Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Kecelakaan.


__ADS_3

"Ma, Mama tenang saja, Fariz pasti akan baik-baik saja," ucap Aaric sambil fokus membawa mobilnya.


"Iya kamu jangan terlalu panik seperti itu, dia pasti akan baik-baik saja," sahut Nevan mengusap pudak istrinya yang telah diliputi oleh kekhawatiran.


"Iya. Mama juga berharap, dia akan baik-baik saja," sahut Alish menganggukkan kepala.


Raut kekhawatiran tidak dapat dia sembunyikan, di wajahnya yang sudah mulai terlihat nampak kerutan-kerutan halus.


Beberapa menit yang lalu mereka mendapatkan kabar, jika Fariz mengalami kecelakaan, mobil yang dikendarai oleh Fariz sepulang dari bekerja itu, menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun.


Mobil Fariz terseret oleh sebuah mobil truk yang mengalami kecelakaan, bersama beberapa mobil lainnya, kini Fariz sudah dilarikan ke rumah sakit.


Pantas saja mereka merasa heran, karena Fariz telat pulang, bahkan mereka terpaksa makan malam terlebih dahulu, mereka berpikiran jika Fariz terjebak macet, pria itu memang sudah beberapa hari, tinggal di rumah Nevan.


Keluarganya yang mendengar hal itu, tentu saja dilanda kepanikan yang mendalam, apalagi mengingat waktu pernikahan Fariz hanya tinggal sepuluh hari lagi.


Tak lama kemudian mobil mereka sampai di rumah sakit yang menjadi tempat para korban kecelakaan itu ditangani. Nevan menanyakan tentang Fariz pada suster di sana.


"Pasien atas nama Tuan Fariz sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Tuan," ucap suster itu, membuat keluarga itu menghela napas lega, itu artinya Fariz tidak terlalu serius.


"Tapi Sus, siapa yang mengurus administrasi anak kami dan keperluan lainnya?"


Barus saja Alish selesai bertanya, sebuah suara yang memanggil namanya, membuat perhatiannya teralihkan pada si pemilik suara itu.


Mereka bertiga pun, melihat ke asal suara dan mendapati seorang wanita dewasa yang tampak tersenyum ramah pada mereka,


"Seryl kamu di sini?" tanya Alish heran karena melihat anak pertama dari pria yang sudah dia anggap sebagai kakak itu, berada di sana.


"Suami aku, kan kerja di sini, tadi dia menelepon, katanya pihak keluarga Fariz belum ada yang bisa dihubungi, jadi aku deh yang menjadi walinya, maaf ya Tan, Om, tadi aku lancang, habisnya tadi keadaan Fariz harus segera dapat penanganan," terang Seryl pada Alish dan keluarganya.


"Iya tidak apa-apa, justru kami berterima kasih pada kamu, karena sudah mengambil tindakan secepat mungkin," ucap Alish merasa beryukur pada Seryl. Karena Fariz segera mendapatkan penanaganan.


"Iya sama-sama, oh iya ayo aku anter ke ruangan Fariz, suamiku baru saja selesai mengurusnya," ucap Seryl.


"Baiklah ayo."


Nevan dan yang lainnya pun, mengikuti langkah Seryl, menuju ke tempat dimana Fariz dirawat.

__ADS_1


"Ini kamar Fariz," ucap Seryl yang berhenti di sebuah pintu berwarna putih.


Seryl membuka pintunya dan berbicara pada seseorang yang masih berada di dalam ruangan itu, hingga beberapa saat kemudian, seorang pria dengan jas dokter keluar dari ruangan itu.


"Om, Tante, apa kabar?" sapa Dokter sekaligus suami Seryl itu dengan ramah pada Nevan, Alish, dan Aaric.


"Kami alhamdulillah baik, bagaimana keadaan Fariz sekarang?" ucap Nevan menatap suami Seryl yang bernama Putra itu dengan serius.


"Kondisinya saat ini sudah lebih baik, dia mengalami cedera ringan di kepala dan kakinya kemungkinan untuk beberapa waktu tidak akan bisa berjalan, karena tulang kakinya sempat tergeser dan mengalami sedikit keretakan."


"Untuk lebih jelasnya, kalian bisa tanyakan nanti pada Dokter Ortopedi yang menangani Fariz tadi, tapi saat ini dokter itu masih sibuk mengurus pasien lain," terang dokter Putra.


"Syukurlah kalau sudah tidak ada hal yang seriuss lagi, terima kasih ya, karena kamu sudah sigap melakukan tindakan pada Fariz," ucap Nevan dengan penuh rasa syukur.


"Iya sama-sama Om, itu sudah tugas saya, oh iya berhubung jam kerja saya sudah selesai, jika ada apa-apa kalian bisa panggil dokter jaga di sini atau kalian bisa hubungi saya lagi nanti, jika terjadi sesuatu pada Fariz," ucap Putra.


