
Ami saat ini sedang duduk dengan tenang di dalam mobilnya yang akan mengantarkan dirinya ke panti tempat Nino.
Tadi pagi pengurus panti menghubunginya dan mengatakan, jika Nino sudah beberapa hari, terus meminta pengurus panti untuk menghubunginya karena dia ingin bertemu dengan Ami.
Ami pun menuruti keinginan anak itu, dia juga tidak ada kegiatan hari ini, jadi memutuskan untuk berkunjung hari ini juga ke panti dan bertemu dengan Nino.
Saat di perjalanan, dia berhenti di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa makanan untuk anak-anak di sana, dia membeli beberapa cemilan dan makanan yang bergizi untuk anak-anak.
Meskipun tidak banyak karena uang yang dimilikinya tidak terlalu banyak, itu pun adalah tabungannya yang dia kumpulkan dari uang pemberian papanya, tapi sepertinya itu cukup untuk anak-anak di sana.
"Kayaknya aku harus kerja deh, karena gak mungkin aku terus-menerus minta uang ke Papa," gumam Ami, saat sudah selesai membayar barang belanjaannya yang langsung dibawa oleh Candra ke bagasi mobil.
"Kita akan mampir ke mana lagi, Non?" tanya Candra yang sudah menutup bagasi mobil.
"Langsung saja, Pak. Agar nanti pulangnya tidak terlalu sore karena aku akan lumayan lama di sana," sahut Ami yang memang berencana untuk main agak lama dengan anak-anak di sana.
"Baiklah, Non."
Mereka pun kembali memasuki mobil dan Candra segera menjalankan kembali mobilnya, menuju alamat yang telah Ami sebutkan sebelumya.
Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih, kini mobil Ami pun, telah sampai di depan panti asuhan itu, Ami langsung turun dari mobilnya saat mobil itu telah terparkir dengan sempurna di lahan kosong yang ada di depan gerbang panti.
"Pak bantu bawa ini masuk ya," pinta Ami pada Candra, sambil membuka pintu bagasi mobil dan mengambil dua kantong yang berisi makanan yang dibelinya tadi.
"Iya, Non," sahut Candra sambil mengambil barang yang masih tersisa di bagasi itu.
Ami mengucapkan salam saat sudah berada di teras panti yang terbuka, saat ini hanya ada beberapa anak yang sedang bermain di luar, sedangkan sisanya terdengar di dalam ruangan.
"Nak Ami, silakan masuk dulu, Nak," ucap Ibu pengusrus panti, tersenyum pada Ami.
"Makasih, Bu," sahut Ami mengikuti langkah ibu pengurus panti untuk masuk ke dalam.
Dia juga meminta Candra untuk mengikutinya, saat sudah sampai di ruang tamu, Bu Neti nama ibu pengurus panti itu, mempersilakan Ami untuk duduk di sofa.
__ADS_1
Ami pun mengangguk dan duduk di sofa mengikuti Bu Neti yang sudah mendudukkan dirinya terlebih dahulu, sementara Candra, tetap berdiri di samping sofa yang Ami duduki.
"Gimana kabar Ibu dan anak-anak di sini?" tanya Ami pada Neti.
"Alhamdulillah kita semua sedang dalam keadaan baik, Non," sahut Neti tersenyum ramah.
"Syukurlah kalau begitu, Bu ... oh iya, ini ada sedikit makanan untuk anak-anak, mudah-mudahan anak-anak pada suka ya," ucap Ami sambil menyimpan kantong yang dibawanya itu ke meja.
"Terima kasih, Nak. Anak-anak pasti suka, mereka tidak pemilih dalam makanan," Neti menerima kantong itu dan meminta orang yang bekerja di sana untuk menyimpannya ke belakang.
"Maaf sudah merepotkan Nak Ami untuk datang ke sini, Nino sudah beberapa hari ini terus rewel karena ingin bertemu dengan Nak Ami," sambung Neti pad Ami.
"Iya, tidak apa-apa, Bu. Kebetulan Ami juga memang tidak ada kegiatan, jadi bisa ke sini hari ini, lagian Ami juga sudah janji pada Nino akan datang ke sini jika dia ingin bertemu sama Ami."
