Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 100 (END)


__ADS_3

Saat ini kedua pasangan yang baru saja resmi menjadi pasangan suami istri, tengah menyalami setiap tamu undangan yang hadir di sana di atas pelaminan, setelah sebelumnya mereka melakukan serangkaian acara, seperti pasang cincin, sungkeman pada orang-tua masing-masing dan lainnya.


Di sisi lain, lebih tepatnya di salah satu bangku di jejeran paling belakang, seorang pria tengah menatap kedua pasangan itu, dengan senyuman yang hadir di wajahnya yang sudah terdapat kerutan itu.


Pria itu mengusap ujung matanya yang terasa basah, dia juga ikut terharu menatap pasangan itu, apalagi saat melihat raut wajah pengantin pria yang terlihat bahagia, membuatnya puas hanya dengan melihat dari jauh seperti itu.


"Kamu pasti melihatnya juga, kan Sha? Anak kita saat ini sudah bisa tersenyum dengan lepas, meskipun aku hanya bisa melihatnya dari jauh seperti ini," gumam pria yang tidak lain adalah Bima itu.


Ya, dia memang hadir di sana, bahkan dia menyaksikan semua rangkaian acara itu dengan posisi jauh dari jangkauan Fariz, tentu saja Nevan yang memberitahunya, walau bagaimanapun dia adalah ayah kandung dari Fariz, jadi Nevan mengabarinya tentang pernikahannya itu.


Pria itu, sengaja duduk di bagian yang cukup tersembunyi dan jauh dari posisi Fariz, karena dia tidak ingin membuat mood Fariz berantakan, di hari bahagianya itu, jika melihat keberadaannya.


Setelah merasa cukup puas menyaksikan acara sakral dari anaknya itu, dia pun mulai beranjak dari tempatnya semula, secara perlahan melangkah meninggalkan tempat itu.


"Semoga kamu selalu bahagia Nak, maaf untuk apa yang telah papa lakukan di masa lalu," gumamnya melihat Fariz untuk terakhir, sebelum akhirnya pergi dari sana.


Karena jarak dari tempat duduknya ke gerbang lumayan dekat, jadi tidak membutuhkan waktu yang lama dia sudah keluar dari gerbang itu.


Acara itu memang diadakan di halaman rumah Denis, tidak di dalam rumah. Tidak terlalu banyak yang keluarga itu undang di acara itu, hanya orang-orang yang sangat dekat dengan mereka saja.


"Om Bima, mau ke mana?" tanya Aaric yang ternyata dari tadi sudah memperhatikan gerak-gerik dari pria itu.


Bima membalikkan badannya dan tersenyum pada Aaric, lalu menjawab, "Om mau pulang, Om sudah cukup melihat Fariz dan menantu Om-nya."


"Om, tidak menemui mereka dulu dan mengucapkan selamat pada mereka?"


"Tidak, Nak. Om tidak ingin merusak moment bahagia Fariz dengan menampakkan diri di depannya, di sana sudah orang-tuamu yang menemaninya, Om hanya bisa mendoakan mereka dari jauh saja." Bima menggelengkan kepala dan tersenyum.


"Baiklah, Om hati-hati ya, jika perlu sesuatu hubungi Aaric saja," ucap Aaric menatap Bima dengan iba.


"Iya, Om hanya minta satu, tolong jaga Fariz, seperti kamu dan kedua orang-tuamu menjaganya selama ini, jika ada apa-apa, segera hubungi Om ya."


"Baiklah Om." Aaric mengangguk dan setelah itu, Bima pun kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu, menggunakan mobil yang dijalankan oleh sopirnya.


Setelah itu, Aaric melangkah meninggalkan gerbang, dia menuju ke pasangan yang baru saja menjadi suami-istri itu, dia sebenarnya belum sempat mengucapkan selamat pada kedua pasangan itu.


"Selamat ya, Riz. Akhirnya kamu jadi juga menikah, semoga pernikahan kalian langgeng, sampai maut yang memisahkan," ucap Aaric merangkul bahu Fariz dan menepuknya.


