Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Kesedihan Fariz.


__ADS_3

Fariz saat ini sedang berdiri, di tengah guyuran hujan, menatap lurus pada rumah yang terhalang oleh gerbang di depannya, air hujan yang membasahi tubuhnya tidak dia hiraukan.


Tubuhnya bahkan sudah mulai mengigil, itu dikarenakan dia sudah cukup lama berdiri di tengah derasnya hujan, karena hujan yang deras dan suasana yang temaram, Candra tidak menyadari keberadaan Fariz di sana.


Tini yang keluar dari rumah, bermaksud untuk memberikan makanan dan kopi pada Candra yang tengah bersantai di dekat garasi, menajamkan penglihatannya saat melihat siluet, tubuh tinggi yang berdiri tidak jauh dari gerbang.


"Candra! Lihat itu siapa," ucap Tini, saat dia sudah berdiri tidak jauh dari tempat duduk Candra.


"Siapa memangnya, Bi?" tanya Candra yang melihat ke arah yang Tini tunjuk.


"Gak tau, apa orang itu sudah lama di sana? Ngapain hujan-hujan gini berdiri di depan gerbang seperti itu," ucap Tini yang masih tidak mengalihkan penglihatannya dari Fariz.


"Biar aku periksa dulu, Bi." Candra mengambil payung yang menggantung di dinding yang tidak jauh dari tempat duduknya.


Dia mulai berjalan menuju ke gerbang dengan payungnya sebagai pelindung dari guyuran hujan, dibukanya sedikit gerbang itu dan menatap Fariz dengan seksama, dia kemudian menanyakan keperluan Fariz berada di sana.


"Mas ada perlu apa ya?" tanya Candra dengan sopan, tapi tidak mendapatkan sahutan dari Fariz.


Di bawah cahaya lampu, Fariz menatap Candra dengan mulut yang tertutup rapat, sedangkan Candra masih menatapnya dengan bingung.


"Mas mau bertemu Tuan Denis?" sambung Candra lagi dan kini mendapatkan jawaban, berupa gelengan kepala dari Fariz.


"Terus Mas mau cari siapa? Apa Mas salah alamat?" tanya Candra lagi dan dijawab gelengan kepala lagi oleh Fariz.


Candra semakin menatap Fariz dengan kening yang semakin mengerut tajam, dia pun akhirnya bertanya kembali meskipun dengan ragu-ragu.


"Apa Mas mau bertemu Non Ami?" tanya Candra dan kali ini baru dijawab anggukkan kepala oleh Fariz.


"Oh, Mas mau ketemu Non Ami?" tanya Candra lagi untuk memastikan.


Fariz kembali mengangguk, Candra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, malam-malam seperti ini untuk apa pria asing itu mencari nona-nya.


Candra memperhatikan Fariz dari atas sampai bawah, melihat dari penampilan Fariz, tidak menunjukkan jika pria itu orang jahat, dia kemudian mengalihkan netranya pada sebuah mobil yang berada tidak jauh dari posisi Fariz berdiri.


Penjaga sekaligus sopir Ami itu, ingat betul mobil itu, mobil yang sering dia lihat mengantar jemput nona-nya akhir-akhir ini. Bahkan dia juga melihat, tadi siang mobil itu mengantarkan nona-nya yang baru pulang dari luar kota.


"Tunggu sebentar ya, biar saya coba panggilkan Non Ami-nya, siapa tau belum tidur," ucap Candra.


Fariz pun kembali menganggukkan kepalanya dengan lemah.

__ADS_1


"Mau di teras saja nunggunya, Mas. Biar sambil berteduh," tawar Candra yang dijawab gelengan lagi.


"Baiklah, saya minta art dulu untuk memanggil Non Ami ya." Candra pun kembali menuju ke arah Tini yang masih memperhatikan mereka dari depan garasi.


"Siapa dia Can?" tanya Tini yang sudah penasaran.


"Sepertinya dia laki-laki yang selalu bersama Non Ami," jawab Candra.


"Yakin kamu?" tanya Tini memastikan.


"Iya, mobilnya sama seperti yang sering ke sini buat jemput Non Ami," sahut Candra lagi dengan yakin


"Terus apa yang dia katakan?" tanya Tini.


"Dia gak bicara apa-apa, Bi. Ditanya pun, hanya menjawab dengan mengangguk dan menggeleng saja," terang Candra, membuat Tini heran.


"Gimana kalau dia bukan laki-laki yang selalu bersama Non Ami?" tanya Tini yang memiliki pikiran negatif.


"Kita lihat nanti saja nanti, sebaiknya Bibi panggilkan Non Ami sana, kasian juga dia berdiri di tengah hujan kayak gitu, diajak berteduh juga gak mau, padahal tubuhnya udah menggigil."


Tini mengangguk dan mulai melangkah pergi dari sana, dia memasuki rumah dan langsung menuju kamar Ami, dia segera mengetuk pintu kamar itu.