"Iya syukurlah kalau, Nak Ami tidak sedang sibuk, bentar ya, Ibu panggilkan dulu anaknya ke sini, dari tadi pagi setelah sarapan dia langsung masuk lagi ke kamarnya," pamit Neti.
"Iya, Bu." Ami mengangguk.
"Non, Pak Candra tunggu di mobil ya," pamit Candra.
Ami membalikkan badannya ke arah Candra, kemudian dia mengangguk. "Iya, Pak, kalau Pak Candra bosan, bisa pergi saja dulu, soalnya aku juga masih lama di sininya," ucap Ami.
"Tidak, Non. Pak Candra mau tidur aja di mobil," sahut Candra.
"Baiklah kalau gitu," sahut Ami mengangguk singkat.
Candra mulai keluar dari panti, tak selang berapa lama Neti kembali menghampiri Ami yang masih menunggu dengan santai, wanita yang sudah cukup berumur itu tidak datang sendiri, tapi dengan seorang anak laki-laki yang tengah menatapnya dengan sebuah senyuman yang menghiasi bibirnya.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Ami saat Nino duduk di sofa tepat di sampingnya.
Nino menjawabnya dengan isyarat tangan seperti biasa, terlihat dia begitu senang dengan kehadiran Ami itu.
Kak, kita main bola di luar yuk, ajak Nino dengan isyarat.
__ADS_1
"Baiklah, ayo." Ami mengangguk setuju dengan ajakan dari anak itu.
Nino langsung berdiri dengan riang dan menarik tangan Ami untuk keluar dari panti, sepertinya anak itu benar-benar sudah ingin bertemu dengan Ami sejak lama, hingga dia terlihat bahagia saat ini.
"Bu, kami main dulu di luar ya," pamit Ami pada Neti sambil mengikuti langkah kecil Nino yang terus menarik tangannya.
"Iya, Nak. Nino, jangan tarik-tarik Kakaknya seperti itu?" ucap Neti memperingati Nino yang terus menarik tangan Ami, tapi anak itu tidak menghiraukan ucapannya itu.
"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin Nino udah gak sabar mau main sama aku," sahut Ami tersenyum.
"Maaf ya, Nak." Neti merasa tidak enak dengan apa yang anak asuhnya lakukan itu.
Ami hanya mengangguk, sedangkan Nino masih terus menarik tangannya dengan langkah semangat. Saat sudah sampai di luar, anak itu segera mengambil bola yang ada sebuah keranjang yang terisi beberapa bola yang terletak di sudut teras panti.
"Kamu yang jaga gawangnya atau kakak?" tanya Ami pada Nino.
Untung saat ini dia hanya memakai kaos pendek dengan celana jeans panjang, hingga tidak terlalu ribet untuk main bersama anak-anak di sana.
Nino menujuk Ami, Ami pun bertanya lagi padanya, " Kakak yang jaga?"
Nino menganggukkan kepalanya dengan antusias, Ami pun melangkah menuju ke gawang, membiarkan Nino memanggil teman-teman yang ada di sana untuk ikut bermain.
Saat melihat Via yang baru saja datang menuju ke halaman, Ami melambaikan tangannya agar Via ikut bermain bersama dengannya dan anak-anak yang lain.
Via mengangguk setuju dan berjalan mendekatinya, Nino juga sudah kembali ke sana dengan teman-temannya yang lain.
Hanya ada sepuluh orang yang bermain, termasuk Ami dan Via yang kini sebagai penjaga gawang, sedangkan ke-delapan anak lainnya menjadi pemain.
Kini seluruh anak sudah berkumpul di teras panti, mereka menjadi penonton dari pertandingan bola itu, anak-anak yang menjadi penonton adalah anak yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah, hingga mereka tidak bisa ikut serta permainan itu.
"Ayo anak-anak semangat, kita pasti akan menang!" ucap Ami memberikan semangat pada Nino dan tim-nya.
Permainan itu pun di mulai, Ami tertawa dan berteriak saat permainan tengah berjalan, begitu pun dengan Via yang menjadi lawannya, mereka semua bermain dengan gembira, Ami seolah kembali ke-masa saat dirinya masih kecil dulu, bebas tanpa beban.
__ADS_1