"Terima kasih Ric, di mana Kia sama Melody?" Fariz mencari keberadaan ibu dan anak itu.


"Kia, seperti biasa, habis makan banyak, dikeluarkan lagi dan sekarang lagi istirahat ditemani Melody di dalam," sahut Aaric.


"Oh."

__ADS_1


"Aku gak nyangka ternyata rencana kita untuk berbohong di depan Cindy, benar-benar berjalan lancar, cuma satu yang aku takutkan," ucap Aaric dengan nada pelan.


"Apa?" Fariz menatap Aaric dengan heran.


"Aku takut, jika kebohongan itu menjadi kenyataan, kasian dong istri kamu nantinya," bisik Aaric kemudian terkekeh saat melihat tatapan penasaran dari Fariz berubah jadi tatapan kesal.


"Itu tidak mungkin terjadi, aku normal dan aku baik-baik saja," sahut Fariz dengan yakin.


"Iya, itu bisa dibuktikan nanti malam." Aaric mengedipkan mata, menggoda Fariz.


Setelah merasa puas di pun melangkah dan berdiri di depan Ami, pria itu mengucapkan selamat pada Ami dan setelah itu menjauh dari pasangan pengantin itu.


...*****...


Satu per satu acara akhirnya telah selesai, para tamu pun kini sudah bubar meninggalkan kediaman Denis itu, begitu pun dengan Nevan dan keluarganya, mereka sudah berpamitan pada Denis dan yang lainnya.


Pasangan pengantin itu pun berpamitan pada Denis, karena mereka akan segera kembali ke apartemen Fariz, setelah sampai di apartemen, mereka memasukki kamar yang berada di lantai atas.


"Tidak apa-apa, kan? Jika sekarang kita tinggal di sini dulu," ucap Fariz pada Ami saat mereka memasuki kamar.


"Tidak apa-apa Mas, bukankah di sini banyak kenangan kita berdua dan di tempat ini juga kita merasakan jatuh cinta satu sama lainnya," ucap Ami tersenyum pada Fariz.


"Iya, tempat ini memang dipenuhi oleh kenangan tentang bagaimana perasaan di antara kita hadir," ucap Fariz ikut tersenyum.


"Mas, aku mau bersih-bersih dulu ya," pamit Ami menahan gerakan Fariz yang semakin mendekat.


"Baiklah," sahut Fariz.


Ami segera pergi ke kamar mandi, dia berusaha menenangkan hatinya yang tidak karuan itu, setelah beberapa menit kemudian Ami selesai dengan ritualnya itu, dia memakai jubah mandi yang sudah tersedia di sana untuk menutupi tubuhnya.


Tak lama kemudian, wanita itu mulai keluar dari kamar mandi dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap Fariz yang tengah menatapnya.


"Aku juga mandi dulu ya," ucap Fariz pada Ami.


Ami hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, tapi beberapa saat kemudian, dia bersuara hingga membuat langkah Fariz terhenti.


"Mas koper aku mana?" tanya Ami yang melihat ke sekeliling kamar, tidak menemukan koper yang berisi pakaiannya itu.


"Di mobil, kamu tidak perlu memakai baju malam ini," sahut Fariz sambil memasuki kamar mandi, sementara Ami membelalakan matanya pendengar ucapan Fariz itu.


Karena tidak menemukan kopernya, dia pun memutuskan untuk duduk di tepi ranjang dengan perasaan campur aduk, antara senang dan gugup, mengingat malam ini adalah malam pertama pernikahan mereka.


Saat Ami tengah memikirkan apa yang akan terjadi antara mereka malam ini, pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Fariz dengan bertelanjang dada dan pinggang yang terpasang handuk.

__ADS_1


Melihat tubuh bagian atas suaminya yang terawat seperti itu, membuat pipi Ami tanpa sadar bersemu, dia kembali menundukkan kepalanya tidak berani menatap Fariz, hingga pria itu mendudukkan dirinya tepat di depan Ami.


