
Hari ini adalah hari kepulangan Denis dari rumah sakit, setelah beberapa hari harus di rawat untuk memantau kondisinya.
Pria paruh baya itu tidak langsung pulang ke rumahnya, tapi dia menyempatkan diri pergi ke kantor polisi terlebih dahulu untuk melaporkan tentang anak bungsunya yang hilang.
"Kenapa harus bikin laporan ke kantor polisi sih, Pa," ucap Zoya yang tidak senang dengan keputusan papanya. Namun, dia berusaha untuk tidak menunjukkan hal itu di depan papanya itu.
"Dengan bantuan polisi, mungkin saja kita bisa lebih cepat menemukan adik kamu itu," sahut Denis.
"Tapi, meskipun tidak dibantu polisi kita juga pasti akan bisa menemukan Ami, Pa."
"Itu pasti akan memakan waktu lebih lama lagi, papa tidak bisa membiarkan adik kamu menunggu terlalu lama di luaran sana," ucap Dengan sedikit tegas.
"Bagaimana, jika kehidupannya tidak baik-baik saja ... kamu kenapa? Sepertinya tidak senang papa meminta bantuan polisi untuk mencari adikmu?" Denis menatap Zoya yang sedang merapikan barang-barangnya dengan tatapan menyelidik.
"Gak gitu, Pa. Zoya senang kok Papa meminta bantuan pada polisi, hanya saja saat ini Papa masih belum benar-benar sehat, kenapa gak nanti aja ke kantor polisinya, saat Papa sudah benar-benar sehat," alibi Zoya.
"Papa sudah baik-baik saja kok, kamu tenang aja," sahut Denis.
"Ya udah kalau gitu, ayo kita pulang, Zoya sudah selesai beresin barang-barang Papa," ucap Zoya dengan tersenyum dan mulai menggandeng lengan Papanya dengan tangan sebelah Kanan dan tangan kiri membawa tas berisi pakaian Denis.
Mereka berjalan keluar dari rumah sakit itu, Candra yang sudah menunggu di mobil segera turun dari mobil, saat melihat mereka keluar dari lobby rumah sakit.
Dia mengambil alih tas yang ada di tangan Zoya dan menyimpannya ke bagasi mobil, sedangkan Zoya membantu papanya memasuki mobil.
Setelah itu barulah dia ikut menyusul memasuki mobil dan duduk si kursi belakang bersama dengan papanya.
"Bagaimana tentang rumah kalian, apa Daffin sudah menemukan yang cocok?" tanya Denis di tengah-tengah perjalanan mereka.
"Belum, Pa. Daffin mau cari rumah yang tidak jauh dari kantor tempatnya bekerja, jadi dia tidak akan terlalu capek bolak-balik dari kantor ke rumah terus," terang Zoya.
Denis hanya mengangguk sebagai jawaban, dia kemudian kembali menatap jalan di depannya.
"Gak apa-apa 'kan? Kalau Zoya sama Daffin tinggal di rumah Papa lebih lama lagi," ucap Zoya menatap papanya dengan penuh harap.
__ADS_1
"Tinggalah di sana sampai kalian menemukan rumah untuk kalian," sahut Denis santai.
"Makasih, Pa," ucap Zoya dengan senang.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi antara anak dan ayah itu, hingga mereka sampai di tempat tujuan mereka, yaitu kantor polisi.
Denis turun terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Zoya di belakangnya.
Selama di dalam kantor polisi, Denis mengutarakan niatnya itu pada petugas dan Zoya ditanyai beberapa pertanyaan karena saat itu dia yang terakhir kali bersama dengan Ami.
Zoya tentu saja tidak mengatakan yang sebenarnya, dia mengatakan hal yang sama seperti pada Denis dan suaminya.
"Baiklah, Pak. Kami akan memproses laporan Anda, kami akan menghubungi Anda dan keluarga, jika kami sudah menemukan petunjuk lainnya," ucap Polisi itu.
"Baiklah, terima kasih, Pak."
Setelah selesai dengan tujuannya, Denis dan Zoya pun pergi dari kantor polisi menuju ke rumahnya.