"Itu Non, di luar ada yang mencari Non," sahut Tini.


"Siapa?" Ami mengerutkan keningnya, siapa yang mencari dirinya malam-malam seperti ini, ditambah di luar juga hujan deras.


"Kata Candra, dia laki-laki yang selalu bersama dengan Non Ami," sahut Tini.


Ami langsung paham maksud dari Tini itu, siapa lagi jika bukan Fariz, karena hanya dia yang selalu bersamanya, ditambah art-nya itu pasti menyebutkan namanya, jika yang mencarinya adalah Rayyan.


"Ngapain dia ke sini?" tanya Ami pada dirinya sendiri, sambil berjalan keluar darinrumahnya.


"Tidak tau, Non. Dia juga hujan-hujanan dan sepertinya sudah lama, kata Candra badannya sudah menggigil," terang Tini sambil mengikuti langkah Ami.


Mendengar hal itu, Ami menjadi khawatir ada apa dengan pacarnya itu, kenapa dia melakukan hal yang akan membuatnya sakit.


"Pak pinjam payungnya," ucap Ami yang langsung menyambar payung yang berada di teras samping.


Dia berjalan menuju ke arah Fariz yang tengah melihat kedatangannya dengan tubuh gemetar, dia mendorong gerbang agar terbuka lebih lebar.

__ADS_1


Belum sempat dia mengucapkan sepatah kata pun, Fariz sudah menubruk tubuh rampingnya itu, dia memeluk Ami dengan erat seolah melampiaskan perasaan yang tadi berkecamuk dalam hatinya itu.


Meskipun bingung dengan apa yang terjadi, tapi Ami mengusap punggung yang tengah bergetar itu dengan lembut, dia berusaha menenangkan Fariz, meskipun tidak tahu masalah apa yang tengah dihadapi oleh pacarnya itu.


"Ada apa, Mas?" tanya Ami di tengah-tengah bisingnya suara hujan.


Tidak ada sahutan dari Fariz, dia hanya merasakan pelukan pria itu semakin erat, seolah ini adalah pelukan terakhir untuk mereka, tubuhnya yang mulai basah akibat pelukan itu, tidak dia hiraukan.


"Maaf!" lirih Fariz dengan suara serak dan bergetar.


"Maaf untuk apa? Kita bicara di dalam saja yuk, tubuhmu sudah menggigil," ajak Ami yang dapat merasakan tubuhnya yang sudah sedingin es itu.


"Maafkan aku! Aku tidak bisa berbuat apa-apa!" Racau Fariz yang semakin membuat Ami tidak mengerti.


"Kita bicarakan di dalam ya, tubuh kamu sudah dingin, kamu bisa sakit kalau kayak gini," bujuk Ami lagi yang sudah melepaskan pelukan itu.


Fariz tidak menyahutinya, dia hanya menatap Ami dengan dalam, karena lagi-lagi tidak ada sahutan, akhirnya tanpa menunggu persetujuan dari pria itu, Ami menarik tangan dingin pacarnya agar masuk ke rumahnya.


Setelah sampai di dalam rumahnya dia membawa Fariz ke kamar mandi tamu yang berada di dekat dapur.


"Masuklah, bersihkan dulu badan Mas, biar tidak masuk angin. Nanti Ami berikan baju gantinya!" perintah Ami pada Fariz yang menatapnya dengan ragu.


"Tenang saja, Papa masih di luar kota," sambung seolah mengerti, apa yang ada dalam pikiran Fariz.


"Cepat masuk, wajah Mas sudah pucat seperti itu," ucap Ami mendorong Fariz memasuki kamar mandi.


Dia khawatir karena melihat wajah Fariz yang sudah sangat dingin, juga pucat, Fariz akhirnya menurut, dia memasuki kamar mandi yang cukup luas dan bersih itu.


"Bi tolong buatkan teh ya," ucap Ami pada Tini yang dari tadi mengikutinya, saat dia menarik Fariz memasuki rumahnya.


"Baik Non," sahut Tini langsung pergi ke dapur melakukan apa yang Ami perintahkan.


Ami pergi ke kamar papanya, mencari kaos dan pakaian santai papanya yang kira-kira balal pas di Fariz, karena ukuran badan Fariz dan Denis tidak terlalu beda jauh.


Setelah menemukan pakaian yang cocok untuk Fariz, dia pun segera membawa pakaian itu ke lantai bawah, saat sampai di depan pintu kamar mandi, dia mengetuk pintu kamar mandi untuk menyerahkan pakaian bersih itu pada Fariz.


"Ini pakaiannya Mas, tenang saja itu pakaian yang belum lama aku beli, jadi masih lumayan baru," ucap Ami memasukkan tangannya pada kamar mandi yang sedikit terbuka.


"Terima kasih," sahut Fariz dengan nada pelan.

__ADS_1


"Iya."


__ADS_2