Secara perlahan Fariz mengambil tangan Ami dengan sebelah tangan, mengusapnya dengan lembut dan sebelah tangannya lagi, dia gunakan untuk mengangkat wajah Ami yang menunduk agar melihat ke arahnya.


"Apa kita bisa melakukan kewajiban kita malam ini? Atau kamu mau kita menundanya saja, aku tidak akan meminta hakku sekarang jika kamu belum siap," ucap Fariz menatap Ami dengan lembut.


"Aku hanya sedikit gugup," cicit Ami.


"Apa aku boleh melakukan hal itu sekarang?" tanya Fariz meminta izin terlebih dahulu, karena dia tidak ingin ada paksaan saat melakukan kewajiban mereka itu.


Ami mengangguk pelan sebagai jawaban, merasa telah mendapatkan lampu hijau dari istrinya itu, Fariz secara perlahan semakin mendekatkan jaraknya dan Ami.


Dikecupnya dengan lembut kening Ami yang kini sudah mulai menutup mata, dari kening turun ke kedua mata, pipi dan terakhir ke bibir.


Akhirnya ritual mereka berlanjut hingga ketahap selanjutnya, saling mereguk nikmatnya cinta yang selama ini mereka rasakan, saling mengungkapkan rasa yang ada dalam hati masing-masing.


Kamar yang biasanya dingin dan sepi itu, kini telah diisi oleh kehangatan dari pasangan yang tengah dalam suasana bahagia.


"Aku mencintaimu, terima kasih telah hadir dalam hidupku, memberikan warna di hidupku yang semula hanya terisi oleh warna abu-abu," ucap Fariz mencium kening Ami kembali, setelah selesai menggapai kepuasaan.


"Aku juga mencintamu, Mas. Terima kasih juga karena kamu sudah memberikan aku kesmpatan untuk merasakan kebahagiaan seperti ini, kebahagiaan yang tidak pernah aku sangka akan hadir dalam hidupku," balas Ami yang menatap Fariz dalam.


...*****...


Hidup memang tidak selalu memberikan kebahagiaan dengan mudah, terkadang ada jalan yang tidak mudah untuk dilewati agar kita bisa sampai di titik kebahagiaan dalam hidup kita, begitu pun dengan pasangan Ami dan Fariz.


Fariz Jauhar pria yang memiliki trauma masa kecil, sehingga menyebabkan dia tidak berani untuk menjalin sebuah hubungan, karena takut jika dirinya tidak bisa menjalankan hubungan itu dengan baik.


Namun seiring dengan berjalannya waktu, perasaan takut itu, semakin terkikis dan tergantikan dengan perasaan cinta yang semakin memenuhi hatinya.


Begitu pun dengan Zamira Azliana, wanita yang sebelumnya pernah mengalami pengkhianatan dari pria yang dia anggap akan menjadi pendamping hidupnya, tidak disangka, jika dia dipertemukan dengan pria yang mencintainya dengan tulus, tanpa melihat bagaimana kekurangan dirinya.


Pria yang membuatnya merasa jika dia adalah wanita yang teramat beruntung, bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai dan mencintai dengan tulus, meskipun awalnya hubungan mereka tidaklah berjalan terlalu baik. Namun, kini buah dari kesabaran dan ketulusan mereka, telah menjadikan jalan yang mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


...~TAMAT~...


******


Akhirnya kini kita udah sampai diakhir kisah, makasih untuk yang sudah memberikan dukungan pada mereka, pada authornya juga, maaf jika dalam cerita ini banyak kesalahannya, author hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah, selamat tinggal semuanya, sampai ketemu dicerita-cerita aku yang lainnya πŸ˜˜πŸ‘‹πŸ‘‹


Bagi yang mau berteman denganku di media sosial bisa banget, langsung add aja akun IG dan FB aku yaπŸ€—


IG:tiiamtiiam

__ADS_1


FB:Tiiam Tiiam


__ADS_2