"Iya baiklah, sekali lagi terima kasih ya


Put," sahut Alish.


"Iya Om, Tan, kita pulang dulu ya," sambung Seryl.


"Iya kalian hati-hati ya," sahut Nevan dan Alish pada pasangan itu.


Akhirnya pasangan itu pun, pergi dari sana, kini mereka bertiga mulai memasuki ruangan tempat Fariz dirawat.


Selang infus dan selang oksigen termpel di punggung tangannya dan di hidungnya, di kepala Fariz terdapat perban yang cukup besar, menempel tepat di kepala sebelah kanannya.


"Kenapa bisa sampai seperti ini sih, Riz. Padahal pernikahan kamu tinggal menghitung hari, tapi kenapa kamu malah mengalami hal seperti ini," gumam Alish menghela napas panjang menatap tubuh lemah Fariz dengan sedih.


"Namanya juga cobaan, tidak ada yang tau kapan datangnya, sekarang kitahanya bisa berdoa agar Fariz segera sembuh dan tidak ada lagi masalah yang lainnya," ucap Nevan mengusap punggung Alish untuk menenangkannya.


"Ma, Pa, sebaiknya kalian istirahat saja, apalagi Mama harus banyak istirahat, biar Aaric saja yang jagain Fariz di sini," saran Aaric pada orang-tuanya.


"Tapi Mama juga mau jagain dia di sini," tolak Alish atas saran dari anaknya itu.


"Ma, jangan keras kepala ya, Mama belum lama keluar dari rumah sakit, jangan sampai Mama masuk rumah sakit lagi, pulanglah," bujuk Aaric menatap mamanya dengan serius, dia kemudian menatap papanya agar membantu membujuk mamanya itu.

__ADS_1


"Iya, Ma. Kalau kamu sakit lagi gimana, itu akan tambah repot, udah ayo kita pulang dulu saja, ini sudah malam, besok kita ke sini lagi," ucap Nevan yang ikut membujuk istrinya itu.


Mendapatkan bujukan dari anak dan suaminya, akhirnya Alish pun mengangguk setuju dengan hal itu. "Baiklah ayo kita pulang, Pa," sahut Alish mengajak Nevan.


"Iya ayo, Ric titip Fariz ya, jika ada apa-apa segera hubungi dokter dan hubngi kami," ucap Nevan menganggukkan kepala pada papanya itu.


"Kita pulang dulu ya, Nak," pamit Alish Aaric.


"Iya Pa, hati-hati ya nyetirnya atau panggil sopir biar jemput ke sini," tawar Ami.


"Papa bawa sendiri aja," sahut Nevan menepuk pundak Aaric dan pergi dari sana.


"Baiklah, hati-hati Pa," sahut Aaric.


Nevan dan Alish pun, pergi meninggalkan dirinya sendiri menemani Fariz malam ini, dia mulai mendudukkan dirinya di sofa yang tersedia di sana.


Saat teringat, jika dia belum menghubungi istrinya, dia pun menghubungi Kia dan mengatakan jika malam ini, dia tidak akan pulang, melainkan akan menemani Fariz yang belum sadar.


Setelah selesai berbicara dengan Kia, dia pun menyimpan ponselnya di meja yang ada di depan sofa, ditatapnya wajah tenang Fariz dengan seksama.


"Kamu kayak sengaja mencelakai dirimu seperti ini, Riz, bagaimana tidak aku bilang gitu, kamu kecelakaan saat pernikahan kamu tinggal menghitung hari, ditambah kamu tidak menginginkan pernikahan ini sama sekali," gumam Aaric dengan pikiran konyolnya itu.


Beberapa saat kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangan itu, pria itu pun menyuruh si pengetuk pintu itu untuk masuk ke dalam.


"Selamat malam Tuan," sapa seorang suster dengan ramah, di tangan suster ada sebuah kantung plastik berwarna putih bening.


"Iya malam Sus," sapa Aaric berdiri dari duduknya.


"Maaf Tuan, ini barang-barang pribadi milik pasien," ucap suster, menyerahkan plastik yang dibawanya, di dalam plastik itu ada dompet dan ponsel milik Fariz.


"Baiklah, terima kasih Sus," sahut Aaric sambil menerima kantung pelastik itu.


"Iya sama-sama, Tuan, kalau begitu saya permisi Tuan," pamit suster yang dijawab anggukan oleh Aaric.


Suster itu pun pergi dari ruangan itu, Aaric menyimpan kantung plastik yang berisi benda-benda milik Fariz itu, ke meja di depannya, dia kemudian mulai merebahkan tubuhnya di sofa bermaksud akan tidur.


Namun, baru saja matanya terpejam, telinganya mendengar ponsel Fariz berbunyi dengan berdecak kesal karena merasa terganggu dia pun mengambil ponsel itu.

__ADS_1


__ADS_2