"Bisa Papa pikirkan masalah itu nanti saja gak, Pa. Saat ini yang lebih penting adalah kesehatan Papa," ucap Zoya dengan nada sedikit kesal karena Papanya tidak henti-hentinya memikirkan masalah Ami.
"Bagaimana Papa, bisa tenang Zoya. Saat ini adik kamu tidak tau bagaimana kondisinya," sahut Denis.
Zoya mengepalkan tangannya, padahal di depan papanya ada dirinya, tapi kenapa? Yang dipikirkan oleh papanya hanya Ami dan Ami.
Kenapa Ami tidak pergi selamanya saja, agar tidak ada orang yang memusingkan dirinya lagi. garam Zoya dalam hatinya.
"Zoya ngerti, Pa. Tapi saat ini Papa belum sepenuhnya sehat, nanti kita pikiran lagi masalah Ami setelah Papa sudah sehat sepenuhnya ya," ucap Zoya dengan nada lembut berusaha bersabar menghadapi papanya saat ini.
"Papa tau sendiri, kan? Ami paling sedih kalau liat Papa sakit, gimana nanti kalau dia kembali dan melihat Papa masih sakit, dia pasti akan menyalahkan dirinya karena itu," sambungnya lagi.
"Iya, kamu benar, anak itu pasti akan sedih kalau lihat Papa sakit nanti, saat dia kembali," sahut Denis dengan kepala mengangguk.
"Sekarang, Papa jangan terlalu banyak pikiran ya, fokus saja pada kesehatan Papa, masalah Ami biarkan polisi yang menanganinya, Mas Daffin dan yang lainnya juga sedang berusaha."
__ADS_1
Denis kembali mengangguk setuju, benar kata anaknya. Yang terpenting saat ini adalah kesehatannya, jangan sampai dia terus-terusan sakit.
Jika dia sudah benar-benar sembuh, maka akan semakin mudah ikut serta mencari anaknya itu.
"Sekarang kita turun yuk, Pa."
Denis melihat ke luar kaca mobil, ternyata mereka sudah sampai di depan rumahnya, dia pun segera turun dari mobil.
Zoya mengikutinya dan kembali menggandeng tangannya, mereka memasuki rumah, Tini menyambut kedatangan mereka dengan senang, karena majikannya sudah pulang.
"Tuan, mau langsung makan siang?" tanya Tini.
"Iya, Pa. Sebaiknya Papa makan siang dulu ya, setelah itu minum obat dan kembali istirahat," ucap Zoya.
"Baiklah, maaf atas sikap papa tadi, Nak," ucap Denis mengusap punggung tangan Zoya yang berada di lengannya.
"Iya, tidak apa-apa, Pa. Zoya mengerti kok, kalau Papa sangat menghawatirkan Ami," sahut Zoya tersenyum.
"Kamu dan adik kamu begitu berarti untuk papa, Nak. Baik kamu mau pun adik kamu sama-sama memiliki tempat yang setara di hati papa," ucap Denis tersenyum menatap anaknya itu dengan tatapan teduh, penuh dengan kasih sayang.
Dia berusaha memberikan pengertian pada anaknya itu, jika dia tidak pernah memiliki keinginan untuk membedakan kasih sayang untuk dia dan Ami.
Dia memang lebih memperhatikan, Ami karena dari semenjak lahir, anak bungsunya itu belum pernah merasakan sedikit pun perhatian dan kasih sayang seorang ibu.
Berbeda dengan Zoya yang masih sempat merasakan kasih sayang seorang ibu, meskipun tidak terlalu lama.
Seandainya Papa mengatakan ini dari dulu mungkin Zoya tidak akan seperti ini, tapi sayang Papa mengatakan itu semua sekarang, setelah Ami tidak ada. Batin Zoya
"Ayo, Pa kita ke meja makan." Zoya mengalihkan pembicaraan antara mereka dan menuntun Denis menuju ke meja makan.
Mereka pun duduk di meja makan dengan saling berhadapan, Zoya mengambilkan makanan untuk papanya, setelah itu barulah dia menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.
Selama makan siang itu berlangsung, baik Zoya maupun Denis mereka tidak membuka suara, hanya fokus pada makanan mereka.
__ADS_1