dia kemudian menggerakkan tangannya lagi sebagai isyarat dan Ami memperhatikan gerak tangan Nino itu dengan serius.
Iya, dia sangat baik padaku dan pada semua orang di sini. Dia juga sama sepertiku, jadi aku lebih nyaman saat berada di dekatnya.
Ami kembali menganggukkan kepala, dalam benaknya dia berpendapat, jika pria yang Nino anggap sebagai om-nya itu adalah pria yang tidak dapat bicara seperti Nino, itulah kenapa Nino tampak sangat dekat dengannya.
__ADS_1
"Kamu jangan sedih lagi, ya. Kakak yakin dia pasti akan mengunjungimu lagi." Ami tersenyum dan mengusap kepala Nino dengan lembut.
Kak, maukah kakak jadi teman Nino?
Ami melihat mata Nino yang menatapnya dengan tatapan melas, hingga tidak tega untuk tidak mengiyakan permintaan anak itu.
"Baiklah kakak mau jadi teman Nino," sahut Ami membuat senyuman di bibir anak yang baru sembilan tahun itu mengembang, dari matanya terpancar sebuah binar kebahagiaan.
Saat sedang asyik mengobrol, Ami melihat anggota lainnya keluar dari dalam panti dan berjalan menuju ke mobil, Ami pun berinisiatif untuk mendekati yang lainnya.
"Kakak mau samperin teman-teman kakak dulu ya," pamit Ami Nino.
Meskipun terlihat tidak rela, tapi Nino tetap menganggukkan kepala, membiarkan Ami untuk pergi. Sebelum pegi Ami kembali memgusap ujung kepala Nino.
Dia pun mendekati teman-temannya yang sedang sibuk mengambil beberapa kardus yang berada di bagasi mobil, isi dari kardus itu adalah baju-baju dan peralatan untuk anak-anak.
Tidak lupa juga beberapa jenis makanan yang sudah mereka siapkan sebelumnya, mereka membawa satu per satu kardus-kardus yang tadi memenuhi bagasi dua mobil itu ke dalam panti.
Ibu pengurus panti mengucapkan terima kasih atas apa yang telah mereka berikan itu, Irwan juga memberikan amplop yang berisi uang pada pengurus panti.
"Baiklah, kalau gitu kami permisi dulu ya, Bu. Nanti Insya Allah kita akan berkunjung lagi ke sini, jika kita panjang umur," ucap Irwan yang sedang berpamitan pada pengurus panti.
"Iya, Mas dan yang lainnya terima kasih ya, atas bantuan yang telah kalian berikan ini," ucap pengurus panti, pada Irwan dan yang lainnya.
"Iya sama-sama, Bu." Irwan dan yang lainnya menjawab dengan serempak.
Setelah bersalaman satu per satu, mereka semua mulai meninggalkan panti itu, sedangkan Ami mencatatkan nomor teleponnya terlebih dahulu, menggunakan pensil dan kertas yang dia minta sebelumnya pada Via.
"Bu nanti kalau Nino ingin bertemu lagi denganku, hubungi aja nomor ini ya, aku pasti akan langsung datang," ucap Ami menyerahkan kertas yang telah dibubuhi oleh nomor teleponnya pada pengurus panti.
"Baik, Nak. Maaf kalau nanti Ibu akan menggangumu," ucap pengurus panti.
"Tidak akan menggangu kok. Bu, ya udah kalau gitu saya permisi dulu ya, Bu. Sudah ditunggin sama yang lainnya."
"Iya hati-hati ya, semuanya," ucap pengurus panti pada Ami dan yang lainnya yang sudah berada di dekat kendaraan mereka masing-masing.
Ami pun menganggukkan kepala dan mulai melangkah menjauhi panti itu, saat dia sudah berada di tengah-tengah halaman, dia melihat Nino yang masih berada di ayunan, menatapnya dengan sedih.
Ami tersenyum pada anak itu dan melambaikan tangannya, memberi isyarat agar anak itu mendekat padanya. Dengan langkah malas, Nino pun berjalan ke arah Ami.
"Nanti kakak akan ke sini lagi, kalau kamu merindukan kakak dan ingin bertemu dengan kakak, minta Ibu untuk menghubungi kakak ya, kakak sudah memberikan nomor telepon kakak padanya," terang Ami sambil tersenyum dan sedikit membungkuk.
Mendengar ucapannya itu, Nino yang semula memasang wajah sedih, langsung merubah ekspresi wajahnya dengan tersenyum dan mengangguk dengan antusias.
__ADS_1
"Ya udah kakak pulang ya," pamit Ami kembali menegakkan tubuhnya.
Nino mengangguk lagi, dia kemudian menggoyangkan tangannya ke kanan ke kiri sebagai tanda perpisahan mereka, Ami tersenyum dan pergi mendekati motor Rayyan.